
"Pagi, Nona cantik." Sapa Firhan saat aku menggeliat merasakan kecupan di kening, lalu membuka mata dan mengerjap.
Tirai balkon yang hanya satu-satunya menjadi ventilasi di kamar ini, kini terbuka dan menampakkan cahaya pagi yang sangat cerah dan sehat menempa ruangan ini.
Hmm, sudah pukul delapan.
"Kamu dari jogging?" lirihku bertanya saat sudah melihat jelas dia memakai kaus ketat tanpa lengan berwarna kelabu dan celana pendek merah maroon.
Aku masih berbaring dalam selimut tebal putih bercorak bunga-bunga, membalut tubuhku. Rasanya sangat malas untuk bangkit dari pembaringan.
"Cukup lama. Hanya mengelilingi kompleks dan keluar tak jauh dari jalan raya."
"Kenapa tidak membangunkan aku?" protes memandang dia dengan kesal dan membuatku cemberut. Namun, hanya senyuman innocent yang aku dapat sebagai jawabannya sembari mencubit hidung ini dengan lembut.
"Nonaku ini sangat nyenyak tidurnya dan aku tidak rela membangunkannya," bela Firhan menimpali yang membuat aku memalingkan wajah dan mengerucutkan bibir.
"Janji, akan membawamu yang suasananya lebih indah dan keren," rayu Firhan setelah menyentuh lembut wajahku dan menghadap kearahnya.
Alisku mengernyit dan menatap lelaki itu penuh tanya, namun lagi-lagi senyum licik kutemukan di wajahnya.
Dasar cowok pemberi kejutan!
Aku mendesah mengalah.
"Mandi dan bersiap-siaplah, Sayang. Kita akan pergi ke tujuan sesungguhnya," Firhan mengumumkan dengan begitu bersemangat dan tersenyum penuh arti setelah mengecup keningku kembali, namun hanya mengabaikannya tanpa memandang dia dan bertanya lagi padanya yang hanya bangkit dari pembaringan dan berjalan melewati Firhan—terduduk di pembaringan—menuju ke kamar mandi.
Percuma saja! Aku sudah tahu jawaban dia, ini pasti salah satu dari kejutannya.
Memangnya apa lagi?
Raut wajahnya berkerut heran saat melihat tingkahku yang diam-diam meliriknya dari sudut mataku di balik poni. Namun, setelah beberapa langkah menjauhinya, aku berbalik dan melangkah menghampiri lelaki itu yang memandangku penuh tanya dan hati-hati.
Kecupan di kening Firhan mendarat lembut yang membuat dia memandangku tak menyangka.
"Thank's atas jalan-jalan kemarin dan semalam. Itu sangat menyenangkan," bisikku lalu berlalu meninggalkannya yang semakin tak percaya dan tak menyangka memandangku. Asumsiku, mungkin dipikirannya, aku akan bertanya padanya.
Dasar Tuan pemberi kejutan!
Aku tersenyum licik tanpa Firhan ketahui sembari masuk ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, kami telah siap. Firhan memakai kaus putih favoritku dengan paduan jaket biru couple dan celana hitam khaki. Dan aku, memakai pakaian turtleneck couple berwarna biru dengan celana hitam khaki pula. Meninggalkan rumah dan kota ini dan menyusuri jalan yang membuat aku menikmati sepanjang jalan.
Tak jauh dari kota, mobil Firhan yang melaju dengan kecepatan normal kini memasuki daerah seperti pedesaan. Di sepanjang jalan, sisi kiri dan kanan mulai tampak pepohonan dan berbagai tanaman. Jalan-jalan mulai berkelok-kelok dan kadang mendaki. Aku baru tahu tempat ini adalah desa Malino, saat pohon pinus mulai tampak yang tumbuh menjulang tinggi di sepanjang jalan dan suhu mulai terasa sejuk. Firhan melirik ke arahku yang tengah duduk di sebelahnya dan begitu menikmati.
"Malino?" tanyaku mulai membuka suara dalam keheningan sembari memandang penuh tanya.
Dia tersenyum hangat. "Ya. Sudah kuduga, kamu tahu tempat ini!" gumam Firhan.
Aku mengangguk dalam senyum simpul, lalu mengalihkan pandangan memandang keluar jendela, mengamati apa yang ada di sepanjang perjalanan.
