Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Surprise Lagi?


__ADS_3

Baru pukul lima pagi, Firhan telah membangunkan aku untuk jogging sekaligus melihat sunrise di pantai Losari. Udaranya sangat sejuk hingga membuat pipiku terasa dingin, terlebih saat angin sepoi menerpa wajah. Angin laut memang sangat sejuk dan segar.


Kami memang telah berada di sini duduk di Gapura tepat menghadap ke arah pantai laut lepas dan menantikan sunrise yang sebentar lagi muncul. Pantai ini banyak peminatnya dan sedari dulu memang. Cukup ramai peminat menyaksikan sunrise dan beberapa dari kalangan anak muda.


Firhan menggenggam erat tanganku dengan kedua tangannya untuk menghangatkan. Rasanya memakai jaket tebal saja tidak cukup menangkal rasa dingin ini.


Sejak kejadian tiga hari yang lalu itu, suamiku berhasil menghibur dan membuat aku tidak sedih karena memikirkan Daniel. Entah bagaimana, tetapi cinta untuk Daniel telah hilang, bahkan kesedihan ini hanya karena rasa iba belaka. Entahlah. Namun, yang kuyakini seperti itu.


"Apa kita pulang saja?"


Gelenganku membuat guratan samar di keningnya nampak. "Aku sudah lama menantikan momen seperti ini, kenapa malah pulang?"


Dia menyengir lalu mengusap rambutku.


Semburat jingga mulai tampak, pertanda momen indah itu di mulai.


"Pejamkan matamu!" titah Firhan yang duduk di sebelahku sedari tadi, lalu telapak tangannya berada di depan mata saat wajahnya berada di samping wajahku dan menutup mata kami berdua. "Satu ... Dua ... Tiga … Buka!" seru Firhan dan tangannya kini turun yang bersamaan membuka mata.


Matahari muncul di lautan lepas sana dan terbit begitu indahnya. Sangat indah hingga membuatku nyaris menganga karena terkagum sejenak. Dia memang sangat tahu, hal-hal yang begitu sangat kusukai.


"I love you." Bisiknya, kemudian menyambar pipiku untuk mengecupnya. Raut wajahku tak bisa menahan untuk tidak berseri dan tersipu malu.


"Ih, dilihat orang, Fir, " tegurku malu-malu pada lelaki yang tersenyum lembut dan bahagianya di sebelahku sembari masih menggenggam erat tangan ini.


"Biarin!" Bisiknya lagi yang membuat aku tersenyum malu, lalu mengaitkan lengannya di lenganku.


Andai saja bukan depan umum, sudah aku peluk lelaki menggemaskan dan penuh kejutan ini!


Ya, di kota ini, moral dan etika di junjung tinggi. Kebanyakan yang bisa ditoleransi hanya berpegangan tangan. Bahkan jika berani memeluk, pun mereka akan menatap seperti tengah melihat seorang pencuri begitu sinisnya.


Setelah berkeliling di pantai ini, bahkan mengunjungi mesjid yang berada di pinggir Losari beach, lalu bangunan Fort Rotterdam akan kaya cagar dan budaya peninggalan penjajahan dulu dan sempat melintasi Monumen Mandala yang nyaris mirip Monumen Nasional di Jakarta, Firhan kemudian membawaku ke tempat lain lagi yang tentu hanya dirinya yang tahu.

__ADS_1


"Jadi, lagi-lagi kejutan?" tanyaku saat berada dalam mobil dan lelaki di sebelah itu tengah menyetir dengan senyum licik penuh kemenangannya, hingga untuk kali kesekian membuat rasa penasaran menari-narti dipikiran.


"Sangat benar, Nona sayang!"


Aku mengerucutkan bibir, yang hanya di balas nyengil lalu kekehan menyebalkannya itu.


"Beri aku clue-nya?" pintaku yang masih tak memandangnya semabri bersedekap.


Diam-diam tersenyum dalam kalimatku.


Kedengarannya bukan meminta, tapi kesannya seperti mendesak. Ya, menuntut.


"Oke, tidak masalah. Kamu pasti tidak bisa menebak."


"Oh, ya? Kalau begitu mulailah si Tuan penuh kejutan dan peramal!" tantangku menggodanya sembari tersenyum manis dan menaikkan alis berulang kali ketika posisi tubuhku berubah menghadap ke arahnya dan tanganku menungkai ke tepi jendela mobil hingga menopang kepalaku.


Firhan terkekeh.


Kepalaku memutar seketika dan memandang heran dengan alis mengernyit saat mendengar kalimat terakhir itu, ketika sejenak kepalaku memutar ke arah jendela memerhatikan jalan-jalan yang mulai padat.


Nah, kalimat itu yang tidak bisa di terima otakku!


"Apa-apaan itu ‘zwuur-zwuur’? Itu bukan clue, Tuan penuh kejutan!" sambarku mengoreksi dan protes dengan kosakatanya.


