
Hujan di luar sana terdengar sangat deras, seperti hendak mengalahkan perdebatan kami dan gemuruh di hati ini. Nesya baru saja memberitahu sesuatu hal yang mengejutkanku. Menjawab pertanyaan yang menanyakan penyebab mata bengkak dan bekas deraian airmata itu di pelupuk matanya saat kemarin siang. Aku memang baru menanyakannya hal itu, di sore yang penuh suasana dingin dalam background suara deras hujan di luar sana yang lagi-lagi bergemuruh di langit cakrawala.
"Jadi, kamu bertemu Dian?" dia bertanya sambil memandang wajah yang menatap aku serius.
"Jangan bertanya dengan pertanyaan bodoh itu, Firhan. Aku yakin, dia pernah memberitahu tentang perasaannya itu padamu, dan kamu menyakitinya!"
"Sudah kubilang, aku tidak menyakitinya! Dian memang sudah berulang kali menyatakan perasaannya, tapi aku tidak ingin semakin menyakitinya dengan memberikan harapan palsu pada cinta tulusnya yang membuat dia terus berharap, Nesya. Aku ingin dia menemukan cinta sejatinya. Percayalah, tidak ada maksud untuk menyakiti Dian, please?" jelasku berusaha meyakinkan sembari menggenggam tangan dingin istriku ini, seraya memandangnya yang masih bingung dan membuat rasa frustasi benar-benar merasukiku pikiranku saat ini yang mulai kusut.
"Fir, jika suatu saat aku memintamu menikah—"
"Jangan berpikiran bodoh! Istriku hanya satu dan akan tetap jadi satu selamanya,"
Sungguh, aku tak habis pikir, apa yang ada di pikiran Nesya saat ini!
"Tapi mengapa kamu lebih memilih aku yang—"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu! Cinta ini tumbuh dengan sendirinya saat kamu membuat aku hidup, saat kamu juga ingin belajar mencintaiku dan memberikan separuh hati dan hidupmu. Saat kamu selalu menguatkan aku yang tidak hanya sebagai sahabatku sampai saat ini, tapi juga sahabat hidupku sampai kapan pun,”
Aku mengambil napas sejenak lalu menatapnya teduh dalam mata berkacanya.
“Kamu tahu, aku tidak peduli kamu bagaimana dan siapa, tidak peduli sesempurna apa perempuan yang berusaha masuk dalam hidupku. Aku tidak peduli, Nesya! Bagiku, kamu lebih dari segalanya dan tidak akan bisa dibandingkan oleh siapapun! Bagaimana bisa, bagian dari hidupku tidak lebih baik dari orang lain? Tidak, Nesya! Kamu, Ibu, Isti dan Ayah, tidak ada yang lebih baik dari itu, kalian segalanya," jelasku sembari menggenggam wajah gadis itu.
Airmatanya menetes bahagia. Seolah-olah, sorotan mata Nesya hendak mengatakan terima kasih, lalu memeluk aku begitu erat.
"Aku mengunjungi ayah kemarin pagi,"
Pengakuannya membuat pelukan kami terlepas, kemudian memandangnya sejenak.
"Mengapa menyembunyikan semua itu, Fir? Mengapa tidak memberitahuku kalau Ayah sakit?" pandangan Nesya penuh tanya dan serius saat cepat-cepat menambahkan.
Aku lalu bangkit berdiri, memandang keluar ke arah jendela yang kini kuhampiri. Di luar masih hujan, namun sudah tidak terlalu deras.
Aku kini menyusupkan kedua tangan di sela-sela rambut ini.
Nesya menemui Ayah? Apa yang dia lakukan di sana?
Helaan napas beratku keluar begitu saja. Aku jadi semakin rindu lelaki paruh baya itu. Bahkan rindu keras kepala dan tegasnya.
"Saat itu, aku dan Isti bertemu—secara tidak sengaja di parkiran Restaurant saat aku mau pulang—setelah pertemuan terakhirku dengan Dian untuk memintanya menemanimu saat aku tidak bersamamu, setidaknya. Singkatnya, Isti memintaku menemui ayah karena beliau sakit, tapi ayah masih keras dengan keputusannya."
