Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Kabar


__ADS_3

Kami baru kembali dari jogging dan telah sarapan nasi goreng martabak, tapi harus kembali saat bidan yang memeriksaku tetiba saja menelepon dan mengingatkan Firhan untuk memeriksa kandunganku. Ya, aku juga lupa. Jadwalnya sudah lewat sebulan yang lalu dan seharusnya ini sudah pemeriksaan kali kedua.


"Jadi, bagaimana?" tanyaku hati-hati saat berada di dalam mobil dan berangkat ke Makassar menuju Rumah Sakit. Entah mengapa, raut wajah gusar benar-benar tampak di wajah lelaki itu.


Ada apa dengannya?


"Entahlah, bidan Nur menyuruh kita kembali dan memeriksakan kandungan, tapi kita bukan memeriksakan di tempatnya, katanya di Makassar saja. Setidaknya, mengetahui keadaan kandunganmu dulu," jelas dia yang masih tetap fokus mengemudi tanpa memandang ke arahku. Raut wajahnya benar-benar serius dan cemas.


Aku mendesah, lalu mengubah posisi dudukku ke arahnya.


"Fir, ada apa denganmu? Kamu terlihat sangat khawatir dan gelisah. Tenanglah, Sayang, ini hanya pemeriksaan yang lewat, tidak akan terjadi apa-apa,"


Firhan mendesah berat lalu mengusap dan meremas rambutnya di tangan satunya saat sikunya bertumpu pada pintu mobil. Gelengan kepala dengan frustasi, seperti mengenyahkan pikiran yang kini mengusiknya itu seketika menular padaku dan membuatku gusar.


"Kamu baik-baik saja?"


Aku memandang Firhab dengan hati-hati. Bahkan, yang membuat cemas adalah dia, bukan aku, atau pun kandunganku. Jelas sekali kegusaran itu terlihat di wajahnya. Dia mengangguk namun dengan raut wajah tidak yakin.


Desahan terdengar seketika dariku. "Fir, ada apa?"


Suamiku itu menghentikan mobil saat melewati tikungan tajam yang saat ini jalan telah tidak terlalu berkelok dan suhu meningkat menjadi menghangat. Firhan memejamkan mata, lalu mendesah keras-keras dan berat. Tanganku yang berada di tangannya meremas untuk menyemangati sembari memandangnya.


"Entahlah, Nesya. Sejak telepon dari bidan Nur, perasaanku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, tapi aku tidak tahu itu apa. Perasaan gelisah, takut, sedih, seakan-akan rasanya aku ingin menangis keras-keras dan menjerit, tapi aku tidak tahu penyebabnya apa,"


Memang, aku bisa merasakan itu. Aku bisa melihat dari wajahnya. Raut wajah hampa dan sorotan mata kelam.


Perasaan takut seketika menjalar di tubuh setelah mendengar pengakuannya.


Tuhan, semoga tidak terjadi apapun.


Aku mendesah dan memperbaiki posisi dudukku yang semakin mengarah dan mendekat kepada Firhan, mengambil kedua tangan putihnya, lalu menggenggam dengan kedua tanganku sembari masih memandang, menatap mata kelam, sedih dan takutan itu.


"Ingat? Jika kesedihan datang, cukup pejamkan matamu. Lalu, sebut nama Allah, dan bayangkan wajah orang yang kamu cintai, maka rasa tenang itu pasti akan muncul."


Firhan tersenyum tipis berusaha terlihat baik-baik saja dihadapanku, kemudian mulai memejamkan mata dan mengikuti instruksi itu.


Jelas sekali helaan napas beratnya saat ia membuka mata dan tersenyum tipis.


"Lebih baik?"


Firhan mengangguk. "Lumayan."


"Semuanya akan baik-baik saja, bukan? Selama ada Allah … dan kamu." Bisikku yang membuatnya tersenyum menyentuh matanya.


Aku mendesah lega.


Alhamdulillah, dia mulai tenang.


Setelah menarikku dalam dekapan Firhan sejenak, dan mengusap punggung dia bermaksud menenangkan, senyumnya merekah lagi, lalu kembali menjalankan mobil setelah melepas dekapan ini.