"Aku tidak pernah kemari! Ini dulu adalah tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Aku mengenalinya karena sering mendengar orang-orang menyebut dan bercerita tentang tempat ini. Terutama, identik akan pohon pinus, suhu dingin dan beberapa tempat wisata, juga kebun strawberrynya. Orang-orang menyebutnya, puncak Makassar. Bogor memiliki puncak, begitu pun Makassar." Gumamku bercerita, lalu menyengir di akhir kalimat.
Rasanya, aku jadi rindu pada orangtuaku.
Mobil Firhan kini berhenti di salah satu rumah bergaya sederhana dengan cat orange. Rumah yang tidak besar itu tidak memiliki pagar yang letaknya di pingir jalan. Pekarangnnya tak luas, bahkan untuk parkiran mobil saja tidak muat. Ada kursi kayu dua buah dan meja kayu persegi empat yang di letakkan di teras rumah itu.
Dan seorang lelaki tinggi agak berisi yang berkulit hitam kecokelatan dengan rambut hitam pekat berponi telah berdiri di sisi depan rumah itu dan tersenyum hangat ke arah kami, seolah-olah telah menantikan kedatangan kami.
"Selamat datang, Pak Firhan." Sapa lelaki itu dengan hangat dalam aksen Makassar-nya yang masih kental saat aku dan Firhan menghampirinya. Firhan meraih uluran tangannya dan berjabat tangan.
"Maaf, Pak, saya Zul, teman Pak Andi yang membantunya menjaga villa ini."
Oh, milik temannya Firhan.
Mataku sibuk mengamati rumah ini dan sekelilingnya. Aku tak tertarik ikut dalam obrolan mereka. Sepertinya di sini bagus.
"Oh, Zul. Panggil saja saya Firhan. Andi, sih, memang sudah cerita tentang kamu… "
Suasananya sangat nyaman dan sejuk. Sudah siang, namun suhunya seperti masih pagi. Begitu sejuk. Aku benar-benar larut dalam suasana ini hingga tak berminat lagi mendengar obrolan panjang mereka.
Di sampingnya sebuah villa yang terbuat dari kayu. Ya, itu rumah panggung. Di cat dengan warna hijau tosca namun bergaya unik. Dan di sebelahnya lagi, hamparan rumput hijau dengan dikelilingi pepohonan pinus yang menjulang tinggi.
" … begitulah, Pak Firhan. Senang bertemu anda juga, Ibu...."
"Panggil saja Nesya. Dia Istri saya."
Aku tersentak mendengar nama itu yang seketika penelusuran dan penjelajahan mataku yang sedang asyik mengamati di sekeliling sedari tadi membuat terhenti dan tersenyum kikuk ke arah Firhan dan lelaki di hadapan kami.
"Nesya? Bintang Elnesya?"
Aku terkejut mendengar nama lengkap itu.
"Maaf, tapi siapa, ya? Maksud saya, kenapa bisa tahu nama lengkapku?"
__ADS_1
"Astaga, Nes … You and me, injoo moo ronk?"
Dan kalimat terakhirnya membuat aku tertawa.
Itu kalimat konyolku dengan Zul, saat kami bersahabat dahulu. Kalimat yang bercampur dengan bahasa Inggris dan aksen Makassar yang artinya, itu saja dulu. Dan seketika, suasana jadi heboh. Aku larut mengobrol dengan Zul, sahabat lamaku.
"Jadi, di mana—"
"Zul, maaf, ya, kami harus masuk. Aku takut Nesya jadi sakit kalau lama di luar dengan suhu seperti ini. Dia lagi hamil. Sekali lagi, terima kasih." Sela Firhan cepat-cepat yang menarikku masuk setelah Zul mengangguk dan tersenyum, bahkan tanpa memberiku kesempatan untuk bicara.
Aku hanya memandang heran lelaki yang menarikku ini.
Mengapa dia jadi protektif begini?
"Duduk di sini, Sayang." Sahut Firhan sembari menuntun duduk di sofa cokelat, namun nada suara mengandung dingin dan ... aneh.
Entah ada apa dengannya.
Pandangannya juga defensif. Perubahan emosionalnya sangat cepat. Dengan wajah datar, dia lalu keluar dan kembali membawa koper-koper kami. Aku hanya memandangnya sepanjang dia beraktivitas. Tanpa berkata apa-apa. Tapi, mataku tetap mengawasi gerak-geriknya.