"Apa itu yang membuatmu terlihat seperti.… "
Aku mengangguk dan tahu ke mana arah pertanyaannya.
"Itu yang membuat aku sedih dan menangis. Aku sengaja tidak memberitahumu, hanya kerana tidak ingin membuatmu sedih lagi, Nesya, cukup terakhir kalinya kamu mendengar amarah ayah dan ikut terseret ke dalamnya,"
Pandangan Nesya tidak setuju atas gagasan itu yang membuat dia menggeleng cepat.
"Tidak! Karena ini salahku! Aku yang membuatmu hancur dan memisahkan seorang ibu pada puteranya, seorang kakak pada adiknya. Aku penyebabnya, Fir! Jadi, bagaimana bisa kamu mengatakan—"
"Tidak ada yang salah! Mungkin, memang seperti ini jalannya, dan berhentilah menyalahkan dirimu sendiri!" elakku bersikeras sembari menghampirinya.
Entah sampai kapan dia akan mengerti.
"Mengapa tidak memberitahu ayah sesungguhnya apa yang terjadi?" tanya Nesya memandang wajah ini dengan menuntut setelah sejenak hening.
Senyum simpul merekah di wajah ini tampak, kemudian menarik istriku itu dalam pelukan. Mengecup lembut rambut harumnya, lalu memeluk kembali begitu erat.
Oh, Tuhan, aku butuh dia! Mengapa jadi serumit ini, sih?
Lagi-lagi desahan berat terdengar, namun masih dalam pelukan ini. "Aku tidak ingin kamu terhina di depan mereka, juga tidak ingin orang lain berpikir negatif tentangmu. Bagiku, kamu tetap Nesyaku yang terhormat dan tanpa cela. Bukan karena apapun, tapi memang pribadi dalam dirimu yang seperti ini, Nesya yang terhormat dan sempurna, juga indah," pelukanku semakin erat.
Ah Tuhan, aku sangat mencintainya, tolong jaga dia dan jangan memisahkan kami!
"Oh ya, mengapa tiba-tiba meminta Dian menjagaku?" tanya Nesya yang tiba-tiba melepaskan pelukan kami setelah lagi, hening sejenak di antara kami.
Aku menarik napas dalam, kemudian menghela napas berat.
Dia seperti seolah telah merangkum semua ini. Apa dia buat daftarnya?
Kekehannya tetiba terdengar dan membuat wajahku semakin mengernyit heran. “Jangan berpikir macam-macam, aku hanya menghapal ekspresimu itu jika sedang sok tahu tapi bingung. Well, become of topic, mengapa memintanya seperti itu? Yang kutahu, kamu tidak akan seprotektif begitu jika tidak sedang cemas. Ada apa, Firhan? Apa yang terjadi?”
Rahang tiba-tiba mengeras dan memutar mata tanpa memandang dia. Aku mendesah mengalah.
Ah, dia masih sama! Masih jeli dalam kepandaiannya. Mungkin memang sudah seharusnya, sudah saatnya.
"Sebelum aku menelepon Dian untuk bertemu, Daniel menemuiku."
Mendengar nama terakhir itu, raut wajah Nesya berubah pucat. "Oh . itukah alasannya dia mengejarku di Mall waktu itu?" Gumaman yang tanpa disadari gadis itu seketika keluar dari mulutnya, membuat aku terkejut.
Pandangan Nesya kosong seperti tengah melamun dan mengingat sesuatu.
Daniel menemuinya di Mall? Oh astaga, aku ingat! Nesya memang cerita saat itu.
"Dan malam itu, si penelepon misterius, dia adalah Daniel! Aku bisa mengenali suaranya, terlebih saat dia mengatakan rindu padaku, Firhan," akui Nesya dengan pandangan menerawang mengingat sesuatu.
Ingatanku seketika terbawa, saat malam itu, Nesya syok setelah mengangkat telepon dari seseorang yang tidak kuketahui.