Mobil melaju dengan kecepatan normal, menembus kota Malino menuju Makassar dengan cuaca cerah.


* * *


"Sudah kubilang, kandungan ini sehat-sehat saja,"


Firhan tersenyum mendengarku sambil menggenggam tangan ini setelah kami berjalan keluar, saat selesai melakukan pemeriksaan. Kami saat ini memang berada di Rumah Sakit Internasional ternama.


"Alhamdulillah. Jadi, kita jalan-jalan?"

__ADS_1


"Jalan-jalan—aduh!" seruku dan tetiba saja meringis kesakitan, ketika seseorang menyambar bahuku dan membuat Firhan langsung memegang bahu ini dengan sigapnya, diikuti pinggang agar tidak terjatuh.


"Kamu baik-baik saja?" tanya suamiku dengan cemas sambil masih memegangiku dan hingga anggukanku tampak.


"Maaf, Nak. Kamu tidak apa-apa?" Suara paruh baya wanita seketika membuat kami menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita dengan tangannya melingkar di lengan lelaki paruh baya pula yang terlihat lebih tua darinya dan berdiri di sebelahnya—sedang memandang kami dengan pandangan bersalah dan tidak enak hati.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Tidak apa-apa, Bu. Permisi." Lirihku yang membuat aku dan Firhan tersenyum, lalu kembali melangkah pergi berlalu.


"Nesya?" Suara ibu itu yang naik satu oktaf membuat aku dan Firhan berbalik memandangnya.


"Kamu Nesya pacarnya Daniel, Anakku, kan? Ya ampun, Nak, bagaimana kabarmu? Daniel bilang kamu pindah kuliah dan sangat sibuk di sini, jadi tidak bisa menemani dia!" seru ibu itu dengan riangnya bercerita sembari tersenyum.


Astaghfirullah.


Sekilas aku menoleh ke arah Firhan, raut wajahnya berubah dingin dan tatapan mengeras saat mendengar nama itu.


Benar, itu orangtua Daniel! Mereka memang sangat mengenalku. Meski, kami belum pernah bertemu secara langsung, tapi putera mereka katanya sering bercerita tentangku pada keluarganya, tentang hubungan kami.


Jadi, dia tidak memberitahu soal hubunganku dengannya yang—


"Nesya…. " Suara Firhan terdengar sedih dan kelam saat memandangku yang menatapnya mengerti dan meremas tangannya yang membuat dia menghentikan kalimatnya.


"Bunda Marissa dan ayah Yong, kenapa bisa berada di sini?" alihku yang tidak ingin membahas tentang Daniel lebih lanjut.


Aku tidak ingin Firhan tersiksa dengan keadaan ini dan semakin sakit.


"Dia tidak memberitahumu, ya? Astaga, anak itu! Mungkin takut mengganggu kesibukan dan kuliahmu, Nak. Daniel koma—"


"Bunda? Dokter mencari bunda dan ayah." Pekikan mengandung kecemasan yang seketika kalimat bunda Marissa terputus hingga membuat kami menoleh.


Itu Gina, adiknya Daniel. Lelaki itu pernah memperlihatkan fotonya padaku. Dan aku masih mengingat jelas wajah itu.


"Ayo, Bun, Ayah. Dokter sudah menunggu," ajak Gina dengan cemas yang membuat ibunya seketika meneteskan airmata dan meninggalkan aku dan Firhan begitu saja.


"Gina?"


Gadis itu tetap mempercepat langkahnya tanpa menoleh dengan panggilanku. Aku berusaha mengejar dengan susah payah, dengan perut besar ini sembari Firhan membantuku dengan raut wajah cemas dan masih tidak mengerti.


"AGREENA VIOLET YONUSHA" Teriakku lengkap yang membuatnya menghentikan langkah.


Kami berdua lalu menghampiri adik mantan kekasihku itu, memaksanya berbalik dan menemukan wajahnya telah dipenuhi linangan airmata.


"Gin, aku mohon, cerita semuanya! Ada apa?"