"Ganti pakaianlah, lalu pakai jaket tebalmu. Akan ada perubahan suhu yang sangat dingin. Di luar mendung, sepertinya akan turun hujan," Titah Firhan namun aku tak menjawabnya.
Lama dia terdiam yang sepertinya menunggu sesuatu, namun aku hanya diam membisu sembari memandangnya yang kini memunggungiku dan entah apa yang dia kerjakan.
"Nesya?"
Aku tetap diam memandangnya, bahkan saat mata kami bertemu.
"Apa?" lagi, tukasnya bertanya tak jelas yang menatapku duduk sembari menopang dagu.
"Kamu yang ada apa?" elakku bersikeras membela diri yang masih memandang Firhan.
"Mengapa melihat aku seperti itu?"
"Mengapa sikapmu begitu?" Lagi-lagi aku menimpali dengan pertanyaan yang sama.
Dia mengusap dan meremas rambutnya setelah mengalihkan pandangan, lalu menunduk.
Aku tersenyum lalu menghampirinya dan mata kami bertemu. Tanganku saat ini menggenggam wajah suamiku itu yang sudah memandang wajah ini dengan kelam.
Menatap dan menikmati tatapan Firhan sejenak.
"Kamu cemburu?" mulaiku lagi.
"Maaf, seharusnya aku—"
"Maafkan aku. Please? Seharusnya aku peka dan menghargaimu," Aku menggumam yang masih menatapnya lekat.
Dia tersenyum, namun menggeleng pelan. Tangannya yang satu menyentuh hangat pipiku yang dingin kareba suhu di sini.
"I love you." Lirih Firhan dengan senyuman lebar dan bahagianya yang membuat aku ikut tersenyum lebar. Kata yang jarang di ucapkannya itu berhasil membuat pipiku memanas karena malu.
"I love you too, Sayang."
Dia tersenyum, lalu mengecup keningku kemudian menarik dalam dekapannya. Hujan mulai turun.
* * *
Sudah beberapa hari di tempat ini, namun Firhan tak pernah membawaku jogging bersamanya. Alasannya hanya satu—seperti alasan pertamanya—tidak mau mengganggu tidur nyenyakku. Bagaimana tidur nyenyak kalau suasananya yang begitu nyaman dan sejuk. Aroma panorama alam begitu terasa di sana. Di tambah lagi, setiap hari Firhan mengajakku jalan-jalan ke air terjun Tappanuli yang begitu indahnya, ke hutan pinus yang dikelilingi kabut dan semakin memperindah panoramanya. Area bermain flaying fox dan lainnya. Aku bahkan hanya menonton Firhan bermain, memetik strawberry yang begitu segar, berbelanja di pasar unik dan membeli bunga edelwis dan juga melihat tanaman langka yang baru ada di kota ini—selain di Amerika tentunya dan masih banyak lagi. Kejutan-kejutan Firhan membuat aku senang.
Untuk kali ini, seharian kami tidak jalan-jalan. Hujan turun deras dari pagi hingga saat ini dan kabut cukup menutupi kota ini. Suhunya benar-benar sangat dingin, hingga aku dan Firhan terpaksa memakai sweater dan jaket tebal sembari tengah mengobrol di kamar, di atas tempat tidur sedang yang di balut seprei hijau tosca dan efeknya benar-benar membuat semakin dingin karena warna lembut itu.
Kami duduk sambil suamiku mendekap tubuhku. Kemudian mengobrol masa-masa di mana kami masih bersahabat, kelakuan konyol hingga mimpi kita.
Aku merapatkan jaketku dan membuat dia mengkeret tubuh ini yang semakin mendekap erat sembari tangannya mengusap rambutku.
"Cuaca benar-benar sangat dingin. Pasti di luar lagi turun salju. Mau bertaruh membuat cepat boneka salju?"
Aku mendesah yang seketika uap dingin keluar di mulutku. Dia mulai lagi dengan gurauan konyolnya. Kadang-kadang, imajinasi berlebihannya itu kumat. Tapi, anehnya membuat aku tersenyum dan senang atas hiburannya.
