
Hari ini, aku memutuskan untuk menemui ayah. Baru pukul sembilan, saat melirik jam tangan pemberian Firhan kepadaku dengan motif Eiffel yang telah melekat dipergelangan tangan.
Rumah besar bak istana itu, membuat aku memandangnya sejenak yang saat ini berada di hadapanku. Rumah yang menjadi tempat hangat hingga suamiku di besarkan dan menjadi lelaki hebat saat ini.
Suasana sangat sepi, namun tetap bersih dan asri. Beberapa tanaman bunga tengah tumbuh subur di sini dan menambah keindahan dan keasrian bak istana. Aku memencet bel berwarna kelabu, saat berada di depan pintu besar setelah menghampiri sambil mengamati sekeliling.
Sekejap, kenangan saat Firhan meminta restu ayahnya, kini terputar jelas di otakku, berkelebat bagai kaset rusak yang lagi dan lagi terus berputar ulang. Aku menghela napas berat sejenak, lalu memutar mata, berharap air bening ini tak jatuh di pipi yang tengah mengambang di pelupuk mata.
Sejujurnya, sangat membuat aku takut, tapi harus kulakukan. Ya, sejak aku membaca email dari Isti, batinku terus mengusik dan terdorong untuk menemui ayah dan menanyakan semuanya, semua yang membuat suami malaikatku itu menderita selama beberapa bulan terakhir ini. Entah apa nanti yang akan terjadi, tapi tekad ini benar-benar telah klimaks dan meledak.
Ibu membuka pintu selang tak beberapa lama, yang seketika membuatnya terkejut atas kehadiran—tak di undang yang berani memunculkan wajah setelah menghancurkan dan merusak semuanya—di rumah megahnya ini, terlebih tanpa sepengetahuan beliau. Terakhir, kami bertemu di sebuah Restaurant Seafood bersama kedua anaknya, saat janjian dinner.
“Assalamu ‘alaikum, Bu.” Lirihku terperangah sejenak yang membuatku mematung tak berdaya saat metemukan kedua mata teduh dan hangat itu berbinar memandangku yang seketika berhambur memeluk.
"Wa’alaikum salaam. Nesya? Apa kabar, Nak?" seru ibu yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah berseri itu, yang membuat aku tersenyum dengan mata berbinar sembari membalas pelukan erat wanita paruh baya ini yang sudah aku anggap sebagai ibu kandung sendiri.
"Alhamdulillah, aku dan Firhan baik-baik saja, Bu."
"Alhamdulillah. Ayo, Nak, masuklah!" seru ibu dengan riang dan antusias
.
Beliau mengusap matanya yang sempat meneteskan airmata, lalu tersenyum sembari menarik tanganku dengan bahagia masuk ke dalam rumah besar ini.
"Ibu sangat senang, kamu mau kemari silaturahmi. Mengapa tidak mengabari kami dulu bahwa akan datang kemari, Nak? Suamimu tidak ikut?"
Kubiarkan senyumku menguap begitu saja di hadapannya. "Firhan sibuk dengan urusan kantor, jadi Nesya di antar oleh supir pribadi. Maaf, kalau kehadiran Nesya mendadak, Bu, sampai-sampai merepotkan."
Senyum tulus itu merekah di wajah letih ibu seraya menggeleng pelan. "Kamu sudah bagian keluarga kami, jadi bagaimana bisa anak ibu merepotkan ibunya sendiri,"
Pernyataan itu membuatku tersenyum menunduk dengan perasaan bahagia seketika menjalar di tubuh.
Tuhan, terima kasih atas cinta keluarga ini yang begitu aku rindukan sejak lama, yang Engkau nikmatkan untukku, aku sangat bahagia.
"Duduk dulu, Nak, kamu pasti sangat lelah telah melakukan perjalanan kemari, apalagi kehamilanmu. Ibu mau buat minuman dulu. Isti juga lagi keluar, tapi kamu makan siang di sini bersama kami, kan, Nak?" Ibu menyela yang membuat aku mengangkat wajah memandang wajah tulus dan penuh kasihnya yang tengah menatapku penuh harap.
