Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Sebuah Permohonan #PovFirhan


__ADS_3

Seorang gadis manis, dengan mata lentiknya tengah berdiri tak jauh dari tempatku berdiri sembari tengah menatap wajah ini. Matanya kini perlahan berbinar. Rambut cokelatnya tampak bergoyang di embus angin senja sore ini. Ia masih mematung memandang penuh kerinduan, lalu berhambur memelukku. Isak tangisnya seketika pecah yang wajahnya masih tenggelam di dadaku.


"Kak, ayo pulang? Ayah sakit, Kak, ayah sakit. Sejak kakak meninggalkan kami, ayah sakit-sakitan dan ibu sering melamun, menyendiri. Isti mohon, Kak, pulang demi ayah dan ibu?" rengek adikku ini dengan memelas yang masih menangis dalam dadaku.


Suasana di Parkiran tampak begitu ramai dan mereka memandang kami dengan aneh, penuh tanya. Aku mengelus kepalanya sejenak, lalu menarik masuk ke dalam mobilku.


Isti tertunduk sesaat dengan sesegukan. Isak tangis yang bersamaan dengan buliran airmata yang masih mengalir deras di pipi bulat nan putihnya. Saat aku hendak pulang dan berada di parkiran Restaurant, aku bertemu dia dan begitu sedih. Lingkaran hitam di matanya tampak jelas. Sepertinya, ia kurang tidur dan banyak pikiran.


Mobil Sedan Jazz merahku kini berjalan keluar dari parkiran, menembus jalan-jalan yang sudah sangat disesaki oleh kendaraan-kendaraan. Yang tengah ada di pikiranku saat ini dan mengusik adalah sosok dua orang yang begitu hebat dalam hidupku, adalah ayah dan ibu. Sebelum melajukan mobil ke rumah orangtua kami, aku sempat mengirimkan pesan via messages pada istriku, Nesya.


Tidak butuh waktu lama, kami sampai di sebuah rumah yang sama, yang masih terakhir aku lihat. Tak ada yang berubah, hanya saja, tampak sepi. Tak ada gelak tawa, canda, dan senyuman ibu yang tengah merawat bunga-bunganya—memang wanita paruh baya andalanku itu lebih senang merawat tanaman-tanamannya sendiri dibanding menyewa tukang kebun atau semacamnya—yang tengah berjejer rapi di halaman rumah menghiasi beranda besar ini. Bahkan, pot-pot keramik besar itu kini gersang dengan tanaman layu yang menghias. Mobil telah memasuki pekarangan rumah. Aku menarik napas dalam-dalam dan menatap kelam. Biasanya, raut wajah berseri ibu yang penuh antusias berlari menyambut, lalu memelukku dengan tatapan hangat yang berbinar penuh rindu ketika beliau mengetahui kepulanganku dari rutinitas.


Isti kini menyentuh lenganku dan seketika membuat aku tersentak dan menoleh ke arahnya yang sudah sedari tadi duduk di sampingku. Ia memandang penuh tanya dan tampak hanya balasan senyuman simpul. Kami lalu membuka pintu mobil dan turun, melangkah memasuki rumah besar itu yang kini terasa kelam. Rasanya, keceriaan di rumah ini tak ada lagi. Ibarat rumah tak berpenghuni.


Saat kami melewati ruang tamu utama besar, mataku seketika memutar dan berbinar, kenangan terakhir itu benar-benar mengusik pikiran saat ini. Melewati koridor yang dikelilingi kolam ikan dan pancuran, lalu tepat di pintu kaca putar, kami melewati ruang tengah besar, kemudian di sebelah utara dengan tak berpintu yang dindingnya berubah warna cat berwarna biru garden di ruang tengah keluarga, dan menuju sebelah selatan setelah melintasi sisi kanan yang terdapat escalator dan sisi kiri pintu koridor menuju dapur. Sejenak, aku berhenti memandang pintu besar bercat peach dengan simbol tulisan beraksen Perancis di atas pintu saat telah berada di hadapanku.


Aku menarik napas berat, lalu masuk bersama Isti disertai salam dan ketukan. Ibu yang melihat, seketika berhambur di pelukanku dalam tangis pecahnya. Sejujurnya, rasanya berat dan tak sanggup melihat mereka seperti ini. Lagi-lagi aku memutar mata untuk mencegat airmata ini tetap mengambang di pelupuk mata.


Kamar besar bercat putih ini, masih sama. Lukisan beberapa menempel menghiasi ruangan ini, yang sebagian besar foto-foto wali Allah, lafaz Allah dengan tulisan Arab dengan background biru dan putih bening, dan kaligrafi-kaligrafi islami lainnya yang tak kalah indah. Juga, gambar-gambar kota malam Saudi Arabi dan Masjidil Haram, terlebih bangunan Ka'bah. Selebihnya, beberapa foto keluarga, pernikahan ayah dan ibu dahulu, dan foto berdua mereka yang tampak mesra.

__ADS_1


Di sebelah barat, tampak tempat tidur king size dengan motif kuno, namun unik yang dipoles dengan cat tembaga dan emas menyala, dengan paduan seprei berwarna purple fresh. Di atasnya, tengah terbaring lelaki paruh baya tak berdaya yang begitu sangat aku rindukan. Tubuh kokoh yang terakhir kumelihatnya kini menurun drastis, hingga seolah-olah nyaris tak mengenal siapa lelaki itu. Airmataku seketika menetes.


