Menikahi Sahabat

Menikahi Sahabat
Endless Of Love


__ADS_3

"Kamu tidak kerja, ya, Fir?" tanyaku ketika lelaki itu kini bergelayut manja kepadaku. Saat ini tubuh tegapnya sedang memelukku dari belakang.


Matanya terarah ke arah cermin yang memantulkan sosok kami. Dia tersenyum ketika pandangan kami bertemu, kemudian mengecup pipiku sekali, lalu membenamkan wajahnya ke leherku dengan masih posisi memeluk.


Beberapa hari belakangan ini memang entah mengapa dia sangat manja. Bahkan bisa dikatakan sangat romantis. Dia bahkan membuatku terkesiap dan terpesona dengan segala tingkahnya. Maksudku, pria kaku yang terlihat selama ini di depan umum, rupanya sangat romantis dan manja ketika telah berdua dalam kamar.


"Hey, aku tanya, jawab dong!"


Dia tersenyum saat kulihat di pantulan cermin, namun masih menempelkan wajahnya di leherku dengan pelukan semakin erat.


"Kapan, sih, kau bisa memanggilku dengan sebutan sayang? Seperti di film-film romance favoritmu itu?" celotehannya membuatku tertawa.


Tubuhku kini memutar hingga menghadap ke arahnya dan tangan kokohnya masih melingkar erat yang saat ini berada di pinggulku. Kedua tanganku terulur menggenggam wajahnya dengan hati-hati.


"Mandi dan bersiaplah, Sayang, bisa-bisa kamu akan terlambat bekerja,"


"Memang siapa yang mengatakan aku bekerja?"


"Kamu bolos lagi, Fir?"


Dia berdecak. "Aku hanya ingin berduaan lama-lama dengan istriku. Apa tidak boleh?"


"Iya, tapi kan—"


"Kenapa sangat cemas begitu? Aku kan bossnya!"


"Boss juga harus disiplin sayang,"


Firhan hanya terkekeh.


Aku sudah melepas pelukannya, namun kali ini tubuhnya menarikku sebelum menghindarinya, hingga kami terjatuh di tempat tidur. Dengan cepat, dia mengkeret tubuhnya lalu memelukku dengan erat.


"Mandi sayang!"


"Aku cuti seminggu lah!"


Tubuhku yang sedari tadi bergeliat melepaskan diri, seketika berhenti mendengar pengakuannya. "Kok baru bilang?"


"Sengaja, biar kamu gak cerewet dan khawatir dengan perusahaan aku,"


Aku merengut, lalu membiarkan tubuhku di peluk olehnya dan kami masih terbaring. Sesaat, kecupan di kening membuatku tersenyum. Kubiarkan tanganku kini mengelus rambut dan pipi putihnya.


"Hey, Sayang, kok nangis? Ada apa?" tanyanya tetiba dengan cemas saat melihat wajahku dan mengusap setetes air mata itu. Raut wajahnya yang tadinya sendu dan tersenyum, kini berubah sedih.


Aku menggeleng. "Bahagia saja, karena bisa memiliki kamu,"


Dia tersenyum lalu mengecup keningku sekali lagi. "Makasih sudah menerima aku," tulusnya masih dalam senyuman. Tubuhnya lalu memelukku erat.


"Kok kamu yang makasih, sih?"


"Iya, dong, karena saya tahu, tidak mudah menjalani kehidupan baru dengan luka di masa lalu,"

__ADS_1


Kalimatnya membuatku bungkam dan membiarkan tubuhku semakin di peluknya.


"Fir—"


"Sayang, dong! Kok panggil nama lagi, sih!"


Seulas senyum tampak dariku, meski dia tak melihatny karena masih dengan posisi memeluk.


"Umm, Sayang?"


"Ya?"


"Anak kita kan sudah lama pergi ke surga.... "


Dia hanya terdiam, seperti menunggu. Agak ragu aku melanjutkan, sejenak hening. Lalu, "Kamu ... tidak ingin mencoba?"


Pelukannya terlepas. Tubuhnya sedikit mundur agar memberi ruang untuk bisa memandang wajahku. Dia terdiam cukup lama dengan ekspresi yang ... entahlah, tak bisa kugambarkan dengan baik.


Ah, apa aku melakukan kesalahan? Sepertinya aku telah menyakitinya.


"Mencoba apa?" Senyum lebarnya kini nakal, tapi ada secercah menggoda di sana.


"Apa sih?"


Dia masih tersenyum. "Mau mencoba membuat, ya? Sayangku, kapan pun suamimu ini siap, kok!"


