Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Ayah


__ADS_3

Hari ini, setelah hujan deras dan cuaca sepertinya bersahabat, lembab namun tidak menyengat suhu panasnya.


Tadi pagi, Firhan telah meneleponku untuk prepare dan packing siangnya, karena pesawat yang akan ditumpangi ke kota honeymoon kami, akan berangkat sore nanti.


Ya, hari ini kami berangkat dan membuat aku jadi bersemangat. Entah mengapa, setelah informasi dari lelaki itu, aku langsung packing. Rasanya, membayangkan kota itu saja, sudah membuatku bersemangat dan sangat antusias. Benar, kota Makassar! Kota yang sangat begitu aku rindukan dengan sejuta kenangan di sana.


"Terlalu bersemangat, Nona cantik!" Gumaman suara riang itu yang terdengar di ruangan ini selain aku, membuat diri ini menoleh sembari tersenyum.


Siapa lagi, jika bukan si lelaki penuh kejutan itu!


"Fir, kamu sudah pulang?" seruku yang terlalu bersemangat lalu menghampirinya. Ia menaikkan bahu dengan raut wajah yang di lebih-lebihkan.


"Ini hari spesialku dengan Nyonya Fir, dan tidak ada yang bisa menghalangi itu!"


Senyumku merekah mendengar dia yang menatap penuh kasih.


"Kamu sudah makan?" tanyanya yang berubah serius. Aku mengangguk sembari masih dalam senyuman.


"Jam satu tadi."


"Syukurlah, Sayang. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu." Riangnya antusias, lalu merogoh dompetnya dan menarik sebuah kalung yang di selipkan di dompet cokelat itu.


Aku memandang penuh tanya saat kalung itu berada digenggamanku dan hanya balas tersenyum.


Kalung yang indah. Terbuat dari besi putih dengan lilitan intan biru berkilau di setiap kalung ini. Liontinnya berbentuk bintang bening dengan permata di setiap sisinya dan bertuliskan ‘N&F’. Dan sepertinya aku tidak asing dengan kalung ini.


Keningku berkerut penuh tanya. Dan saat tidak sengaja menekan tiap sisi, liontin itu seketika terbuka. Isinya sebuah foto, foto yang membuat aku takjub. Foto Firhan dan aku dengan pose saling berhadapan, tersenyum lebar dan saling menatap kedua tangan kami yang tengah bertaut-mengait satu sama lain di jari kelingking. Itu foto saat janji komitmen sahabat kita. Dan yang mengabadikan gambar ini adalah, Daniel.


Oh astaga, aku ingat! Ini kalungku yang sudah lama hilang! Tapi—


Sebelum aku bertanya dan mengangkat wajah memandang Firhan, dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.


"Daniel yang memberikan itu, Sayang. Dia kemari tiga hari yang lalu," sahutnya memandangku hati-hati sembari menyandar tubuh di ambang pintu dan menyusupkan tangan ke saku celana.


Kemari? Tiga hari yang lalu?


"Dia meminta izinku untuk bertemu denganmu. Seharusnya dia datang dua hari yang lalu, tapi sampai saat ini, dia belum datang."


"Kamu mengizinkannya?" pekikku dengan nada naik satu oktaf yang seketika membuatku geram dan kesal.


Aku mendengus dan memutar mata, lalu kembali packing dengan kesalnya dan merengut cemberut. Bisa melihat dari sudut mata, dia mendesah frustasi sembari meremas rambutnya.


"Sayang, please, dengarkan aku dulu?"


"Tidak mau!" erangku merengut dan ekspresinya berubah, antara geli menahan senyum dan cemas merayuku untuk tidak cemberut dan marah.


Ya, nada suaraku memang agak sedikit manja, dan itu yang membuatnya seperti itu dan berubah kikuk, tapi malah menular padaku, antara ingin senyum dan marah.

__ADS_1


"Jangan dekat-dekat!" ancamku dengan mengandung nada suara manja pada Firhan yang membuat senyumnya menguap dan tidak bisa menahan, saat dia mencoba duduk di sampingku dan mendekat.


Tanpa mengindahkan ancamanku, dia lalu menarikku dalam peluknya, memeluk dengan erat dengan raut wajah penuh senyuman.


