
Sinar matahari menyinari kota, cahaya nya melewati sela sela jendela dan menyinari sepasang mata biru laut. Ming Xia tertidur pulas kemarin malam, walaupun malam malam yang lalu sama pulasnya, tetapi malam ini Ming Xia terasa melupakan semuanya.
Bahkan panggilan dari asisten nya Jake terlewatkan, beberapa kali Jake menelpon tetapi tidak pernah terjawab, total ada 27 panggilan.
Jake bergerak gusar, pagi ini Jake menemukan tiket dengan jadwal yang lumayan pagi sekitar jam 08.30, sedangkan sekarang sudah memasuki jam 07.30.
"Dia kemana, ini sudah jam 7 lewat. Jangan bilang dia masih tidur?" Jake berjalan bolak balik, maju dan mundur sambil mengetuk ngetik ponsel dengan casing hitam.
Dalam beberapa waktu, Jake tidak menemukan jawaban apapun, 30 menit Jake mengotak atik ponsel nya terbuang sia sia. Jake terdiam beberapa saat, melamun memikirkan kejanggalan tadi malam.
Tidak terasa, handphone Jake bergetar dengan kontak tertera nama 'Bos Ming' di sana. Menekan tombol hijau dan panggilan seketika terhubung begitu saja.
"Oh astaga, Ming Xia. Aku menelpon mu sedari tadi tapi kau tidak menjawab satu pun dari panggilan ku"
"Maaf, aku ketiduran, kau tau aku saja baru bangun"
"Kamu tidak tau ini jam berapa?"
"Memangnya sekarang jam berapa?"
Jake menghela nafas pasrah, pandangan nya teralihkan ke arah jam tangan di sisi kanan pergelangan tangan nya, bola matanya melotot seketika "Xia, cepat bersih bersih kamu hampir telat, sekarang pukul 8 tepat sedangkan penerbangan mu pukul 8 lebih 30 menit"
"Hah, astaga. Baiklah baiklah, aku mengerti"
__ADS_1
Panggilan seketika terputus, Jake berulang kali menggelengkan kepalanya dengan pasrah. Membayangkan bagaimana bosnya sekarang, jika dipikir pikir baru kali ini bosnya melewatkan panggilan darinya, biasanya Ming Xia selalu mengangkat walaupun sedikit terlambat.
"Pantas saja mantannya meminta putus dengan alasan dirinya tidak pernah memberi kabar, hanya karena masalah kecil yang berujung masalah besar" Jake melangkah ke arah jas nya digantungkan, berjalan keluar dari rumahnya.
2 tahun yang lalu, Jake mendengar Ming Xia diputuskan pacarnya hanya karena masalah kecil, apalagi waktu itu Ming Xia masih belum menjadi wanita karir yang sukses, Jake sering mendengar kabar buruk tentang Ming Xia.
...****************...
Sedangkan disisi Ming Xia sendiri sedang bersiap siap, setiap tindakan yang dilakukan Ming Xia diikuti dengan umpatan umpatan kecil. Sekitar 15 menit berlalu, Ming Xia telah selesai dari kegiatannya.
Dengan terburu buru, Ming Xia mengambil tas selempang miliknya dan mengambil kunci mobil nya. Menuruni tangga rumahnya dengan cepat, tidak peduli lagi dengan kecerobohan yang sering datang pada dirinya "Bibi, Aku ingin kembali ke China. Jika bibi ingin pergi jangan lupa kunci semua pintu rumah ya"
Ming Xia tidak tinggal sendiri, ada beberapa pelayanan yang sering membantu Ming Xia saat tidak di rumah. Walaupun rumah Ming Xia tidak sebesar dan semegah milik orang kaya lainya, rumah Ming Xia bisa dikategorikan sederhana namun mewah.
Hari ini Ming Xia diantarkan supir rumah nya, biasanya supir ini tidak mengantarkan Ming Xia tetapi hari ini Ming Xia meminta untuk mengantarkan nya.
"Non ada janji?" supir di depan bertanya dengan kerutan di keningnya.
"Tidak, hanya ada penerbangan yang hampir terlewat" dalam hati Ming Xia mengumpat sendiri akibatnya keterlambatan bangun pada hari ini.
