Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Tiba-tiba


__ADS_3

Setelah menyajikan makanan—yang telah dipanaskan—di piring dan mangkuk, aku lalu bergegas untuk membawa ke meja makan. Namun, saat berbalik, cukup terkejut ketika melihat Firhan tengah tersenyum menggoda dan menaikkan alisnya berulang kali sembari duduk di salah satu kursi meja makan seraya kedua tangannya bertumpu di atas meja makan dan menopang wajah. Ia tersenyum lebar, namun bisa kulihat, ada jejak humor dalam kedua mata yang tengah menatap dan memperhatikan.


"Sejak kapan ada di sana?" timpalku memandang dia, lalu kembali melanjutkan aktivitasku untuk menyajikan makanan di meja bundar berukuran besar itu yang penuh dengan motif bunga.


Lelaki itu tersenyum konyol, lalu menyusupkan jemari tangan kanannya di rambut hitam yang masih basah dan terlihat berantakan.


Kuakui, aku sedikit takjub melihat tingkahnya jika selalu seperti itu. Entahlah.


"Umm, kapan, ya? Mungkin sebelum kamu memikirkanku lebih jauh lagi!"


Apa?


Bisa kurasakan sejenak mataku melebar, namun kekehan itu keluar begitu saja dari mulutku.


"Memikirkan? Terlalu percaya diri!" dengusku mengandung humor yang membuatnya tersenyum mempesona.


Ah, mengapa anak ini selalu membuat terpesona, sih? Ugh!


"Entahlah." Gumamnya lirih tetiba yang membuat aku mengangkat wajah seketika saat mengatur makanan di Meja.


"Iya, entahlah, mengapa aku selalu membuat orang-orang di sekitarku terpesona, terlebih Istri cantikku ini!" tambahnya lagi mengakui dengan antusias dan penuh percaya diri.


Mata melebar tak percaya apa yang kudengar yang seketika memandang wajah ini dengan berseri dan menggoda.


Entah ia tahu dari mana isi pikiranku. Kadang-kadang dibuat heran dan takjub olehnya. Mungkin saja ia mendapat warisan dari dukun untuk mengetahaui isi pikiran orang lain, atau ia titisan dari dukun yang entah dari mana, atau ... Lagi-lagi pikiran konyolku yang asal, membuatku tertawa tertiba lalu menggeleng prihatin. Aku lalu mengisi air putih di gelas.


“Apa?”


“Apanya yang apa?”


Firhan mendesah lalu tersenyum sembari kedua mata itu masih menatap dan memerhatikan gerak-gerikku. “Lalu mengapa tertawa?”


“Tidak!” elakku ringan dengan innocent yang seketika mengulum senyum.


Lelaki itu tersenyum sembari menatap aneh lagi.


“Apa, sih?”


Senyumnya lagi-lagi tampak, lalu menatapku sejenak dengan tatapan menyipit. Kemudian, “Aku tahu. Kamu sedang memikirkanku, kan?” tebaknya yang memang benar dan membuat diri ini sesat cukup takjub, namun dengan cepat mengendalikan diri.


Tawa sumbangku terdengar di ruangan ini dan hanya membuatnya mengernyit heran sembari matanya masih mengawasi, kemudian mengabaikannya dan melanjutkan aktivitasku menyajikan makanan.


"Kadang-kadang, kamu membuatku takjub," gumamku mengakui sambil tersenyum, namun memunggungi lelaki itu.


"Tidak, kamu yang selalu membuatku takjub, memikirkanku bahkan saat tengah sibuk-sibuknya di dapur." Aku memperlihatkan senyum geli. Pipiku terasa memanas.


Entah ia tahu dari mana.


Helaan napas seketika terdengar. "Baiklah, Tuan peramal, sekarang waktunya makan dan berhentilah menggodaku terus!"


Firhan nyengir, lalu terkekeh kemudian mengangguk lembut disertai senyuman manisnya. Kadang-kadang aku masih tidak percaya, suami dihadapanku saat ini adalah suamiku, sahabatku sendiri. Dan aku baru mengetahui, dia ternyata bisa romantis juga dalam hal sekecil apapun. Kupikir hanya pandai dalam segala mata pelajaran.


