
"Fir, ayolah, aku ingin berfoto di depan Monumen Mandala, ya, ya?" rengek Nesya Manja yang tetap bersikeras membujuk.
Sebenarnya aku tidak ingin dia ke sana. Ini sudah sangat senja, menjelang malam dan seharian tadi kami jalan-jalan. Aku hanya tidak ingin membuat dia kelelahan, di tambah lagi usia kandungannya memasuki tujuh bulan.
"Fir, demi anak kita! Tuh, nendang-nendang, lompat-lompat kegirangan di dalam. Kamu mau, kalau misalnya anak kita laki-laki, terus dia bisa-bisa lahir nanti besarnya jadi anggota cheers saking hebatnya dia melompat-lompat di dalam?"
Aku menghela napas setelah memutar mata.
Wanita ini bercanda lagi!
Raut wajahnya menahan senyum.
Oh, mulai mengerjaiku? Baiklah!
"Tidak baik mengatakan seperti itu. Kalau di dengar bayi kita di dalam sana, bisa-bisa dia sudah planning bercita-cita menjadi kapten cheers!"
"Sssttt, ngomong apa, sih?" sambar Nesya menyela tidak bisa menahan senyumannya, lalu terkekeh.
"Kamu yang duluan lelucon seperti itu!" belaku tersenyum dan Nesya menggelayut manja di lenganku. "Makanya, ayo! Ya, ya?" rayunya mencoba lagi sembari memperlihatkan senyuman manis dia yang membuat aku tersenyum sembari mengusap rambut gadis itu, setelah mendesah mengalah.
"Baiklah, kita ke sana!"
"Horreeee!" Serunya riang yang membuat senyuman ini semakin merekah.
Selalu saja, tingkah kekanak-kanakan dan manjanya itu terkadang membuat aku sulit untuk menahan senyum.
Aku mencintainya, Tuhan, bahkan melebihi nyawaku sendiri!
Setelah memutar mobil dan ke arah timur, tidak butuh limabelas menit, mobil tiba dan berhenti tepat di depan Monumen Nasional ini. Dengan antusias, Nesya langsung memintaku memotret menggunakan ponselnya. Tepat di depan bangunan kokoh yang berdiri menjulang tinggi.
Satu pose. Dua. Dan ... "FIR, AWAS! " pekik Nesya dalam teriakan ketakutan dan kecemasannya sembari berusaha menyelamatkanku.
Istriku itu berhasil menyelamatkan aku saat menarik tubuhku di tempat yang aman, namun motor dari arah berlawanan menabraknya sebelum lengkingan teriakannya itu terdengar bersamaan dengab tubuhnya terpental jauh dan jatuh ke aspal.
Dalam hitungan detik saja, membuatku seketika terpaku di tempatku, tak mengerjap, bergeming tanpa suara. Aku hanya merasakan airmata itu mengalir begitu saja di pipiku sembari pandanganku masih menatap kelam ke arahnya. Terakhir yang kudengar, suara tumpang-tindih di sekitar kami bersamaan dengan suara sirine. Hingga, pandangan kurasakan mulai gelap dan buram, lalu setelah itu aku tak ingat lagi.
__ADS_1
* * *
Entah mengapa, rasanya tubuhku bagai tak bernyawa selepas menemukan di ruang UGD beberapa jam yang lalu. Dokter bilang, ada beberapa orang yang membawa kami bersama seorang polisi. Ya, Kami. Aku dan Nesya. Istriku itu masih di ruang ICU setelah diberikan pertolongan pertama di UGD. Aku tidak apa-apa, hanya pingsan dan syok atas kejadian yang kualami tadi, sedangkan Nesya, benar-benar sangat parah.
Selepas kejadian tadi, aky benar-benar rapuh dan hanya memandang tubuh lemas Nesya hang sedang berbaring, tak berdaya. Rasanya hidupku hancur ketika harus melihatnya terluka dengan pendarahan yang cukup banyak. Kecelakaan itu, membuat diringa benar-benar tak sadarkan diri selama toga hari berlalu selepas kejadian itu. Tubuhnya telah dipasangkan beberapa peralatan medis, termasuk selang dan kantung darah karena mengalami banyak pendarahan.
Dokter juga bilang, istriku harus di operasi untuk mengeluarkan bayi yang kini telah meninggal dalam kandungan akibat kecelakaan itu dan saat ini berusaha menghentikan pendarahan di rahimnya.
Tuhan, apa saja, asal dia selamat!
Lagi-lagi aku meremas rambut. Tanganku kini menggenggam tangannya dan menenggelamkan wajahku di telapak tangan lembut itu. Telapak tangan yang selalu mengelus rambutku. Telapak tangan yang terkadang menyuapiku penuh kasih. Telapak tangan yang mengusap airmataku. Telapak tangan yang merawat hingga tak jarang mengusap kesedihan dan luka ini dalam hidup yang terkadang kusembunyikan di hadapannya. Entah ke mana ia saat ini, aku benar-benar sangat rindu padanya.
Kuusap wajahnya dan membiarkan kenangan itu menari-nari dipikiranku. Terlebih, saat ini merecoki dan menemani dalam bayangnya, berselimut kesedihan yang mulai menjerat damaiku.
"Wherever you go, whatever you do, I will be right here waiting for you. Whatever it takes Or how my heart breaks, I will be right here waiting for you.... "
Suaraku terdengar pilu dan bergetar ketika menyanyikan dan membisikkan lagu favorit ‘nina bobo’ Nesya sembari mengusap-usap rambut dan wajahnya yang di perban.
