Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Dinner


__ADS_3

Aku memandang di cermin. Pantulan dariku membuat terhanyut dalam lamunan tentang sikap Firhan tadi dan pertemuan tak sengaja itu dengan Daniel. Setelah menyisir dan menata rambut—tanpa make-up berlebihan, hanya bedak dan lipstick saja untuk dinner malam ini. Sedangkan gaun dress merah fresh polos sampai di lutut, yang kupadukan nanti dengan heel’s merah sengaja kupakai. Rambut sengaja ingin diikat atau sanggul, atau apapunlah, agar terlihat rapi.


"Jangan melakukan itu, biarkan saja," selanya yang membuat aktivitas menata rambut jadi terhenti.


Tubuhku berbalik menoleh ke belakang di sebelah utara. Tubuh Firhan sengaja di sandarkan di lemari etalase sepatu sembari melipat kedua tangan ke dada. Ekspresinya sudah berubah secepat itu. Wajahnya sangat berseri memandangku, bak mengagumi karya indah yang baru ia temui.


Lelaki itu lalu melangkah menghampiri, menatap dengan tatapan tertegun dan anehnya seperti penuh makna di pantulan cermin yang ada di hadapan kami sembari memegang lembut bahuku.


"Kamu terlihat lebih cantik bila mengurainya." Jelasnya mengakui ringan yang nyaris berbisik.


Mata suamiku itu tak lepas memandang di cermin, lalu melepas ikatan itu yang membuat wajahku menengadah memandang wajahnya.


"Tapi terlihat berantakan, Fir, aku tak suka rambut ikal ini!" Gerutuku yang membuat senyum manis itu merekah.


Aku berdiri menghadap Firhan saat ini dan ia menatap kedua mataku lekat-lekat sambil memegang bahu.


"Wajah cantikmu, serasi dengan rambut seperti ini. Sangat indah! Seharusnya kamu bangga memiliki rambut ini, orang-orang di luar sana mengeluarkan banyak uang hanya untuk memiliki yang seperti ini dan kamu malah tak mensyukurinya," oceh suamiku yang memulai dan hanya membuat senyum ini nampak.


"Belakangan ini kamu sering marah-marah, apa kamu mengidam? Atau menstruasi?"


Dia tertawa, lalu mencubit hidung mungilku dengan lembut. "Entahlah, mungkin aku telat dua tahun." Timpalnya bergurau menahan senyum setelah mengangkat bahu dan membuat aku terkekeh. Ada secercah humor di matanya yang berkolaborasi dengan tatapan hangat dan lembut.


"Jangan bicara lagi, cepatlah bersiap! Kamu tahu betul, sampai batu bisa berbicara pun, kamu tak pernah bisa marah padaku. Lebih tepatnya, tidak mau," sungutku mengeluh, namun menatapnya menggoda.


Firhan tersenyum dan menunduk sejenak, lalu mengangkat wajah dan memandang sambil mengelus rambutku, "Dan aku tahu, kamu selalu benar, Nyonya Firhan. Kamu ibarat surga keduaku, setelah Ibu dan Ayah, dan maaf, untuk kesalahanku selama ini." Sahut Firhan tersenyum menatap mataku dengan lekat, lalu bergumam di akhir kalimat.


Kedua mata itu tampak bersungguh-sungguh, aku bisa merasakan ketulusan hati itu.


Lelaki tampan di hadapanku ini, lalu mendaratkan kecupan manis di kening. Kemudian, "Aku akan kembali!" janjinya riang, lalu mengerling padaku.


“Kamu tidak memarahi pak Gun, kan, atas kejadian tadi?” tanyaku saat teringat tiba-tiba, setelah menarik tangannya, mencegat ia sebelum pergi.


Ia cukup terdiam menatapku. Rahang kokohnya sedikit tegang dengan kilatan marah yang cukup geram, tapi detik berikutnya, kembali melunak dan berhasil mengendalikan emosionlnya.


“Aku tahu, beliau tak bersalah dan tak ada kaitannya dengan itu,”


Sebelum ia berlalu, lelaki itu mengusap lembut rambut ini bersama senyuman manis yang tampak di wajah teduhnya, kemudian menyambar piyama mandinya yang membuat aku tersenyum ketika memandangnya yang hilang dari kamar mandi.


