
Jakarta, Indonesia
Hari ini, setelah Lima bulan telah berlalu dari kejadian itu. Kejadian yang telah nyaris merangsek hidupku dan membuatku hampir gila. Tidak mudah menjalankan hari saat itu. Namun, perlahan-lahan, Firhan lah yang lagi-lagi merawatku dengan sabar dan penuh kasih, berusaha membuatku mengerti dan kuat atas apa yang telah terjadi. Ya, anakku meninggal dan aku berangsur membaik dari pasca operasi itu. Meski terkadang, ada saat-saat di mana aku sedih mengingat hal itu, kehilangan darah dagingku.
Ibu telah sembuh dari komanya sebulan yang lalu. Firhan bilang, hari ini Daniel akan di rujuk ke rumah sakit di Jakarta. Lelaki malang itu akan di pindahkan di sana. Ya, Daniel masih koma sampai saat ini dan Firhan lah yang setiap saat mengunjunginya, mengajaknya ngobrol agar dia cepat tersadar dari koma, bahkan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Sedangkan aku, aku bahkan kebanyakan di rumah dan membiarkan Firhan berkunjung sendirian ke sana, meski sesekali aku ikut karena tak tega suamiku membujukku terus. Entah apa yang dipikiran lelaki itu, dia bahkan kini semakin akrab dengan keluarga Daniel.
Kadang ibu atau pun Isti yang berkunjung ke rumah menemaniku. Kami memang telah pulang, kembali ke Jakarta.
"Hei, melamun terus! Jangan terlalu memikirkan aku, Sayang, aku baik-baik saja, kok, tidak akan ke mana-mana."
Aku hanya terkekeh mendengar gurauannya itu, saat menyapaku di taman belakang rumah.
"Lagi apa?"
"Bernapas."
Firhan memandangku nakal lalu menarikku dalam rengkuhannya. "Aku punya sesuatu buat kamu!"
"Apa?"
Suamiku kemudian merogoh saku celana dan mengacungkan dua buah permen lollypop yang sontak membuat senyum riangku merekah. Baru Separuh mulut terbuka hendak mengatakan terima kasih, dia membuat raut wajahku cemberut.
"Bukan untukmu, tahu!" sambarnya sembari menjauhkan lollypop itu dari hadapan wajahku saat hendak mengambil dari tangannya.
Lalu, sepersekian detik kemudian, dia terkekeh penuh kemenangan sembari mengacungkan kedua permen itu lagi di depanku, bak memberi bunga, saat aku memalingkan wajah mengabaikannya dengan bibir mengerucut.
"Untuk seseorang yang begitu manis mengisi hidupku,"
Mataku memutar memandangnya dengan penuh tanya. Mungkin saja hanya spekulasi dia, bukan untukku dan hanya mengerjai.
Senyum Firhan melebar menyentuh matanya ketika melihat raut wajah dan respon ini.
"Untukmu, Sayang," raut wajah seketika berseri dan senyum merekah yang seketika mengecup bibirnya, begitu kedua permen itu dia berikan padaku.
__ADS_1
Mudah memang membuatku tersenyum dan bahagia, sesederhana itu. Dan Firhan tahu hal ini.
"Trim’s." riangku begitu menggenggam lollypop itu.
"Terima kasih kembali. Masa kecil yang tidak bahagia, ckck kasihan." timpal Firhan lalu bergumam yang nyaris berbisik di akhir kalimat hingga membuat aktivitas—membuka permenku berhenti dan teralihkan seketika, saat kepalaku terangkat memandangnya dengan tatapan tajam.
Dia tersenyum lebar.
"Apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Mengejekku, ya?"
Dia menahan senyum. "Siapa? Aku tidak mengejek."
"Lalu?"
Dia terkekeh. "Hidungmu kembang-kempis bila marah-marah seperti itu, Sayang!"
Tawanya meledak yang membuat aku mengejarnya dan tidak bisa menahan senyumku.
* * *
"Bagaimana?" Aku meminta pendapatnya seperti biasa sembari merentangkan tangan untuk menilai penampilanku sore itu, setelah merapikan kemejanya.
Sore ini, dia memakai kemeja couple putih polos, dengan celana jins khakinya, dan aku memakai t-shirt turtleneck couple putih dengan paduan jaket jins dan celana balloon beberapa senti dari lutut berwarna dark peach. Kami akan dinner di rumah orangtua Firhan, mereka mengundang kami.
"Seperti biasa, sangat cantik," komentar Firhan setelah sejenak mengamati, lalu menarikku mendekat di tubuhnya dan memeluk pinggangku.
