
"Yang,Sayang "Panggil Zidan sayup sayup dengan mata terpejam sambil meraba raba kasur disebelah nya
"Sayang"Panggil Zidan lagi namun kali ini dia sudah membuka mata
"ada apa?''
"Kamu abis apa dari balkon?"
"Tadi mama nelpon"Jawab Naya murung
"Mama ?,mama bilang apa?"
"Oma.. Oma"Racau Naya tak karuan sambil menuju Zidan yang berada di kasur
"Oma?,Oma kenapa?"tanya Zidan belum mengerti keadaan
"Oma meninggal,hiks"Ucap Naya terpaku di samping ranjang
"Sayang"Zidan berjalan memutari ranjang dan menyuruh Naya mendudukkan di ranjang sedangkan Zidan menempatkan dirinya di samping Naya.Perlahan Zidan mulai menyandarkan kepala Naya ke dada bidangnya.Mengelus kepala Naya yang saat ini tidak memakai hijab,dan mencium kening Naya.
"Menangis lah untuk saat ini,namun untuk kedepannya jangan mengeluarkan air mata lagi untuk seseorang yang telah pergi.Bukan tidak sayang tapi kamu sendiri tahu bukan?,bahwa sesuatu yang telah di ambil oleh yang kuasa tidak boleh di tangisi berlarut larut"
__ADS_1
"Oma.. dia sangat baik,dulu sewaktu mama sama papah sibuk aku selalu dititipkan ke Oma"ucap Naya dibarengi oleh sesegukan
"Sayang kapan kita akan berangkat ke Bandung?,aku ingin melihat Oma sebelum beliau diantarkan ke peristirahatan terakhir nya"Tanya Naya setelah beberapa saat menangis di dekapan Zidan.
"Jika mau melihat untuk yang terakhir kalinya kita harus berangkat sekarang"
"Baiklah kita berangkat sekarang,aku akan prepare sementara kamu bersiap siap"ujar Zidan pengertian dia mulai memasukkan beberapa potong baju dirinya dan Naya.
Zidan tahu rasanya ditinggalkan oleh orang yang disayangi,jika dirinya membiarkan Naya yang menyiapkan keperluan selama disana maka tidak akan cepat selesai.Karna Naya mengerjakan nya sambil menangis.
"Aku siap" ucap Naya ketika sudah siap dengan gamis model abaya.
"Sebentar tunggu aku di bawah sambil siapkan mobil"Suruh Zidan ketika dirinya akan menggosok gigi ke kamar mandi.
Naya hanya mengangguk sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Butuh waktu tiga jam untuk menempuh jarak Jakarta Bandung,kini Naya dan Zidan sudah sampai ke kediaman lamanya di Bandung.
"Assalamualaikum"Naya mengucapkan salam sambil mengetuk pintu tiga kali,tak lama munculah art paruh baya dengan mata yang sembab,dia adalah bi Ani yang sudah mengabdi kan dirinya selama berpuluh tahun lamanya.
"Neng Naya"ucap asisten paruh baya itu memastikan bahwa orang yang di hadapan nya adalah cucu dari majikannya
__ADS_1
"iya Bi ini Naya"jawab Naya sambil mengangguk
"Masuk Neng, nyonyah sama tuan ada di ruang tengah"ujar bibi itu sambil menuntun Naya keruang tengah yang sedang di tempati sanak saudara jauh yang melantunkan ayat suci Al Qur'an.
"Ma"Panggil Naya ketika melihat mamanya sedang menatap kosong ke arah Oma yang di tutup oleh kain samping( kain batik berbentuk persegi panjang-biasa di gunakan untuk menutup mayat).
"Sayang" Mama Naya memeluk Naya sambil kembali menangis
"Sudah ma jangan menangis lagi"kini papah Naya sudah berada di belakang punggung istrinya sambil menepuk nepuk punggung sang istri .
"Duduk Nay,Zidan"
"Oma sakit apa Pah?"Tanya Naya ketika mereka semua sudah duduk
"Oma darah tinggi, baru dua Minggu ini sering kambuh, puncaknya tadi sore Oma mengalami kejang kejang dan Oma meninggal"
"Apa yang di ucapkan dokter?"Tanya Naya sambil menahan tangis yang kembali menderanya
"Dokter bilang ada penyumbatan pembuluh darah,papah gak terlalu mengerti apa yang di katakan dokter itu"Ujar papah Naya dengan raut bersalah.
___
__ADS_1
Love readers ❤️😍.
Tau enggak?, author punya novel baru lohh temanya berondong juga sama kayak novel ini ,so? ayo mampir ke novel author yang lain ,tinggal klik bio.Author tunggu yaaa❤️🤩