Jadi Daniel orangnya? Dia yang membuat istriku menderita seperti itu?
Lagi-lagi rahangku mengeras dan mengatupkan mulut. Kepalan tangan kini erat dan rasanya ingin terbang menemuinya dan melampiaskan amarah ini. Tapi, tidak! Aku tidak ingin membuat Nesya sedih atas tindakan arogan yang saat ini telah benar-benar menguasaiku dan sungguh, tangan ini sangat gatal ingin memukul sesuatu.
Aku tersentak ketika tangan dingin itu menyentuh tanganku dan berusaha keras tersenyum sebaik mungkin, menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Tangan yang cukup bergetar dan berusaha menenangkanku dalam sentuhannya. Lagi-lagi aku menarik gadis itu dalam dekap hangat ini, memejamkan mata, berharap amarah yang masih mendera dan menguasai menjadi mereda, sembari membayangkan wajah cantik gadis yang tengah aku peluk saat ini. Mengalihkan sebisa mungkin.
Biasanya senyuman dan wajah Nesyayang terlintas di pikirankulah yang selalu membuatku tenang dalam kegusaran dan kecemasan yang mengusik.
"Apa … ayah baik-baik saja?"
__ADS_1
Nesya mengangguk dalam dekapan. "Sudah mulai membaik."
Ah, sosok hebat itu. Aku sangat rindu padanya, terlebih candaan dan kecemasan berlebihannya yang begitu protektif.
Senyumanku begitu lepasnya merekah dalam mata terpejam, saat kenangan itu terputar ulang di pikiran.
"Aku menceritakan pada ayah sesungguhnya ... "
Dia terdiam, seperti sedang menunggu, menunggu reaksiku—asumsiku—yang sengaja menahan untuk tetap tenang di depan istriku ini dan tak ingin membuat dia semakin cemas lagi.
Lagi-lagi aku merapatkan pelukan sembari memejamkan mata dan membayangkan wajah tersenyum Nesya.
"Apa yang ayah katakan?" Suara yang keluar terdengar nyaris berbisik dan sekilas mengecup pucuk kepala Nesya sembari masih memeluknya.
"Kebanyakan Ayah diam, seperti menyadari sesuatu, dan … mengenang masa-masa bersama putera tampannya."
"Oh, ya?"
Senyum merekah seketika di wajahku dalam mata masih terpejam. Informasi baru itu menjadi imun dan penyemangat—kebahagiaan di syarafku. Dia mengangguk pelan dalam dekapan.
"Aku juga memberi pianika sebagai hadiah ulangtahun ayah, atas namamu." Akuinya yang seketika membuat pelukan ini terlepas dan memandang dia dengan sorotan tak percaya.
“Benarkah?”
Angguknya mantap. "Iya! Bukankah Kemarin ulangtahun beliau, sesuai yang pernah kamu ceritakan, kan? Saat kita masih bersahabat dulu. Juga alat musik favorit ayah?"
Anggukan dan senyuman ini membuat Nesya tersenyum manis. Aku lalu kembali menariknya dalam pelukan.
“Kamu masih mengingatnya, ya?” gumamku tak percaya dalam dekapan.
“Tentu saja, aku masih mengingat semua tentang kita, semua yang kamu ceritakan padaku! Ice cream, Paris, Hellyped dan.... “
Pelukanku semakin erat. Informasi baru itu membuat senyuman ini tak bisa kutahan. Senyuman lebar yang begitu senangnya dalam mata yang masih terpejam. Itu seperti ibarat celah yang selama ini tertutupi dalam kegelapan.
Sungguh, rasanya seperti vitamin penyemangat untukku.
Ternyata semenyenangkan ini bahagia, terlebih memiliki istri cantik dan terbaik seperti dia. Terima kasih, Istriku.
"Terima kasih, Sayangku." Desahku dalam rengkuhan dan masih dalam mata terpejam yang keluar begitu saja.
"Terima kasih kembali, Suamiku sayang. Tapi, tidak ada kata terima kasih untuk ayah yang sama," senyumanku semakin melebar dalam mata terpejam.
