
Aku masih memandang tajam lelaki yang tengah duduk di sebelahku ini. Bisa-bisanya dia seperti itu, merencanakan sesuatu tanpa aku tahu. Lagi-lagi aku masih cemberut dan memandang keluar ke arah jendela mobil.
Jadi, dia sengaja menyuruh Pak Gun, supir pribadi kami untuk pulang, meninggalkanku begitu saja tanpa aku tahu dan ia, tetiba saja sudah ada di depanku, dengan wajah innocent dan menggodanya, membuyarkan semua—setelah apa yang terjadi tadi. Lama-lama, tuan penuh kejutan ini benar-benar menyebalkan.
Sebenarnya, saat pertemuan mendadak itu—tanpa aku tahu—pandangan Firhan tadi sejenak kaku dengan rahang mengeras saat menatap mata ini sejenak, namun setelah aku menggeleng dan berkata tidak apa-apa sembari tersenyum, dia seperti berusaha menahan keras amarahnya dan memilih untuk mengalah.
Lagi-lagi senyuman itu terlihat dari tampang innocentnya sedari tadi yang sungguh menyebalkan namun menggemaskan, saat ia melirikku diam-diam ketika ia tengah menyetir. Dan ketika mata kami bertemu, Firhan hanya menyengir. Namun, hanya dengusan terdengar dariku.
Secepat itu mengontrol diri dan emosinya? Ada apa dengannya?
"Masih marah?" Firhan membuka suara dengan hati-hati sembari sekilas melirik.
Aku hanya diam tanpa menoleh pada lelaki itu. Namun, senyum diam-diam yang kusembunyikan saat berpaling membuat hati ini ikut tersenyum juga.
Sebenarnya, dia yang marah dengan mata bengkak dan memerah ini, bukan aku. Tapi, malah dia yang mengalah dan memilih untuk tidak membahas.
Aneh!
Suara desahan mengalahnya terdengar. Lalu, "Oh, ayolah, jangan membuat aku tersiksa begini!" tukas Firhan dengan nada yang dilebih-lebihkan hingga membuatku mendengus, yang bersamaan itu pula, suara deringan ponsel terdengar. Melirik sekejap ponselnya tanpa mengangkat panggilan, lalu di letakkan kembali ponselnya di tempat semua.
Sejenak, Firhan melirik ke arahku, lalu dia menekan salah satu di audio mobil. Dan detik berikutnya, suara wanita terdengar di antara kami.
"Kamu di mana? Apa aku mengganggu?"
Siapa?
Kepalaku berputar saat menoleh ke Audio itu, lalu berputar cepat memandang Firhan yang hanya menyengir dengan innocent dan memasang tampang polosnya ke arahku.
"Di jalan, tidak apa-apa. Ada apa?"
"Apa jadi take off pekan ini?"
Pertanyaan dalam suara perempuan itu membuatku semakin menatap lelaki di sebelahku ini dengan tajam menuntut dan menyipitkan mata sambil tak memandangku.
Take off? Maksudnya terbang? Apa-apan ini? Dia janjian pada wanita lain?
Senyum licik Firhan lagi-lagi merekah saat diam-diam bola matanya melirik sesaat. Tangan yang satu kini mengusap rambut spikenya.
Dasar, sok cool!
Aku merengut dan mengerucutkan bibir. Benar-benar tidak bisa menahan dada ini yang sangat begitu bergemuruh.
Lagi-lagi aku memutar mata dan bersedekap.
"Umm, sepertinya bukan saatnya, Hil, kita bicara tentang itu, ada.... " suara Firhan sengaja menggantung, seolah-olah ingin membuatku penasaran sembari memandang pandangan yang tengah memandangnya dengan tajam sedari tadi tanpa mengerjap.
APA?
Oh, begitukah? Sepertinya Tuan penuh kejutan ini menikmatinya!
Dengusanku kini terdengar jelas olehnya, bahkan sekilas melihat matanya yang diam-diam melirikku namun masih dalam sikap acuh. Sungguh, Dadaku semakin bergemuruh dan terbakar.
"Baiklah! Aku mengerti. " Nada suara wanita itu terdengar kecewa namun mengalah.
