
Aku mencoba mencari mereka berdua di kantin dan aku melihat mereka berdua sedang makan.
Sudah setahun aku tak pergi ke kantin.
Aku lupa bahwa aku dan Farel tak ada kata putus.
Tapi… tapi kenapa dia bersama dengan wanita lain? apakah kini dia benar benar melupakanku? aku kan seperti ini karena terpaksa, aku juga susah susah belajar buat bisa pantas bersama dengan dia.
Aku melihat dia mencium dahi Nazwa, aku semakin yakin dia benar benar melupakanku.
Sebelumnya dia tak pernah mencium dahi Aisyah. Aku cepat cepat bergegas ke kelas, tapi setelah aku ingin ke kelas aku melewati ruang kepala sekolah dan bertemu dengan papanya Farel.
Dia tersenyum kepada ku dan memanggil ku.
"Meyy! kemari sebentar! ada yg mau om bilang!"
itu pertama kali aku melihat papa Farel tersenyum kepadaku.
"Iya om? ada keperluan apa?"
"Nih buat kamu"
papanya Farel memberikan sebuah kotak yg agak besar dan berat buat aku.
"Apa ini om? kok berat banget?" aku bahkan tak kuat menahan kotak itu
"Ini buat kamu, om bangga sama kamu walaupun kamu belum lulus sekolah, tapi om Salut, aku begitu menyayangi kedua orang tua mu dan sangat mementingkan pendidikan, dan kamu bisa berhasil mendapat kan beasiswa, makasi kamu udah mengerti posisi om dan kamu sudah iklas melepaskan Farel"
"Maaf om, sebelumnya aku berterima kasih banget sama om, tapi aku tak pernah mengatakan aku mengiklaskan Farel dan aku belum melepaskan dia om, hatiku masih sama dia om, maaf Mey ngak bisa terima ini"
"ngak ini… anu… om bukan bermaksud lain, ini hadiah buat kamu dari om, ini hadiah beasiswa kamu bukan hadiah lain lain. Biar kamu semangat menimbah ilmu"
papanya Farel memaksa aku untuk mengambilnya.
setelah di paksa berkali kali akhirnya aku menerimanya karena merasa tak ena kepada papanya Farel….
"Udah deh, makasi yah om, aku ke kelas dulu" aku langsung pergi meninggalkan papanya Farel.
"SEMANGAT YAH!! INGAT KAMU HARUS JADI ORANG SUKSES" teriakan papanya Farel ketika aku sudah berada cukup jauh.
Itu kali pertama aku melihat papanya Farel tersenyum kepadaku dan berbicara dengan halus.
Kenapa papanya tersenyum di saat hatiku sedang luka melihat anaknya mencium wanita lain.
Ketika sampai di kelas aku memperhatikan kotak itu.
Aku berencana tak membukanya agar aku bisa mengembalikannya suatu saat nanti, jujur saja aku tak ingin menerima ini karena aku merasa aku di sogok oleh papanya.
Jadi aku berniat untuk tak membuka kotak itu.
Dan anehnya lagi seketika aku merasaa bersalah karena telah menerima kotak itu.
Aku merasa di sogok untuk meninggalkan orang yg kucintai selama ini.
Tapi aku tak punya pilihan lain, aku berpikir lebih baik aku melanjutkan pendidikanku, lagian aku berpikir kita bisa bersama sama ketika kita berhasil.
__ADS_1
Aku ingin mengatakan yg sebenarnya tapi sudahlah, pergi saja jika dia ingin bersama dengan wanita itu, aku akan merebutnya kembali setelah aku lulus sekolah.
Besoknya ketika waktu istirahat aku kantin.
Ternayata ada Farel dan dia menghampiriku.
"Eey mey"
dia tentu saja tak memanggilku syg lagi.
"Hehe iya"
"Udah setahun loh aku baru lihat kamu ke kantin"
"Iya nih soalnya kemarin sibuk banget buat beasiswa"
"Hmm…gitu yah? oh btw selamat yah buat beasiswa mu, sukses terus yah" ucapnya sampil menepuk bahuku.
