
"Mukanya jangan ditekuk gitu..."
Sarah hanya diam tidak menanggapi, seolah tidak mendengar apapun. Lalu lalang kendaraan dibalik jendela lebih menarik perhatiannya dibandingkan pembicaraan satu arah ini. Arlan menggeleng pelan melihat kelakuan sang adik. Dia pun memilih unyuk menutup mulut dan fokus menyetir. Perjalanan menuju pesta pernikahan pun tampak begitu lama dalam diam.
Belum setengah perjalanan ditempuh, mesin mobil yang ditumpangi Arlan dan Sarah mendadak berhenti.
"Lho ... kenapa nih?" Sarah yang dari tadi diam baru terdengar suaranya.
"Sebentar, Kakak periksa dulu." Arlan bergegas keluar dari dalam mobil. Dilihatnya dengan teliti setiap komponen disana, memaksanya untuk mengerutkan dahi lebih keras.
"Jadi gimana dong?"
"Kamu naik taksi saja dulu ya, acaranya sudah mau mulai." Arlan merogok ponsel dari saku celana hendak menelepon mobil derek.
"Lalu Kakak?"
"Kakak mau ke bengkel." Berusaha sabat menghadapi sang asik yang terus menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
"Aku tidak mungkin pergi sendiri Kak."
"Jika bukan karena Kakak, aku tidak mau datang," protes Sarah di dalam hati.
Menjadi sebuah keajaiban Sarah mau diajak Arlan menghadiri acara pernikahan dari keluarga ayahnya, apalagi yang menjadi penyelanggara hajatan adalah Rajiv. Sarah memiliki kesan tersendiri terhadap pamannya tersebut, sikapnya yang membuat jengah hingga sebuah fakta yang diketahuinya saat remaja, membuat kebencian itu membesar.
"Sini." Secepat kilat Sarah merebut benda yang sudah menyentuh telinga Arlan, "Aku ada solusi yang lebih baik," lanjutnya seraya memijit tombol di layar ponsel.
"Memangnya kamu tahu bengkel yang bagus?" Tanya Arlan dengan nada meragukan, kedua alisnya saling bertaut.
"Tahu, bengkel teman Adek. Bantu kawan boleh dong?"
"Kawan? Jangan-jangan kamu sudah punya pacar!" Tuduh Arlan.
"Ih, Kakak apaan sih, yang Adek omongin ini cewek. Suka ngelantur deh kalo ngomong."
"Heh, kerja apaan? Gangguin orang bengkel?"
"Sembarangan, jadi montirlah," seru Sarah setengah berteriak.
"Ngga... ngga... nanti malah tambah rusak lagi." Mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ngga bakalan..." ucapnya santai. Sarah pun tetap menelepon meski dilarang Arlan.
__ADS_1
Sesaat setelah Sarah menyerahkan ponselnya kembali, Arlan berjalab mondar mandir membuat pusing orang yang melihatnya, sekali dia menendang pelan sebuah batu di tanah hingga menjauh dari jalannya. Arlan sungguh tidak sabar, tidak sabar menunggu seseorang yang sempat ditolaknya itu. Dia melewatkan kebiasaan memeriksa kendaraan sebelum pergi karena takut terlambat dan sekarang mereka benar-benar sudah terlambat.
"Kapan temanmu itu datang, berani sekali membuatku menunggu."
"Sabar Kak, jarak bengkel Arin kesini kan lumayam jauh."
Teman yang dimaksud Sarah adalah Arin, gadis itu kini tengah memakirkan sepeda motor di pinggir jalan dan melangkah mendekati Sarah yang menyambutnya.
"Akhirnya kamu datang juga, hatiku tidak tenang dipelototi Kakak terus," bisik Sarah.
Arin mempercepat langkahnya seraya melepas helm, membuat wajah ayunya terekspos dengan begitu vulgar. Arlan yang berdiri dengan menyilangkan lengannya ini diam mematung, pupilnya bergerak. Tidak tahu apa yang membuatnya terlihat menarik, apakah karena parasnya, caranya melepaskan helm, atau bagaimana dia dengan begitu santainya menenteng sebuah box yang tampak berat.
"Kenapa dia begitu sombong," gumam Arlan.
"Bagaimana?" tanya Arin seraya mengikat asal rambut panjang hitamnya.
"Dia bahkan terlihat keren saat tidak mengikat rambutnya dengan benar." Gumamnya lagi.