Aku memasakkan untuknya makan malam kali ini adalah Tumis Ayam Penyet, Oseng Tempe Petis Pedas, Kari Jengkol Santan Pedas, Soto Bayam Tahu Sawi. Dan dengan lahap, suamiku memakan makanannya setelah aku mengisi makanan di piringnya sesuai favorite dia tentunya.


“Omong-ngomong, urusan apa tadi sampai terlambat pulang?” tanyaku di sela-sela kesunyian ini.


Firhan jadi terdiam sejenak, raut wajah berubah dan mulutnya berhenti mengunyah. Namun, pada detik berikut, ia mengunyah kembali dan tatapan kembali menghangat, meski secercah terkejut itu masih terlihat di mata indahnya.


Lelaki itu lalu meraih gelas berisi air putih di depannya dan minum. Lalu, "Oh, bukan urusan kantor, sih, Sayang, Tapi tenang saja, hanya urusan anak muda, biasa." Ringannya sembari menaikkan bahu di akhir kalimat.


Senyuman simpul tampak dalam anggukan dan meraih gelas lalu meneguk air putihku.


"Oh ya, hari ini kamu ke mana?" tanya Firhan memandang seperti mengingat sesuatu. Tatapannya kali ini serius.


"Tidak ke mana-mana, hanya di rumah saja,"


"Kamu baik-baik saja di rumah, kan? Tidak ada masalah?"


Tunggu, pertanyaannya terdengar mengandung sesuatu yang … entahlah, aku juga tak mengerti.

__ADS_1


Aku mengangguk dan—tunggu! Bahunya merosot? Dia rileks? Mengapa? Apa yang membuatnya tegang? Sebenarnya, apa yang terjadi dengan dia?


Firhan sekilas tersenyum simpul ke arahku, lalu kembali melanjutkan makan dalam diam. Sepanjang itu, kami hanya terdiam makan dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


* * *


Hari ini melelahkan sekali. Aku belanja sendirian tanpa di temani sahabatku, Dian. Baru kali ini shopping sendirian tanpa bersama siapa pun. Tak banyak yang kubeli, hanya beberapa helai tshirt dan dress untuk kukenakan di rumah dan bepergian, juga kemeja biru fresh dengan motif kotak-kotak transparan yang sengaja kubeli untuk Firhan saat melintas mencari apa yang bagus untuk dikenakan, dan juga dasi biru garden dan merah maroon dengan motif unik.


Menjelang sore, Mall yang berada di pusat kota ini benar-benar ramai. Sekilas, melirik jam biru motif yang tengah melingkar di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul tiga sore. Aku bergegas dan memutuskan untuk pulang. Lagi pula, ini sudah jam memasak yang sibuk menenggelamkan diri di dapur untuk memasakkan suamiku yang sebentar lagi akan pulang.


Aku melangkah menuju keluar hendak ke area parkiran, kebetulan supir pribadi dan mobil yang digunakan tadi kemari sengaja di parkir di luar, bukan di basemant. Seminggu yang lalu, Firhan memang merekrut lelaki paruh baya yang akan jadi supir pribadi di rumah kami—hanya dengan alasan tidak ingin sesuatu terjadi padaku jika naik kendaraan lain—itulah mengapa, ia sangat bersikeras aku di antar oleh supir pribadi itu.


Saat tengah sibuk mengecek barang-barang belanjaan di tas belanja sembari berjalan menuju parkiran, seseorang yang tak jauh beberapa meter dari tempatku berdiri tampak tertegun. Tepatnya dari arah sebelah utara, di seberang jalan sana, ia berteriak memanggil namaku yang membuat aku menoleh mengangkat wajah ke arah sumber suara tersebut.


Seorang lelaki tinggi dan jangkung dengan celana jins biru khakinya dan tshirt putih serta jaket hitam motif tengkorak—pemberianku dahulu—yang tengah memelototiku dengan tatapan terkejut di sana. Ia sejenak terhenyak saat mata kami bertemu dan tetesan airmata saat ini mengalir bebas di pipiku. Terkejut, syok, lalu sepersekian detik kemudian, rasa amarah dan benci mengalir seketika di syaraf dan pembuluh darah.


Dadaku bergemuruh, berontak, perih dan sesak, menjerit untuk menolak memandang wajah innocent-nya.


Daniel? Dia ada di sini? Batinku terkejut dan tak percaya dengan apa yang kulihat.


Lagi-lagi, airmata konyol ini mengalir lagi.