“Terima kasih untuk semuanya, dan untuk ingatan itu,”
Dia terdiam, tapi bahuku seperti merasakan sebuah kecupan lembut. Tangannya kini mengusap punggungku sejenak, lalu mengeratkan kembali kedua tangannya yang semakin memelukku begitu erat.
“Aku mencintaimu, Fir.” Gumaman Nesya yang nyaris berbisik seperti membuat raut wajah ini berseri dalam tersipu bahagia. Aku mengecup pucuk kepalanya dan semakin memeluknya erat.
“Dan aku sangat,” bisikku dalam senyuman.
"Jadi, jangan ada rahasia lagi?" sahutnya tetiba sembari melepaskan pelukan.
“Tidak bisakah moment romantisku tercipta lama? Aku baru saja menikmati bahagiaku dan sikap manis istriku ini, tapi malah dirusak!” gumamku bersungut dengan kesal.
“Apa?”
Gadis itu hanya terkekeh dalam raut wajah tak bersalahnya, tapi seperti mengejek. Ia lalu menghampiriku lebih dekat di hadapanku, menatap lekat dalam senyuman menggodanya, lalu mengambil kedua tanganku dan menangkupkan keduanya hingga mengacung di hadapan kami sembari menggenggam dengan kedua tangannya pula.
“Maaf?” tatap Nesya memohon dalam nada suara menggoda setelah mengecup tangan yang tengah di genggam dan ditangkupkan ini hingga senyumanku merekah.
Aku lalu mengecup keningnya. Dan, "Janji!" riangku ringan yang seketika berjanji dalam diri sendiri, saat kedua tangan kelingking kami saling bertaut satu sama lain, kemudian menarikku kembali dalam peluknya. Senyum lebar gadis cantik di hadapanku itu tersungging mempesona.
* * *
"Jadi, kapan kita berangkat?" Nesya bertanya dengan penasaran sembari sibuk memasak makanan untuk aku tentunya.
Sore ini dia memasak Martabak Sayur, sesuai permintaanku dan aku hanya memerhatikan sembari menunggunya dengan sabar di meja bar dapur. Entah mengapa, aku ingin makan-makanan khas yang berasal dari India itu, bahkan Nesya meledek mengatakan bahwa aku ikut mengidam juga.
Terserah dia, apa saja! Asal bisa melihat istriku itu tertawa lepas seperti tadi.
"Hei, di tanya, kok, melamun? Sambil senyum-senyum lihatin lagi!" goda Nesya yang membuat aku tersentak dan tersenyum lebar.
"Berangkat, ya? Surprise, bukan?" Aku menimpali mengingatkan yang membuat dia mendesah pasrah.
"Resiko punya suami penuh kejutan!" sungut Nesya dengan nada suara yang nyaris berbisik, sembari menyimpan sejenak adonan yang telah dia uleni dan telah jadi.
Dan itu membuatku tersenyum sembari menggeleng dan tetap memerhatikannya.
"Ada apa, Sayang?"
"Tidak ada apa-apa."
Nesya memaksakan senyum lebarnya dan yang terlihat hanya senyuman konyol dan lucu, membuat aku terkekeh dan ia membalas dengan mengerucutkan bibir setelah menjulurkan lidahnya. Kemudian, ia melanjutkan dengan mengiris bawang, sayuran, kornet, sosis dan semua bahan-bahan, lalu mencampurkan dalam kocokan telur yang lagi-lagi di kocok oleh tangan indah dan lihai itu.
"Kalau kita tiba di Makassar, aku ingin pergi—"
"Rencana ketiga dan seterusnya itu kejutan! Dan aku tahu apa yang kulakukan dan yang kamu mau, Sayang," istriku itu cemberut dengan kesal dan itu menghibur yang membuat senyum ini diam-diam merekah.
"Apa mereka tidak ikut?" tanya Nesya di sela-sela memasaknya.
Oh, aku tahu apa yang dia maksud, adalah keluarga kami!