Berbagai kalimat menggoda dia katakan hingga membuatku berhasil salah tingkah dan raut wajah memanas karena malu. Detik kemudian, Firhan lalu menarikku kembali kepelukannya. Mengecup sekilas keningku, lalu sesekali mengusap rambutku. Kubiarkan wajahku tenggelam ke dalam dada bidangnya yang beraroma harum.


Tubuhku sejenak tertegun mendengarnya. Pelukannya kini terlepas dan menatap wajahku dengan saksama. "Ya, kau berhasil membuatku jatuh cinta setiap saat. Kau berhasil membuatku membutuhkanmu setiap saat, bahkan tak ingin menjauh darimu. Tapi, seperti yang kukatakan awal pernikahan kita, Nesya, tidak ada paksaan apupun untukmu. Kamu, bisa pergi kapan pun kamu mau!" tatapnya dengan teduh. Mata itu tampak berkaca-kaca, seolah mengatakan yang sebaliknya dari kalimat Firhan.


Kuusap pipinya yang lembut itu, tersenyum sesat ke arahnya dengan pandangan yang masih menatapku. Dia terkesiap ketika ciuman lembut sejenak mendarat di bibirnya.


"Tolong, jadilah ayah dari anak-anakku,"


"Ap-Nes, kamu.... "


Aku mengangguk tersenyum. "Ya, aku mencintaimu, Firhan. Kamu berhasil membuatku jatuh cinta, Sayang,"


Airmatanya kini menetes. Senyuman lebar itu kini tersungging bersamaan dengan pelukan eratnya.


"Aku sangat mencintaimu!" ucapnya berulang-ulang yang masih mendekapku bahagia. Dan kami tertawa bersama.


Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, tapi kami saat ini tengah berciuman.


* * *


Aku menggeliat di jok duduk mobil, ketika udara dingin semakin merasuk di kulit. Mataku berkerut, lalu mengerjap-ngerjap dan perlahan terbangun dari tidur, saat di depan—luar mobil tampak cahaya yang langsung terarah ke gerombolan lelaki yang tengah mengelilingi seorang lelaki berkemeja putih dan membuat aku tersentak.


"Firhan?" Pekikku cemas yang masih mengamati di dalam mobil.


Ya, itu suamiku. Entah apa yang terjadi di luar sana hingga dia berurusan dengan para berandalan yang berjumlah enam orang dengan tubuh kekar dan terlihat mengerikan. Terakhir yang aku ingat, aku tidur dalam dekapan Firhan saat dia mengemudi, ketika kami baru saja pulang dari menonton film di Bioskop.

__ADS_1


Mereka sepertinya berdebat dan telah kehujanan di luar sana. Suara deras hujan benar-benar membuat tubuhku mengejang dan tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan saat ini. Jam telah menunjukkan pukul sepuluh seperempat malam, saat aku melirik jam di atas dasbor mobil. Lalu, sepersekian detik kemudian, seseorang dengan tubuh tegap kini berdiri di hadapan Firhan sembari memandang dengan senyuman licik, dan pada detik berikutnya, lelaki yang tengah di punggungi Firhan seketika melayangkan balok panjang di kakinya dan membuat suamiku itu bertekuk lutut.


"TIDAK! HENTIKAN!" pekikku dengan airmata yang telah menetes.


Aku lalu mendorong kasar pintu mobil saat membuka, berlari menembus hujan dan menghampiri suamiku.


"HENTIKAN, KUMOHON!" pekikku memelas yang seakan-akan mengalahkan suara hujan.


Lelaki berkaus cokelat saat ini tersenyum licik ke arahku. "Wow, ini dia penyebab yang membuat Dian-ku terluka dan sakit hati!"


Mataku melebar saat melihat lelaki berkaus cokelat itu tersenyum licik dan mengerling padaku. Itu Juan! kekasih Dian, sahabatku.


Dalam hitungan detik setelah melayangkan satu tangannya ke udara, seketika Firhan mendekapku erat dan menjauhiku dari pukulan demi pukulan itu yang membuat tubuhnya terguncang. Aku hanya menangis sejadi-jadinya dan tubuhnya berhenti terguncang saat sirene polisi terdengar. Lalu detik berikutnya, suara tembakan sekali dan diikuti dengan suara tumpang-tindih memerintah. Yang membuat aku yakin bahwa dia masih hidup adalah, dia masih mendekapku dengan erat.


