
HARI ini cuacanya berubah mendung. Awan tampak agak gelap, dan sepertinya hujan deras akan lama. Aku kini bersedekap sembari berjalan mengitari meja hias yang terbuat dari keramik berwarna pualam, meraih remote pendingin yang tengah menempel di dinding dan menyetel kembali suhunya agar tak terlalu sejuk, lalu kembali lagi ke tempat yang sedari tadi kuberdiri. Rongga dada terasa dingin, saat aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata dan tersenyum.
Dian sudah sedari tadi pulang saat langit berubah mendung. Dan aku, kini berada di ruang tengah sendirian. Berdiri, sembari memandang keluar jendela. Memandang butiran-butiran menyenangkan itu yang tengah jatuh dan mendarat di atas bunga-bunga berwarnaku yang saat ini tengah menghias halaman samping rumah. Ya, jika moment seperti ini, biasanya aku dan Firhan memejamkan mata. Lalu, saat hitungan ketiga dan perlahan membuka mata, kami berharap pelangi itu muncul. Namun, jika masih belum terlihat, kami berulang kali mengulanginya. Bahkan, sampai pelangi itu baru terlihat ketika hujan agak reda. Aku terkekeh mengingat itu. Entahlah, semakin hari, aku semakin rindu padanya. Entah cinta atau bukan. Tapi sungguh, rasanya membuatku bahagia. Lagi, aku tersenyum saat wajah tampannya mulai mengusik dan menari-nari indah di pikiranku.
Mungkinkah saat ini memang benar, bahwa ia berhasil menarikku dalam kegelapan masa lalu? Entahlah.
"Assalamu 'alaikum." Bisikan suara lembut di indera pendengar ini sambil bersamaan itu pula, seseorang tengah mendekapku seraya menggelayut manja di punggung yang kini membuat seketika berbalik menoleh ke sumber suara tersebut.
"Firhan?"
Senyum manisnya menyentuh mata saat melihatnya. "Yang benar itu, Wa'alaikum salaam, Nyonya Firhan." Koreksinya yang membuatku tersenyum.
"Wa'alaikum salaam." Sahutku meralat ucapanku.
"Good!" Seru Firhan, lalu mengecup pipi dan tersenyum. Senyumnya menular.
"Jadi, apa yang membuat istri cantikku ini tertawa sendirian?" Tanyanya yang membuatku terkekeh.
"Apa, ya?"
"Nesya.... " erangnya manja dan lagi-lagi membuatku terkekeh.
Ia sengaja memasang tampang kesal. Namun, hanya senyuman yang terlihat. "Aku ikut senang melihat kamu tertawa lepas dan tersenyum seperti itu," Gumamnya setelah kekehanku mereda.
Tangannya kini berpindah menggenggam wajah. Aku tersenyum dan menatap lekat matanya. Seolah-olah, ada keindahan di sana yang tak ingin kulewatkan.
"Aku juga ikut senang melihat senyum indahmu itu, Mr. Tampan," Gumamku dan membuatnya terkekeh.
"Itu karena kamu penyebabnya. Karena, tawa dan senyummu. Kerana, ketulusan dan kasihmu. Kerana, doa dan semangatmu. Aku seperti ini, kerana istri hebatku ini,” akuinya lirih sembari tersenyum.
Mata cokelat bulatnya tampak berbinar dan itu membuat aku tak suka melihatnya. Seperti ada kesedihan di sana.
"Astaga, rambutmu basah seperti ini, mengapa masih dibiarkan?" tanyaku mengalihkan dan malah tangannya berpindah ke pinggangku, menariknya, lalu mendekap yang seolah-olah tak ingin membiarkanku lepas darinya, saat aku hendak mengambilkan handuk.
"Fir, lepaskan aku. Aku harus mengambilkanmu handuk, bisa-bisa kepalamu nanti sakit," Pintaku memandangnya sembari menggeliat dan tangannya semakin mendekap erat pinggangku.
Lelaki itu hanya tersenyum memandangku dalam tatapan menggodanya tanpa sepatah kata pun.
"Kumohon, Fir?" Sahutku memelas padanya dan senyum di wajah lelaki itu semakin melebar menyentuh matanya seperti menggoda.
"Jangan!"
Ucapannya membuatku berhenti menggeliat dan memandangnya penuh tanya.
__ADS_1
"Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu! Aku sudah menjadi calon ayah dan malaikat kecilku berada dalam sana." Lanjutnya, dan itu membuatku tersenyum.
"Lalu?" Tanyaku menggoda yang kini tangan ini kukaitkan di lehernya, menggelayut manja.
"Jadi, panggil aku papa," pintanya, tapi kedengarannya seperti mendesak. Kekehan ini terdengar.
"Iya, Papa sayang." Lirihku tersenyum dengan nada yang sengaja kubuat mengejek, namun itu tidak mengganggunya dan bahkan membuatnya menampakkan senyum puas.
Firhan semakin mendekap erat pinggangku, menatap lekat, lalu meniup mata ini dan seketika membuat mata ini terpejam.
Kekehannya terdengar lagi yang kubalas hanya dengan memandangnya tersenyum.
"Baiklah! Beri aku kesempatan mengambilkan handuk untukmu." Firhan mengerling padaku dan lagi-lagi membuatku tersenyum.
"Anehnya, suamiku tiba-tiba genit dan agresif begini!" gerutuku hingga ia tertawa. Lalu, mengecup kening ini.
Saat hendak mengecup keningnya juga, dengan susah payah aku berjinjit untuk bisa meraihnya. Tapi, hanya kekehan mengejek kudengar dari mulutnya dan membuatku menatapnya dengan senyuman. Firhan tersenyum dan menundukkan wajahnya kepadaku. Dan dengan senang hati, aku tersenyum dan mengecup keningnya.
