Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Hidup Baru


__ADS_3

"Sudah makan?" suara lembutnya kini menjelajah di seluruh otakku. Aku hanya bisa memandangnya tanpa berkedip.


"Nes? Nesya?"


Lagi, suara itu terdengar indah di telinga dan otakku, bak menari-nari lembut di pikiran ini.


"Nesya?"


Aku tersentak. Tangan putihnya saat ini menyentuh lembut rambutku.


"Hei, kok melamun, sih?" tegurnya lembut yang mengandung senyum di wajahnya dan menyentuh mata yang membuat tampak gelengan perlahan ini tampak, bersamaan dengan senyuman seraya memandangnya.


"Kamu sendiri belum makan." Timpalku dan memandangnya tersenyum. Ia mendesah.


"Sayang, kan kamu lagi—"


"Sstt, ia aku tahu!" desisku menyela lalu terkekeh. Lelaki itu hanya tersenyum kemudian menarikku dalam dekapannya.


Memang, pagi ini entah mengapa begitu terasa aneh. Maksudku, sikap suamiku yang semakin lama—sejujurnya masih membuatku tidak menyangka hingga menganga tertegun bak orang *****, setiap saat aku menyadari dan memang belum terbiasa—begitu dramatis tapi selalu berhasil membuatku terpesona dan konyolnya, merasa seolah berada dalam scene film drama. Firhan memang begitu penyayang dan perhatian padaku.


Namanya Firhan. Lengkapnya, Firhan Pradipta Zayn. Lelaki tampan menurutku dengan postur tubuh atletis tinggi nan tegapnya dan bisa di bilang ia termasuk kategori pria idaman. Kuakui, tak jarang ketampanan wajah dan eksotik tubuhnya begitu membuat wanita terpikat, terlebih ketika kami berjalan berdua di tengah keramaian, ia ibarat berlian berkilau. Dan itu, memang sudah sedari dulu hingga saat ini.


Awalnya, kami bertemu di sebuah perpustakaan. Dia juga sangat menyukai buku, terlebih puisi Urdu. Puisi berbahasa Punjabi, Pakistan. Memang, ia juga senang membuat puisi seperti itu. Sejak saat itu, kami dekat dan bersahabat. Bedanya, ia fokus dengan ilmu dan kuliahnya bersama sejuta harta yang melimpah ruah dan beberapa usahanya yang ia mulai dari nol. Dan aku, aku adalah gadis sederhana tanpa apa-apa dengan otak yang tak secerdas itu. Ayahku meninggal sejak aku berusia dua tahun, dan Ibuku juga meninggal sejak aku duduk di bangku SD kelas enam. Singkatnya, aku dengan kekasihku, dan dia dengan sejuta ilmunya yang menemani. Benar, meski memliki kesempurnaan yang banyak digilai oleh para wanita, namun lelaki ini seakan tak pernah terpegaruh sedikit pun, bahkan dengan gadis yang sangat cantik dan populer. Aku bahkan tak pernah melihatnya menggandeng gadis selain diriku, bersahabat tentunya.


Sejak kami menikah dua bulan yang lalu, ia semakin perhatian dan penuh kasih. Dan aku, perlahan-lahan, mulai membuka hati—meski, butuh waktu lama—namun entah mengapa, aku mulai cemas padanya jika dia pulang terlambat. Ya, kupikir, setidaknya mungkin sudah saatnya aku membalas kebaikannya itu dengan mulai bersikap tak dingin lagi—berusaha menjadi istri yang baik untuknya, meski itu sulit dan aku masih merasa belum pantas untuknya. Terlebih, rasa bersalah ini masih menguar di benakku tatkala mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Benar, karenaku, dia harus berjauhan dengan keluarganya bahkan berpisah. Kadang-kadang aku melihat sorotan kerinduan dalam mata kelamnya ketika termenung sendirian di depan meja ruang kerjanya. Dan, untuk masa laluku, aku belajar dan mencoba perlahan-lahan menghapus cinta untuk mantan kekasihku, Daniel.


Hari ini dia sangat tampan, dengan kemeja kelabu dan rambut hitamnya yang sengaja di gel dengan membentuk spike. Terlebih, senyumnya nyaris tak lepas dari wajah tampannya itu, membuatku benar-benar tak bisa menahan untuk tidak ikut tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum seperti itu? Ayo, pikirkan apa coba?" selanya menembus pikiranku yang membuatku tersenyum malu.


"Sudah! Ini masih pagi, Pak Firhan. Jangan menggoda apalagi merecokiku!" sahutku menggeliat didekapannya.


"Oh, ya, Nyonya Firhan?" sahutnya lalu terkekeh.


Istilah barunya itu benar-benar membuat pipiku terasa memanas. Sepertinya aku harus terbiasa dengan itu. Lagi, sesuatu yang baru.


