
Aku pun menolaknya karena aku merasa tak enak dengan Aisyah, aku pun langsung merasa sadar diri. Aku memang mencintainya tapi aku tak bisa memilikinya kembali, kini dia sudah menjadi milik Aisyah.
"Yuk naik mey, ntar buang buang waktu lagi"
"Ngak deh Farel makasi, biar aja kalian pergi nanti aku jalan kaki aja ngak apa apa kok"
" Ee jangan, udah udah biar aja Sam anterin kamu aja dari pada kamu harus jalan kaki panas panas gini! Udah Sam sana anterin Mey!"
Aku melihat wajah Farel yang harus iklas ketika Sam ingin mengantar kan ku pulang.
Seketika aku ingin memeluknya untuk memastikan aku akan baik baik aja dan tak akan berbuat aneh aneh.
Ketika naik di motor Samuel aku dan Farel saling menatap satu sama lain bahkam ketika sudah jauh Farel masih melihat ku.
Rasa bersalah pun timbul.
Entah mengapa aku merasa serba salah.
Aku ingin pulang dengannya tapi aku tak mau menjadi egois hanya karena cintaku. Aku juga perempuan, aku mengerti bagaimana melihat orang yang kita cintai bersama dengan orang lain.
Aku tak ingin ada wanita yang merasakan sakit hatiku, karena tak ada wanita yang sanggup menahan sakit hati, tak semua orang biasa sanggup melewati ini semua.
Ketika di tengah perjalanan aku meminta Sam menghentikan motornya dan turunkan saja aku.
"Sam…sam… berhenti bentar"
"Ha kenapa?"
"Aku berhenti di sini aja. Udah dekat kok dari sini, kamu balik aja ntar Farel nunggu lama" ujarku sambil pergi meninggalkan Samuel.
"Eyy kemana kamu?Udah naik aja Mey! eeeeeyyy!"
Aku langsung lari pergi meninggalkan Samuel.
Sesampainya di rumah aku mandi dan melamun di bak kamar mandi. Aku memikirkan kenapa Farel meninggalkan ku jika dia masih mencintaiku.
Aku memutuskan untuk menjauh darinya, aku hanya ingin melihat dia tertawa seperti dulu lagi walau tak bersamaku……
Aku akan menjauhi Samuel agar dia tak mengawatirkan aku.
Keesokan harinya aku datang begitu cepat agar tak bertemu mereka semua, aku bahkan tak keluar keluar kelas.
Ketika jam pulang aku sengaja pulang agak lama agar aku ingin mereka pergi terlebih dahulu agar aku tidak bisa bertemu mereka.
Sudah 1 jam aku menunggu mereka pergi, kini saatnya aku pulang.
__ADS_1
Ketika aku keluar gerbang sekolah aku melihat tempat parkir sekolah sudah tak ada kendaraan. Dan benar mereka semua sudah tak ada.
Sudah berhari hari aku melakukan itu, sampai tiba bulan desember di mana kita akan libur panjang untuk menyambut natal dan tahun baru dan aku juga berhari ulang tahun pada bulan desember juga.
Kita akan segera libur panjang, aku merasa agak sedikit kesal karena aku tak bisa melihat Farel cukup lama.
Berbeda dengan liburan kemarin aku masih dapat melihatnya karena kami masih berpacaran dan sering bertemu.
Sehari belum kita libur panjang Farel mendatangi kelas ku dan ternyata dia mencariku.
"Mey bentar ikut aku" dia langsung menarik tanganku dan keluar kelas.
ketika di luar kelas dia menatapku cukup lama tanpa sepata kata pun.
"Ey kenapa ngak bicara?" ucapku sambil melambaikan tangan di depan matanya.
Dia masih tak mau berbicara dan hanya menatapku……
Sudah sekian lama dia menatapku akhirnya dia berbicara.
