
“Sudah selesai?” Tanya Arlan.
“Hemmm, karena orang itu aku harus ada ditempat ini.” Tangan Fara terangkat menunjuk kearah Bayu
yang tengah bersiap hendak pulang, dia tampak semeringah setelah membuat hidup seseorang menjadi tidak tenang.
“Apa katanya?”
“Dia hanya meracau,” jawab Fara sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Arlan? Hari ini aku menumpang
mobilmu ya,” pintanya seraya mengangkat kedua tangannya setinggi bahu dengan telapak tangan yang saling menyatu, sebagai tanda memohon, gadis ini juga membuat muka memelas yang dibuat-buat.
Berpikir sejenak sebelum berkata, “Boleh, kamu kesini sama siapa?”
Tidak jauh dari itu, Arin tampak sibuk sekali, dia membantu Indah membersihkan dan merapihkan
kembali peralatan make upnya.
“Ini,” ucap Arin sembari menyerahkan kuas yang sudah selesai di keringkan ala Arin setelah
dicuci sebelumnya. Yang dilakukannya adalah mengibas-ngibaskan benda itu sekuat
tenaga hingga membuat tangannya terasa pegal sekarang
“Terimakasih ya Arin, hari ini kau sudah bekerja dengan keras tapi aku malah memberikan tugas
tambahan,” ucap Indah yang menyambut kuas-kuas dari tangan Arin dengan penuh syukur.
“Tidak apa-apa, aku yang mau bantu,” ucap Arin sekenanya. Menurutnya apa yang dilakukan untuk Indah
tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang Indah lakukan untuknya
“Hah… Akhirnya selesai juga, sebentar ya aku mau istirahat dulu. Ya ampun punggungku.” Indah mendudukan tubuhnya, dikuti Arin yang juga merasa seluruh tubuhnya begitu pegal. Karena hari ini pemotretan selesai lebih cepat menurunya tidak masalah jika dia sebentar saja bermalas-malasan untuk mendapatkan energi untuk kembali berpeluh keringat di bengkel.
“Kamu terlihat senang dan sepertinya sudah tidak sakit kepala lagi.”
“Iya…” Indah tersenyum, dengan mata yang terpejam merasakan nikmatnya pijatan dari jari jemarinya yang
menyentuh punggung hingga bahu, “btw tadi aku lihat ada kedai bakso didekat dekat sini, aromanya itu lho harum banget.” Hanya dengan mengingat kembali aromanya saja sudah membuat air liur menetes, membayangkan satu porsi mangkuk bakso mengebul di hadapannya.
__ADS_1
“Dimana?”
“Ngga jauh kok, jalan sebentar juga sudah nyampe, kesana dulu yuk?”
“Ayo, aku juga lagi lapar…”
“Bener? Asik… asik… aku mau sambel yang banyak….”
Arin tertawa kecil melihat Indah yang kini menggelayuti tangannya, dia seperti menemukan sedikit sisi Sarah pada diri Indah.
*Aku merindukannya…*gumam Arin lirih.
Saat dia memutar kepalanya ke depan, matanya membulat sempurna saat melihat Arlan dan Fara yang sedang mengobrol.
Hah kak Arlan masih disini…
“Ya ampun mereka itu manis sekali, Pak Arlan bahkan sampai nyamperin Bu Fara kemari, kapan ya pa…”
Indah terdiam, dia melirik kearah Arin dengan tatapan takut, “aduh Arin maaf, mulutku ini lancang sekali, dia tidak tahu kapan harus diam,” ucap Indah sembari memukul bibirnya. Indah tidak tahu sedekat apa hubungan Arin dengan Fara, tapi dari yang dilihat, dia menyakini jika mereka sangatlah dekat, mungkin saudara, adik kelas, tetangga atau apalah, yang pasti perasaannya menjadi tidak enak saat tidak sengaja menyingung soal kedekatan Fara dan Arlan dihadapan Arin.
“Ngga apa-apa, aku bukan seorang pengadu kok,” ucap Arin dengan berbisik ke telinga Indah, tidak
“Ghibah itu dosa lho,” kemunculan tiba-tiba Riko dari belakang membuat Arin dan Indah terlonjak kaget, keduanya kompak mengelus dada, dan bangun dari duduknya, “kalian gosipin apa sih? Kayanya penting, sampai bisik-bisik gitu…” Tanya Riko dengan nada bicara yang tenang. Dia tidak sedang basa basi, Riko benar-benar penasaran apalagi jika melihat arah pandangan keduanya yang tertuju pada dua sahabatnya.
