
Ming Xia tertidur, sekarang menepati pukul tiga sore dan Ming Xia masih belum bangun, suara nada dering ponsel milik Ming Xia sedari tadi menyala, tapi diabaikan.
Hingga nada dering yang ke tujuh, Ming Xia terbangun sangking berisik nya, Ming Xia menekan tombol hijau lalu menempelkan ponsel ke telinga.
"Kau, lihat jam sekarang!. Aku menelpon mu tapi kamu tidak membalas sedik-" melihat nada dari Mei Lin, Ming Xia tau kalau Mei ini sedang marah besar!
"Memangnya kenapa?" masih tidak tau apa yang dipermasalahkan, Ming Xia duduk di kasur dengan mata terpejam.
"Sialan, kau membuatku naik darah. Sekarang pukul tiga, sedangkan kita akan ada acara makan bersama Ling Yue dan lainya, kau lupa?!!"
Oh Ming Xia baru ingat, mata coklat muda itu terbuka lebar, mematikan ponsel miliknya dan langsung bergegas ke kamar mandi.
Selang beberapa menit, Ming Xia telah rapi, menggunakan baju kemeja lengan panjang berwarna coklat susu, celana panjang putih dan sepatu putih. Rambut di biarkan tergerai, tanpa lupa memakai kacamata.
Kali ini Ming Xia sangat cantik, memakai riasan tipis yang terletak di bibir dan mata, lalu mengambil kunci mobil dan tas selempang miliknya.
Ming Xia menjalankan mobilnya, sepanjang perjalanan Ming Xia tidak berhenti merapalkan doa doa berharap saat acara tidak ada yang terkendala, ngomong ngomong Ming Xia tidur di apartemen nya, karena Ming Xia memiliki janji sebelumnya.
Butuh beberapa menit Ming Xia sampai di tempat tujuan, Ming Xia melihat Mei Lin yang bersandar pada mobilnya, lalu menghampiri nya.
"Maaf, aku ketiduran" Ming Xia mengusap lembut punggung Mei Lin, dia tau kalau Mei Lin menunggu Ming Xia terlalu lama.
Mei Lin melirik malas, menampar lengan Ming Xia lalu menariknya "Kita hampir telat, mungkin mereka sudah berada di dalam"
"Kenapa sekarang, bukanya nanti pukul empat sore?"
"Entah aku kurang tau"
"Baiklah baiklah"
Mereka terus melangkah sampai berada di depan ruangan berwarna coklat, sedari tadi banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua mungkin karena mereka cantik?
"Nona, Tuan Ling sudah menunggu. Anda bisa masuk" seorang petugas di sana mempersilakan Ming Xia dan Mei Lin untuk masuk.
"Terimakasih" Mei Lin tersenyum, lalu menarik Ming Xia untuk memasuki ruangan, terlihat di sana kalau Ling Yue dan teman teman nya telah datang bahkan mereka sedang duduk duduk santai.
__ADS_1
Mereka tidak menyadari karena mereka memunggungi pintu, sebenarnya kalau sedikit menunggu, mungkin mereka akan menyadari tapi Ming Xia tipikal orang yang tidak sabaran.
"Ekhem" Ming Xia berlagak batuk, mengibaskan rambut nya lalu tersenyum malas.
Yang pertama menyadari adalah Hao Yu, dia berbalik menghadap belakang lalu bangkit seketika "Kalian sudah datang, duduk duduk"
Hao Yu sedikit bergeser, lalu menyediakan tempat duduk yang sialnya lagi Ming Xia di suruh duduk di tengah tengah Ling Yue dan Haku
'Ugh, sial sekali ternyata' Ming Xia berjalan gontai.
'Kenapa aku di sini? Astaga, menyesal aku menerima' kesialan ini ternyata tidak di alami Ming Xia saja, Mei Lin juga merasakan.
"Baik, kalian pesan apa? Di sana sudah ada buku menu" Hyun Jin merasa sangat canggung, apalagi muka Mei Lin terlihat masam.
Mereka semua mengambil buku menu lalu menyoret beberapa, mengumpulkan semuanya di tengah.
...****************...