"Yang jelas, beritahu aku secepatnya bila ada kabar yang lain atau apapun, akan kukabari juga kamu secepatnya, oke?" tambah Firhan cepat-cepat.
Dan kau pikir aku apa?
"Oh, oke, Fir. Maaf mengganggumu."
"Tidak masalah. Terima kasih, Hilda."
Telepon pun terputus. Dan dia masih bertingkah biasa, dengan innocent, seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan tak menyadariku yang tengah memandangnya tajam sekaligus cemberut saat ini.
Oh, begitu? Tidak masalah? TAPI AKU YANG BERMASALAH!
Oh, Tuhan? Sungguh!
Aku masih menatap lelaki itu, menuding dan menuntut untuk cerita semuanya. Rasanya dadaku masih bergemuruh dan kepala terasa meledak. Ingin sekali rasanya aku meneriakkan kata-kata itu, namun kenyataannya, yang kulakukan hanya menggigit bibir dengan sesak dan gemuruh yang tertahan di dada.
Aku tak habis pikir, apa yang ada di pikirannya saat ini? Bisa-bisanya dia janjian dengan wanita lain di depanku. Apa-apaan ini?
Tanganku kembali melipat ke dada dan mengubah posisi duduk ke arah lelaki itu yang masih dengan senyuman tak bersalah dan tampang polosnya itu, seolah baru saja tak terjadi apa-apa. Bahkan, dengan raut wajah riang dan menggemaskan seperti itu.
Rasanya, saat itu juga, aku ingin tahu perasaan dan pikirannya apa.
Dia ditemukan di mana, sih? Semenyebalkan ini!
Kekehannya terdengar hingga membuatku memejamkan mata kerana malu. Sungguh, ucapan tak sengaja terlontar dan tanpa kusadari kumat lagi.
"Kamu puas?" Suara dalam nada suaraku terdengar serak dan kecewa.
Dan aku tak mau menangis di hadapan lelaki ini.
Senyum itu hilang seketika begitu pun tawa itu telah lenyap dan berubah dengan raut bersalah penuh sesal.
"Nesya?" cobanya membujukku.
Suamiku itu hendak mencoba menarikku dalam rengkuhannya untuk menenangkan, namun aku menepis tangan itu, yang seketika raut wajah sedih itu terbit di wajahnya.
"Turunkan aku!" bentakan meminta itu yang hendak bergeges kini keluar juga tanpa bisa menahannya lagi, sembari memakai tasku sambil menatapnya geram. Tangan hangatnya mengenggam tangan ini dengan lembut, mencegat pergi, setelah mobil berhenti di pinggir jalan raya yang begitu ramai.
"Ada apa sih, Sayang?"
"Apanya yang ada apa? Kamu yang ada apa? Mengapa seperti ini?" suara bentakan itu membuat air bening ini tetap saja menetes di hadapan Firhan. Raut wajah Firhan seketika berubah sedih dan semakin bersalah.
"Kamu salah paham, itu Hilda."
"Aku tahu itu Hilda!" lagi-lagi bentakanku pada suamiku ini membuat diri ini menangis.
Memangnya wanita lain siapa lagi yang kubicarakan saat ini?
Ia mendesah panjang dan mengusap rambutnya. Posisi duduk Firhan saat ini berubah ke arahku, ke arah gadis yang tengah meneteskan airmata—tak bisa menahan lagi—di hadapannya. Ia menggenggam dan mengusap wajahku, lalu memandang dengan penuh kehampaan. Senyum manis namun tak menyentuh mata indah itu tampak di hadapanku.
"Dia bukan siapa-siapa, Sayang, aku senang kamu cemburu, tapi percayalah, dia temannya Isti yang akan membantuku! So, please, jangan membuat mata indah itu semakin jelek lagi terlihat, aku tidak suka itu. Dan kumohon, jangan menangis lagi, ya? Sungguh, semuanya baik-baik saja."
"Bantu?"
__ADS_1
Bagaimana baik-baik saja? Hatiku terbakar, Firhan!
Rasanya aku sangat ingin meneriakkan kata-kata itu, namun kenyataannya, aku hanya menggigit bibir lagi.