Dengan raut wajah berseri, tangannya telah terlepas dari pinggangku.
Aku lalu berlalu sembari menahan senyum dan bergegas mengambilkan handuk untuknya. Rasanya pipiku memanas.
* * *
Hari ini dinner kita memang menunya adalah Tumis Kangkung, Oseng Tempe Tahu, dan Teri Asin Saus Tiram. Itu memang menu favorite Firhan. Bahkan, sehari pasca pernikahan kita pun, dia membuat masakan itu. Sungguh, membuatku tak habis pikir. Lelaki berdarah ningrat yang dibesarkan dengan kemewahan, menyukai makanan sederhana ini menurutku.
"Sayang, ada apa? Perutmu sakit?" Suaranya lagi-lagi menyentakkanku dari lamunan yang seketika membuatku kikuk dan tanpa sadar mengubah posisi duduk. Aku menggeleng sembari tersenyum.
"Omong-omong, Dian tadi siang kemari." Alihku memberitahu setelah berdehem.
"Oh, ya?" Sahutnya tak percaya dan raut wajahnya tampak berseri.
"Aku senang, setidaknya cerewetnya membantumu membunuh rasa bosan sendirian di rumah."
Senyuman sambil menggangguk setujuku tampak. Kami lalu makan. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya selesai dan bercengkerama sejenak di ruang tengah, lalu berpindah ke kamar saat kami mulai mengantuk.
Firhan saat ini tidur di pangkuanku, sambil tangan kkanaku membelai-belai rambutnya bak kanak-kanak. Ia sesekali menguap dan melirikku yang kadang mata kami bertemu dan hanya balasan saling tersenyum yang tampak. Sedang aku, masih asyik dan larut dalam Qur'an yang tengah kubaca sedari tadi. Ritual ini sengaja kubiasakan setiap hendak tidur. Setelah menyimpan alkitabku, lalu membaca do’a senandung Al-Qur'an dan mengecup kitab ini. Senyuman tersinggung lebar dengan manisnya kubiarkan ke arah suamiku itu. Tangannya kini menggenggam hangat tanganku.
"Tidur dong, Mama sayang. Nanti kalau sakit, bagaimana?" pintanya memohon dalam rayuannya.
"Iya, ini juga sudah mau tidur." Patuhku tersenyum.
Kulirik jam sekilas, sudah pukul duapuluh tiga lewat. Suamiku bangkit dan mengubah posisi tidurnya. Dan saat hendak berbaring untuk istirahat dan tidur, ponselku berdering. Aku lalu meraihnya di atas meja. Sejenak, kami saling berpandangan.
__ADS_1
Siapa yang menelepon malam-malam begini?
Firhan mengangguk untuk setuju meyakinkan, saat aku menatapnya ragu, lalu setelah mendesah panjang, akhirnya pada deringan ke sekian kalinya, aku lalu menjawab telepon itu.
"Halo?" lirihku ragu sambil menggigit bibir setelah menyentuh dan menggeser screen ponsel.
"Assalamu'alaikum dulu, Sayang," bisik Firhan di sebelahku mengoreksi.
Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum saat ia mengerling padaku dengan wajah innocent-nya.
"Assalamu'alaikum." Ulangku mencoba.
"Nah, kan, enak di dengarnya." Lagi, suamiku itu kembali merecoki dengan godaannya yang kali ini suaranya tidak berbisik, namun cukup berisik. Aku seketika menjauhkan ponsel dan memandangnya lekat.
"Sayang, aku lagi jawab telepon. " Keluhku yang lagi-lagi ditanggapi dengan mengerling dengan wajah innocent-nya ke arahku. Ia tersenyum lebar.
"Halo, ini siapa?" tanyaku mencoba lagi saat ponsel kudekatkan lagi di indera pendengarku.
Lagi, tak ada suara, hanya keheningan.
"Siapa saja yang ada di hatimu." Kembali, suara lembut Firhan masih merecoki dengan menggoda.
Aku hanya mendesah pasrah sembari memandangnya tersenyum sejenak. kemudian, "Mr. Firhan Pradipta Zayn?" erangku memandangnya memohon.
"Ya, Mrs. Bintang Elnesya Zayn?" sahutnya dengan raut wajah seakan tak bersalah yang membuatku tersenyum, saat mendengar penggabungan nama terakhir itu. Ia sengaja membubuhkan nama belakangnya, pada belakang namaku.
"Please?”
"Baiklah." Patuhnya menyengir, kemudian mengecup pipiku cepat dan terkekeh. Ia lalu berbaring dan tak menggangguku lagi. Tingkah manis nan konyolnya itu membuatku tersenyum memandangnya sejenak.
"Halo?" aku mencoba sekali lagi.
"Nesya?"
Suara serak nge-bass itu terdengar jelas di telingaku dan seketika membuat wajah ini berubah yang diikuti dengan bahu merosot.
Aku tak bisa membalas tatapan penuh tanya suamiku yang seketika heran melihat perubahan ekspresi dan sikapku. Dia bangkit dan mengambil cepat ponsel itu dariku, namun teleponnya sudah terputus. Tangan panjangnya yang hangat telah meremas lembut tanganku.
"Sayang, ada apa? Kumohon, bicaralah?" pintanya panik dan cemas. Namun, masih diam mematung tak bergeming. Seperti seluruh syarafku mati rasa. Dan seketika, kurasakan airmata menetes.
Rasanya dingin. Seperti kurasakan tubuh tenggelam di dasar Atlantic dengan rasa dingin yang begitu menggigit dan menusuk setiap pembuluh darah.
* * * *
__ADS_1