Marah, benci, tak suka, muak, dan panik mulai mengusik. Wajah putih pucatnya masih melotot memandangk tak percaya. Aku tersentak, lalu mengusap airmata bodoh ini.


Tetapi, lagi-lagi yang ada, hanya mengalir deras.


"NESYA?" teriaknya lagi saat aku telah berlari menghindar.


Sekilas, saat memutar kepala menoleh ke belakang untuk memastikan, tampak ia tengah berlari mengejarku.


Aku berlari, berlari dan berlari di tengah orang-orang yang melintas. Berlari sekuat yang kubisa sembari memegang perut yang telah mulai membesar ini, barlari dengan semampuku dan nyaris terjatuh saat tersandung entah apa dan seketika membuatku terdorong ke depan dan berhasil berpegangan pada salah satu bangunan panjang yang entah apa namanya di hadapanku ini.


Napas mulai terdengar memburu dan terengah-engah.


"NESYA?" teriaknya lagi dari kejauhan sana yang masih berusaha mengejar, saat sekilas aku menoleh, lalu kembali berlari lagi.


Aku kembali berlari, berusaha menahan perut yang mulai menyerang rasa ngilu yang begitu perih, menguatkan kaki yang mulai sakit dan tetap berlari menerobos orang-orang yang berlalu lalang dan bahkan menghalangi jalanku.


Ya, itu dia! Pak Gun, supir pribadiku!


Aku masih berlari menghampirinya dengan napas yang masih terengah-engah, ia tak sempat membukakan pintu mobil saat meraih dan membuka pintu dengan tergesa-gesa, lalu masuk ke dalam penuh ketakutan.


Sejenak, aku melihat, raut wajah Pak Gun heran dan penuh tanya atas sikapku.


"Nyonya baik-baik saja?" tanyanya setelah masuk dan duduk di jok depan pengemudi, beliau melirik di spion depan.


"Iya, Pak. Ayo, kita jalan, cepat!" Seruku cepat-cepat di sela deru napas memburu dan terengahku yang berusaha kuatur.


Pak Gun lalu mengangguk dan melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Saat sekilas melihat di kaca jendela mobil, Daniel masih berusaha mengejarku dengan susah payah dan raut wajah sangat pucat. Tapi, saat melihatku berada di dalam mobil dan pergi, ia seketika berhenti mengejar sembari memandang dengan lelah, sedih, dan penuh penyesalan.


Aku menarik napas dalam-dalam dan menghela dengan kasar. Detak jantungku terdengar keras dan tak beraturan.


Kusandarkan kepala ini di jok mobil, mengusap airmata sesekali sambil memandang keluar jendela dan masih berusaha mengatur napas.


“Apa perlu aku menelepon tuan, Nyonya?” tanyanya meminta izin yang kembali melirik di spion dengan cemas.


“Tidak, itu tidak perlu! Kumohon, jangan memberitahu apapun padanya. Dia sangat mudah khawatir dan panik,”


Pak Gun mengangguk kecil. “Baiklah, Nyonya.”


Tubuh lalu kusandarkan di jok, berusaha rileks. Lagi-lagi, wajah pucat tadi dan kejadian terakhir pertemuanku dan Daniel, kini mulai mengusik otak. Lagi, airmata mulai menggenang di pipi.


Apa yang sebenarnya dia inginkan?


Aku mendesah, lalu kembali mengusap airmata.


Mobil telah melaju dengan kecepatan normal, menyusuri jalan ramai dengan penuh kendaraan berlalu-lalang.


* * *

__ADS_1


Mobil Firhan tampak terparkir di halaman depan rumah. Alisku mengernyit saat memandang mobil Jazz sedan merah itu di sana yang tak jauh beberapa meter dariku sembari turun dari mobil. Rupanya, ia pulang cepat. Kulirik jam di pergelangan tangan, baru pukul empat sore.


Sebelum masuk, sekilas melirik pak Gun, mengisyaratkan untuk mengingatkan permohonanku tadi sekaligus menenangkan dan memberitahu bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika lelaki itu mungkin saja bisa tahu atau setidaknya menebak. Dan, beliau mengangguk mengerti. Firhan memang pandai membaca ekspresi seseorang.


"Hei, sudah pulang?" sapanya saat kami bertemu di ruang tengah. Rambutnya basah, ia baru mandi rupanya.