Sangat antusias dan kebahagiaan itu terpancar bebas di wajahnya. Dan saat itulah, aku yakin, ibu jauh sangat lebih bahagia, bahkan senyuman dan kebahagiaan itu akan bertahan lama bila Firhan menyatu kembali di sini. Senyuman hangat itu menular, setelah aku duduk di sofa besar ini.
"Jangan repot-repot, Bu." Langkah ibu terhenti saat hendak bergegas masuk ke dapur.
"Tidak usah, Bu. Nesya tidak lama kok di sini." Tambahku saat beliau menatapku tak setuju dan penuh tanya.
Ekspresi beliau seketika berubah menjadi sedih, kulit yang mulai keriput di wajahnya kini berkerut. Mata lebar kecokelatan yang kini berbinar dengan hiasan kantung mata yang mulai bergelambir itu telah menatapku sedih dan tak mengerjap.
"Tapi aku janji, secepatnya mengajak kemari Firhan, Bu. Dan kita bisa makan bersama." Tukasku menambah cepat-cepat.
Raut wajahnya berubah sedikit cerah dan seperti ada harapan kepercayaan di sana.
"Sungguh, Nak?" Aku mengangguk cepat sembari tersenyum. Senyum bahagia itu kini kembali merekah dengan masih mata berbinar.
Aku janji, Ibu. Setelah semuanya kuperbaiki dan membawa kembali puteramu ke keluarga indah ini, aku janji!
Pandangan hangat dan terima kasih dalam sorotan mata ibu tampak terpancar tulus.
Lagi-lagi aku tersenyum dan menuduk.
"Bu, apa boleh Nesya berbicara pada ayah? Nesya ingin menemui ayah, Bu,"
"Nes, bukannya ibu tidak mengizinkan, tapi ibu khawatir. Ayahnya Firhan sangat keras jika sudah mengambil keputusan, ibu takut kamu.... "
Aku bangkit dari dudukku, kuhampiri wanita penuh kasih itu, lalu membawanya ke sofa dan duduk di sana. a
Aku berlutut di hadapannya dan menggenggam kedua tangan yang mulai mengeriput itu di pangkuannya.
"Bu, insya Allah semua akan baik-baik saja, Nesya janji," lirihku menatap tatapannya yang begitu teduh ke arahku. Mata beliau mulai berkaca-kaca. "Berjanjilah, Bu, selalu ada senyum di wajah ibu. Kuatlah. Karena Nesya Janji, tidak akan lama lagi, Keluarga kita akan kembali, Firhannya ibu akan kembali," lanjutku dan seketika memelukku kemudian menangis. Mataku mulai berair. Kuusap punggungnya yang telah bergetar karena tangisan, untuk menenangkan.
Setelah cukup tenang, beliau lalu sejenak terdiam. Ibu kemudian tersenyum dalam anggukan meski ada sedikit kecemasan dan keraguan dalam sana, namun raut wajahnya memancarkan kepasrahan.
"Pergilah, Nak. Temui ayah di sana. Ibu merestuimu, insya Allah, Allah meridhoi niat baikmu ini juga," lirihnya menggenggam wajahku, lalu mengecup pucuk kepala ini.
"Terima kasih, bu." Sahutku tersenyum.
Aamiin, insya Allah. Bismillah saja.
__ADS_1
Beliau lalu mengantar ke halaman belakang.
Ada beberapa saung dan gazebo besar di sini, terbuat dari kayu kokoh dengan atap ubin keramik merah maroon. Mirip saung-saung kerajaan, namun dengan dikelilingi motif dan corak beragam yang modern, dan dicat dengan warna emas menyala. Halaman belakang di sini begitu sejuk, dengan lantai penuh rerumputan hijau dan dikelilingi beberapa pepohonan yang menjulang tinggi yang di antaranya tengah banyak berbuah.
Sosok tinggi tegap namun mulai mengurus itu—yang tidak sama lagi terakhir kulihat—tengah duduk terdiam memandang pepohonan yang menjulang di sekitarnya, menghiasi halaman belakang ini.