"Ini Indonesia, Sayang, tidak akan bisa turun salju,"
Dia terkekeh. "Seharusnya ada perapian di villa ini, atau bagaimana jika kita membuat api unggun di sini?" gumamnya lagi setelah kekehannya mereda.
Aku terkekeh. "Ide bagus, Sayang. Bagaimana kalau api unggunnya yang besar saja? Villa ini?”
Dia tertawa saat mendengar timpalan gurauanku, lalu mengecup pucuk kepala ini. Rupanya mengerti maksudku.
Oke, jadi, pasangan ini sudah mulai gila!
Aku tersenyum geli dengan makian lelucon dalam benakku sendiri.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu minta jika Allah memberi satu permintaan yang langsung di kabulkan?"
Aku bertanya asal, pelukan mulai dilonggarkan dan menengadah memandang Firhan. Ekspresinya tersenyum hangat.
"Cukup melihat orang yang kucinta tersenyum dan bahagia, itu sudah lebih dari cukup membuatku bahagia,"
Aku tersenyum hangat dengan lebarnya. "Kamu tidak meminta cinta sejatimu?"
Firhan tersenyum dengan hangat ketika melirikku dan menatap sejenak.
"Keluargaku sudah tentu rantai kekuatan dan kesabaranku. Dan Allah tahu cinta sejatiku itu, bahkan dalam halal—tidaknya takdir yang telah digariskan. Dan teman hidup yang telah ditakdirkan itu, kelak jadi cinta sejati. Aku sangat percaya itu,"
Aku ikut tersenyum.
"Suatu saat, jika kesedihan itu datang tanpa perlindungan dariku, cukup pejamkan matamu, sebut nama Allah, lalu bayangkan wajah orang yang kamu cintai, rasa tenang itu pasti akan muncul." Bisik Firhan lalu mendekapku.
"Tidurlah, besok jika cuaca bersahabat, kita jogging pagi dan melihat kejutan lagi untukmu." Pinta Firhan dalam janjinya, lalu mengecup keningku dan kami berbaring.
Dalam masih dekapannya, mataku terpejam dan seperti mendengarkan musik dari ipod yang berada di dekat telinga. Suara lembut Firhan menyanyikan lagu Right Here Waiting For You dari Richard Marx, Lagu pengantar tidurku yang selalu di nyanyikannya untukku ketika hendak tidur dan membawa ke negeri awan dalam kehangatan dan dingin.
* * *
"Kamu tidak ingin bertanya kita akan ke mana?" tanya Firhan untuk ke sekian kali pertanyaan iseng terlontar dari mulut dia sepanjang jalan tadi.
Dia masih menggenggam tanganku erat sembari melangkah menyeimbangi langkahku. Cuaca sangat dingin pagi ini. Baru pukul enam pagi, membuat uap dingin keluar dari mulut saat bernapas, sehingga aku berkhayal berada di benua Eropa yang tengah bersalju.
Kabut dingin menyelimuti kota ini dan pepohonan pinus yang menjulang tinggi di sepanjang perjalanan tampak indah saat kabut menyelimutinya. Aku jadi bertanya-tanya, mungkinkah akan turun salju di sini?
Kekehanku terdengar ketika menertawakan pertanyaan konyolku sendiri dan mulai membayangkan.
Ya, Firhan akhirnya menepati janjinya dan membawaku jogging mengelilingi kota ini, meski masih di sekitaran villa saja, tidak jauh. Pipiku sudah sangat dingin sehingga terasa masuk ke dalam pori wajahku, begitu pun tangan yang kini di genggam erat suamiku ini.
Hanya memakai kaus dan jaket tebal serta legging tebal hitamku sambil Firhan terus berjalan di sebelahku tanpa ingin melepas genggaman ini. Katanya jogging of running, tapi malah jalan terus.
"Hei, di tanya kok melamun?" sela Firhan membuyarkanku.
Aku tersenyum dan memandangnya. "Apa tadi?"
Lelaki itu tersenyum, lalu semakin mempererat genggaman tangannya. Kali ini dengan kedua tangan miliknya yang sedari tadi digenggam dan meniupnya berulang kali dengan maksud meghangatkan.
"Bosan bertanya & tak ingin tahu?" mulainya lagi tanpa menyerah menggoda dan merayuku.
