
Suara derit pintu terdengar saat membuka pintu rumah ketika hendak masuk, kini memecahkan kesunyian sedari aku meninggalkan rumah ayah dan ibu. Ruangan ini agak hangat, ketika melewati pintu besar utama. Setidaknya, menghangatkan tubuhku pada dinginnya malam di luar sana yang telah sedari tadi menembus kulit. Suasana rumah ini begitu sepi, pintu juga tak di kunci. Namun, jika memang Nesya ada di rumah dan tidak ke mana-mana, baru kali ini ia tidak menyambutku ketika tiba di rumah.
Ah, mungkin ia tidur. Tepisku membatin meyakinkan diri sendiri, saat rasa heran mulai menjalar di benak dan pikiran.
Benar, mungkin saja.
Lagi pula pendingin ruangan tak menyala. Bisa jadi, ia tengah ketiduran dengan aktivitasnya yang seharian sebagai ibu rumah tangga. Ia memang kadang tidak menyalakan pendingin ruangan di ruang tamu dan pintu utama jika sedang istirahat atau bepergian. Aku tersenyum, saat mengingat wajahnya yang diam-diam masuk di celah-celah pikiran kelamku.
Setelah membuka sepatu, lalu tuksedo yang sengaja kusampirkan di tangan, kemudian menuju kamar dan sempat menanggalkannya di bahu sofa saat melintas di ruang tengah. Lampu ruang tengah tidak menyala, hanya beberapa ruangan saja seperti Musholla, dapur, ruang kerja dan Taman yang masih bisa terlihat kerana pintunya terbuat dari kaca—bening—geser.
Tepat di sebelah selatan, setelah menaiki tangga bertehel keramik, pintu bercat warna turquise itu terbuka sedikit dan aku bisa mengintip dari celah tersebut. Senyumku mnguap. Gadis itu tengah berdiri memandang keluar jendela. Kukira dia tengah tertidur. Aku mendesah dan lagi-lagi tersenyum yang masih memandangnya di kejauhan sini.
Mungkin, ia tak mendengar suara mobilku tiba.
Diam-diam dengan jahil meniup telinganya, saat berhati-hati menghampiri dan telah berada di belakangnya. Nesya menggeliat dan lagi, telinga yang satunya kutiup dengan licik. Lagi-lagi, ia menggeliat namun kali ini berbalik ke belakang. Matanya seketika melebar sejenak kerana terkejut, lalu seketika berubah menatap tajam, tetapi tatapan tajam humor dan sarkasme yang terlihat, bibir mungilnya tak bisa menahan membentuk senyuman cantik di wajahnya. Kekehan dari mulut ini terdengar.
"Assalamu'alaikum, Sayang. " Bisikku memandang lalu mengaitkan kedua tangan di lehernya. Ia masih tersenyum manis.
"Wa'alaikum salaam. Malam." Jawab Nesya sembari tersenyum lembut menyentuh matanya.
"Malam juga. " Ringanku lalu mengecup cepat pipi putihnya yang membuat mata indah itu melebar memandangku, namun tersenyum.
__ADS_1
Lalu, sejenak mata itu berubah menyipit, menatap dengan curiga, tapi jelas sekali ada secercah penasaran dalam matanya.
"Ada apa?" tanyaku penasaran memandangnya yang tengah menatapku dengan alis mengernyit, tapi seperti berusaha memecahkan teka-teki sulit.
Lagi, Nesya masih saja terdiam dengan mata yang tampak seperti memikirkan sesuatu.
"Sayang? " erangku manja dan frustasi yang kini berbalik. Tanganku menyusup di sela-sela rambutku dan meremas. Ia selalu saja berhasil membuat panik dan takut dengan tingkah misteriusnya.
"Apa yang membuatmu sedih?" Pertanyaannya sederhana, tetapi membuatku tersentak kaget dan tanpa sadar tangan terlepas dan menjulur ke bawah, lalu berbalik memunggungi gadis yang tengah memandang semakin heran dan bingung ke arahku setelah sejenak kami saling menatap.
"Apa, Sayang?" tanyanya lembut mencoba lagi sembari mendesak penuh selidik, setelah ia berpindah di hadapanku dan menggenggam wajahku, memaksa memandangnya.
"Tidak ada. " Ringanku yang membuat mata ini seketika berputar ke bawah tak memandang Nesya yang menatap penuh harap, cemas, dan sedih.
Aku mendesah.
Kuputar secepatnya otak untuk mengalihkan topik ini, berbalik memunggungi dan mengalihkan pandangan yang kini tengah memandang keluar di jendela. "Itu hanya ... hanya … Tunggu, meengapa tak menyambutku tadi saat aku tiba?" alihku berbalik di akhir kalimat. Ia mendengus kesal, lalu mendesah mengalah.
Pandangan tudingannya tadi berubah melunak dengan lembut dan membuat aku diam-diam menghela napas lega. Tangannya kini terangkat, kemudian menggenggam wajah ini yang sekilas memperbaiki rambut yang tengah jatuh di keningku. Bibirnya perlahan-lahan tertarik ke atas dan membentuk senyuman manis, dalam tatapan hangat.
"Meski aku tak tahu itu apa, tapi setidaknya, aku tahu kesedihan dan luka itu, Firhan. Apa pun, apa pun itu, kuharap tak membuatmu berlama-lama dalam lukamu dan secepatnya selesai." Desah Nesya lirih yang masih menatapku.
__ADS_1
Seketika, perasaan sedih dan kelam ini, menjalar hangat di tubuh. Terlebih, benak yang berhenti sesak dan bergemuruh. Aku membiarkan senyum lebar mengembang begitu saja di hadapannya.
"Terima kasih." Bisikku bahagia.
Aamiin Yaa Robb. Batinku lagi-lagi berdecak bahagia penuh harap. Aku lalu menariknya dalam pelukan.
"Omong-omong, maaf, aku tak menyambutmu tadi." Sahut Nesya memulai setelah melepas dekapan.
"Tidak apa-apa." Ringanku lalu mengecup kepalanya dan menariknya lagi dalam pelukan.
"Fir, baumu seperti asam!" alih Nesya sembari mendorong pelan dan membuatku menatap tajam, namun ia terkekeh. Senyum ini tak bisa disembunyikan.
Aku kenal raut wajah tersipu itu, ia terkadang melakukannya jika tiba-tiba mengingat kami pernah bersahabat. Ia pernah memberitahu tentang hal ini. Desahan halusku terdengar, namun masih dalam senyuman.
"Baiklah, Nyonya, Fir, Siapkan aku makanan, sementara aku ingin mandi dulu."
"Oke." Serunya mengerling padaku yang membuat bibir ini membentuk dalam senyuman, tapi mataku melebar terkejut, kemudian cepat-cepat mengecup pipi ini dan berlari dengan kekehannya.
Nesya berlalu meninggalkanku sendirian di kamar ini, meninggalkan yang masih menatapnya semakin menjauh dan membekaskan senyuman bahagia menyentuh hati sembari menggelengkan kepala perlahan berulang kali.
Aku lalu menyambar piyama mandi di lemari khusus handuk dan semacamnya, kemudian bergegas mandi.
__ADS_1
* * * *