Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Gadis Dalam Cintanya #PovFirhan


__ADS_3

Aku memandangnya dengan wajah yang masih defensif. Ia menatapku masih dengan senyuman lebar, lalu menyesap jus melonnya.


Hari ini, aku dan Dian berada di sebuah Restoran. Dan dengan lahap, dia memakan makanan yang sudah sedari tadi sengaja di pesan sebelum aku tiba. Sebenarnya, aku tak ingin melakukan ini, terlebih saat gadis di hadapanku ini jelas mengartikan berbeda. Namun, aku ingin meminta tolong padanya untuk menemani keseharian Nesya, mengingat Daniel saat ini berusaha untuk menemui istriku itu.


Kulirik sekilas jam yang melekat di pergelangan tangan milikku, telah menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah berdehem dan mengubah posisi duduk, Dian memandang sejenak dengan senyum lebar. Helaan napas perlahan keluar dari mulutku sembari memutar mata.


Entah apa yang ada di pikiran gadis ini.


"Kamu tidak makan?" tanya Dian yang mulai bersuara sambil masih memandangku lekat setelah garpu sejenak berada di mulutnya.


Mata gadis ini menatap bingung dan cemas ke arahku.


"Aku tidak lapar, Dian. Sudah kubilang, aku hanya ingin bicara saja,"


"Baiklah, aku mendengarkan. Tapi, aku ingin, kamu juga makan?"


"Dian? " erangku yang masih berusaha sabar, memandang ia dengan agak kesal.


"Apa? Dari dulu kamu tak pernah mendengarku! Hanya Nesya, Nesya, dan Nesya! Lalu—"

__ADS_1


"Ini bukan saatnya membahas itu, Dian," Aku menyela sembari memandang dengan tatapan dingin. Kutekan keras rahang dan mulut agar semakin sabar lagi menghadapi gadis keras kepala ini yang penuh obsesi dan ambisi dengan kegilaanya.


Dian merengut lalu menyimpan garpu dan sendoknya di piring dengan kesal, hingga piring mengeluarkan bunyi.


Aku mengusap rambutku lalu menyusupkan jemari di sana dan meremasnya penuh frustasi, kemudian mendesah. "Maaf, bukan itu maksudku. Tapi, ayolah, bukan saatnya membicarakan itu, Dian," rayuku memandang penuh pengertian.


Mata Dian kini menoleh memandangku. "Kita membicarakan tentang Nesya, kan?"


Dia menebak sembari memandang ke dalam mata ini dengan penuh hati-hati yang membuatku mengangguk perlahan, helaan kesalnya terdengar lalu mendecakkan lidah. Mata sipit itu terlihat defensif.


"Lalu, untuk apa aku ada di sini?" tanyaku memandang heran setelah melihat responnya.


"Lalu, untuk apa aku ada di sini?" tanya Dian balik yang meniru kalimatku, namun dengan nada suara yang sama, bukan terdengar seperti mengejek.


"Fir, dari dulu aku mencintaimu dan kamu jelas tahu itu! Lalu, mengapa kamu menyiksaku seperti itu? Seharusnya kamu yang menikahiku, bukan—"


"Dian, kamu jelas tahu alasan itu! Jadi, kumohon, jangan memulai. Lagi pula, saat ini aku bahagia dengan Nesya,"


"Bahagia?" Dia mendecih. "Bahagia atau menderita? Pura-pura bahagia sedang ia memberimu berbagai masalah-masalah—"

__ADS_1


"HENTIKAN! Dian, sudah kubilang, jangan memulai! Aku tak mencintaimu, kita hanya sebatas teman, tidak lebih, dan kamu jelas tahu itu! Bukankah kamu sudah tahu sejak dulu? Dan aku juga tidak ingin semakin memberimu harapan yang tak seperti kamu inginkan, lalu apa lagi yang kamu tuntut? Juan, Dian, Juan! Ingat dia, dia mencintaimu tulus," bentakku tak bisa mengontrol di awal kalimat, lalu memejamkan mata dan menghela napas sejenak berusaha kembali membuat diriku tenang, kemudian memperjelas dengan menekan setiap kosakata sembari menatap dengan kesal di akhir kalimat. Biar bagaiman apun, dia adalah wanita yang tak boleh dikasari.


Dengusan kerasnya membuatku lagi-lagi menghela napas yang sekilas melihatnya memutar mata dengan muaknya. "Tapi, aku mencintaimu, seharusnya kamu mengerti itu," nada suara Dian kini terdengar sedih dan putus asa, meski naik satu oktaf.


Dia sepertinya benar-benar hilang akal dan bersikeras meyakinkanku, meski tahu pada akhirnya perasaanku milik siapa.


Benar-benar tidak sehat! Dan inilah yang kutakutkan selama ini terjadi pada pertemanan kami, terlebih dirinya!


Lagi, aku menghela napas untuk menenangkan diri.


Kuhembuskan napas dalam-dalam. “Dian—"


"Sudahlah, mungkin memang benar, it's impossible! Jangan menggangguku lagi, Firhan! Ya, seperti katamu. Demi dirimu, aku akan ingat Juan dan melupakan semua tentangmu. Kamu senang sekarang? Jaga sahabat aku baik-baik, Firhan. Terima kasih." Lirih Dian hampa yang akhirnya mengalah dan mengerti, lalu memandangku di akhir kalimat dengan tatapan pedih dan pasrah dengan senyum simpul—lukanya yang ia paksakan tampak di hadapanku setelah mendengus dan mendesah.


Dian berlalu pergi meninggalkanku yang tengah duduk mematung dengan perasaan bersalah. Sekilas, melihat kedua mata itu berbinar sebelum ia memutuskan untuk pergi. Aku memandang dia sejenak yang perlahan-lahan hilang dari pandangan. Dia pergi dengan sejuta luka.


Tapi, aku bisa apa? Bukannya aku egois dan menyakitinya, mungkin memang itulah yang terbaik untuk dia.


Dian lebih baik sakit saat ini, daripada mendapatkan luka hanya kerana kepalsuan untuk ketulusannya. Bukankah lebih baik ia sakit sementara daripada sakit selamanya ketika di akhir? Tujuanku memang memintanya bertemu denganku hari ini, ingin meminta bantuan untuk menemani Nesya selama aku bekerja. Selain untuk membuat Nesya tak bersedih berlarut-larut dan tak kesepian, juga untuk melindungi dari Daniel—yang membuat aku bisa merasakan ancaman dalam nada suara Daniel saat tadi ia menemuiku.

__ADS_1


Sarafku seketika mengejang dan tangan terkepal erat saat ucapan terakhirnya itu seketika melintas di pikiranku. Dengusan tetiba keluar begitu saja.


* * *


__ADS_2