Helaan napas legaku terasa. Firhan memang typikal lelaki yang tak tega mengasari orangtua yang selalu menghormati, tak peduli posisinya apa saat ini.


"By the way, Nyonya Fir, Jangan terlalu berdandan, bisa-bisa mengalihkan seluruh dunia, dan itu membuat aku cemburu!" selanya menimpali asal sambil memandangku dengan tatapan humor saat kepalanya tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi, saat aku hendak merapikan dan menata kembali rambut.


Aku terkekeh dan ia kembali menghilang di balik pintu—melanjutkan aktivitas mandinya, setelah memperlihatkan senyum manis. Ya, hal yang baru kuketahui saat pengantin baru adalah ia typikal lelaki bersih. Saking bersihnya, ia bahkan mandi kedua atau kesekian kalinya hanya dengan alasan merasa tak fresh, meski ia baru melakukannya lewat beberapa jam. Dan itu terjadi, ketika ia tetiba harus bepergian atau merasa jengah dan berkeringat.


Dasar!


Lagi-lagi tingkah konyolnya itu membuat senyum ini merekah lebar menyentuh mata.


* * *


Setengah jam berlalu, kami berdua telah siap. Kulirik jam yang menempel di dinding kamar ini yang telah menunjukkan pukul enam lewat. Senja tak tampak lagi di langit kota Jakarta yang bisa terlihat melalui jendela besar ini yang berada di kamar kami. Langit sangat cerah malam ini, bulan berbentuk sabit dengan dihiasi banyak bintang, sekaligus pemandangan kota malam metropolitan yang begitu menakjubkan dari atas sini. Aku sengaja membiarkan tirai tidak menutupi jendela yang tengah berada di hadapanku, hanya untuk mengagumi keindahan malam sejenak, sebelum kami dinner.

__ADS_1


"Sudah siap?"


Suara Firhan membuat aku menoleh dan tersentak dari lamunan. Lelaki itu berdiri tidak jauh beberapa meter dari tempatku berdiri dan ia lagi-lagi selalu terlihat sangat tampan malam ini.


Lelaki yang selalu saja mempesona itu kini memakai kemeja merah fresh polos dengan lengan kemeja dinaikkan hingga ke siku—sesuai permintaannya—yang kusiapkan tadi untuknya dengan dipadu celana hitam khaki dan sepatu kets hitam. Rambut spike Firhan sengaja di gel dan dimodel membentuk agak berantakan, namun terkesan keren dan sangat tampan. Dia memang sengaja meminta mengganti pakaiannya dan menginginkan pakaian couple casual yang tengah kami kenakan saat ini. Firhan tersenyum, saat menyadari aku terpesona pada penampilannya.


"Aku milikmu, ingat?" ringannya mengingatkan dan membuatku tersenyum malu dan menunduk.


"Seharusnya, aku dandan sempurna untukmu, tapi—"


"Sssstt. Bahkan, kamu tidak mandi pun, kamu masih terlihat sangat cantik di mataku,"


Dan itu, membuat aku terkekeh yang hanya di balas dengan senyuman khasnya yang nampak saat melihat responku.


Lagi-lagi pipi memanas. Ah, Tuhan, mau di bilang dia merayu, tapi kenyataannya, yang aku rasakan, itu memang real dari hati tulus, ketulusannya benar-benar terasa.


"Berangkat?" tanya dia memandang sembari mengulurkan tangan ke arahku.


Aku tersenyum dan mengangguk, lalu menghampiri dan meraih uluran tangan hangat itu. Ia menggenggam erat tanganku, menyambar tuksedo hitamnya, dan kami turun ke bawah.


Saat melintasi ruang tengah, meski Firhan sengaja merengkuhku dan berhati-hati agar tak memandang ke sisi kanan, tetapi tetap saja, sudut mataku sekilas melihat meja kaca bening dengan motif yang kukagumi itu selama ini, pecah tak tersisa dan kini dibiarkan berserakan di lantai. Hanya tinggal penyangga-penyangganya saja yang berdiri tegak bersama miniatur hiasan dan alas tempat menyimpan koran atau majalah.