“Eh pak Riko, bu-bukan apa-apa kok pak,” jawab Indah tergagap, “pak Riko saya pamit duluan ya.” Sekarang dia
bersiap hendak berlari, sembari membuat kode kepada Arin untuk juga segera pergi dari tempat itu.
Duh Indah main kabur aja…
“Ammm saya juga pamit,” ucap Arin kemudian, sembari mengagukkan kepala.
Namun sebelum gadis ini benar-benar pergi, Riko lebih dulu meraih tangan Arin, membuat langkah Arin terhenti dan refleks menatap tangan Riko yang memagangi tangannya, “eits… mau kemana? Belum jawab pertanyaan saya lho…”
Arlan yang tidak sengaja menyaksikan adegan bak di sinetron itu pun semakin mempercepat langkahnya.
“Kau disini?” Tanya Arlan.
“Yap, jadi supir sehari Fara dan berakhir jadi pengangguran, luntang lantung ngga jelas.”
__ADS_1
“Hei kau membuatku tampak jahat,” protes Fara dengan tegas.
“Kau terus mengabaikanku…” ucap Riko pura-pura kesal, seperti anak kecil yang merajuk karena tidak diperhatikan ibunya.
“Apa kalian berkencan?” Tanya Arlan lagi matanya tidak lepas dari tangan Riko yang masih memegang lengan Arin, dia tidak tertarik dengan pertengkaran Fara dan Riko.
Untuk beberapa saat Riko kembali teringat dengan gadis disampingnya ini, “Sudah selesai bukan? Ayo aku antar pulang.”
“Hah…”
“Pertama mengantar Fara lebih dulu, setelah itu baru kita pergi ke rumahmu.”
“Kalian pergi berdua saja, aku akan menumpang mobil Arlan, iyakan?” Tanya Fara yang direspon Arlan dengan mengangguk namun pandangannya tidak bisa lepas dari Arin. Dia menjadi kesal saat gadis ini tidak mengiyakan ataupun menolak ajakan Riko.
“Berarti kita hanya berdua saja, tapi kamu jangan khwatir saya ini seorang pria sejati, lagi pula kamu
hutang penjelasan lho ke saya.” Senyum yang diulas Riko jutru membuat Arin semakin ngeri dibuatnya.
Sesibuk apapun Arlan selalu menyempatkan diri sarapan dengan sang adik, mereka bukan lagi saudara yang
masih berseragam sekolah, bekerja keras saat muda kenjadi keharuskan untuk mempersiapkan masa tua yang lebih nyaman, itulah sebabnya meskipun sangat ingin menghabiskana waktu dengan saudara satu-satunya ini, Arlan harus melepaskan egonya itu.
Ponsel berdering, Arlan menoleh kearah Sarah yang hanya melirik sekilas lalu meneruskan mengaduk-aduk makanan di depannya. Ya dibandingkan menyendok nasi, gadis ini lebih banyak mengaduk-aduknya, mulutnya tertutup rapat. Gestur tubuhnya pun terlihat malas dengan tangan kiri yang menopang dagu.
“Siapa Dek?” Tanya Arlan sambil terus mengunyah.
“Bukan siapa-siapa…” jawabnya dengan malas
“Heh…angkat saja dulu, siapa tahu penting.”
Arlan urung membuka mulutnya lagi saat dilihatnya sang adik tampak malas.
“Kalau ngga mau diangkat, matiin aja ponselnya, berisik!”
Alih-alih menonaktifkan ponselnya, Sarah memilih untuk mengubah notifikasi nada deringnya menjadi hening, sehingga mata Arlan masih dapat melihat adanya tanda panggilan dari ponsel Sarah yang menyala, meski benda tersebut sepenuhnya tidak lagi mengeluarkan bunyi.
“Adek masih ingat peraturan di rumah ini kan? Kalau makannya belum habis, kamu ngga boleh kemana-mana!” Ancam Arlan yang ditanggapi serius Sarah. Arlan tersenyum tipis saat melirik Sarah akhirnya mau menyendok makananya, tidak hanya dimainkan saja. Selesai makan Sarah langsung masuk kedalam kamar.
nha lho Sarah kenapa nih...
__ADS_1
Tetap dukung Montir Cantik, Penakluk Hati ya. Insyaallah MCPH update setiap hari kamis, jadi sampai jumpa minggu depan...