Ibu tadi banyak cerita sepanjang mengantar ke halaman ini. Sebelumnya, ayah pernah sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur, namun setelah Firhan pernah datang kemari dan menemui beliau, perlahan-lahan kondisinya mulai membaik dan mulai teratur makan. Meski, belum sepenuhnya pulih dan masih sakit-sakitan, tapi setidaknya ayah sudah bisa bangun dan berjalan. Ayah masih seperti dahulu, saat Firhan pergi dari rumah ini. Kebanyakan diam dan tidak banyak bicara. Bahkan, lebih suka menyendiri, tanpa ingin diganggu.
Ibu lalu pamit dan meninggalkan kami, setelah kami sampai dan tak jauh beberapa meter dari tempat ayah duduk di Gazebo.
"Maaf, tapi aku ingin bicara dengan ayah." Suaraku terdengar hati-hati di telinga sendiri dan membuat wajah ayah meneleng ke arah kiri, tepat di mana aku tengah berdiri di dekat lelaki paruh baya itu.
Raut wajah ayah terkejut dengan mata melebar tajam, lalu beliau berpaling dengan pandangan kembali lurus ke depan, tapi dengan sorot mata dingin dan mengeras.
Dan aku sudah tahu ini, ayah tidak suka!
"Mau apa kamu kemari?" suara dingin itu menusuk batinku.
Jelas, masih tak suka kepadaku. Bahkan, kehadiranku.
Aku menelan dengan tenggorokan yang terasa begitu kering dan sakit. Seperti tenggorokan ini terasa tercekat, bahkan aku seperti membutuhkan oksigen.
Setelah menggigit bibir dan menghela napasku secara teratur, menghitung dalam setiap debaran jantung dan helaan napas di benakku. Lalu, diam-diam menghela napas di sela-sela gigi dan bibir.
"Maaf kalau aku mengganggu ayah dan menemui seperti ini, sekali lagi, maaf—"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu!" titah ayah dengan nada amarah dan meninggi saat menyela, seketika membuat aku tersentak kaget dan mengatupkan bibir rapat-rapat dalam mata terpejam. Diam-diam, lagi, mengembuskan napas pelan, lalu pandangan menuduk saat membuka mata.
Bentakan keras itu benar-benar membuat tekad ini nyaris roboh dan ambruk dengan mata mulai berbinar. Sungguh kelemahan yang benar-benar menghancurkanku. Aku memang tidak bisa di bentak.
Raut wajah Firhan, Isti dan ibu lagi-lagi terlintas di celah-celah pikiran saat aku mulai down dan hampa.
Aku menghela dan menarik napas lagi untuk menguatkan hati dan tekad, mengumpulkan sisa-sisa keberanianku yang nyaris hancur.
"Maaf, aku hanya ingin menanyakan sesuatu hal, yang membuat … Anda masih marah pada Firhan,"
Dia memandang dengan menuding dan penuh menusuk. Pandangan Ayah begitu tajam dan menegang, namun masih terdiam sejenak. Lalu, "Dari kecil, aku mendidiknya penuh tegas, tanggung jawab juga disiplin. Dan, semua itu sia-sia hanya karenamu! karena mengenalmu, moral anakku rusak. Aku tidak habis pikir dengan pikiran tololnya, bisa-bisanya dia menghamilimu tanpa ada ikatan pernikahan."
Firhan tidak menceritakan sesungguhnya?
Tapi, kenapa?
"Apa itu yang membuat anda marah? Hingga tega tidak mengakui putera anda lagi dan rela mengusirnya?"
Pandangku hati-hati ke arah Ayah. Ekspresi wajah itu berubah dan ia menunduk sekilas.
Aku bisa melihat, ada secercah kerinduan dan penyesalan dalam mata kelam lelaki paruh baya itu.
Benarkah dengan penglihatan yang kulihat ini?