Sebenarnya, aku ingin bertanya pada suamiku ini, namun kukatupkan keras-keras rongga mulut dengan bibirku. Aku tidak ingin merusak moment indah ini, terlebih suasana hati Firhan yang saat ini sangat bagus.


Tanganku melingkar semakin erat di pinggangnya dan ia merengkuh semakin erat, berjalan sembari menyandarkan kepala di dadanya dan tangan satunya memegang lembut kepalaku.


Setelah sampai di beranda dan menghampiri mobil merahnya, ia lalu membukakan pintu depan untukku dan seketika duduk di jok penumpang sebelah pengemudi. Senyum khas Firhan tersungging ke arahku saat lelaki itu telah duduk di jok pengemudinya. Kali ini pak Gun memang tidak ikut mengantarkan.


* * *


Firhan tersenyum padaku, lalu mengelus rambut ini setelah ia kembali melihat-lihat dan memesan ikan apa yang akan jadi menu makan malam kami.


Tempatnya indah dan ramai. Sebuah Restaurant Seafood yang berada di Ancol. Katanya, tempat ini khusus di pesan oleh tamu istimewa kita, tamu yang dikhususkan pula untuk menemuiku. Aku bergetar, saat wajah Daniel tadi sore terlintas di pikiran. Lagi pula, tidak mungkin tamu istimewanya adalah dia. Ia tahu betul bagaimana perasaanku dengan lelaki yang kubenci itu. Tempat ini juga sangat nyaman dan banyak peminatnya.


Bandar Djakarta, itulah namanya. Ada tempat khusus untuk memilih seafood yang akan di jadikan menu makanan sang pengunjung. Aku dan Firhan juga memilih tempat tepat berada di area luar seperti dining atau teras Resto. Rasanya dinner di pinggir pantai dan laut.


Embusan angin sepoi, kini menyentuh kulit wajah dan masuk ke dalam pori hingga berefek dingin.


"Kamu suka tempat ini?" Suara Firhan di samping saat ini membuat aku memandangnya.


Senyumanku menguap sambil mengangguk cepat. "Sangat!" akuiku dalam senyuman masih merekah di wajah ini.


"Syukurlah, mereka tidak salah memilih tempat." Gumamannya itu membuat aku menelengkan wajah ke arahnya.


"Mereka?"


Lelaki yang duduk di sebelahku itu mengangguk cepat sembari tersenyum yang membuat kedua mata ini memandang penuh tanya, bingung dan tak menyangka. Lagi-lagi hanya senyuman manis dan kilatan tatapan mata yang penuh menggoda dan jahil sebagai jawaban darinya hingga dengus terdengar dan merengut padanya yang seketika membuatnya terkekeh.


"Hei, Nyonya Firhan, jangan mengacaukan wajah cantikmu hanya kerana.… " dan kalimatnya seketika terhenti dan berubah dengan senyuman manis, saat kupaksakan senyum lebar itu ke arahnya.


"Nah, begitu lebih baik," ringannya acuh dengan tampang innocent-nya yang lagi-lagi membuat aku mendengus.

__ADS_1


"Fir?"


Suara paruh baya wanita yang kesannya terdengar bahagia dan mengandung rindu kini membuat kami menoleh.


Mataku terpaku, memandang sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan muda dengan gaun panjang merah gardennya, rambut di sanggul dan di sebelahnya berdiri gadis manis dengan ikalan rambut cokelat dengan dipadu dengan dress hijau tosca pendek hingga ke lutut. Tangannya melingkar ke lengan wanita paruh baya itu sembari mereka tersenyum berseri dengan mata berbinar. Ya, itu adalah ibunya Firhan dan Adiknya.


"Ibu! Isti!" seru Firhan dengan senyuman lebar yang seketika berdiri dan disusul aku.


Suamiku itu merentangkan tangannya dan kedua perempuan itu dengan raut wajah bahagia yang masih penuh senyuman riang berhambur menghampiri. Ibu memeluk Firhan penuh erat dan sejenak meneteskan airmata, lalu mengusapnya. Kemudian, disusul Isti yang begitu berseri dan senang melihat kakaknya, memeluk begitu erat. Aku yang bahkan melihat itu hanya bisa terharu sambil masih tersenyum dalam mata berbinar, kemudian mendesah diam-diam.