Firhan mengangguk. "Nanti akan kuceritakan semuanya. Sekarang, kita di rencana awal dulu,"
Lagi-lagi aku mendesah mengalah.
Dia yang merencakan, tapi seolah-olah istrinya tahu segalanya!
Dengusan kesalku keluar begitu saja.
Rencana awal? Ya, itu rencanamu, bukan rencanaku!
Aku merengut dengan bibir mengerucut sembari mengubah posisi kembali dan bersedekap.
Amarah dalam dada ini masih meronta dan mendesak yang semakin kutekan untuk tetap diam. Wajah Firhan tersenyum menang sembari mengusap kepala gadis yang cemberut ini, tapi dia masih dengan tampang innocent itu. Mobil kini bergerak dan kembali melaju dengan kecepatan normal.
* * *
Suasana hatiku cukup tenang saat mobil memasuki pekarangan rumah. Mobil yaris merah yang tadi aku pakai saat ke rumah ibu, saat ini telah terparkir manis di sana. Pak Gun tengah mengelap mobil itu dan menyapa kami saat melihat keluar dari mobil.
Setelah masuk, genggaman tangan Firhan dan menarikku masuk melewati ruang tengah tanpa memberi kesempatan untuk membuka alas kaki, begitu pun dirinya yang masih melekat sepatu dan tuksedo di tubuhnya. Setelah kami melewati ruang tengah yang begitu sejuk, melewati musholla, lalu ruang kerja, tepat di sebelah utara di samping ruang dapur dan ruang makan, ada koridor kecil yang di sampingnya terdapat pintu kaca bening-geser. Pintu itu kemudian di geser Firhan dan seketika suasana sejuk alami dengan bercampur suhu hangat seketika menerpa. Sekarang kami memang berada di Taman yang berada tepat di belakang Rumah kami. Taman ini tidak terlalu luas. Beberapa tanaman seperti Mawar, Melati, Anggrek, dan Bussolom tertata rapi menghias taman dengan rerumputan yang terhampar di sana.
Di sebelah selatan, ada sekitar dua meter yang ditumbuhi bunga-bunga Beugenvile yang tumbuh subur memanjang bak rumput ilalang, dan memberi kesan indah dan eksotik, di tengah-tengah hamparan bunga-bunga itu, tumbuh pepohon lebat dan besar.
Dan di sebelah barat, khusus tanaman bunga Mawar Merah dan Kuning yang tumbuh subur dan cantik dengan di sampingnya hamparan kain sutera berwarna-warni sengaja di letakkan di sana. Di atasnya dihiasi beberapa piring dengan isi Pizza keju favoritku serta pizza berbagai rasa dengan ukuran besar. Beberapa gelas minum dan botol air putih, juga botol yang berisi susu, asumsiku. Aku memandang ke arah Firhan saat kami berada di depan hamparan kain ini, ia tersenyum begitu manis penuh kemenangan, seakan telah memenangkan lotree dan menyenangkan Presiden.
Dasar lelaki romantis!
Senyum merekah seketika saat melihatnya menyengir dengan senyuman menyombongkan diri, setelah kedua alisnya terangkat berulang kali menggoda. Aku baru tahu, lelaki yang terpaku dengan buku-buku dan kerjaan, otaknya masih bisa menyisakan untuk memikirkan hal romantis. Bahkan, hal itu baru kuketahui.
"Bagaimana bisa tahu aku mengidam pizza?"
Lelaki itu tersenyum geli setelah sejenak aku mengagumi karyanya yang berhasil membuatku tersipu bahagia.
Aku memandang menyipit mata indah itu.
"Apa aku mengigau?" tebakku meracau yang membuat Firhan semakin tersenyum geli sembari mengangguk. Tangan ini seketika menutup wajah dengan malu.
Oh tidak!
Firhan terkekeh, lalu menarikku dalam dekapan hangatnya dan lagi-lagi ia tertawa geli dan membuat aku menyikut dan memandang tajam wajah yang berusaha menahan senyum itu.
"Tidak apa-apa." Sahut Firhan mengelus rambutku yang menenangkanku.
Berani taruhan, pipiku pasti sudah sangat memerah di hadapannya.
"Jadi, kita lunch bersama?"
