Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 4 Kejadian di Pagi Hari


__ADS_3

Dipagi hari yang damai, suasana riuh justru terjadi di sebuah kamar. Sarah melupakan jadwal kuliah pagi hingga tidak sengaja bangun siang. Diambil asal baju di dalam lemari, kemudian berlari menuju kamar mandi dengan mulut yang mengaduh setelah lututnya menyentuh pinggir meja rias dengan keras. Sementara saudara lelakinya


tampak lebih tenang. Dengan telaten tangan Arlan mengikat simpul dasi yang menggantung di leher, sementara mata fokus menatap layar gawai yang terbaring di kasur. Arlan keluar dengan setelah jas rapi, langkah kakinya menuntun dia menuju ruangan disebelah kamarnya.


“Iya…” Jawab Sarah saat mendengar pintu diketuk. Setelah itu daun pintu terbuka dan masuklah Arlan.


“Dek,” Suara bariton penuh penekanan milik Arlan, sudah menjelaskan apa yang harus segera dilakukan sang adik.


“Sebentar Kak…” Tangan Sarah yang sedang memegang eyeliner ini bergerak membuat garis tipis di kelopak mata bagian dalam lalu ditarik memanjang ke luar dengan ujung runcing membentuk cat eyes yang menjadi ciri khasnya.


Arlan mengerutkan kening, “Kamu itu mau kuliah atau main?”


“Kuliah Kak. Lihat cantik kan?” Memperlihatkan hasil dandannya yang belum selesai.


Arlan menggeleng pelan, bukan soal hasil make up-nya tapi tentang Sarah yang tidak juga menunjukan tanda-tanda akan beranjak bangun dari tempat duduknya..


“Lanjutin di mobil!” Seru Arlan seraya memasukan lip tint, mascara, bedak, funky eyelight, eye brow pencil hingga eye shadow yang tercecer di atas meja hias ke dalam pouch make up.


Sarah ingin protes namun tidak berani, hanya bisa mengikuti sang kakak di belakang. Kemarin sang Kakak masih bermurah hati memberi waktu 5 menit tambahan untuk bersiap, hal seperti itu memang tidak berlaku permanen.


Di tengah perjalanan, Arlan yang dari tadi fokus menatap ke depan, memutar kepalanya hingga menghadap ke samping. Dua orang yang tampak sedang berbincang di sebarang jalan menyita perhatiannya yang tengah


mengemudi, Arlan mengenali salah satunya, dia adalah Arin. Dan sekarang gadis itu terduduk hingga tertutupi sepeda motor dihadapanya, membuat sosoknya tidak bisa lagi tertangkap mata Arlan.


Meski sudah meninggalkan jauh pemandangan yang baru saja dilihatnya, namun hal tak terduga itu tidak bisa hilang begitu saja dari kepala Arlan, ada banyak pertanyaan yang ingin segera diketahui jawabannya terutama tentang pria muda yang bersama Arin. Tampak jelas pikiran Arlan kemana-mana, dia bahkan terlambat menyadari saat ada kucing yang melintas di depan mobilnya hingga membuat dia tiba-tiba menginjak rem dengan keras. Dengan jantung yang berdebar kencang, Arlan melihat ke luar, memastikan kucing tadi tidak tertabrak. Si Kucing memang  tidak apa-apa, namun tidak dengan Sarah.


“Kak Alan…” Sarah terhenyak, kepalanya memutar ke samping, menjadikan mukanya sebagai barang bukti atas kelalaian sang kakak. Sontak Arlan terkejut melihat noda lipstik yang offside dari garis bibir, dia lantas menarik dua helai tissu dan menyerahkannya kepada Sera.

__ADS_1


“Aduh, lipstikku.” Melihat benda yang ada ditangannya itu dengan muka sedih.


“Maaf, nanti kakak ganti,” ucap Arlan seraya memutar kunci, kembali memacu mobil yang sempat terhenti meski belum sampai tempat tujuan.


 “Kak Alan ngelamun ya? Mikiran apa sih?” Tanya Sarah sembari mengedarkan pandangan.


“Bukan apa-apa…”


Sarah berhenti bertanya, ia memilih untuk menatap wajahnya dalam cermin, melanjutkan kembali aktivitas berdandan.