"Punya kesalahan, bukan berarti memusuhi atau membencinya, Sayang. Akan lebih baik jika kita mendengarkan penjelasan dulu, baru judge seseorang. Karena, terkadang kita bisa terkecoh dengan keadaan dan tampilan yang kita lihat sendiri dari pada kenyataan sesungguhnya. Maaf, ya, memberinya izin tanpa bicara dulu denganmu, maaf membuatmu kesal. Tapi mungkin sudah saatnya kita mendengarkan penjelasan dia, setidaknya tidak egois dan mengintimidasi. Itu lebih adil untuknya," gumam Firhan yang nyaris berbisik sembari masih dalam pelukan.


Aku mendesah mengalah dan mengangguk yang diikuti kecupan hangat di pucuk kepala.


"Jadi, sejak kapan fotoku di dekat hatimu?" sela Firhan masih mendekap, namun tubuhnya mundur dan berjarak padaku untuk memandang wajah ini.


Senyuman malu-malu kini bersemayam di pipi dan bibirku.


"Di dekat hati?" elakku yang pura-pura tidak mengerti maksudnya. Firhan terkekeh, lalu mengusap rambutnya dengan tangan kanan.


"Iya, dong. Kalung, kan dekat dengan hati dan kamu selalu memakainya. Jadi—"


Lagi-lagi senyum malu-malu.


"Fir, kita harus packing!"


Suamiku itu terkekeh dan membuat diri ini semakin tersipu saat aku berusaha mengalihkan. Jelas sekali aku berusaha mengalihkan.


Firhan memandang sejenak, sembari menggenggam wajah ini yang menatap dia balik dalam senyuman.


"Oke, bersiap-siaplah, Nona cantik. Sebentar lagi aku akan menculikmu!" sahut Fir menggoda dalam gurauannya yang membuat aku terkekeh dan menatapnya ketika ia melangkah mundur perlahan-lahan sambil pandangan tidak lepas dariku yang semakin lama hilang dari pandangan.


Aku tersenyum dan kembali melanjutkan packing.


* * *


"Pakaian yang indah dengan pemakai yang indah pula. Sangat cantik, Nyonya Firhan, aku suka," gumam Firhan berkomentar dengan sorotan dan senyum mengagumi.


"Terkadang kamu membuat aku minder dan bertanya-tanya," tambahnya yang membuat pipiku semakin memanas dan tersipu.


Dia mengusap dagunya dengan penuh kekaguman, seraya pandangan tidak lepas dariku sehingga aku menghampirinya.


Sore ini Firhan memakai kemeja polos biru soft fresh dengan celana jins khakinya yang dipadukan sepatu hitam favoritnya. Rambut spikenya sengaja di gel namun dibiarkan agak sedikit berantakan hingga terkesan keren dan macho, seperti model majalah keren yang selalu membuat siapa saja yang melihatnya seketika terpukau. Sedangkan aku, memakai gaun Cardi Velvana dark, dengan paduan celana hitam khaki dan sepatu kets hitam, serta hijab pasmina shiffon yang telah kumodel.


Raut wajah Firhan semakin tersenyum dan meraih wajah ini, saat telah berada di hadapan dia dan menggenggamnya.


"Sungguh benar, ya, Tuhan tak pernah salah memerintahkan umatnya untuk berhijab, kerana permata ini sungguh luar biasa indahnya, terlebih ketika tertutupi kain suci ini,"


Aku terkekeh.


"Dari tadi kamu memuji terus, ada maunya, ya?" Firhan terkekeh, lalu menggeleng perlahan.


"Aku hanya terpesona melihat Istriku dalam lindungan Allah. Sungguh, Tuhan maha baik!" gumamnya yang masih memandang kagum sembari tangan satunya menyentuh hijab yang tengah membalut kepalaku, lalu mengerling di akhir kalimat dengan senyuman manis melebar.

__ADS_1


Lagi-lagi, senyuman itu menular dan berefek bahagia di syarafku.


"Aamiin."


Dia tersenyum, lalu tangan ini meraih kancing atas kemejanya yang terlepas dan mengancing kembali.


"Trim’s, Sayang." Ringan Firhan riang dan antusias, lalu mengecup pipi ini.


"Terima kasih kembali."


"Jadi, penampilanku bagaimana? Ada yang kurang atau perlu diganti, Sayang?" tanya


Firhan sembari merentangkan kedua tangannya memperlihatkan penampilannya. Raut wajahnya serius. Aku mengangguk tersenyum sembari mengacungkan ibu jari.