Dia berusaha menahan senyum. "Loh, mengapa? Itu memang clue-ku dan pemilihan kataku! Apa yang salah?" elaknya membela diri.


"Tapi clue konyolmu yang terakhir itu tidak bisa di terima oleh akal sehatku!" Lagi-lagi aku bersikeras.


"Tapi akal sehatku bisa, kok!" timpal Firhan dengan polos yang ikut bersikeras.


"Tapi—"

__ADS_1


"Tapi aku mencintaimu!" sambar dia yang nyaris berbisik yang membuat aku berhasil diam dan kalah dengan perdebatan ini sembari tersenyum menunduk. Pipiku memanas lagi kerana malu dan menarikku dalam rengkuhan Firhan.


Tidak butuh waktu lama, mobil berhenti dan terparkir di depan lorong besar dengan pamflet besar bertuliskan Selamat Datang Di Pulau Lae-Lae. Kami lalu masuk sembari tangan Firhan masih menggenggam erat tangan ini.


Tidak cukup waktu semenit, kami sudah sampai di dermaga kecil yang di tepinya beberapa perahu wisata berukuran sedang kini berjejer. Setelah berjalan di atas lantai kayu, Firhan lalu melompat masuk ke salah satu anjungan kapal yang dekat dari tepi dermaga, lalu mengulurkan tangan dia ke arahku dan membantu masuk ke dalam kapal itu yang sedang bergoyang karena ombak, menginjak bagian anjungan kapal, kemudian melangkah dengan hati-hati dua dek di depan dan duduk di tengah-tengah, di sebelah Firhan. Suamiku itu sepertinya menikmati perjalanannya. Namun, aku sangat tegang di atas sana sembari mengaitkan lenganku di lengannya, terlebih saat kapal melaju dengan kecepatan normal dan membuat desiran ombak terdengar saat membelah lautan. Percikan airnya mengenai wajahku sembari rambut panjangku bergoyang-goyang saat di terpa angin laut dan membuat rasa tegang ini meleleh dan rileks. Bahkan, saat Firhan meremas tanganku dan tersenyum manis.


Perjalanan mengarungi lautan ini tidak jauh, hanya membutuhkan waktu kurang dari lima belas menit tepat di sebelah barat laut, pulau yang tidak luas itu terlihat.


Setelah sampai di dermaga kecil dengan jembatan kayu berwarna kecokelatan, kapal itu kemudian berlalu pergi. Pulaunya sangat ramai. Kata Firhan, mereka penduduk pulau ini. Bangunan-bangunan rumah di sini kebanyakan berukuran kecil dan bergaya sederhana. Sepanjang jalan setapak kecil dengan dikelilingi rumah-yang mata-mata kelewat penasaran itu memandang kami sepanjang jalan menuju tempat Firhan maksudkan. Setelah berbelok ke kanan dan tak ada rumah lagi, hamparan laut indah yang berkilau dengan pasir hitam dan putihnya membuat aku merasa nyaman seketika. Beberapa orang di sekitaran sana tengah bersenda gurau sembari berenang di laut itu. Di tepi laut, ada saung berjejer yang terbuat dari bambu dan kayu dengan beratap daun kelapa. Suasana di sini seketika membuat aku benar-benar tenang.


Angin yang kencang hingga menerpa rambut dan kulit, cuaca yang panas namun tak menyengat, desiran ombak yang sesekali terdengar saat hempasan keras ombak besar di batu-batu karang yang berada di tepi laut, dan pemandangan ombak yang bergulung dan berkilau indah. Sungguh pemandangan eksotik yang benar-benar begitu indah, di tambah dengan lambaian pepohona kelapa yang menari-nari daunnya ketika angin meniupnya.


Firhan seketika menggendongku dan membawa kepermukaan laut yang membuat aku tertawa lepas, begitu pun dia.


"Jadi, Tuan pemberi kejutan, apa ini maksud dari clue-mu tadi?"


Dia mengangguk mantap dan tersenyum lebar penuh kemenangan, seperti baru saja memenangkan sebuah lotere.


"Dan 'zwuur-zwuur' itu?"


Firhan terkekeh. "Itu di maksudkan untuk suara mesin kapal dan paduan suara ombak,"


Aku terdiam berusaha mencerna dengan baik kalimatnya yang baru saja terdengar, mengulang kalimat itu terus-menerus di otakku hingga berakhir mengernyit heran.


Zwuur-zwuur dengan suara mesin kapal dan ombak? Memangnya sama?


Lagi, dia terkekeh melihat raut wajah bingungku.


"Sudahlah! Waktunya mandi, Sayang!" seru Firhan riang lalu menyiramkan air laut kearahku menggunakan tangannya yang membuat aku membalasnya sembari terkekeh.


* * *

__ADS_1


__ADS_2