Mendengar itu, aku merengut cemberut dan mengerucutkan bibir yang membuatnya terkekeh. Setelah berada di area yang tak ada satu pun rumah penduduk dan hanya dikelilingi bunga-bunga dan tanaman serta sayuran, dia lalu berbelok masuk di antara bunga-bunga dan tanaman itu, menyusuri yang tak terlalu jauh dan menemukan tanah lapang yang hanya ditumbuhi beberapa bunga bussolom dan anggrek, kemudian menarikku lagi ke arah sebelah utara dan berhenti tepat khusus bunga-bunga mawar merah tumbuh. Asumsiku tadi adalah, kupikir dia akan mengenalkan bunga-bunga di sini, namun sepertinya salah.
Aku menelengkan kepala sembari memandang Firhan penuh tanya saat dia ikut membungkuk di sebelahku. Yang membuat aku senang dan takjub adalah, bunga-bunga mawar ini di selimuti butiran halus es seperti salju
Tapi, bagaimana bisa? Bukankah salju tidak ada di sini?
"Indah, bukan?" Dia menyela pikiranku yang tengah bertanya-tanya. Lalu, ekspresi dan senyumnya berubah saat melihat aku memandangnya keheranan.
"Ada apa? Kamu tidak suka?" Tanya Firhan hati-hati dan cemas.
Aku menggeleng cepat, lalu kembali memandang mawar indah ini. Biasanya aku hanya melihat dan mengaguminya dalam foto saja. Tapi hari ini, benar-benar membuat mimpiku terwujud.
"Oh, aku tahu! Sudah kubilang, aku akan memberimu kejutan lagi hari ini, kan? Dan inilah kejutannya, spesial untuk istri cantikku!" Raut wajah berseri dan bahagiaku tak bisa kusembunyikan, sungguh benar-benar senang dan menikmatinya.
"Tapi, bagaimana bisa?" Firhan tersenyum licik.
"Aku tidak mau tahu dan tidak ingin tahu jika mengatakan alasannya kerana kejutan!" sambarku menimpali yang membuat Firhan terkekeh.
"Kemarin, aku meminta bantuan Zul untuk melancarkan rencanaku ini. Meminta dia mengerut dan menghaluskan es, lalu menaburinya di bunga-bunga ini. Kebetulan cuaca dan suhunya bersahabat. Dan soal ide ini, aku pernah mendengarmu bergumam ingin melihat yang seperti ini. Jadi, berhubung kita di daratan dengan suhu sejuk, jadi kenapa tidak, ya, kan?" Senyuman riang seketika merekah saat alisnya naik berulang kali, lalu diikuti kerlingan mata menggodanya, hingga membuatku tak tahan untuk tidak tersipu malu dalam senyuman.
Terima kasih, Tuhan, karena dia milikku!
Aku sangat takjub dan kagum atas usahanya yang membuat aku bahagia dan mewujudkan mimpi-mimpi itu. Firhan lalu berdiri tegap bersamaku dan setengah mendekapku sembari tersenyum mengagumi mawar dengan selimut salju buatan di atasnya. Bahkan, sempat mengambil gambarku dengan bunga indah itu, dan juga beberapa bersamanya dalam selfie.
"Mengapa memilih Makassar untuk honeymoon kita? Bukankah kamu suka London, Tokyo, dan Paris?"
Dia mengangguk setuju saat aku memandangnya penuh tanya, dalam masih separuh dekapannya.
"Aku ingin mengunjungi ibu dan ayah mertuaku. Lagi pula, bukankah kamu sangat merindukan kota ini? Terlebih orangtuamu?"
Mataku berbinar mendengar penuturannya dalam anggukan setuju dan senyuman yang membuatnya ikut tersenyum sembari menarik kepalaku dalam dadanya dengan penuh kasih sambil mengusap lembut kepala ini yang ditutupi oleh topi wol biru.
"Terima kasih, Firhan, atas semuanya!" lirihku dan membuat dia mengangguk dan tersenyum memandangku penuh kasih dan hangat, lalu kecupan sayang dan lembut itu mendarat lama di keningku.
"Apa pun, untuk seseorang yang membuat hidupku sempurna, untuk bagian hidupku," bisik Firhan yang bisa kurasakan ketulusan di dalam ucapannya.
Dia semakin erat mendekapku.
* * *
__ADS_1