Sejenak, sisa-sisa keberanian yang nyaris hilang ini kembali menguatkanku, semakin yakin dan bangkit dengan kerapuhan yang terasa sedikit menjadi vitamin penyemangat.
"Sejak kecil, ia sangat bersemangat jika urusan pendidikan. Bahkan, nilainya selalu membuat kami bangga, hingga ia tumbuh dewasa. Firhan-lah yang selalu mengingatkan jika kami salah dan khilaf. ”
Beliau menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan berat sembari menengadah menatap langit-langit. “Dia kakak yang baik, untuk adiknya. Murid dan mahasiswa teladan, untuk guru dan dosennya. Teman yang bijaksana dan mulia, untuk teman-teman di sekitarnya. Dan, milik ayah dan ibu yang paling sempurna. Ya, dia ibarat malaikat keluarga kami,” lanjutnya. "Tapi, setelah ia lulus di Universitas impian—kami berdua—rupanya diam-diam ia membuat semuanya hancur dengan perilaku kotor tololnya!"
Aku memandang sejenak ayah, raut wajahnya sedih dan begitu kecewa saat sorotan mata bengkak itu menerawang entah ke mana, menjelajah dalam sesuatu ingatan yang tengah mengusik pikirannya. Jelas, aku bisa melihat pada guratan senja wajah sosok hebat yang selalu di sanjung-sanjung setiap saat oleh Firhan, bahkan sampai saat ini.
Mata berbinar kini berusaha kusembunyikan dalam pandangan menunduk.
Maaf, Ayah.
"Anda benar! Didikan Anda, tentang tanggung jawab, disiplin, tegas dan malaikat, semuanya tak pernah sia-sia dan berhasil ia junjung tinggi,"
Wajah beliau terangkat, saat menunduk seperti memikirkan sesuatu yang seketika menelengkan wajah memandangku. Aku tersenyum perih dalam mata binarku saat mata ini dengan beraninya menatap balik mata penuh tanya itu yang begitu penasaran dan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Iya, semuanya benar! Dan anda berhasil menjadikan Firhan orang yang hebat," Aku menarik napas, lalu tersenyum. "Dan juga … Malaikatku! Asal Ayah tahu saja, dia tidak pernah menghancurkan perempuan, bahkan selama aku bersahabat dengan Firhan. Yang aku tahu, ia sangat menghormati perempuan, juga teman-temannya. Ya, Ayah, Firhanmu, dia menolongku, menolong menutupi aibku. Menolong gadis hina di saat tidak ada lagi yang ingin menerimanya, bahkan melihat pun jijik. Tapi dia, dengan segala kerendahan hati dan keikhlasannya, melupakan mimpinya hanya tidak ingin aibku tersebar dan menutup telinganya rapat-rapat tentang pikiran negatif akan dirinya,”
Aku berhenti sejenak, menunduk sembari memejamkan mata, berusaha keras menahan airmata sekaligus rasa sesak yang mulai menohok ini, lalu mengambil napas berat dalam-dalam.
"Benar! Bukan Firhan yang menghamiliku, bukan! Aku di perkosa oleh pemabuk jalanan, pacarku Daniel meninggalkan aku. Dan Firhan, dia datang menyelamatkan hidupku. Bagaimana bisa, dia melupakan resiko besarnya, sedang dipikirannya saat itu, tidak ingin bayi tidak berdosa yang tengah berada dalam rahim ini menjadi korban aborsi dan juga tidak ingin membiarkan aku sendirian terhina dengan aib yang menyebar ke mana-mana dan juga menjadikanku korban dari orang-orang.... “ kalimatku terhenti sejenak, dan mengambil napas lagi yang semakin terasa sakit dan kering tenggorokan ini. karena berusaha keras menahan tangis. Airmataku telah mengambang di pelupuk mata.
“Aku bangga, sangat bangga memiliki suami yang berhati malaikat seperti Firham. Bagiku, dia tidak durhaka. Bagiku, dia bermoral dan tidak bersalah. Dia hanya mengikuti kata hatinya yang penuh dengan malaikat kemuliaan, hati yang terbuat dari emas kebaikan,” lanjutku, lalu menelan dengan susah payahnya. Aku terdiam sejenak dalam pandangan tertunduk dan diam-diam mengusap airmata yang berhasil menetes di mata sebelah kiri. Kemudian, sejenak aku menatap pria hebat yang selalu di idolakan suamiku itu.