Ya, dia memang selalu begitu sejak kami mulai keluar dari zona kikuk selepas menikah. Tak jarang, ia bahkan lebih mempercayai kedua mata ini dan pendapatku dari pada sebuah cermin panjang di kamar ini untuk penampilannya.


"Selalu memukau! Dan aku, Bagaimana?"


Dia menatap dengan sorot mata menyipit, lalu ibu jarinya mengusap tepi bibirku. Rupanya lipgloss yang kupakai belepotan di tepi bibir.


"Begitu pun Nona cantikku ini." Gumamnya menilai lalu menarikku dalam dekapannya yang membuatku tersenyum, begitu pun Firhan sembari memeluk erat.


"Kalian mau pergi tanpa pamit?" Suara berat yang mengandung kerinduan itu membuat aku dan Firhan menoleh.


"Ayah?" bisikku yang masih dalam rengkuhan suamiku ini.


Sekilas aku melihat, wajah Firhan terkejut dan tak percaya apa yang dilihatnya saat ini. Mata yang memandang tak mengerjap itu kini berbinar. Sosok tegap yang mulai mengurus itu telah berdiri memandang penuh kerinduan ke arah kami, tanpa mengerjap dan dengan mata berbinar, yang di belakangnya tak jauh darinya juga berdiri seorang wanita paruh baya sembari memeluk lengan gadis manis yang juga menatap ke arah kami.


"Kamu sangat marah, sampai-sampai pergi pun tidak ingin pamit pada Ayah, Nak?" suara itu bergetar seraya melangkah menghampiri kami dan membuat lelaki yang di sebelahku ini tak tahan menyembunyikan airmata kerinduannya yang telah menetes di pipi putihnya dalam getaran tangisnya yang ia tahan.


"Bagaimana bisa kau bukan putraku? Bagaimana bisa kau kuasingkan sedangkan hariku selalu bahagia karena kehadiranmu, Nak! Kau sangat marah dan tersinggung hingga tidak merasakan bahwa ayah sangat merindukanmu, Ayah menantikanmu pulang setiap saat! Mengapa kau tidak bisa melihat dan merasakan itu? Aku Ayahmu, Nak, Ayahmu," lirih Ayah dengan airmata menetes yang seketika Firhan berhambur ke pelukannya, saat Ayah telah berada dihadapan kami. Dia lalu merentakan tangannya yang satu saat memandangku penuh kasih dan hangat menyambut, yang seketika memelukku dan Firhan, memeluk kami berdua begitu erat.


Aku memejamkan mata menikmatinya.


Tuhan, sungguh hari ini kejutan yang membuat aku sangat bahagia. Rasanya, aku memiliki Ayah lagi. Sosok Ayah yang begitu aku rindukan selama ini!


Setelah pelukan terlepas, Ayah mengecup kening Firhan, lalu aku.


Memang benar, kasih ibu dan ayah itu sepanjang masa. Sebesar apa pun amarah dalam dirinya, di balik itu ada sungai penuh kasih dan kedamaian di sana yang tersembunyi untuk anak-anaknya.


"Maaf, telah membuat ayah kecewa dan sakit selama ini," sahut Firhan memandang Ayah dengan raut wajah bersalah.


"Tidak, Anakku! Terkadang, hal yang dilihat tidak sesuai dengan kenyataan. Seharusnya sebagai Ayah, memang harus lebih memahami dari pada orang lain. Ayah terlalu egois hingga tidak mendengar penjelasanmu, Nak. Ayah meminta maaf yang sebesar-besarnya," jelas ayah yang sekilas memandangku.


Dan membuat suamiku itu tersenyum dalam gelengan perlahan.


"Seorang ayah tetaplah yang paling hebat dan paling terbaik untuk anak-anaknya, tidak peduli sebesar apa ia melakukan kesalahan apa pun. Tidak seharusnya ayah meminta maaf. Terima kasih, Ayah. Aku sangat merindukan kalian,"

__ADS_1


Lagi-lagi Firhan memeluk ayahnya dengan erat. Aku, ibu dan Isti tersenyum berbinar meneteskan airmata haru melihat kebahagiaan ini.


* * *


__ADS_2