"Entahlah... tiba-tiba saja mogog, tidak tahu kenapa... aku baru membawanya ke bengkel minggu lalu."
"Baik, biar saya cek dulu." Dengan teliti mata Arin mencari apa yang salah, menyentuh setiap bagian dengan hati-hati.
Arlan tidal lepas memandangi wanita yang tengah mengotak-atik mesin mobilnya itu, sesekali tangan Arin sibuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi pandangan hingga membuat bekas noda hitam di dahi dan pipi.
"Cantik dari sisi mananya? Kamu lihat sendiri, kucel, kotor..."
"Kok jahat ngomongnya, dia kaya gitu kan karna lagi kerja. Makanya sering-sering jemput Adek di Kampus, aslinya cantik... bukan hanya fisik tapi hatinya juga," cerocos Sarah tidak terima dengan ucapan sang Kakak tentang sahabat karibnya. Arlan memang suka bicara terus terang, tanpa basa basi sehingga kadang menyakiti.
"Bakalah bener nggak nih?"
"Yakin sama Adek, dijamin kali ini pilihanku tepat."
"Mas... bisa coba distarter," ucap Arin, mengakhiri obrolan kakak adik ini.
Arlan masuk kembali kedalam mobil, mencoba memutar kunci dan ... mesin sudah menyala, "Boleh juga," puji Arlan, "pantas Sarah begitu memaksa," tambahnya bicara seorang diri.
"Kamu tidak tanya aku mau kemana?" Tanya Sarah tiba-tiba seraya menarik ujung gaun yang dia kenakan dengan kedua tangannya.
"Kemana?" Arin melirik sekilas kemudian mengambil lap, lalu membersihkan tangannya.
"Ke pesta pernikahan Kak Nadira, anak paman Rajiv," jawab Sarah dengan malas.
__ADS_1
Arin tersenyum tulus seraya menyenggol pelan lengan Sarah dan berkata, "bersenang-senanglah."
Ketidakakuran hubungan keponakan dan pamannya ini memang sudah bukan lagi rahasia, begitu kentara dimuka umum. Namun sekeras apapun Sarah mencoba menghindar, takdir kerap mempertemukan keduanya.
"Ah... ingin rasanya aku kabur saja, kalau bukan karena orang itu aku sudah lari ke tempatmu." Mengerucutkan bibir kemudian ditujukan kepada pria yang tengah menarik lembaran uang kertas dari dalam dompetnya.
"Mau bagaimana lagi..." Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Arin, dia juga tidak tahu harus bagaimana.
Keduanya berhenti bicara saat Arlan mendekat, seraya menyodorkan beberapa lembar uang yang kini sudah ada ditangan Arin.
"Ini terlalu banyak..." Arin menarik dua lembar uang kertas dan menyerahkan sisanya kepada Arlan.
Alih-alih menyambutnya pria ini berlalu menuju mobil seraya berkata, "Ambil saja."
"Kakak puas dengan pekerjaanmu," ucap Sarah seraya menurunkan tangan Arin yang masih mematung di udara."
"Oke." Arin memasukkan uang itu kedalam saku bajunya, kemudian merapihkan perkakas yang tercecer ke dalam box. "Kau ada waktu, sepulang dari pesta pamanmu?"
Sarah memutar kepalanya seraya melipat tangan, "Sepertinya... Kenapa kamu mau main?"
"Hmmm, aku traktir makan," ajaknya sebelum pergi.
"Oke," Seru Sarah seraya menunjukan kedua jempolnya.
Dari dalam mobil, Arlan yang sudah bersiap di depan kemudi tampak memerhatikan Sarah dan Arin dari balik jendela. Wajah suntul adiknya berubah sejak kedatangan Arin, mungkin ada baiknya juga mobil ini mogog tadi, pikirnya.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Rahasia dong." Senyum masih tidak mau lepas dari wajah Sarah. Arlan mendengus namun masih diiringi tawa kecil, "eh Kak, nanti aku ngga lama ya,"
"Kenapa?"
"Aku mau ke Kosan Arin."
"Oh jadi itu yang membuatmu senang."
Mengangguk,
"Ya udah, nanti Kakak anterin."
"Apa mereka akan membiarkanmu?" Mendengus kesal, tidak mungkin dia bisa pergi dengan mudah, "aku bisa naik taksi."
__ADS_1
"Terserah kamu saja, hati-hati, kalau sudah sampai tempat temanmu itu, jangan lupa telepon."
"Siap."