"Hai, Isti. Senang bertemu denganmu lagi." Sapaku lalu memeluknya saat pandangan kami bertemu, sembari tersenyum dan ia membalas dengan erat dan raut wajah berseri, meski kami sedikit canggung.


"Hai, Kak, senang juga bertemu denganmu malam ini. Dan yang lebih penting, terima kasih, telah menjaga kakakku." Sahut adik Firhan yang masih canggung, dan tersenyum tulus setelah pelukan terlepas.


Anggukan dan senyumanku menguap begitu saja. Mataku lalu beralih memandang hangat penuh kasih itu.


Tuhan, entah mengapa, rasanya aku melihat almarhumah ibu. Seperti memiliki ibu lagi.


Berusaha sebisa mungkin untuk tak menangis di hadapan mereka dalam perasaan yang masih kikuk.


"Dan…. "


"Ibu! Panggil aku Ibu, Nak! Kamu tentu saja sudah menjadi anakku juga," pinta ibu Firhan menyela ucapanku yang membuat sontak memeluk wanita itu dan menangis dalam pelukannya.


Sekilas, aku melihat, orang-orang di sekitar kami menatap dengan tatapan aneh. Dan aku, tak peduli.


Oh, Tuhan, terima kasih untuk malam ini, terlebih, membuat Firhan bahagia!


"Ayo, silahkan duduk! Makanannya sudah di pesan, mungkin sebentar lagi akan datang." Sela Firhan setelah pelukan kami terlepas. Mungkin, ia risih dengan tatapan aneh yang masih memerhatikan di sekitar.


Kami lalu mengobrol, membahas tentang kabar masing-masing, keadaan kehamilanku, keseharian adik Firhan dan tentang kehidupan kami.


"Oh ya, Bu, ayah mengapa tidak datang?" tanyaku di sela-sela gurauan dan obrolan kami.


Dan seketika, suasananya terasa berubah, seperti tegang. Sekilas kulihat, mata ibu dan Isti memandang aneh Firhan, lalu mereka berdua tersenyum kikuk ke arahku.


Ah, Nes, dasar bodoh! Apa yang kau perbuat? Kau benar-benar mengacaukan suasana!


“Maaf,” lirihku yang terlontar begitu saja. namun, ibu hanya tersenyum hangat sembari menyentuh lembut pipiku. Kehangatan kasih sayang seorang ibu kini menjalar seketika di seluruh syarafku. “Tidak apa-apa, Nak,” lembutnya teduh menatap yang kubalas dalam senyuman dan mata berbinar.


Tangan Suamiku itu saat ini meremas jemariku untuk menenangkan dan tersenyum, begitu pun Isti


“Ayah tidak bisa datang, dia sangat sibuk, mungkin lain kali kita bisa bertemu dengannya,” sela Firhan berusaha membuatku mengerti.


Lelaki yang sejenak ekspresinya berubah kikuk itu kini berusaha tersenyum simpul di hadapanku, namun senyumnya tak menyentuh mata sembari mengangguk perlahan, seolah meyakinkan dirinya juga. Meski, aku merasa ada sesuatu alasan yang pastinya bukan sesuai asumsiku, tapi pikiran bodoh—negative itu masih berusaha di tepis dan menekan ke dalam otak bahwa ayah memang benar-benar sibuk.


Sejenak, menangkap mata mereka bertiga saling memandang satu-sama-lain, dan tiba-tiba saja suasana berubah tegang dan canggung.


Sepersekian detik kemudian, suasana tiba-tiba berubah, saat pelayan datang dan membawa pesanan kami yang tengah di sajikan di meja. Ada Nasi Putih, Cumi Teppanyaki, Cumi Goreng Mentega, Ikan Bawal Jepang Sauce Bandar, Kepiting Tarakan Jantan Sauce Padang, Kerapu Steam, Udang Galah Super Sauce Telak dan beberapa Juice serta Air Mineral untuk kami, dan semua menu sesuai pesanan yang telah disebutkan oleh salah satu pelayan yang melayani kami—dari beberapa pelayan tadi. Setelah mengucapkan terima kasih dan meninggalkan kami, kami lalu makan sembari sesekali mengobrol.


* * * *

__ADS_1


__ADS_2