Tak lama setelah dia mengatakan itu Nazwa datang.
"Ynk…"ucapnya sambil berlari menghampiri kami.
"Oh yah ynk nih kenalin teman smp aku!"
aku langsung menatap Farel, dia mengatakan aku teman smpnya, sebegitu marah kah dia padakau?
"Oh teman smp nya farel yah? oh yah gua Nazwa!"
Aku hanya terdiam tak membalas perkataan Nazwa.
"Gua mey"
"Gua pikir luh budek ngak bisa denger, oh yah kelas berapa lu?"
"Seumuran dengan Farel"
Sikapnya yg tadi agak kasar kepadaku kini berubah.
"Oh kaka kelas yah?
"Iya,gua duluan dulu yah Farel Nazwa, gua masih harus belajar lagi buat test, permisi"
Aku meninggalkan mereka berdua.
Aku masih habis pikir dengan ucap Farel yg mengatakan aku teman smp nya.
Setelah bertahun tahun denganku dan banyak hal kami lalui dia hanya berkata teman smp?
bahkan sikapnya bertemu dengan ku tadi terlihat santai saja dan seolah tak memiliki rasa cinta.
Dia terlihat santai saja seperti bertemu dengan teman lama nya.
Dia bahkan berani bermesraan di depan mataku dan mencium wanita lain. Dia terlihat serius dengan wanita yg sedang dia pacari sekrarang. Apa kah aku masih memiliki peluang bersamanya kembali?
Sudahlah aku tak mau memaksakan Tuhan lagi.
__ADS_1
Biar kan waktu dan usaha yg menjawab.
1 bulan berlalu dan seluruh kelas 2 sedang mengadakan program penyuluhan Narkoba.
Kami di tuntun untuk mengikuti acara itu dan berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti acara tersebut.
Tak sengaja kami berdua satu barisan.
Dia berada tepat di belakang ku.
Ketika sedang mendengar penjelasan kami di wajibkan untuk mencatat selama di berikan penjelasan.
1 barisan itu ternyata 1 kelompok.
Kelompok itu harus mencatat semua penjelasan yg di sampaikan yg tidak mencatat tidak bisa pulang rumah.
Ternyata Farel tidak mencatat sama sekali, dia bahkan tak membawa buku sama sekali dan harus segera di kumpul sebelum pulang sekolah dan yg tidak mengumpulkan tidak bisa pulang sampai selesai menulis.
Tak ada yg ingin meminjamkan buku mereka karena mereka ingin bergegas pulang.
Aku yg merasa kasihan kepada Farel langsung meminjamkan buku kepadanya.
Ternyata dia membuat janji dengan pacarnya makanya dia harus segera pulang cepat.
Aku membantunya dengan membacakan setiap kalimat yg aku tulis dan dia mencatatnya.
Nazwa terus menelfonnya.
telefon pertama dan kedua tak di angkat Farel.
Tapi ketika telefok ketiga dia mengangkatnya dan terdengar dia sedang marah".
"Mey sudahlah ngak guna aku nulis ini, ngak apa apa aku ngak bisa pulang, ngapain juga aku cepat cepat pulang."
"Kenapa?"
"Aku ngak jadi jalan jalan sama Nazwa, katanya dia pergi dengan papanya saja"
"Iya walaupun ngak jadi tapi kan Farel harus nulis dong, supaya bisa pulang juga."
"Dah lah ngak guna"
"Udah tulis aja ini, lanjutan nya sisa sedikit loh, tanggung banget"
"Hmm…ya udah deh… udah lanjutin aja bacaanya."
"Beneran?"
"Iya bener, serius!"
Aku pun lanjut membantunya.
Aku melihat mata Farel.
Aku tak lagi melihat cinta di mata Farel, kini dia hanya mengganggapku sebagai teman nya saja yg membantunya.
__ADS_1