"Tidak! Sudah kubilang, honeymoon kita, jadi itu hari spesial kita!"
Senyuman malu-malu yang berusaha di sembunyikan dalam pandangan menunduk dan fokus di masakannya, samar-samar tampak kulihat. Tidak membutuhkan waktu lama, Martabak spesial ala istri sayang telah jadi dan dia menyajikan dihadapanku seketika.
"Aku mau mandi dulu, lalu menemanimu jalan!" Seru Nesya yang seketika mencondongkan tubuhnya mengecup pipi, setelah melepas celemek dan menghampiriku.
__ADS_1
"Oke, Sayang. Trim’s atas Martabak enaknya."
"Terima kasih kembali. Selamat makan!" Seru dia lagi, lalu meninggalkan aku sendiri yang makan di bar dapur.
Baru suapan ketiga, suara bel pintu terdengar yang membuatku terpaksa membuka pintu.
Entah siapa bertamu di senja ini.
"Kau Firhan?" suara kasar itu terdengar yang membuat senyuman ramah di wajah ini, saat membuka pintu dan melihatnya berdiri di hadapanku—seketika merasa suasananya berubah jelek.
"Ya. Maaf, anda siapa dan cari siapa?” tanyaku bingung dan heran yang masih ramah pada lelaki tinggi dengan rambut jabrik hitamnya. Sorotan mata dia begitu tajam dengan kilatan amarah dan defensif.
"Kau! Kau yang aku cari!" tukas lelaki berwajah oriental itu sambil menekan kosakatanya dan membuat allisku mengernyit.
Ada apa? Siapa dia?
"Maaf, Bung, tapi aku benar-benar tidak mengerti. Ada apa ini? Aku bahkan baru melihatmu,"
"Kau yang ada masalah apa? Kau apakan Dian hingga membuatnya menangis sampai saat ini, setelah bertemu denganmu di resto?"
Dian? Dian siapa yang di maksudnya? Dian sahabat Nesya, kah? Apa dia tunangannya? Juan?
Lalu, tunggu. Dian menangis? Oh, astaga! Aku ingat saat perdebatanku dengan Dian di Resto waktu itu.
"Kamu Juan?"
Lelaki tegap yang sejajar dengan posturku terdengar mendengus dan tersenyum licik.
"Aku bertanya padamu! Bodoh! Asal kau tahu, aku sangat tidak suka melihat cintaku menangis, dan aku yakin kau bisa pahami itu," ringis lelaki jabrik itu yang rupanya Juan, tunangan Dian dan memutar matanya sembari menatapku tajam dengan sorotan kebencian dan geram di mata itu, pada akhir kalimat yang terdengar secercah ancaman dalam nada suaranya
Ia masih memandang tajam dan defensif dengan raut wajah geram sembari berlalu pergi, yang hanya aku pandang sampai naik ke mobil Van black whitenya dan perlahan hilang yang berlalu.
Saat aku baru melangkah beberapa meter untuk kembali masuk melanjutkan makan, suara bel lagi-lagi terdengar dan membuat aku mendesah seraya memejamkan mata.
Ada apa lagi Juan kembali?
Aku berputar dan melangkah kembali ke pintu utama tadi, lalu membukanya.
Seorang lelaki bertubuh jangkung dengan wajah tirus penuh letih dan lesunya. Raut wajahnya tampak pucat dengan kantung mata hitam—seolah tidak tidur berhari-hari dengan sorotan mata penuh pengharapan namun hampa, kini berdiri di hadapanku dengan mata lebar terkejut.
Dia lagi! Ini dia, lelaki yang membuat gadisku menderita!
"Ada apa?" suara defensif yang keluar dari mulutku membuat wajahnya berubah memohon.
"Aku perlu bicara denganmu, Firhan. Please?"
Desahan yang berusaha sabar dan menekan amarahku terdengar saat ini, lalu seketika berontak dan bergemuruh di dadaku, saat sepasang mata ini melihat dia.
"Mau menjelaskan apa lagi, Daniel?"