* * *


"Sejak kak Daniel pulang dari rumah kakak dan mendapat izin dari suamimu untuk menemui kakak besoknya, dia sangat senang. Untuk pertama kalinya setelah kakak meninggalkannya, senyum bahagia itu kulihat lagi. Dia sangat bahagia, Kak, sampai-sampai senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya. Dia bercerita panjang, penuh semangat, seperti memiliki semangat hidup kembali, kehidupan baru. Hingga setelah dua jam berlalu, tiba-tiba dia terjatuh dan koma sampai saat ini. Kami melarikannya ke sini, berhubung ayah memiliki teman seorang dokter spesialis penyakit dalam yang hebat.”


Gina menghela napas sejenak, lalu melanjutkan.


“Iya, dia sakit, Kak. Dia kanker hati dan hidupnya tidak lama lagi kecuali ada pendonor yang mencangkokkan hatinya untuk dia. Dia mencintaimu, sangat mencintaimu. Bahkan, hidupnya seperti mati saat kau meninggalkannya. Waktu itu, dia sebenarnya ingin memintamu untuk menemani dan membantu menjelaskan pada ayah dan bunda, untuk mempercepat pernikahan kalian, tapi kamu tidak mau mendengar penjelasannya dan marah, lalu meninggalkannya begitu saja. Dia sakit, Kak. Kakakku Daniel sakit, dan dia menjalaninya dengan tegar dan kuat selama beberapa tahun ini, menahan sakitnya, itu semua karena kau! Kakak yang membuatnya kuat selama ini, kakak obat bagi kak Daniel! Tapi, mengapa kau tega meninggalkannya? Apa kau tahu? Dia hanya ingin melihatmu, Kak, berbicara padamu untuk sisa hidup terakhirnya. Hanya itu, hanya itu yang di inginkannya! Dia hanya takut, di saat menikah denganmu, malah kesakitan yang kau dapat, saat dia tidak dapat bertahan lagi! Itulah dia bingung dan takut menikahimu secepatnya saat kau saat itu memintanya! Karena dia tahu, penyakitnya membawa dia dalam kematian suatu hari nanti,"


Kata-kata Gina bagai kaset rusak di telingaku, terus terulang lagi dan lagi sepanjang kaki ini melangkah memasuki ruangan mengerikan ini yang begitu dingin. Airmataku telah tumpah deras sembari pandangan tak lepas dari tubuh lelaki itu yang terbaring rapuh di sana.


Ruang Icu ini menyambutku dengan bunyi rentetan komputer pendeteksi jantung, tabung oksigen dan tetesan pada tabung infus. Rasanya bunyi itu menari-nari di kepalaku dan merecoki dengan menyakitkan. Seolah berdengung di telinga hingga terasa seperti tertusuk-tusuk.


Tubuhnya tampak tak berdaya, beberapa selang dan alat proteksi terpasang di tubuh yang sangat kurus itu, terlebih mulut yang agak menganga dengan selang infus dalam mata terpejam, seperti tidur gelisah. Tubuhku ambruk dan kepalaku bersandar hampa saat terduduk lemah di samping tempat tidur besi ini dan seketika membuatku menangis terisak.

__ADS_1


Rasanya menyakitkan, Tuhan, melihat kenyataan ini. Seperti tak adil untuknya! Dia mencintaiku? Sangat mencintaiku? Tapi mengapa aku baru tahu bahwa ia tengah berjuang memerangi sakitnya?


Lagi-lagi tangis terisak ini pecah dan tak bisa kutahan. Firhan yang menyusul seketika memelukku dalam mata berbinarnya yang sedih.


Dia membiarkanku menangis di pundaknya, menangisi seseorang yang entah aku tidak tahu, apa aku masih mencintainya atau tidak.


Setelah aku cukup tenang dan Firhan memandangku yakin, dia lalu meninggalkan aku.


Aku memandang tubuh itu, tubuh dalam kerapuhan dan tak berdaya yang tengah terbaring dan hidup dengan bantuan alat, selama beberapa hari koma.


"Daniel.… " suara berbisik yang mengerikan terdengar sendiri di indera pendengarku dan membuatku menangis terisak. "Aku ada di sini. Tegarlah, aku mau kamu kuat! Banyak yang menunggumu di sini! Kalahkan mereka dan bangunlah, Daniel! Aku mohon?"


