Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Diusir


__ADS_3

Jakarta, Indonesia


Langit senja kini tampak begitu cerah dan indah. Namun, entah mengapa, rasanya hari ini begitu menyesakkan. Seakan-akan, dada ini terus bergemuruh dan berteriak lantang dalam tangisan di hatiku.


Suara kasar, keras, dan bentakan defensif yang penuh amarah terdengar sedari tadi saat aku berdiri mematung di teras rumah mewah besar bercat perunggu ini. Tepat tak jauh beberapa meter dari tempatku berdiri, tampak seorang lelaki paruh baya tegap dengan raut wajah memerah dalam amarahnya tengah memelototi lelaki tegap dan masih muda sekitar berusia duapuluh enam yang tengah cemas dan sedih berusaha menjelaskan apa yang terjadi, dan di samping kanannya tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan rambut hitam sanggulnya yang tengah meremas lengan gadis manis di sampingnya dengan raut wajah takut dan cemas seraya airmata berlinangan di mata dan pipi putih keriputnya. Gadis manis itu hanya memandang lelaki yang tengah di bentak dengan penuh sedih dan cemas, airmatanya sudah menetes sedari tadi sembari mendekap wanita paruh baya yang tengah berdiri tertegun di sebelahnya. Yeah, mereka keluarga lelaki yang tengah di bentak itu. Keluarga ningrat yang begitu terkenal di kotanya akan usaha-usaha yang telah mereka bangun sejak nol.


"Ayah, kumohon, dengarkan aku? Bisakah mengerti? Sekali ini saja, kumohon?" suara serak lelaki yang sedari tadi sabar itu, dengan teduh memandang lekat kedua mata ayahnya dengan raut wajah memelas. Aku bisa melihat, raut wajahnya begitu sedih dan sakit. Terlebih, melihat adik dan ibunya menangis.


Tak ada yang berkutik, bahkan menentang atau mengucapkan sepatah kata pun. Mereka hanya mematung menyaksikan semuanya. Memang, selama ini, sang ayahlah yang berkuasa. Tak ada yang dapat menentang jika beliau sudah berkata-kata, terlebih mengambil keputusan. Hanya saja, lelaki itu yang pantang menyerah untuk membuat beliau mengerti maksudnya.


Aku yang menyaksikan kondisi yang sungguh membuatku tak tega dan sakit dalam kesedihan ini, hanya bisa memutar mata, lalu menghela napas beratku. Menekan rasa perih yang semakin menjalar dan bergemuruh di benak bagai belati menekan dalam tusukan mirisnya.


Oh Tuhan.


"Jelaskan apa lagi? Kamu mau ayah mengerti apa lagi? Kamu membawa gadis itu kemari, Firhan, dan tiba-tiba saja memberitahu ayah akan keputusan bodohmu itu. Kamu menolak sekolah di Mesir, dan lebih memilih untuk menikah dengannya? Di mana pikiran kamu itu, Nak?


“Kamu tahu, ayah selalu bermimpi, anak ayah lelaki satu-satunya bisa berburu ilmu di Negeri impian ayah, yang kelak bisa menjadi orang yang berguna untuk agamanya, hanya untuk membanggakan Allah, Nak, hanya untuk Allah dan Nabi kita! Ayah tidak pernah menuntut kamu membanggakan ayah," jelasnya mengakui dengan nada tinggi dan memandang putera sulungnya itu dengan sedih serta kecewa.


"Ayah, Firhan mengerti. Maafkan Firhan, Ayah? Tapi kumohon, ayah mengerti keputusan Firhan? Ayah, aku lelaki yang kelak akan jadi pemimpin keluarga. Kumohon, Ridha-kan Firhan bertanggung jawab dan menikahi Nesya?" pinta lelaki itu lalu menghela napas berat di akhir kalimat sembari memandang ayahnya penuh harap.

__ADS_1


Plakk! Aku yang sedari tadi memalingkan wajah karena tak sanggup melihat situasi itu, seketika kepalaku berputar cepat ke arah sumber suara yang membuat hati ini semakin perih. Ya, aku tahu suara itu. Sangat mengenalinya. Suara tamparan bersamaan dengan suara teriakan gadis muda dan wanita paruh baya yang terdengar menyayat hati, sedih, dan sakit dengan seruan memanggilnya dengan kata ‘ayah’. Tangan besar yang penuh kasih sedari dulu itu, rupanya telah melayang dan mendarat keras di pipi putih putera lelaki satu-satunya, yang seketika hanya di balas dengan kebungkaman Firhan sembari memegang pipinya yang memar. Sorot mata Firhan memandang sang ayah yang sudah sangat memerah kerana marah. Mata ayahnya masih melotot memandang dia penuh amarah, sakit dan kecewa.


Airmata Firhan tampak menetes dan masih memandang orangtua yang dikasihinya itu dengan teduh dan penuh maaf. Seolah-olah, matanya memohon maaf pada lelaki paruh baya yang begitu hebat dihadapannya saat ini.


"PERGI DARI SINI!!" titah lelaki paruh baya itu menggema dengan nada suara naik satu oktaf, setelah sejenak memandang Firhan lalu memalingkan wajahnya seraya memunggungi puteranya itu.