"Aku mohon, izinkan aku bicara dengan Nesya?"
Heh, yang benar saja! Setelah apa yant telah kau lakukan padanya?
Rahangku mengeras dan mengatupkan mulutku, mataku sejenak memandang dingin lelaki tidak tahu malu ini.
"Aku tidak ingin ribut denganmu. Jadi kumohon, Daniel, please, mengertilah! Aku rasa kamu lebih tahu Nesya dari pada aku," sahutku berusaha bersabar dan mencoba bicara baik-baik dengannya, berharap ia bisa mengerti jikalau telah seperti ini, kemudian hendak menutup pintu, tapi dicegat dengan menahan pintu itu agar tidak tertutup.
"Aku mohon, Firhan? Dan dia juga masih pacarku, sampai saat ini!"
Pernyataan itu, seolah-olah membuat darahku yang berusaha mmbuat tenang, naik ke otak dan mendidih. Dadaku serasa mengaum keras dan terasa muak mendengar kata-kata itu. Aku benar-benar tidak menyukai terdeteksi di indera pendengarku.
Cukup! Kau sudah membangunkan singa tidur, Bung!
Seketika, melompatinya dengan tatapan tajam penuh amarah dan kepalan tangan itu mendarat beberapa kali di wajahnya yang membuat berulang kali terjungkal ke tanah tanpa memberinya ampun dan kesempatan untuk bicara. Lagi dan lagi yang entah mengapa, tangan itu terus saja mengaum dan melayang di wajah Daniel dengan kasar dan keras tanpa ada perlawanan dari dia yang memang seperti membiarkan dirinya seperti itu.
"AKU MEMOHON UNTUK HIDUP YANG TERAKHIR KALINYA?" teriak Daniel disela-sela tarikan napas dan ringisan kesakitannya saat aku hendak meninju wajah dia kembali.
Dan itu, membuat aku berhasil menghentikan pukulan amarah ini.
Pandanganku masih memandangnya tajam, namun benakku kini berubah terkejut dan bingung dengan kata-katanya. Ada rasa aneh dan penuh arti dalam kalimat itu, tapi aku tahu apa, seolah-olah menjelaskan sesuatu yang.…
"Please, untuk hidup terakhir kali?" ulang Daniel lagi, namun dalam intonasi yang nyaris berbisik dan di sela-sela batuknya sembari memegang dada.
Wajah tirus itu sangat pucat dengan beberapa lebam dan memar di pinggir bibir dan di pipi putih Daniel. Sebercak darah menempel di tepi bibir itu dan tak dihiraukannya.
Ada apa dengan dia?
Secercah kilatan hampa dan tidak ada kehidupan di sana terlihat memandangiku yang begitu berharap dan penuh memohon.
Lagi-lagi kalimat itu terputar ulang di otakku dengan jelas, seperti ada sesuatu dalam kalimat itu.
Tanpa sadar, tangan ini terulur untuk membantunya berdiri. Dia meraihnya dan tersenyum tipis dalam ringisan saat bangkit berdiri.
"Datanglah besok. Aku butuh waktu untuk merayunya dulu,"
Entah apa yang akan kukatakan nanti pada istriku. Oh, Tuhan!
"Terima kasih, itu tidak akan aku lupa." Desah Daniel dalam ringisan dan wajah babak belur dan pucat itu kini tampak berubah berseri, bagai kehidupan setetes telah menyentuh hidupnya. Rasa iba dan bersalah seketika merasuk dalam syarafku.
"Terima kasih juga telah merawatnya, Sahabat." Nada suara itu terdengar begitu tulus dengan raut wajah masih berseri dan tersenyum bahagia sembari menatap dan memelukku yang masih terdiam bingung, lalu menepuk pelan pundak ini berulang kali.
"Jaga dirimu!"
Entah mengapa, kata-kata mengandung cemas itu keluar begitu saja dari mulutku, meski terdengar datar. Entah apa yang terjadi, tapi benakku hanya ingin mengatakan ini pada dia.
Daniel tersenyum, lalu menunduk.
__ADS_1
* * *