Dengan sedikit tidak tenang, Ming Xia melanjutkan perjalan yang mungkin panjang, walaupun Ming Xia meminta supirnya untuk berkendara sedikit cepat, supir itu tidak ingin menanggung resiko besar.
Sekitar 5 menit lebih, Ming Xia telah sampai di bandara dengan tergesa gesa Ming Xia masuk ke area bandara dan menuju ke tempat resepsionis. Ming Xia sedikit berlari agar tidak ketinggalan pesawat, saat di meja resepsionis menyatakan agar cepat memasuki pesawat karena pesawat akan segera lepas landas.
__ADS_1
"Untung masih ada sedikit waktu" Ming Xia menghela nafas lega, Ming Xia berjalan sedikit berlari menuju lorong menuju pesawat.
Di tengah perjalanan Ming Xia menemukan seseorang yang sangat ia kenali, Ming Xia langsung berlari menuju orang itu dan menepuk pundaknya "Hei Jake"
Jake menoleh seketika, bola mata hitam itu sedikit melotot kesal "Kamu tau ini jam berapa? kenapa kamu tidak memakai pesawat pribadi saja?"
"Aku tidak ingin memakai pesawat itu, kalau orang berpikir aku kaya bagaimana? Banyak yang ingin dekat dengan ku, kamu tau dunia ini penuh dengan manusia munafik" bahu Ming Xia bergerak memberikan arah 'aku tidak tau' dengan cepat, secara logika Ming Xia memang tidak ingin memakai pesawat pribadi, banyak alasan dan satu alasan tersebut telah di katakan.
"Aku tidak tau jalan pikiran orang kaya, sungguh" tangan Jake mengusap wajah nya sedikit kasar, membayangkan bagaimana konflik orang kaya yang itu itu saja.
"Kamu saja tidak tau, apalagi aku? Sudahlah aku titip perusahan di sini, aku percayakan semua dengan mu" tangan Ming Xia menepuk pelan pundak Jake, mencoba memberikan semangat yang tidak tertara. Walaupun begitu, Ming Xia menganggap Jake bukan bawahan nya melainkan salah satu keluarga nya.
Jake dulunya adalah anak yang melarikan diri dari rumah, bisa dibilang Jake ini Brokenhome tanpa disengaja Jake bertemu dengan Ming Xia saat Jake sedang membutuhkan pekerjaan. Akhirnya Ming Xia merekrut Jake untuk menjadi sekretaris di perusahan, dan memberikan tempat tinggal yang layak.
Jake menganggap Ming Xia kakaknya, walaupun tidak ada hubungan sedarah Jake akan tetap melindungi Ming Xia sampai kapanpun. Banyak yang bilang bahwa Jake mendekati Ming Xia karena Ming Xia memiliki banyak harta, tapi tidak dengan Ming Xia sendiri.
"Kabari aku jika kamu ingin kembali, kak" Jake mantap bola mata coklat muda itu dengan sayang, sesayang Jake Ming Xia tidak bisa dijelaskan dengan kata kata namun bisa dijelaskan dengan perlakuan nya.
"Aku akan memberi kabar kepadamu, tapi aku tidak berjanji. Kamu tau, setelah ini aku sudah memiliki keluarga lengkap mungkin akan susah untuk kembali, tapi aku akan usahakan" Ming Xia tau kalau Jake tidak bisa melepaskan dirinya, walaupun sering ditinggal Ming Xia ke negara lainya namun Jake tidak sesedih ini.
Ming Xia maju dengan perlahan, menarik tubuh Jake dengan lembut dan memberi pelukan sayang. Mengusap lembut punggung dan rambut Jake secara bergantian "Tenang lah, aku akan sering berkunjung karena negara ini separuh dari jiwaku"
"Aku tau kak, cepatlah pergi. Kakak ingin ketinggalan pesawat?" anggukan Jake sedikit membuat Ming Xia tenang.
__ADS_1
"Baiklah baiklah, jaga dirimu di sini ya. Sering sering kabari kakak kalau ada masalah sekecil apapun itu, lalu jangan lupa mencari pasangan" Ming Xia menepuk pelan kepala Jake sebelum berlari menuju lorong pesawat, pukul sudah menunjukan 08.34.
'Kakak harus bahagia di sana' Jake tersenyum melihat tingkah lucu Ming Xia, menatap punggung Ming Xia dengan senyum pedih.