*


Fara masuk ke ruangan Arlan, seperti biasa tanpa mengetuk pintu.


“Maaf, saya kira Anda sedang tidak ada tamu, haruskah saya kembali lagi nanti?” Ucap Fara dengan tenang seraya mengangkat map kuning tinggi-tinggi, memberi kode jika keberadaannya saat itu sangat penting.


“Tidak, kamu bisa tetap tinggal.” Fara mendudukan tubuhnya di sofa panjang dengan elegan, posisnya berhadapan langsung dengan Arlan meski berjarak cukup jauh, ujung dengan ujung. Sementara wanita yang duduk di tengah menjadi pembatasnya.


Menjelaskan seraya mengoleskannya perlahan ke punggung tangan hingga muncul garis berwarna fushia, setelah itu mengusap-usap di tempat yang sama.


Tangan Arlan tergerak menjangkau lip tint di meja, melakukan hal sama yang dilakukan Wenda kemudian mendekatkan benda itu ke area hidung untuk mencium baunya.


“Saya tidak mengerti kenapa anak remaja sekarang begitu menyukai wewangian? Wangi buah-buahan sepertinya sangat popular saat ini, bukankah begitu?”


“Ya Anda benar, penambahan aroma buah-buahan pastikan akan lebih baik lagi.”


“Pastikan aman, saya minta laporan pengujian dan produk fisiknya besok…”

__ADS_1


Pembahasan selanjutnya, lebih banyak berkutat pada warna. Fara melirik jam yang melingkar di lengannya,


“Masih lama sepertinya,” gumam Fara.


“Pemilihan warna didasarkan pada target pasar. Menurut survey warna-warna ini paling difavoritkan rentang usia remaja dan wanita dewasa muda.” Ucap Wenda sebagai jawaban dari pertanyaan Arlan, seraya menunjukan layar gawai yang menyala untuk menguatkan ucapannya.


“Oke…” Ucap Arlan dengan wajah datarnya. Satu kata yang mengakhiri pertemuannya dengan Wenda, wanita ini lantas melangkah keluar ruangan setelah sebelumnya menganggukan sopan kepada Arlan dan Fara.


Fara menghampiri Arlan yang sekarang sudah terduduk di kursi kerjanya, seraya meletakan map kuning diatas meja. Saat tangan Arlan mulai menyentuh dokumen tersebut tangan Fara kembali meletakan foto di atas meja dengan posisi menghadap Arlan, membuatnya menatap bingung foto seorang gadis manis yang sedang tersenyum kepadanya.


“Namanya Kezia Agatha, tinggi 162 cm, berat badan 45 kg. Model, dancer, dan calon penyanyi. Tergabung dalam salah satu managemen artis terpopuler saat ini.” Begitu Fara mulai mendeskripsikan.


“Sepertinya aku tahu dia…” ucap Arlan dengan muka datarnya.


Sekarang giliran Fara yang tampak bingung, dahinya berlipat kuat, “Kau mengenalnya?”


“Tidak,” menggeleng cepat, diraihnya sebuah majalah di dalam laci dan melemparnya pelan ke atas meja, “Fotografer kesayanganmu yang membawanya…” Terpampang wajah gadis ini di sampul ‘Look’.


“Nah… intinya dia itu popular, wajahnya jadi rebutan majalah-majalah. Lagi pula stuktur mukanya seksi, cocok. Bentuk bibirnya tipis, aku bayangin dia pakai warna merah, pasti oke banget.”


“Jadi…” tanya Arlan.


“Jadi ngga ada alasan buat ngga ngambil dia.” Memberi pendapat dengan percaya diri.


Arlan menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi kemudian menghela napas panjang, lalu berkata “Bukannya kita sepakat buat audisi dan itu sudah jalan kan…”


“Iya enam model sisanya dipilih seseuai karakter yang masih kosong, kita cari lewat audisi.”

__ADS_1


Arlan tidak banyak bicara, hanya menggut-mangut mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari bibir Fara yang tengah menjelaskan mengenai teknis audisi hingga kriteria apa saja yang diharapkan dimiliki para model.


“… sedang dipersiapkan, saya baru mendapatkan informasinya, minggu depan saya pastikan sudah siap laporannya.” Ucap Fara menyudahi presentasinya.


__ADS_2