"Okay, sekarang waktunya pergi. Time’s to work!” seruku tersenyum setelah mendesah.


"Baiklah, Nyonya Firhan!"


Lagi, membuatku terkekeh dengan istilahnya itu dan ia tersenyum. Tersenyum manis menyentuh matanya. Firhan lalu memandangku sejenak, kemudian menggenggam wajahku dan menyentuhnya.


"Jaga diri baik-baik juga kesehatan. Dan ingat, minum susu," Aku mengangguk patuh dalam senyuman.


"Iya." Lirihku lembut, lalu dia mengecup keningku. Lalu, "Aku pergi dulu, ya, Sayang. Baik-baik di rumah. Bila ada apa-apa, telepon, okay?" pesannya lembut lalu mengusap rambutku. Aku mengangguk sembari senyum masih di wajahku.


"Love you." Lirihnya berbisik di telingaku dan membuatku terkekeh sembari mendorongnya pelan sambil tersenyum.


"Sudah, jangan gombal terus, nanti terlambat ke kantornya."


"Masa bos terlambat sedikit saja tidak boleh?" protesnya menimpali.


"Hei, Bos juga harus disiplin, "


Firhan terkekeh dan menarikku lagi agar lebih dekat. Menatap, seperti menunggu sesuatu.


"Love you, too." bisikku dalam membenamkan wajah di dadanya. Ia lalu melepas dekapan dan memandang tak percaya. Seperti terkejut, tapi setelah itu, ekspresi wajahnya kembali berubah menjadi ... Berseri? Hah? Apa? Dia berseri?


"Kenapa?" tanyaku menatapnya.


Lelaki itu terkekeh penuh kemenangan, lalu menggeleng. Kemudian, menarikku kembali dalam pelukannya dan mengusap rambutku. Aku hanya mengernyit dalam diam. Setelah dia melepaskan dekapannya, kami lalu ke teras dan ia mengecupku sekali lagi, lalu mencium tangannya serta pamit padaku dan berlalu dengan penuh senyuman berseri.


Aneh, tapi aku suka!

__ADS_1


Senyumanku merekah konyol. Aku lalu masuk ke rumah. Cuaca hari ini begitu cerah dan hangat.


* * *


Siang ini, setelah aku dan Dian, sahabatku teleponan, akhirnya kami janjian bertemu di rumahku. Rasanya bahagia, setelah lama tak bertemu dengan gadis imut yang super cerewet ini, akhirnya meet up. Aku mendesah.


Suara ketukan berulang kali terdengar dan dengan antusias berlari kecil ke pintu utama untuk membukakan pintu. Begitu telah membuka pintu besar bercat cokelat lembut dengan gagang besi putih dingin yang mungkin dari efek pendingin ruangan ini, kini seorang gadis yang masih sama terakhir kulihat itu seketika berhambur memelukku.


"Nesya!" serunya riang lalu menarikku masuk.


Keningku hanya berkerut samar dalam senyuman dan menggeleng berulang kali padanya. Sangat Dian, selalu percaya diri dan tak pernah sungkan pada sahabatnya. Di mana pun aku berada, dia seolah menganggapnya juga dunianya.


"Hei, kamu tambah cantik loh, Say." Komentarnya yang memulai. Mataku memutar dan tersenyum. "Dan kamu, semakin cerewet."


Mendengar itu, ia lalu mencebik lalu cemberut. Dan itu membuatku terkekeh. "Tapi tetap imut, kok," tambahku tersenyum lalu mengacungkan ibujariku padanya. Yang membuatnya semakin menatap berlebihan dengan narsis dan centilnya.


Aku lalu masuk ke dapur, ketika sesaat ia mengutak-atik ponselnya sejenak. "Eh, bagaimana hubungan kalian?" tanyanya yang mulai serius saat aku kembali dari dapur dan membawakannya nampan berisi minuman juice dan juga snack ringan.


"Alhamdulillah, semakin bahagia, Di. Kamu bagaimana sama Juan?" Aku memandangnya mengingat hubungan yang super romantis mereka.


Dan dia, dia menunduk sejenak, lalu tersenyum setelah mengangkat wajah. Lalu, "Kami akan tunangan bulan depan. Daniel juga beg.... " Ucapannya seketika berhenti dan mengambang. Dan itu, berhasil membuat wajahku terangkat dan senyumku hilang.


Ya, tentu saja aku ingat. Daniel, mantan kekasihku adalah sahabat Juan, kekasih sahabatku, Dian. Dan aku hanya bisa tersenyum kecut padanya.


Tangannya kini merengkuh pundakku dan mengusapnya sembari tersenyum menyemangati, yang kubalas tersenyum padanya. Namun, bencinya, airmata konyol ini malah menggantung di pelupuk mataku.