Bersamaan itu pula, suara erangan memohon istrinya dan suara tangisan puteri bungsunya terdengar, yang kali ini berusaha menentang untuk mencegat keputusan lelaki paruh baya itu.


"Ayah?" lirih Firhan memandang ayahnya dengan memohon yang lagi-lagi airmatanya menetes.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi! Kau bukan anakku lagi dan jangan pernah kembali," tegas sang ayah dengan nada meninggi penuh amarah tanpa berbalik melihat puteranya yang berlutut mendengar keputusan itu, diikuti dengan erangan putus asa istrinya. "Ayah, jangan mengatakan seperti itu, dia masih Firhan kita," elak sang ibu yang begitu sedih dan tak setuju putera satu-satunya di perlakukan dan di beri keputusan seperti itu. Lagi-lagi airmata itu berlinangan di pipi putih keriputnya.


Lelaki tegap penuh kasih malaikatku itu, kini terpuruk putus asa tak berdaya di lantai. Tangan lembut ibunya segera memapah tubuh atletisnya yang saat ini begitu tampak rapuh dan hampa, lalu membangkitkannya. Ia mengusap airmata putera sulung satu-satunya itu, lalu mengecup keningnya penuh linangan airmata.


"Bu, maafkan aku. Firhan–"


"Tidak, Anakku. Ibu tidak percaya kamu melakukan hal yang di benci Allah itu. Aku ibumu, dan kamu tumbuh di rahim ibu. Ibu tahu jelas siapa puteraku ini. Kamu masih anak ibu, Nak, putera ibu! Tidak ada yang bisa mengelak itu," sela ibunda Firhan memotong ucapannya dengan penuh kasih, menghapus airmata itu lagi dari wajah buah hatinya dan memeluknya erat. Gadis muda yang merupakan adik satu-satunya itu hanya terisak memeluk mereka berdua.


"Kak, kumohon, jangan pergi? Siapa nanti yang menjaga kita, Kak? Siapa yang akan membuatku tersenyum jika sedang sedih?" mohonnya memandang sembari memelas pada kakaknya yang kini dekapan mereka terlepas. Firhan tersenyum dalam lukanya.

__ADS_1


"Kakak tahu, kamu sudah besar, Dek. Dan kakak sangat tahu, kamu bisa menjaga dirimu, bahkan menjaga ayah dan ibu. Dengar, Adikku manis, kesabaran itu jauh lebih penting, Sayang. Kerana sabar, hati dan diri lebih kuat. Kerana sabar, hati dan diri lebih tegar. Ingat, apapun masalahnya, apapun kesedihannya, jauh dari itu, Allah tahu sesungguhnya, Dek. Dan hanya Allah yang tahu ke depannya yang baik itu bagaimana.


“Kakak tetap sayang padamu, teruslah ikuti kata hati dan jangan menyakiti hati. Kakak tahu, kamu bisa melakukan jauh lebih terbaik dari yang kakak kira." Lirih Firhan memandang adiknya sembari menyentuh rambut dan wajah itu, lalu memegang lembut lengan gadis itu. Saudaranya itu hanya memandangnya sedih dan takut.


"Kak?" lirihnya saat sang kakak berusaha bangkit dan berdiri.


"Jaga hati kakak di sini, ya, Sayang? Mereka sangat berharga," lirih Firhan lagi memandang adiknya yang tengah berdiri di hadapannya, lalu bergantian memandang sendu penuh kasih ibunya yang kini semakin meledak tangisnya.


Sejenak, Lelaki itu menatap sang ibu, berusaha tersenyum menyemangati, lalu perlahan-lahan mengusap airmata wanita paruh baya itu dan menggeleng perlahan berulang kali sembari tersenyum penuh kasih dan membuat ibunya semakin menangis pilu. Firhan lalu mendekap wanita paruh baya yang begitu rapuh dan tiada hentinya menangis, yang sesekali mengecup kening itu. Selang tak beberapa lama, ia lalu beralih memeluk adiknya dan mengecup kening gadis itu setelah pelukan terlepas.


Tuhan, Apa yang kuperbuat? Bisakah aku meminta? Tolong, kumohon, jangan ada airmata kesedihan lagi untuk mereka. Maafkan aku, Tuhan.


Kaki kami terasa berat melangkah, menyusuri jalan beraspal dengan hati tertusuk-tusuk bagai beribu belati yang menancap kasar dan berefek semakin perih, sesak dan bergemuruh. Membawa entah ke mana malaikat penuh kasihku ini, meninggalkan rumah yang begitu banyak kenangan penuh kasihnya dan kehangatan dalam hidup calon suami hebatku ini.


Sebelum kami meninggalkan rumah bak istana itu, ibu dan adiknya sempat memeluk dan mencium keningku. Lalu, memberi Tafsir Qur'an yang tengah kugenggam erat saat ini. Sebagai hatinya untuk menjaga kami. Dan sebagai restu, doa dan kasihnya, untuk menemani kami menjalani lembaran hidup baru ini.


* * * *


***Hai, novel romance religi kini tayang di Noveltoon. Author usahakan akan update tiap hari, yak.

__ADS_1


Mohon dukungan vote dan komentarnya agar author tetap semangat menulis. Terima kasih sebelumnya yang sudah mampir, salam Kiss 😘😊🙏***


__ADS_2