"Aku ingin menatapmu cukup lama, karena kita tak akan bertemu cukup lama, aku hanya ingin menatap mu agar aku bisa mengisi hari hari tanpa dirimu"
aku pun langsung memotong pembicaraannya.
"Bukannya aku tak mengisi hari mu lagi? sudah berbulan bulan aku tak mengisi harimu lagi, buat apa kau menatapku? menatapku tak akan mengisi harimu!"
Aku semakin hari semakin aneh melihat tingkah Farel.
Aku tak tahu sebenar nya mau nya apa, kenapa dia tak mengajak ku balikan jika masih mencintaiku? Jika dia tak mencintaiku lagi kenapa dia masih mencariku dan tak mengizinkan aku bersama dengan orang lain.
Sebenarnya apa yang di sembunyikan oleh Farel……
Sejak pertama jadiaan dengannya Aku mengingat dia pernah menjauhiku dan Alasannya kita berbeda agama, kini alasan apa lagi ketika dia memutuskan hubungannya denganku.
Aku tahu dia pasti menyembunyikan sesuatu.
Aku ingin menyakan hal itu tapi sudahlah nanti aku menanyakan setelah libur panjang sekolah kami.
Ketika libur tiba aku merasa sangat bosan.
Hari hari aku lalui hanya di rumah saja tak ada kerjaan.
Aku pun berniat keluar rumah untuk mengunjungi tempat tempat yang biasa aku habiskan bersama Farel.
Aku mengunjungi tempat bermain yang biasa aku dan Farel kunjungi.
__ADS_1
Aku pun teringat hal hal yang biasa aku lakukan bersama Farel selama pacaran. Satu persatu kenangan ku ingat. Semua kenangan tak ada yang ku lupa.
Aku pergi ke tempat permainan mobil mobil dan berniat memainkan permainan itu.
Ternyata ada Farel yg sedang memainkan permainan itu di sebelahku.
Kita berdua saling menatap dan tertawa tapi aku sedikit menangis.
Kita tak berbicara hanya tertawa dan bermain.
Ketika selesai bermain Farel mengajak ku berbicara.
"Hapus air mata mu, kita berdua sedang bersenang-senang"
aku pun menghapusa air mataku tapi anehnya aku air mataku masih mengalir tapi aku tertawa.
Apa ini yang di namakan menangis bahagia?
Ketika aku selesai menangis dia "bertanya kenapa kau ada di sini?"
"Aku hanya bosan di rumah dan aku teringat tempat ini yang membuat aku bahagia dulu jadi aku berniat kemari untuk menghilangkan rasa bosanku, kalau kamu? apa yang kamu lakukan?"
"Aku merindukanmu… yah aku merindukanmu… makanya aku kemari untuk dapat mengobati rasa rinduku kepada mu dengan mengingat kisah kita di sini…"
"Di mana Aisyah? kenapa tak kau ajak dia kemari?"
"Aisyah? entalah… aku tak ingin membicarakan tentang Aisyah di saat aku merindukan mu dan mengingat mu"
Aku pun terdiam sesaat, dan dia juga terdiam.
Tak lama kemudian aku berniat ingin ke pantai.
"Mau ke mana kamu?"
"haa? aa…aa…aku mau kerumah"
"Hati hati yah, ingat makan teratur dan jangan banyak menangis, aku tetap mencintaimu… tenang saja"
Ketika mendengar hal itu aku tak membalas apa pun katanya, aku hanya mendengar lalu meninggalkannya.
Aku membohongi nya……
Aku ke masih inginn ke pantai buat mengingat kisah kisah kita…
Sesampainya di pantai aku menangis kenapa hubungan kita seperti ini, apakah aku yang terlalu memaksakan hubungan? sudah sejak awal kita berdua berbeda dan tak bisa di satukan.
__ADS_1
Tapi kenapa aku mau melanjutkan hubungan ini.
Ini semua salahku, aku yang terlalu memaksa dia untuk menjadi milikku.