"Tidak ada yang perlu di sedihkan, Di. Yang aku dapatkan saat ini, lebih dari yang aku impikan," lirihku lalu menarik napas dalam-dalam dan tersenyum.


"Aku sangat beruntung mendapatkannya." Gumamku dan itu membuat sahabatku tersenyum seraya mengangguk setuju.


"That's right! Yup, kamu sangat beruntung, seandainya saja aku mendapatkannya pula." Gumamnya dalam nada suara hampa.


“Hei, kamu bahkan juga lebih beruntung, kan? Lelaki mandiri dan penuh wibawa dengan perusahaan sukses dan besar di mana-mana, tentunya juga sangat mencintaimu,” antusiasku menyemangati yang hanya di balas slow respons olehnya. Bahkan senyuman yang baru merekah itu tampak seperti—


"Oh ya, jadi, calon keponakanku ini sudah berusia berapa?" alihnya menyela dengan antusias dan membuatku tersenyum kikuk dan heran.


Cukup lama kami berpelukan, dan berhasil membuat suasana kembali mencair dan aku kembali tak canggung lagi. Meski sejujurnya, ada terbersit sedikit rasa aneh pada sahabatku ini yang terasa berbeda. Entahlah.


"Jadi, berapa?" tanyanya mengulang lagi setelah dekapan kami terlepas.


Aku lalu tersenyum dan sejenak mengusap perutku yang mulai membesar.


"Sudah jalan dua bulan, Di." Sahutku tersenyum mengangkat wajah memandangnya.


"Oh ya, jadi aqiqah-nya nanti gimana, Nes? Terus rencananya gimana? Terus kalau—"


"Sssstttt, not time to know yet!" desisku memotong dan menyelanya sembari nyaris berbisik.


Dan ia sejenak cemberut, lalu saling memandang dan detik kemudian kami tertawa bersama. Obrolan semakin berlanjut dengan seru, yang sesekali di selingi bersenda gurau.


* * *


Senja mulai masuk ke ruangan ini dan menampakkan cahaya jingganya. Untuk kali pertama, rasanya aku begitu canggung berada dalam satu kamar bersama lelaki yang telah menjadi suami sah dan halalku ini baru saja. Dia memandang, namun hanya sepersekian detik, kemudian cepat-cepat mengalihkan sepasang mata itu dariku. Dirinya sedari tadi merapikan yang entah apa, tepat tak jauh dariku yang tengah duduk di atas kasur empuk ini.


Hening. Hanya itu yang saat ini terjadi di antara kami. Namun lucunya, sesekali kami berbalas senyum kecil namun terlihat kikuk.


“Umm, Nes, k-kamu ... mau istirahat? Mungkin kamu kelelahan dengan resepsi tadi.” Aku menggeleng kecil. “Oh. Atau ... mandi, mungkin? Maksudku, kamu bisa menghilangkan rasa lelahmu dengan menyegarkan tubuh, sementara aku memasak makanan untuk kita.” Lanjutnya yang membuatku lagi-lagi hanya menggeleng kecil.


“Aku mau shalat dulu, sepertinya waktunya hampir lewat.”


“Oh, oke.” Lagi, suasana kembali hening.


“Mushollanya ada di bawah, dan sudah lengkap di sana. Jika kamu butuh sesuatu, aku ada di dapur.” Jelasnya kikuk memberitahu.

__ADS_1


Aku mengangguk, namun kali ini sengaja kuselipkan senyum simpul, agar kesannya tidak terlalu kikuk.


“Nesya?” suaranya membuat kepalaku terangkat cepat.


“Ya?”


“Aku, Umm ... sudah, lupakan saja! See you.” Sahutnya menggantung yang membuatku mengeryit heran, lalu tersenyum di akhir kalimat dan menular padaku saat ia berlalu.


Aku lalu beranjak, sholat kemudian kembali ke kamar dan mandi serta berganti pakaian. Setelah itu, hanya berdiam diri di kamar sepanjang malam dalam kebungkaman. Bahkan, lelaki itu sedikit pun tak menggangguku dan membiarkan menyendiri di kamar ini.


Ruangan Mushollanya tadi cukup luas, dan begitu sejuk. Rasanya begitu damai dan nyaman berada di dalamnya. Di sudut samping, ada koridor kecil namun masih dalam area musholla yang sengaja di tempatkan khusus untuk berwudhu dengan dua kran air di sana beserta alas kaki sendalnya. Sedangkan ruangan mushollah yang dindingnya dipasangi keramik kaligrafi dan motif hingga tampak begitu indah. Tepat di sebelah barat, ada sejadah besar sekaligus dinding yang di selimuti dengan keramik bergambar kabbah. Memandang itu, membuatku tersenyum hangat dan damai. Aku masih tak menyangka, ia masih memikirkan hal ini dalam hidupnya. Diam-diam aku berdoa dan berterima kasih telah memberikan lelaki baik itu dalam hidupku. Kado sekaligus anugerah yang indah.