__ADS_1
"Teman-teman bangga pada Firhan, mengapa anda sendiri yang tahu-betul sifat aslinya, tidak menyadari sesungguhnya? Tidak menyadari kebaikan hati putera anda sendiri? Maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan hati yang telah begitu tulus menyelamatkan aku. Meninggalkan hati yang begitu malaikat penuh kebaikan, bagiku itu tidak adil untuknya," lanjutku.
Aku mengusap airmata, lalu merogoh tas dan meletakkan benda berwarna hitam keemasan di sebelah ayah. "Itu hadiah dari Firhan. Dia menitipkan benda ini kepadaku. Katanya, anda sangat menyukai Pianika dan mendengar lantunan musiknya saat ditiup. Sekali lagi, maaf atas nama suamiku. Tapi bagiku, Kemarahan besar anda ini karena anda begitu sangat menyayanginha. Tapi satu hal yang harus anda tahu, ia masih menganggap anda ayah hebat dan terbaiknya, dulu hingga sampai kapan pun! Selamat ulangtahun, Ayah. Terima kasih atas waktunya dan mendengarkan semunya. Aku pamit pulang. Assalamu’alaikum. " Desahku di akhir kalimat, lalu berlalu meninggalkan beliau yang sekilas kulihat meneteskan airmata, meski tanpa memandangku atau mengucapkan sepatah kata pun.
* * *
Sepanjang jalan, aku menangis terisak dan perih. Tak menyangka, kehadiranku sangat menghancurkan Firhan. Yang tidak membuat aku mengerti adalah, mengapa dia menyembunyikan semua ini dari keluarganya, akan kenyataan sesungguhnya? Aku harus menanyakan ini padanya. Entah ada apa sesungguhnya, ibu juga memberitahuku bahwa lelaki itu pernah ke sana, tapi dia tak pernah cerita. Terlebih, memberitahu jika ayah sakit.
Aku memijit pelipis yang mulai berdenyut dan nyeri, lalu mendesah berat sembari menyandarkan tubuh di jok penumpang mobil sambil memejamkan mata. Mataku pasti sudah sangat bengkak dan memerah kerana tangisan ini. Semoga saja Firhan tidak pulang cepat lebih awal lagi dan melihat wajah seperti ini.
"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" Tanya pak Gun yang melirik di spion.
Aku mengangguk. "Tidak apa-apa. Semuanya akan membaik." Sahutku yang masih memijit pelipis.
"Apa anda sakit? Kita bisa ke dokter jika anda mau,"
"Tidak, tidak perlu. Kepalaku hanya sedikit pusing, tapi tidak apa-apa. Oh ya, apa tadi Tuan meneleponmu?" tanyaku di akhir kalimat, mengingat suamiku itu kadang-kadang mengecek dan mengontrolku melalui supir pribadiku ini.
"Ya, tapi hanya menanyakan kabar nyonya saja,"
"Kau memberitahu kita ke rumah tuan besar?"
"Tidak nyonya, saya hanya menjawab hal yang ditanyakan tuan saja. Seperti saya bilang tadi, hanya menanyakan kabar anda,"
"Bagus. Terima kasih, pak Gun. "
"Sama-sama, Nyonya. " Angguknya di spion.
Aku masih memijit pelipis dan menikmati tubuhku yang bersandar di punggung jok mobil. Hanya mendengar alunan musik jazz yang mengalun lembut yang di putar oleh pak Gun. Rasanya agak lelah. Mataku kini kupejamkan sejenak.
Saat membuka mata dan memandang keluar ke arah jendela, aku melihat gadis berambut panjang dengan cat pirang kekuningan bervolume dengan kulit cokelatnya tengah berdiri seperti menunggu sesuatu, saat mobil melintas.
"Dian?"