Dia mengangguk antusias sembari tersenyum. "Benar, tapi bukan itu makanan utamanya, itu hanya dessert."
Aku memandang penuh tanya ke arah sang suami, namun dia hanya menarikku duduk di sebelahnya, di hamparan kain itu.
Sepersekian detik kemudian, beberapa orang yang tidak kukenal, datang membawa beberapa makanan dan mangkuk yang berisi makanan. Aku memandang wajah bahagia dan puas itu.
Senyum merekah ini membuat suasana hatiku menjadi senang dan tenang.
"Terima kasih" bisikku pada Firhan yang menyandarkan kepalaku seketika di dadanya.
Cukup banyak makanan itu berdatangan dan tersaji di hadapan kami. Setelah selesai, orang-orang itu meninggalkan kami dalam suasana sejuk di tengah siang ini. Tempat kami memang tidak terkena matahari, hanya di beberapa bagian saja.
Alisku mengernyit saat melihat di antara makanan, hanya ada satu piring makan.
"Kita memang makan berdua." Sela Firhan saat melihat raut wajah bingung memandangnya.
Firhan mengambil nasi putih, lalu sepotong ayam dan kornet serta tahu dan tempe rebus, juga sayur kangkung tumis secukupnya yang diisikan di piring yang tengah di pegangnya. Lagi-lagi dia tahu, aku tidak suka makan ikan laut saat ini, mungkin ini efek dari kehamilanku.
Aku memandang suamiku ini sejenak, saat raut wajah berseri itu tampak sambil hendak menyuapi.
"Ayo, buka mulut, Sayang!" pintanya berseru dengan lembut, bagai hendak menyuapi balita dan membuat senyum ini merekah.
Oh, ini alasannya.
Lagi-lagi dia membuat pipiku memerah. Aku makan dari suapannya, begitu pun dia, menyuapinya dengan antusias dan riang. Dia makan lahap sekali.
Setelah selesai dan di bereskan oleh pelayan yang di sewa Firhan, kami lalu mengobrol sembari menikmati angin sejuk dan sepoi sambil mencicipi dessert yang ada dihadapan kami. Sangat indah dan terasa damai saat suasana seperti ini, bersandar di dada suami sembari menikmati kejutan yang diberikannya saat ini. Ya, dia memang telah berhasil membuat aku bahagia dengan kejutannya ini.
* * *
Deringan ponsel kini membuat aku dan Firhan tersentak sejenak, saat kami mengobrol dan bersenda gurau yang masih menikmati angin sejuk taman ini. Pizza tiga porsi telah aku habiskan sendirian yang sungguh membuat aku tersenyum puas.
"Aku benar-benar tidak mengerti, apa benar efek dari mengidam atau memang masih lapar?” gurau Firhan yang menggoda sembari terkekeh dan hanya kubalas dengan senyuman.
"Mungkin keduanya! Sudahlah, angkat teleponnya, suara itu benar-benar mengganggu bayiku yang sedang makan!" timpalku meracau menggoda dan membuatnya menyengir.
"Baiklah! Habiskan semuanya, Sayang." Sahut Firhan tersenyum sembari mengelus perutku di akhir kalimat, lalu mengecup pipi ini sekilas yang membuat aku tersenyum dengan tingkahnya.
Ia kemudian merogoh ponsel di saku celananya, lalu mengangkat setelah melirik sekilas screen di ponsel itu.
"Assalamu'alaikum. Ya? Ada apa, Sayang?"
Mataku berputar cepat memandang suamiku saat mendengar kosakata terakhir itu.
Itu siapa lagi?
Lagi-lagi dia hanya mengabaikan tatapan penuh tanyaku dan tetap melanjutkan menelepon dengan penuh senyuman aneh.
"Oh, soal penerbangan itu? Tidak masalah, Sayang, Kamu urus saja itu, ya.... "
Suasana hatiku yang tadinya nyaman dan bahagia, berubah jelek lagi seketika. Telinga ini bahkan tak mendengar lagi obrolan mereka selanjutnya.
Bisakah tuan penuh kejutan ini tidak menyebalkan lagi? Aku baru saja menikmati bahagiaku!