Suara lembut yang nyaris tak terdeteksi indera pendengarku itu kini mengusik untuk memintaku turun makan malam bersamanya. Demi menghargai, toh sekaligus dia pernah jadi sahabatku, harus melakukan itu meski canggung. Dan benar saja, sepanjang kami makan malam, hanya suara peralatan makan kami yang terdengar di sela keheningan ini, dalam suasana canggung. Ia bahkan melarang untuk mencuci peralatan kotor dan hanya memintaku istirahat di kamar.


Lagi, kutemukan diriku dalam bayangnya. Masih sama, dengan kemirisan yang merenggut damai dan keceriaan hidupku. Ya, Daniel masih berhasil masuk di celah pikiranku, meski aku berulang kali merangsek dan memaksanya untuk keluar. Entah apa yang harus kulakukan lagi, agar jerat konyol ini melepaskanku. Mirisnya, setiap berusaha melupakan, air mata bodoh itu lagi-lagi berduka kelam. Memang benar! Sejauh apa pun kau pergi, sekeras apa upaya yang kau harus dan paksakan, pada akhirnya akan membawamu pada rasa sakit itu pula. Rasa sakit yang menimbulkan luka yang tak pernah kau lihat secara kasat mata, namun mampu membuatmu terjebak bertahun-tahun untuk keluar dari zona itu. Tapi aku percaya, setiap luka pada akhirnya akan menemukan kesembuhan tersendiri. Entah cepat atau lambat, dan itu hanya diri sendiri yang dapat melakukan.


Suara deret dalam ruangan itu kini merecoki lamunan dalam heningku. Mata ini beralih pada lelaki yang sibuk sendiri di sana, sembari tengah berusaha mendorong sofa dan—


“Oh, hai, Nes?” Firhan masih tersenyum kikuk.


“Apa perlu bantuan?” tawarku saat menyadari dirinya tengah sibuk menggeser sofa, entah untuk apa dan di ke manakan..


“Tidak apa-apa. Aku hanya menggesernya sedikit untuk kutempati tidur nanti malam.” akuinya polos.


Keningku mengernyit. “Apa? Siapa yang menyuruhmu tidur di sana?”


“Aku sendiri!”


“Kenapa?”



Kenapa?” tanyanya balik.


Keningku semakin mengernyit. Lalu, “Tidak. Maksudku, mengapa kamu tidur di lantai? Bukankah kita sudah menikah? Begini, setidaknya itu sudah halal di mata Allah.”


Dia terkekeh. Kecanggungan di antara kami mulai menghilang.


“Ini kemauanku sendiri. Iya, benar, aku tahu kita sudah menikah, tapi bukan berarti aku sudah memilikimu, Nes. Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada kita, terlebih kamu tidak mencintaiku atau atas dasar kamu tidak mau,”


Oh, aku tahu! Dia masih menjaga kehormatanku, masih menghargai diri ini yang jelas-jelas lelaki yang kuharapkan dan cinta selama ini bahkan sama sekali tak peduli lagi.


Sejenak, aku menatap mata sendunya. Lagi, diam-diam berterima kasih pada Tuhan.


“Tidak akan terjadi jika kita tidak melakukannya, tidak ada keinginan. Jadi, kumohon, tidurlah di tempat tidur.”


“Kenapa?”


“Bisakah kamu tidak bertanya?” dia terkekeh lagi, namun kali ini menatapku dengan aneh.


“Aku lupa kamu sedang hamil, itulah mengapa sensitif begitu.” Senyumnya menggoda yang membuatku tersenyum menunduk, namun diam-diam menghela napas.


“Jadi?” tanyaku lagi.


“Kamu .... terdengar seperti sangat ingin tidur bersamaku, ya?” timpalnya menyipitkan mata dengan curiga namun dalam menggoda.


Rasanya menemukan kembali sahabat lamaku.


“FIRHAN?”


Dan untuk kali pertama, aku melihat tawa lepas itu yang begitu lebar. Terasa menyenangkan menatapnya seperti itu. Ia begitu bahagia terlihat, seperti kembali. Sangat Firhan yang selalu konyol dengan lelucon asalnya.


Firhan mengangguk sembari mengacungkan ibujarinya, namun masih dalam tawa riang yang membuatku tersenyum memandangnya.

__ADS_1


Suara deringan ponselku kini membuyarkan lamunanku saat aku mengingat hubungan kami dahulu yang baru di mulai, yang membuatku sejenak tersenyum, lalu mengangkat telepon, saat aku menyadari sejenak bahwa aku telah sendirian di ruangan tengah ini.


* * * *


__ADS_2