"Kamu tidak perlu make up berlebihan, itu sudah membuatmu cantik. Sederhana saja, Sayang! Aku lebih suka istriku yang dulu, sederhana dan apa adanya," akui Firhan di akhir kalimat yang nyaris berbisik sambil memandang mataku, lalu mengusap bibirku dengan lembut yang membuat aku tersipu. Dia menipiskan warna lipstick pink di bibirku.
"Baiklah, Tuan pemberi kejutan, lagi-lagi kamu membuat aku tersanjung!" Aku menimpali sembari mendorongnya yang membuat alisnya mengernyit, lalu mengambil sehelai tissue di meja rias dan melap tangannya yang di usapkan tadi di bibirku.
"Tersanjung?"
__ADS_1
"Ya, tersanjung sekaligus terharu! Kamu sangat mencintaiku sampai-sampai tidak ingin berbagi kekaguman dan pesonaku pada orang lain!"
Sejujurnya, aku geli sendiri mendengar kalimat ini. Tapi, memang sekadar menggodanya.
Dia terkekeh. Lalu, "Terserah Nona sayangku saja! Well, ayo berangkat!" ajaknya berseru, kemudian mengkeretku dalam dekapannya sembari melangkah pergi.
Tidak memakan waktu lama, kami sampai di rumah besar itu. Ada beberapa perubahan. Rumah di cat dengan warna peach, dan beberapa di poles dengan motif modern, juga di depan beranda diubah dengan design bergaya elegan. Pekarangan juga semakin ramai dengan tanaman-tanaman yang di perbanyak untuk menghiasi. Di sebelah timur, ada kolam ikan dengan dihiasi jembatan kayu yang di cat dengan warna cokelat, di tengah-tengah taman bunga-bunga yang semakin indah terlihat.
Begitu aku masuk ke rumah, mereka menyambut kami, dan Isti dengan antusiasnya langsung menyeretku ke dapur.
Ah, Tuhan, rasanya aku bahagia keluargaku menyatu seperti ini. Senyuman bahagia yang selalu aku rindukan dari wajah orang-orang yang kucinta.
"Oh ya, Kak, kapan aku punya keponakan lagi?"
Aku tersenyum mendengar pertanyaan adik iparku ini, saat tengah memotong sayuran, dan dia mencuci sayur. Kami memang membagi tugas agar cepat selesai.
"Kenapa tanya begitu pada kakakmu? Tidak baik, Nak! Rezeki anak itu atas kehendak Allah, kita hanya menjalaninya," ibu menyela di antara kami dan membuat Isti memeluknya dari belakang saat tengah memasak ikan.
"Iya, Ibu sayang. Aku kan hanya bercanda." Elak Isti tersenyum riang.
"Iya, sekarang lanjutkan tugasmu. Berhenti merecoki kakak iparmu, kasihan dia." Sahutnya berseri pada gadis bungsunya itu sembari mengusap pipiku penuh kasih dalam senyum lebarnya.
Senyumku merekah lebar. "Tidak apa-apa, Ibu. Aku senang bercanda seperti ini dengannya."
"Tuh, kan, Bu. Aku bilang juga apa! Kak Nesya asyik di ajak ngobrol, sama sepertiku, dia juga senang ngobrol. Apalagi dengan adik manisnya ini. Ya, kan, Kak? Oh ya, enak ya, Kak, menikah muda?" sela Isti antusias dengan raut wajah berseri pada Ibu, lalu beralih memandang ke arahku yang membuat aku lagi-lagi tersenyum.
"Astagfirullah, anak ini, benar-benar. Lebih baik sekarang temui Ayah dan Kakakmu di taman belakang, beritahu untuk mulailah menyiapkan semuanya di Halaman belakang!
"Iya, Ibu sayang. Daah, Kak Nesya!" riang Isti lalu mengecup pipi Ibu, kemudian aku hingga terkekehan terdengar dariku.
Setelah masak makanan untuk makan malam, kami lalu ke halaman belakang dan dinner di sana, tepatnya di saung. Rasanya menyenangkan dan nyaman, makan malam bersama keluarga dikelilingi pepohonan dan bunga-bunga di bawah langit malam yang begitu cerah penuh bintang.
Malam ini, kami makan tuna bakar Saus Tiram, Ikan Jambal Asin—favorite Firhan, Petis Sambal Balado, Chiken Sambal Terasi, Cah Kangkung dan Soto Bayam Pedas Manis.
Mengobrol sembari bersanda gurau, rasanya menyenangkan makan dengan lahap.
__ADS_1
* * *