Aku merengut dan duduk tegap dengan kesalnya, sembari memakan sepotong roti Pizza yang tengah berada di genggaman ini sambil kugigit kasar dengan malasnya. Mood makanku sudah jelek gara-gara lelaki menyebalkan di sebelahku ini yang masih menelepon.
"Kau tidak mau menciumku dulu sebelum mematikannya? Ayolah, Sayang, kiss me, please? Aku rindu, nih!"
__ADS_1
Kepalaku berputar cepat memandang geram ke arahnya tanpa memandangku.
Aarrgghh, bisa-bisanya dia bermesraan dengan orang lain di hadapanku!
Lagi-lagi aku mendengus dan airmata ini menetes begitu saja.
Menyebalkannya, itu sangat menggangguku, sungguh!
"Hei, rotinya bisa menjerit kalau di makan seperti itu!" protes Firhan dengan nada menggoda dengan leluconnya yang aku tahu, ia berbicara padaku saat ini.
Dengusanku terdengar lagi dalam raut wajah kesal, tetapi dalam linangan airmata.
Rupanya dia telah selesai menelepon. Namun, wajah kesal ini masih kupalingkan darinya. Aku tidak ingin memandang wajah innocent—seenaknya itu.
"Hei, Sayang, ada apa?" suara lembut itu terdengar lagi sembari menyentuh wajahku dan memaksa untuk berbalik memandangnya, membuat aku memejamkan mata saat berhasil membuatku berbalik.
"Kamu menangis?" suara yang berubah sedih itu menatap mataku dengan lekat.
"Jangan pedulikan aku! Teruslah bermesraan padanya!" tukasku geram dan kesal sembari mencebik yang membuat senyum itu merekah di wajahnya.
"Hei, Nyonya Firhan, mengapa, ya, kamu selalu membuat aku bahagia, bahkan dengan tingkah konyolmu itu? Apa itu efek dari kehamilan yang membuatmu sangat sensitif seperti itu saat ini? Atau hanya kerana … kamu memang sangat cemburu?" sahutan itu membuat aku membuka mata dan menemukan pandangan lekatnya ke arah wajah gadis yang tengah mengernyit tak mengerti, namun masih geram dan kesal.
Suara kekehan lembut yang aku kenal kini terdengar di antara kami dan berasal dari … speaker ponselnya? Benarkah?
"Maafkan aku, Kak, tapi aku tidak berniat membuatmu cemburu apalagi menangis, sungguh!"
"Isti?" pekikku menebak yang membuat kekehan itu terdengar lagi.
"Hai, Kakak ipar!"serunya riang yang terdengar dalam telepon
Aku memutar mata dengan tajam memandang wajah Firhan yang tidak tahan untuk tersenyum geli namun gemas.
Oh tidak!
Pipiku rasanya memanas kerana malu, lalu memejamkan mataku yang membuat Firhan terkekeh dan menarikku dalam rengkuhannya.
Wajahku benar-benar kubenamkan di dadanya yang kusembunyikan dari rasa malu ini.
"Maaf, Sayang, tidak bermaksud."
Dan aku tahu arti kosakata terakhirnya itu.
Aku mendorongnya saat masih merengkuhku yang seketika membuat Firhan tertawa. Aku memandangnya tajam, namun senyum ini tetap saja tersungging di hadapan dia. Ia lalu menarikku kembali dalam rengkuhannya, kemudian mengusap-usap rambutku dalam senyuman dan mengecup kening ini.
Dasar menyebalkan!
"Berikan padaku!" tuntutku memaksa saat merampas ponsel yang berada di dekatnya. Firhan tersenyum sembari duduk dengan tangan bertumpu di kain ini dan menopang tubuhnya ke belakang. Ia memilih mengalah dan memperhatikan saja apa terjadi.
"Hai, Adik ipar yang manis!" sapaku saat ponsel berada di genggamanku. Suara kekehan Isti membuat aku untuk tidak tersenyum.
"Hai, Kakak ipar, Bagaimana kabarmu, Kak?"
"Baik-baik saja, bagaimana dengan kalian?"
"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja!”