* * *


Tubuh lemahnya kini terbaring di hadapanku. Dia telah melewati masa kritis—koma selama seminggu dan sekarang bahkan tersenyum menggoda padaku. Dokter bilang, tungkai kakinya patah akibat hantaman benda keras. Punggungnya retak dan pembuluh darah di leher nyaris pecah. Luka-luka lain di tubuhnya selain wajahnya yang babak belur adalah, kening dan sikunya di perban kerana terluka, juga perut kerana terkena tikaman pisau.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja, Sayang, sungguh." pintanya saat tak tahan melihatku menangis sedari tadi. Mataku sudah sangat bengkak dan memerah.


"Kalau kamu masih menangis lagi, bisa-bisa dokter menuduhku bahwa aku memukulmu karena tidak ingin mencium keningku lagi!"


Aku terkekeh dalam linangan airmata dan seketika meninju pelan lengannya dan reflek dia pura-pura mengaduh kesakitan, Senyumnya begitu tampak kemudian menarikku ke dalam dekapannya, lalu mengusap rambutku. Aku bisa melihatnya, jelas dia berusaha menahan sakit saat tertawa. Mungkin itu efek dari lukanya.


"Sudahlah, jangan bercanda terus. Istirahatlah." Ocehku ketika pelukan terlepas.


"Boleh aku meminta sesuatu darimu? Untuk terakhir kalinya?" Pandangan Firhan bersungguh-sungguh.


Senyumanku seketika merekah dalam pandangan mata berkaca-kaca. "Apa saja! Kapan pun itu, Sayang,"


Dia tersenyum hangat sembari mata tak lepas memandang sejenak. Lalu, "Bawa aku ke ruangan Daniel. Dan aku ingin meminta satu hal darimu. Berjanjilah di telinga Daniel, di hadapanku, bahwa selepas dia melewati masa kritisnya dan sembuh, kamu akan menikah dengannya,"


Belum-belum aku menjawab dan baru membuka mulut, dia menyela lagi. "Aku mohon, Nesya. Ini permintaan terakhirku, untuk terakhir kalinya, Sayang?" Tangan Firhan meremas tanganku dan menelengkan kepala saat dia menatap ke arahku yang seketika membuat airmata ini mengalir.


Rasanya perih dan sesak, Tuhan.


Tubuhku terasa di tombak beribu belati dengan mirisnya. Begitu terasa menyakitkan, bahkan melebihi dari rasa sakit yang pernah terhempas seenaknya di hidupku. Untuk kali pertama, kutemukan diriku benar-benar tak berdaya. Sungguh, tanpa daya dan hampa dengan hati yang kini menjerit tragis penuh duka.


Setelah meminta bantuan perawat, kami lalu membawa Firhan ke ruangan Daniel yang masih koma di sana. Kakiku melangkah begitu berat, tanpa jiwa seakan-akan terkekang pada benda berat ber-ton yang melingkar di pergelangan kaki-kakiku.


Pandanganku terasa hampa, namun rasa perih dan menusuk ini semakin terkoyak dan menjerit di dalam benakku. Aku bahkan merasakan suaraku hilang entah ke mana, dalam tenggorokan sakit yang begitu menggigit dan mencekik. Pilihan yang begitu sulit, namun permintaan lelaki yang begitu kucintai. Bahkan jika di beri pilihan pun, tetap tinggal dengan sejuta bom yang mengikat di tubuhmu atau pergi dan mengatakan kalimat menyakitkan itu demi dirinya,


sejujurnya, aku lebih memilih opsi pertama. Aku seperti berada di tengah jurang yang dalam dan dikelilingi dengan api yang berkobar. Tepat tak jauh dari sana, aku melihat dan merasakan tubuhku mati dengan kemirisan, bersama airmata yang seolah mengalir dalam syaraf bagai timah panas. Dan dalam detik berikutnya, ketika kaki ini terasa begitu panas melangkah masuk ke dalam, kutemukan diriku bahwa benar, aku sangat mencintainya.


Tubuh Daniel tampak masih tak berdaya dengan selang-selang dan alat di tubuh dan mulutnya. Dokter bilang, dia sedang dicarikan pencangkok hati agar bisa membantu dan lepas dari masa kritisnya.


Airmataku tak berhenti mengalir, dan saat berada di hadapan lelaki yang pernah menjadi mantan kekasihku itu yang masih belum sadarkan diri, dengan disaksikan Firhan, aku berbisik di telinga Daniel yang membuat suamiku itu memalingkan wajah. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah, ketika sekilas aku melihat Firhan-ku meneteskan airmata.


Aku mencintaimu, Firhan, sangat mencintaimu!


* * * *

__ADS_1


__ADS_2