Tanpa sadar, kaki seketika melangkah mendekat tanpa ada rasa takut dari ancaman-ancaman yang pernah ia lontarkan untukku. Tubuh kurusnya tengah berselimut badcover tebal purple yang sungguh, ia tampak rapuh di sana. Mata yang sangat merindukan sosok dirinya, benar-benar membuat aku tidak tahan dan ambruk berlutut di hadapan lelaki ini. Tanganku sudah berada di tangan besar kurusnya yang begitu hangat sembari tertunduk dan seketika airmata mengalir deras.


"Ayah?" lirihku di sela-sela tangis.


"Kau bukan anakku, jangan memanggilku seperti itu lagi," Getir Ayah, namun kali ini terdengar bukan amarah dan kebencian, tapi, seperti sebuah kerinduan.


"Ayah?" panggilku lagi-lagi yang semakin terdengar isak tangisku.


Rasanya rindu mengucapkan kata itu, seperti candu yang memikat dan menciptakan sakaw tanpa bisa berhenti.


"


Sudah kubilang, kau bukan anakku, kau bukan anakku!" Teriak Ayah dengan nada suara meninggi dan getir yang mengandung sedih.


Aku menatap ayah sejenak dengan raut wajah sedih dan masih penuh linangan airmata, bangkit berdiri yang masih tak lepas dari pandanganku. Lalu, melangkah pergi yang seketika membuat tangis ibu semakin meledak dalam pelukanku yang tengah mencegat aku pergi. Sekilas tadi, aku melihat ada tetesan airmata di pelipis ayah yang seketika mengalir.


"Tidak, Nak, ibu mohon? Ayah, ibu mohon, jangan pisahkan puteraku lagi dariku?" erang ibu memelas sembari memohon padaku sambil memandang penuh linangan airmata, kemudian sekilas mengalihkan mata di akhir kalimat sembari melirik suaminya yang tengah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Firhan, kumohon, tolong ibu, Nak?" Mohonnya memelas yang terus berusaha mencoba lagi dengan tatapan begitu hampa dengan aliran penuh airmata dan rapuh.


Oh, Tuhan, kumohon kuatkan beliau.


Aku lagi-lagi memutar mata dan menarik wanita paruh bayaku ini ke dalam pelukan, memeluk ibu begitu erat. Napasku rasanya terhenti dan dada terasa sesak juga bergemuruh. Aku menarik napas dengan susah payah.


Yaa Allah, rasanya tak sanggup melihat pemilik surgaku ini memelas seperti ini. Aku bisa merasakan apa yang tengah ia rasakan, ia menderita keranaku,


Kukecup pucuk kepala beliau dan sekali lagi mendekap begitu erat sembari memejamkan mata. Lalu, setelah melepas dekapan kami, aku menunduk menatap mata teduh yang begitu terluka namun sangat aku rindukan. Kutarik napas dalam-dalam sembari menggenggam bahunya. "Bu, aku tidak akan ke mana-mana, aku masih puteramu dan akan selamanya jadi putramu! Bagaimana bisa, aku meninggalkan surgaku ini? Meninggalkan tempat indah ini yang memberi banyak keindahan dan cinta di duniaku, bagaimana bisa, Ibu? Aku tidak terbiasa! ibu masih wanitaku, wanita cantik Firhan di dunia ini," lirihku menatap wanita paruh baya yang telah begitu rapuh ini dengan berbinar, lalu mengusap airmatanya dan mengecup keningnya, kemudian kembali memeluk dan aku nyaris berbisik di akhir kalimat sembari memutar mata memandang langit-langit.


"Aku janji, Bu, kami janji. Aku, Nesya, dan cucu ibu," lirihku nyaris berbisik seraya masih memeluk beliau, yang mengandung penuh arti dalam nada suaraku. Aku semakin erat memeluknya.


Setelah sejenak menatapnya, aku lalu mengecup pucuk kepalanya sekali lagi sembari mendekap tubuh rapuh ini yang masih bergetar kerana tangisan yang masih belum terhenti, kemudian mendekap adikku, Isti, dan pamit pergi.


Hari ini, rasanya jiwaku kosong. Hidupku seperti hampa. Ibarat sebuah gada telah dihempaskan keras di hidupku. Nesya dan keluarga adalah bagian dari hidupku yang sama-sama berharga dan bukan sebuah hal untuk di pilih.


Kakiku melangkah seolah-olah tanpa jiwa, entah jiwaku hilang ke mana. Menjauh, menjauh pergi perlahan-lahan meninggalkan rumah ini yang di penuhi penghuni orang-orang yang aku cinta. Langit malam telah tampak gelap. Mobilku dengan cepat melaju menembus kota malam dingin dengan sejuta kesedihan yang tengah melanda dan bergemuruh di benak yang sudah sedari tadi.


Suatu saat, Ibu. Mungkin bukan saat ini, tapi suatu saat! Akan kukembalikan keluarga kita dan menyatu dengan bagian hidupku yang lainnya. Nesya-ku dan cucumu, suatu saat, tapi secepatnya! Desahku berjanji dalam kekelaman jiwaku yang begitu hampa.

__ADS_1


* * *


__ADS_2