"Syukurlah. Jadi, omong-omong, Adik iparku yang manis ini berhutang penjelasan padaku, benar?" Isti lagi-lagi terkekeh.
"Kak Firhan?" teriakan Isti dengan nada meminta persetujuan, setelah kekehannya mereda pada Firhan membuat mataku berputar memandang lelaki di hadapanku ini yang masih asyik bertumpu sembari menonton dengan penuh senyuman. Sebelum menjawab, ia sekilas mengedipkan matanya satu dengan menggoda, meski aku masih menatapnya tajam menuntut.
"Beritahu saja, Sayang, tidak apa-apa." Teriak Firhan yang dimaksudkan berbicara pada Isti. Lalu, matanya beralih memandangku dengan menggoda sembari menaikkan kedua alisnya berulang kali. Aku mendengus dan menahan senyum.
"So?" tanyaku mengabaikan lelaki itu dan beralih pada Isti setelah berdehem.
"Baiklah, sesuai izin dari bapak Firhan. Begini, Kak iparku sayang, Kak Firhan meminta tolong pada temanku, Hilda, untuk menyewa Hellyped milik penerbangan ayahnya untuk membantu ke Makassar. Tapi karena kendaraan itu bermasalah, jadi aku ingin membantu mengurus tiketnya untuk menggunakan penerbangan umum saja, berhubung aku punya teman yang bekerja di bagian travel ticket."
"Tiket ke Makassar?" aku bertanya saat mengambil inti dari semua itu.
"Ya, tiket berbulan madu sekaligus babymoon kalian untuk seminggu, begitu kata kak Firhan," akui Isti memberitahu.
Mataku beralih memandang lelaki yang masih tersenyum lebar itu, yang sedari tadi mengamati dan mendengarkan aku dan Isti teleponan di speaker.
"Kak Nesya, apa masih ada yang kakak ingin tanyakan?" tanya Isti menyela.
"Tidak ada lagi, terima kasih, ya, Sayang. Ini, bicara lagi pada Firhan."
"Tidak perlu, Kak. Ibu memanggilku untuk makan siang, senang berbicara denganmu, salam pada kak Firhan. Dan, terima kasih kembali. " Riang gadis itu lalu memberikan kiss bye.
"Salam, ya, sama ibu dan ayah di sana.” Sahut aku dan Firhan yang bersamaan.
Kekehan Isti terdengar. “Insya Allah, Kak. Aku tutup teleponnya, ya, Kak. Assalamu‘alaikum.“
Senyuman kami menguap seketika.
“Wa'alaikum salaam, Sayang." Telepon pun terputus.
Aku memandang lelaki itu tajam, namun senyuman kubiarkan menguap di hadapan Firhan.
"Itu sebenarnya surprise untukmu," Gumam suamiku sambik memandang berseri dengan pengakuannya yang membuatku takjub dan menahan senyum.
"Tapi kenapa tidak bilang, sih? Aku malu nih sama isti!"
Firhan tertawa kecil lalu menarikku ke dalam dekapannya hingga membuatku bergelayut manja dan menutup wajahku yang mulai memerah karena malu. Sebenarnya aku lebih malu padanya, karena marah dan kesal sampai jadi salah paham begitu.
Dia tersenyum saat aku mendongakkan wajah, mengintip diam-diam ekspresinya. Tangannya saat ini mengusap kepalaku.
"Tidak apa-apa, Sayang. Isti pasti mengerti," lirihnya yang membuat aku menenggelamkan wajahku pada dada bidangnya.
"Kenapa di Makassar?" Tanyaku setelah sejenak hening dan melepas dekapannya.
"Itu rencana kedua, Sayang,"
Aku tersenyum, namun senyuman yang lagi-lagi merekah saat menatap kilatan mata penuh arti.
Oh kejutan lagi.
Kubiarkan diri ini ditarik ke pelukannya kembali, sembari tangan itu tetap mengelus lembut rambut dan mengecup keningku, lalu memeluk lagi dengan erat. Aku tersenyum dalam dekapannya dan membiarkan kejutan kedua itu terbentuk lagi tanpa aku tahu, membiarkan lelaki penuh kejutan ini tetap pada keinginan bahagianya yang penuh kontrol.
__ADS_1
* * * *