Kedua mata ini tidak lepas memandangnya. Ya, itu Dian. Sahabatku yang menghilang beberapa pekan terakhir ini. Entah ada apa, tapi dia tiba-tiba saja hilang kabar.
Setelah meminta supir untuk berhenti, aku lalu menghampiri gadis itu. "Dian, kamu ke mana saja?"
Saat dia menoleh, mata Dian memutar dengan ekspresi malas dan sorot mata dingin yang hendak pergi, namun aku mencegat dengan memegang pergelangan tangannya.
"Tunggu dulu, kita harus bicara! Mengapa kamu menghindar? Nomor teleponmu juga tidak bisa dihubungi. Ada apa? Ayo, kumohon, bicaralah?"
"Aku tidak mau! Dan jangan menyentuhku," teriaknya dengan mata melotot penuh geram dalam ancamannya.
Mata defensif dan tatapan tajam itu mengeras. Mata Dian memutar lagi, seolah-olah jijik saat aku memandangnya dengan penuh tanya dan tidak menyangka apa yang baru terdengar di indera pendengar ini.
"Apa? Apa salahku, Dian? Aku benar-benar tidak mengerti. Kamu tiba-tiba menghilang dan menghindar, lalu setelah kita bertemu, kamu mengatakan seperti itu?"
Dia acuh dan hendak pergi, namun lagi, aku mencegat dengan menarik bahu itu, memaksa untuk berbalik dan tetap tinggal.
"Dian—"
"AKU BENCI KAU DAN JANGAN GANGGU AKU!" Teriaknya yang bersamaan dengan airmata yang menetes di pipinya. Tatapan itu masih defensif dan penuh amarah, tapi di balik semua itu, aku bisa melihat secercah kesedihan—tak suka seperti ini—di sana.
Ada apa dengannya?
Desahan mengalahku terdengar dan menjauhkan tangan ini dari bahu gadis itu. Mataku berbinar memandang sorotan kaku itu di matanya, namun masih tetap defensif dan melotot tajam.
"Ada apa, Dian? Mengapa? Mengapa kamu berubah? Ada apa denganmu?" desakku dalam nada menuntut, berusaha memahami dengan memandang lebih dalam sorotan mata hampa itu. Tapi, ia memalingkan wajah dan berdecih.
"Aku tidak suka Firhan mencintaimu! Jelas, kan?"
Pengakuan yang menekan setiap kosakata itu membuat airmata ini seketika menetes di pipi, bersamaan dengan airmatanya yang menetes saat kalimat terakhir itu sembari mengangkat wajahnya. Rasanya dada ini sesak dan bergemuruh. Tubuhku seketika terasa lemas.
Dia bilang apa tadi? Tidak suka? Firhan? Mencintai Firhan? Ada apa dengan semua ini? Jadi, selama ini, sahabatku diam-diam mencintai suamiku?
“Entah apa yang merasukinya, entah apa yang terjadi padanya, bisa-bisanya dia melakukan keputusan ***** dengan menikahi gadis murahan sepertimu, bahkan mau menjadi seorang ayah yang tidak jelas siapa pemilik benih itu. Seharusnya kau sadar, siapa dirimu, Murahan! Kau sudah merebutnya dariku! Sudahlah, jangan menggangguku lagi! Ingat, kau sama sekali tak pernah menjadi sahabatku,” kecamnya geram sembari menunjukku dengan menekan kosakatanya, lalu pergi berlalu.
Aku berdiri mematung bergeming dengan sejuta tanya, menyadari semuanya dan kata-kata itu terus berputar ulang di otak dan indera pendengar ini, bagai kaset rusak.
Sungguh, rasanya semakin sesak dan bergemuruh dalam dada, sangat perih dengan kenyataan ini. Tenggorokan terasa kering, sakit dan tercekat. Lagi-lagi airmata mengalir bebas, menyadari kenyataan demi kenyataan yang terkuak, terlebih kalimat menyakitkannya yang untuk kali pertama, gadis itu mengatakan seperti itu
* * * *
__ADS_1