Lagi-lagi airmata itu menetes dan membuat tangisan ini sejadi-jadinya tak berkesudahan.


Rasanya dadaku bergemuruh dan sesak.


* * *


Setelah makan malam, aku dan Firhan hanya berdiam diri. Kami memang kembali ke rumah temannya itu dan menempati beberapa hari di sana. Sedari tadi, hanya keheningan yang terasa. Dia juga tidak ingin menggangguku dan sesekali menghiburku.


"Nes, aku tahu kamu sedih, tapi aku mohon, pikirkan kandunganmu juga," sela Firhan di keheningan ini. Dia memandangku dengan berbinar.


Itu terakhir kalinya dia bisa melihat dunia ini!


Airmataku menetes lagi, saat mengingat wajah pucat dan susah payah Daniel mengejarku.


"Kamu mau ke rumah sakit besok? Aku antar?" tawar Firhan yang entah apa di pikiran lelaki itu.


Aku menggeleng. "Aku tidak akan lagi menemuinya,"


"Kenapa? Dia butuh dukungan dan semangatmu,"


Wajahku seketika terangkat dan memandangnya yang tengah duduk berjarak di depanku, memandang dengan linangan airmata.


Apa semudah itukah? Terbuat dari apa hati suamiku ini, Tuhan?


Tatapanku begitu mirisnya dan rasa sedih hingga sesak seketika menohok dalam benak ini, terlebih kala wajah itu berusaha keras tersenyum semanis mungkin hanya menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.


Aku tahu dia terluka. Hanya untuk kebahagiaanku, dia rela menahan dan mengatakan hal itu. Tapi tidak! Aku tidak ingin membuatnya menderita.


"Fir, kamu merelakanku dengannya?" kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut dan alhasil membuat hatiku pahit saat pandangan pasrah dan mengalahnya ada di sana dalam mata berbinarnya.


"Bukan begitu, Sayang. Aku tahu, cinta untuknya masih ada. Tidak mudah melupakan cinta yang begitu lama dan sudah berakar. Dan aku ... mengikhlaskan untuk kamu nikahi—"


"Apa yang ada dalam pikiranmu, sih? Apa-apan ini? Kamu memintaku menikah dengan lelaki lain? Mengkhianati cintamu dan janji kita?" nada suaraku naik satu oktaf memandang Firhan tajam.


"Bukan itu maksudku, Nes. Aku hanya ingin membuatmu bahagia! Kalian saling mencintai dan mungkin saja dengan cara itu Daniel bisa sembuh! Aku ridho, Sayang, aku ridho dia jadi suami keduamu dan—"


"Astaghfirullah. Demi Allah, Firhan, aku tidak ingin melakukan itu dan tidak akan pernah melakukannya! Sekali pun misalnya aku mencintainya, bukan berarti aku mengkhianatimu, menikah dengan lelaki lain! Pernikahan didasari dengan kesucian cinta, Fir, bukan untuk di permainkan dan dilanggar! Apa yang ada dalam pikiranmu saat ini, sih? Apa yang telah merasukimu hingga mengatakan hal bodoh seperti itu? Aku mencintaimu, Fir, aku sangat mencintaimu! Meskipun aku mencintainya, itu hanya cinta sebagai seorang teman, tidak lebih," suaraku meninggi dengan emosionalnya yang membuat airmata ini mengalir, begitu pun lelaki di depanku ini.


Mengapa dia jadi minder sepertu itu, sih? Tidak tahukah dia bahwa dirinya begitu sangat berharga?


"Aku mohon, jangan memintaku lagi seperti itu, aku mohon … Aku sangat mencintaimu, kamu sangat berharga untukku, Firhan, aku mohon?" Mohonku memandangnya sedih dan pilu saat memeluknya, dia terisak dan mendekapku semakin erat.


Ya, dia suamiku! Meski dalam keterlukaannya, dia masih memikirkan perasaan orang lain. Entah terbuat dari apa hatimu, Sayang, sehingga kamu berpikir sampai ke sana, tak peduli itu akan membuatmu terluka dan sakit atau tidak.


Aku semakin mendekapnya erat dalam tangisku.


* * * *

__ADS_1


__ADS_2