Firhan sore ini memakai kaos favorite-nya berwarna putih dengan corak Eiffel. Alisku lagi-lagi mengernyit.


Ada apa? Couple?


Daguku berkerut. Biasanya ia memakainya jika hendak bepergian santai denganku, tapi ini di rumah.


Ada apa dengan dia?


Senyum manisnya terlukis di wajah putih bersihnya. "Mengapa melamun, Sayang?"


Tingkahku tetiba kikuk. Aku tersenyum simpul dan menggeleng pelan, setelah berdehem. "Iya, aku habis belanja. Oh ya, mengapa tiba-tiba pulang lebih awal?"


Ia tersenyum penuh arti. Lalu, menarikku duduk di sofa, di sampingnya. Aromanya sangat harum, khas sabun mandi dan parfum favoritenya.


"Eh–Fir, maaf, aku harus masak, aku belum sempat masak tadi sebelum pergi berbelanja." Pamitku yang masih menggenggam erat tanganku.


"Tidak masalah, itu memang tujuanku." Timpalnya ringan dan membuat keningku berkerut.


Aku memandangnya heran. Namun, berubah bingung saat ekspresi berubah defensif. Rahangnya mengeras dan ada kilatan sedih sekaligus tidak suka di matanya, saat kedua matanya masih menatap.


"Kenapa?"


"Ada apa?"


"Apanya yang ada apa?" Tanya Firhan balik yang semakin membuatku bingung. Ia mendesah, namun ekspresi dan tatapannya tidak berubah. Lalu, detik berikutnya, "Kamu sudah menangis?"


Pertanyaannya itu membuatku seketika mengusap tepi kelopak mataku dengan jemari, tapi apa yang kuperkirakan tak ada yang tertinggal di sana.


"Bukan itu, tapi matamu! Mengapa bengkak begitu? Siapa yang membuatnya seperti itu sampai-sampai mata indahmu terlihat jelek seperti ini dan memerah?"


O-oh.


Pandanganku menunduk.


"Ada apa, Nesya? Katakan padaku? Biasanya kamu cerita,"


"Fir, aku harus masak—"


"Kita akan dinner di luar! Ceritakan padaku," selanya cepat yang masih dengan nada suara defensif tanpa memandangku yang seketika membuatku terhenti saat aku bergegas berlalu.


Aku diam, terpaku dengan tatapan menuntutnya yang penuh desak dan menyelidik. "Kamu tahu betul, kan, aku tak suka bila ada yang membuat hal yang yang kumiliki dan kujaga, mengacaukannya hingga membuatku tak suka melihatnya?"


Aku menelan dengan susah payah dan menunduk. Aku tahu, ia sangat marah jika ada yang menyakitiku, terlebih membuatku menangis.


"Fir? " mohonku memelas padanya saat saat aku mengangkat wajah memandang mata sedih, dingin dan amarahnya. Masih mencoba menyembunyikannya.


“Jangan memaksaku harus mengetahui semuanya pada orang lain, karena kamu pasti tahu hal itu sangat tidak kusukai dan lebih menyakitikan,”


Firhan mendesah keras penuh frustasi sembari mengangkat kedua tangan seraya menyusupkan jemari di rambutnya, lalu meremas, kemudian bangkit dan berdiri, memunggungi, seperti memikirkan sesuatu.


Sejenak, suasana menjadi hening. Aku berusaha menelan dengan susah payah yang telah terasa sakit. Rasanya tenggorokan kering.


"T-tadi, saat hendak pulang, aku bertemu Daniel di Mall dan dia mengejarku—"


"Pergilah! Mandi dan berpakaianlah, lalu kita dinner!" lirihnya cepat dengan defensif tanpa berbalik memandangku.


Kulihat, tangannya yang masih berada di rambutnya tampak menegang. Sejenak, aku memandangnya berbinar, ragu, lalu memutar tubuhku dan melangkah menuju kamar kami.


Baru beberapa langkah saat menaiki tangga, suara teriakan amarahnya terdengar di bawah sana dan menggema di ruangan itu, lalu diikuti suara pecahan kaca yang seperti di hantam oleh sesuatu yang keras hingga pecah.


Aku bergidik ngeri dan tersentak kaget mendengar suara itu, namun langkahku tak berhenti, tanpa menoleh.


* * * *

__ADS_1


__ADS_2