
"Ar-Arrhman … Al- Al-Lamal Qur'an…. "
"Bacanya yang sabar, Sayang. Bagaimana bisa cepat pandai kalau mau instan begitu," sela Firhan yang membuat aku menengadah lalu tersenyum saat mengajariku mengaji.
Sedari tadi, aku memang berusaha membaca surah Ar- Rahman itu dan Firhan-lah yang mengajar.
"Hei, Kak. Ke bawah, yuk?" seru Isti dengan riangnya saat membuyarkan lamunan ini.
Ya, lagi-lagi bayang-bayang Suamiku itu membuatku teringat padanya. Kami berada di kamarku, di lantai dua.
Aku rindu kamu, Firhan.
Desahanku terdengar berat, Aku hanya menggeleng kecil dan berusaha tersenyum.
"Kak Firhan tetap ada, kok. Tetap ada di hati kakak," sahutnya berhambur memelukku, kemudian mengecup dan berlalu.
Benar, Setelah permintaan terakhir lelaki malaikatku itu, genap sepekan dirawat di rumah sakit, dia menghembuskan napas terakhirnya dalam kalimat Laa Ilaha Illallah dengan senyuman manis yang selalu kurindukan itu terukir di wajah indah nan putih pucatnya.
Aku kini tinggal sendiri di rumah kami. Terkadang, Isti datang menjenguk, atau pun ibu dan ayah, atau Daniel. Memang, Daniel mendapat cangkok hati dan kondisinya saat ini sudah sehat. Dia sembuh!
Hari ini, di rumah peninggalan Firhan yang begitu banyak kenangan, tampak begitu ramai saat ini. Beberapa orang berdatangan untuk membantu mempersiapkan pernikahan yang akan di gelar hari ini.
"Firhan, aku sangat rindu.… " desahku yang lagi-lagi meneteskan airmata setelah menghela napas berat.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, mereka lalu berkumpul di ruang tengah, menanti penghulu. Daniel terlihat tampan di sana dengan pakaian pengantinnya yang khas betawi, tampak kini tersenyum lebar dan bahagia namun secercah kecemasan terlihat di sana. Dia sudah memutuskan untuk masuk islam dan atas restu orang tuanya. Dan itu sudah kesepakatan ketika dia melamar saat itu.
"Saya terima nikahnya Isti Afraina Aarasy Zayn.… "
Suasana haru saat Daniel mengucapkan kalimat sakral itu di moment ijab kabul, membuat gadis di sebelahku menangis dalam balutan gaun putih pengantinnya yang begitu indah. Isti menikah dengan Daniel, atas dasar mereka saling mencintai. Dan juga, atas karena hidup kakaknya, ada pada suaminya itu. Hati malaikat itu, telah dicangkokkan dengan raga Daniel, dan Isti-lah yang memintaku untuk merestui pernikahan mereka.
* * *
Aku melirik lelaki di sebelah tempat tidur, saat aku membungkukkan tubuh membisikkan kalimat di telinga Daniel yang masih terbaring koma. Wajah Firhan berpaling seolah-olah tak ingin menyaksikan, seakan apa yang dilihatnya tak sanggup dihadapinya. Aku bisa merasakan, apa yang dia rasakan saat ini, ia begitu hancur dalam cintanya, namun berusaha untuk tidak egois. Entah dari mana pemikiran konyolnya itu.
Aku membungkuk lagi setelah tak sanggup melihat air mata menetes di pelipis suamiku itu yang masih memalingkan wajah.
"Aku, Istri Firhan, Bintang Elnesya Zayn. Aku berjanji padamu atas nama cintaku pada suamiku, atas nama keutuhan keluargaku. Aku berjanji saat ini, yang telah disaksikan oleh suamiku sendiri, bahwa aku sangat mencintainya, Firhan Pradipta Zayn! Dan aku hanya menganggapmu teman yang tak akan pernah lebih, bahkan tak akan pernah kita menyatu, di suatu saat dan kapan pun itu. Semoga kau memiliki wanita yang begitu cantik hatinya. Terima kasih, Daniel, dan maafkan aku."
Aku mendesah berat. Terdiam menunduk, lalu menatapnya sejenak. Kemudian, “Kau tahu, apa yang membuatku sakit tak tertahan setelah dari kedukaan itu? Ketika aku nyaris mengikhlaskan dan belajar merangkak dalam hari kelamku, lalu tiba-tiba kau datang dengan permintaan konyol dan bodohmu itu dengan mudahnya,”
Suara gemuruh langit di luar sana yang tengah hujan deras membuatku tersentak dan lagi-lagi dari lamunanku.
Aku tersenyum dalam mata berbinar, saat senyuman dan wajah Firhan masuk di celah-celah pikiranku dan juga permintaan kali terakhir Daniel sebelum ia memutuskan menikahi Isti.
Sudah sebulan berlalu setelah Firhan meninggal. Rasanya, hidupku masih hampa dan hambar tanpa dirinya. Aku rindu tawa dan senyum itu, aku rindu wajah dan kejutan menggemaskannya, aku rindu lagu nina bobonya, dan aku rindu semua yang ada dalam dirinya.
Aku mendesah dan lagi-lagi mengusap airmata yang menetes di pipi, lalu berlalu.
__ADS_1
***Untuk wanita idolaku, yang begitu sangat kucintai,
Bintang Elnesya Zayn.
Jika aku ditanya siapa wanita yang sangat aku cintai, aku akan menjawab, adalah ibu, adik dan Nesya-ku.
Aku terlalu mencintaimu, Nesya, hingga aku takut, kita tidak akan dipertemukan seperti Adam dan Hawa.
Kau tahu, rasanya aku memiliki hidup indah, saat kau menjadi bagian dari hidupku.
Jangan sedih, Sayang. Sejauh apa pun kamu berada, aku akan tetap menantimu. Se-lama apa pun aku menantimu, Aku tetap mencintaimu, hingga kita dipersatukan kelak di surga nanti. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!
Dari lelaki yang selalu merindukanmu, bahkan saat ini,
Firhan***.
Surat itu di temukan di jaket milik Firhan dan di letakkan di meja rias Nesya, bersama gemuruh derasnya hujan yang terdengar di luar sana.
"Apa yang akan kamu lakukan bila aku tidak ada?" pertanyaan asalku itu membuat senyum lebar nan manis Firhan merekah cukup lama.
"Tuhan selalu berkehendak baik untuk hamba-Nya, dan takdir apa pun, segalanya akan terjadi dan itu sudah tentu baik untuk hamba-Nya. Yang aku hanya lakukan bila separuh hidupku sudah tidak ada adalah, sepanjang hidupku berdoa untuknya, untuk sayap dan napas hidup ini. Berdoa, agar tetap bertemu di surga nanti, bagai adam dan hawa yang berujung dipertemukan. Kerana kamu, adalah sayapku ketika aku terbang, bermimpi dengan sejuta keindahan itu. Kamu adalah napas seperti melengkapi hidup dan menyatukan antara hidup dan jiwaku. Kamu yang membuat semuanya terlihat dan menjadi sempurna! Cinta yang satu, cinta yang hidup, dan cinta yang sempurna kelak di sana, di langit ke tujuh,"
Aku tersenyum menikmati suaranya dalam pikiranku yang menari-nari.
__ADS_1
-THE END-