
Naya menghembuskan nafas lagi ketika pertanyaan Zidan menerobos kedalam Indra pendengaran nya.
"Saya punya seorang pria idaman mas"
"Tapi saya tidak memiliki hubungan dekat apapun dengan beliau"sambung Naya
"kalo mas sendiri gimana?"
"Saya punya banyak gebetan kak"
"adik kelas?"
"iya"
"oh"
Hening.
Mereka berdua saling bertatapan,lalu kemudian tertawa dengan lepasnya
"sumpah ini gajelas banget , tapi liat muka mas dengan tampang cool dan pendiam ini gak nyangka tipe cowok playboy"
"loh kata siapa saya pendiam?,saya pendiam kan belum tau atau kenal jauh siapa kakak"
"Jadi mas ini tipe cowok gimana?"
"Saya gak bisa diem"
"ya iyalah gak bisa diem kan mahkluk hidup"
"iya deh, iyaa".
"Tapi kak saya takut"
"Takut?"
__ADS_1
"Saya takut tidak bisa memberikan nafkah batin maupun nafkah materi"
Blush,Pipi Naya memerah mendengar kata 'batin' bagaimana pun Naya yang polos tetaplah sudah dewasa.
Naya sama sekali tidak berfikir ke arah situ,yang Naya pikirkan 'bagaimana terbebas dari keriuhan bapak bapak tadi'.Pasalnya sekarang sudah menunjukan pukul tiga pagi,dan bapak bapak dari kampung ini semangkin ramai berdatangan.
"Kak?"
"Ah..iya"
"gimana?"
"Soal nafkah materi kamu hanya perlu mencari sebisa kamu,jika kamu tidak merasa terbebani.Karna bagaimana pun saya akan menjadi tanggung jawab kamu"
"Insha Allah,saya bisa kak"
"untuk mahar kakak ingin apa?"
Naya bingung dengan pria yang tadi ia ketahui baru umur 19 tahunan ini 'apakah dia punya uang?'pertanyaan di dalam benak Naya.
"Sederhana,Yang tidak memberatkanmu dan yang tidak merendahkan saya"
"tidak tahu,coba tanya bapak bapak yang disana"tunjuk Naya pada pak Udin
*
*
"Mah"Panggil Naya ketika kedua orang tuanya tampak memasuki area dalam masjid.
"Naya,Ya Allah nak.Ada apa?"
"Maafin Naya mah"Ujar Naya sambil melihat kearah Zidan yang ditemani oleh ibu dan ayahnya.
"Kamu apakan anak saya?"Tanya suara Bariton yang keluar dari mulut papahnya Naya
__ADS_1
"Pah,ini bukan salah dia.Ini salah Naya"
"Kamu ini kenapa Naya?,kami membekali kamu untuk kuliah di Kairo ,belum lagi kami sempat menyekolahkan kamu di pondok pesantren."
"Maaf,Pah mah"Naya mulai menangis,benar saja dia paling tidak akan kuat melihat kekecewaan kedua orang tuanya
"Maaf om,biar saya jelaskan.Sebenarnya saya dan kak Naya tidak melakukan hal di luar etika agama,saya hanya membantu kak Naya untuk memasangkan ban serep mobil.Karna ban mobil kak Naya bocor,belum lagi di daerah sana memang rawan terjadi begal makanya saya turun"
"iya Pah,Naya sama sekali gak ngelakuin apa yang bapak bapak itu bisikan di luar,waktu itu ada petir Naya kaget repleks memeluk Zidan.Tapi di luar itu Naya melakukan itu tanpa sadar"
"Dan kemudian bapak bapak itu datang memergoki Naya berada dengan kondisi menindih saya, padahal hanya salah paham.Lagi pun saya sudah menjelaskan dan membuktikan bahwa saya hanya membantu kak Naya,bisa dilihat dari peralatan yang ada di samping mobil"
"Tapi mereka gak percaya,dan malah bilang 'kita nikahkan saja mereka'"
Kedua orang tua Naya saling pandang,dan menghembus kan nafas kecil setelah nya.
"Begitu?"
"iya om"
"Ya sudah kalian menikah saja"
"Pah kan udah di jelasin,Naya sama Zidan gak ngelakuin sesuatu yang diluar agama,adapun berpelukan itu hanya sekedar kecelakaan"
"tapi kamu gak bisa mengubah persepsi orang segampang itu Naya"
"Naya tau mah,tapi kan"Naya melirik Zidan dan kedua orang tuanya.
"Tidak apa apa Nak Naya,mungkin kalian berdua sudah di takdir kan untuk bertemu dengan cara yang seperti ini"
"Iya bener kata ibunya Zidan,kalo Zidan gak berenti dan nolongin nak Naya,saya sendiri gak tau apa yang terjadi malam ini"
"Yah,jangan begitu dong"
"begitu apanya?,bukannya bener di daerah situ rawan begal?"
__ADS_1
"Jadi kalian setuju dengan. pendapat bapak bapak itu agar Naya dan Zidan menikah?"
"Iya" jawab 4 mulut itu serentak