"Dimana Ming Xia?"
Gu Kael tengah bermain ponsel di ruang tamu bersama Gu Zhi, hanya ada mereka berdua di rumah besar keluarga Gu, biasanya yang lain datang saat malam hari, terlalu sibuk.
"Lalu dimana Gu Chua?" Gu Yi duduk di salah satu sofa, memperhatikan kedua anaknya.
"Biasa, di kantor" Gu Zhi melirik ke arah Gu Yi "Kenapa papa pulang? Biasanya papa lembur"
"Kakak, papa kan masih pengantin baru maklum lah" Gu Kael sedikit tertawa, Gu Yi menatap malas.
"Oh iya, dimana mama? Aku tidak melihatnya sedari tadi" Gu Zhi mencari cari tempat yang bisa di tuju pengelihatan nya, masih dengan tangan memegang ponsel.
"Ming Qiao masih ada urusan, katanya tentang urusan perceraian yang sempat tertunda" Gu Yi tidak bersemangat, mengingat pesan Ming Qiao yang di tunjukan kepada nya.
Melihat muka masam Gu Yi, Gu Zhi tersenyum manis "Pa, kamu cemburu?"
Gu Yi mendelik kesal "Bagaimana tidak? Melihat Ming Qiao masih mengurus Frengky sedikit membuat ku terbakar"
__ADS_1
"Apanya yang terbakar, tubuh paman saja masih utuh?" sahutan dari arah belakang membuat mereka bertiga mengalihkan pandangan, Gu Peng sedang berjalan dari arah dapur menuju ke ruang tengah.
"Benar, papa ini ada ada saja" Gu Kael mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel, mata itu terus tertuju tanpa ada niat untuk berpindah.
"Kalian ini masih muda, seharusnya tentang hubungan percintaan pasti paham, kenapa yang tua ini jauh lebih paham" Gu Yi menghela nafas, pikiran terus bertambah setiap saat, bahkan hampir setiap detik.
Di ruangan tengah ini sebenarnya terlihat sangat indah, perabotan dari modern sampai tradisional ada di sana tersusun rapi, kalau di lihat lihat rumah keluarga besar Gu seperti koleksi rumah barang antik. Gu Chuan selalu suka kalau di rumah ini, alasannya karena pemandangan indah dan udara bebas dari polusi.
"Kita muda hanya dibutuhkan uang paman, kalau masalah percintaan belakangan saja" Gu Peng selalu membuat candaan yang sialnya benar, bahkan perkataan asal itu dapat terjadi atau fakta.
"Benar, uang adalah segalanya. Kalau ada uang pasti hidupmu tenang"
"Tidak seperti itu, kalian saja masih kalang kabut?"
"Sedikit, hanya saat datang kemarin saja"
"Kalau kakek tau, habis kalian semua"
Keluarga Gu memang keluarga humoris, tapi sangat disiplin kalau ada orang salah sedikit, pasti orang itu harus menerima hukuman sesuai peraturan keluarga Gu. Parahnya lagi kalau orang itu bisa saja dikeluarkan dari silsilah keluarga Gu, mengerikan.
"Hari ini jadi? Kenapa aku tidak melihat mereka semua?" Gu Peng menatap Gu Yi.
Di balas anggukan pelan "Jelas jadi, mungkin mereka masih ada pekerjaan?"
"Huh, aku sangat ingin menemui kakak Ming" Gu Peng tersenyum, dari nada terlihat sangat menyayangi Ming Xia.
"Tidak, hanya kita" Gu Kael melempar ponsel ke arah saku jas, berseru tidak senang.
"Dia masih keluarga Gu, kalau kamu tidak ingin lebih baik kamu keluar saja" tidak mau kalah, Gu Peng menyerang Gu Kael.
"Dasar, kamu ini selalu mencari ribut ya" Gu Zhi menepuk punggung Gu Peng.
"Jelas, daripada hidup dipenuhi dendam?" Gu Peng tertawa, sedangkan yang lain terdiam, dendam, dendam dan dendam.
Tanpa disengaja, perkataan Gu Peng membuat hati kecil ketiga orang teriris sesuatu.
__ADS_1