Air mataku tak henti-henti sambil menyandarkan kepalaku di bahunya yang kini tengah memeluk dengan penuh terisak.
Suaraku lagi-lagi bergetar yang masih membenamkan wajahku di bahunya.
Tubuhku terguncang saat menangis dan terisak sambil mengusap kepalanya.
"Aku benar-benar membutuhkanmu Nesya, aku mencintaimu,"
"Maaf, Pak, pasien harus di bawa ke ruang operasi. Kita harus mengeluarkan bayi itu dalam rahimnya," suara gadis yang merupakan perawat di sini membuat aku benar-benar lemah dan terpuruk, saat melepaskanku dari istriku dan membawanya ke ruang operasi.
Aku hanya duduk tak berdaya di ruang tunggu, menatap kosong dengan airmata yang masih mengalir.
"Dokter, di mana ruang perawatan atas nama nyonya Amanda Salma?" Suara gadis yang mengandung cemas dan sedih yang terdeteksi di indera pendengarku, seketika membuat kepalaku berputar cepat menoleh ke sumber suara tersebut yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Seorang gadis berambut ikal tengah berdiri di ruang informasi dan bertanya pada staf informan itu.
"Isti?" suaraku keluar begitu saja dan tak terkendali saat menyadari dia menyebutkan nama yang dicarinya dan membuat aku meneteskan airmata.
__ADS_1
Tubuhnya terhenyak di sana kala wajah itu berhasil menangkapku yang tengah menatapnya hampa dalam kebingungan dan herahn lalu detik kemudian adikku itu berlari menghampiri dan menangis di dadaku.
Ya, nama itu! Itu nama ibu! Apa yang terjadi dengannya?
"Ada apa dengan ibu?" desakku ketika menghampiri adik semata wayangku itu.
Dia lagi-lagi menangis terisak. Tubuhnya bergetar dalam dekapanku. "Ibu koma saat baru tiba kemarin di sini! Dia bersama Ayah, dan aku baru menyusul kemari. Kata Ayah, Dokter bilang, ibu terkena serangan jantung dan koma. Ibu sekarang di ruang ICU, Kak."
Airmata ini mengalir begitu saja di pipi dan membuat syarafku serasa mati rasa. Rasanya dadaku bergemuruh dan berontak, tapi aku hanya bisa terdiam rapuh di sini dan sangat membuat aku sesak.
"Mengapa kakak ada di sini? Apa yang terjadi?"
"Temuilah ayah, kakak akan menyusulmu," tukasku saat ia memandangku sejenak dalam penuh linangan airmata, lalu Isti mengangguk patuh dan pergi meninggalkanku.
Dalam waktu yang sama, dua perempuan yang sekaligus surgaku berada di situasi yang membuat aku benar-benar tak berdaya dan hampa. Rasanya sungguh membuat aku gila.
Ada apa dengan semua ini? Di Rumah Sakit internasional ini, temanku koma dan belum sadarkan diri hingga saat ini. Dan di waktu yang sama, di Rumah Sakit yang ini pula, Rumah Sakit Islam, kedua surga dan permata hidupku tengah berjuang mempertahankan hidupnya.
Ibu koma dan Istriku operasi? Oh, Tuhan, sungguh. Lalu apa yang harus kulakukan, Tuhan? Siapa yang harus kujaga dan kutunggu?
Aku meremas rambutku dan berjongkok menyandarkan tubuh di dinding. Airmataku lagi-lagi mengalir. Pilihan yang benar-benar sulit dan sama-sama berharga yang membuat dadaku semakin bergemuruh, berontak dan perih.
Kakiku melangkah, melangkah dan melangkah bagai mayat hidup yang begitu sesak setelah susah payah berdebat dengan batin.
"*Jika suatu saat nanti, ada yang bertanya padamu, pilih ibu atau kekasihmu, siapa yang akan kamu pilih?" tanyaku memandang Nesya saat kami bercengkerama di tempat tidur, seraya mengelus-elus lembut rambut dan kening ini sambil kepala masih bersandar di pangkuannya.
"Jika Suamiku yang mengalami itu dan diminta untuk memilih, dengan bangga aku memintanya memilih ibu,"
"Mengapa?" tanyaku menatapnya serius, saat ia mulai menjawab namun senyuman manis itu merekah terlebih dahulu dan seperti menerawang pandangannya.
"Karena ibu lebih dari segalanya. Istrimu memang teman hidupmu, kekasih hidupmu, tapi ibulah segalanya. Istri menemani hidupmu, tapi seorang ibu rela menukar kehidupannya demi sang anak lahir. Istri menemanimu dalam suka dan duka, tapi seorang ibu rela melakukan apa saja agar sang anak bahagia dalam kondisi apapun. Kamu tahu, Fir? Tidak ada ketulusan yang mengalahkan ketulusan seorang ibu, begitu pun cintanya, dan itu merupakan perwujudan nyata atas kasih sayang dan cinta Allah. Bahkan, Baginda Rasulullah, Muhammad kita pernah mengatakan dan berpesan, ibumu, ibumu, ibumu, lalu Ayahmu! Mengapa? Kerana kesempurnaan cinta dan kasih yang nyata adalah terletak dari seorang ibu, surga ibu*,"
Ingatan itu terus menari-nari di pikiranku sepanjang melewati koridor rumah sakit ini yang mulai terasa mencekam bagiku.
* * * *
__ADS_1