Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 7 Penasaran


__ADS_3

Arlan sedang di balkon kamarnya saat sebuah taksi berhenti di depan pagar, tidak lama Sarah dan Arin


keluar dan berjalan menuju rumah dengan tangan yang menenteng tas belanjaan. Arlan menghentikan sesaat aktivitas membaca buku, matanya lebih tertarik dengan orang yang ada dibawah, dia yang tidak menyadari keberadaan seseorang yang sedang menatapnya dengan intens.


Sesaat setelah keduanya hilang, masuk kedalam rumah, Arlan menutup buku yang baru beberapa lembar dibaca. Memulai langkah menuju rak dekat pintu untuk menaruh kembali buku tersebut. Arlan kehilangan minat, pikirannya


bercabang saat melihat Arin, terlebih saat Sarah dan Arin melintas di kamarnya, telinganya menangkap namanya disebut. Sedetik kemudian, tubuh Arlan sudah merapat ke dinding, telinganya menempel pada benda itu mencoba menguping pembicaraan diantara mereka.


“Sial…” Mendengus kesal. Dinding yang memisahkan kamarnya dan kamar Sarah cukup tebal rupanya, pun suara


kecil Arin tidak terdengar karena tenggelam oleh  tawa renyah Sarah. Arlan menjauhkan tubunnya dari dinding lalu berjalan keluar, menuruni anak tangga seraya menatap nanar pintu kamar adiknya yang tertutup rapat.


“Tarang, bagaimana… bagaimana…” tanya Sarah seraya bergerak centil memutar tubuhnya.


“Cantik…” Begitu penilaian Arin terhadap penampilan Sarah dengan mini dress yang baru dibeli. Sarah memang terlihat menawan dengan dress selutut tersebut, gaun dengan warna baby pink ini juga tampak pas dengan kulitnya yang putih bersih.


“Yes!” Tangan Sarah kemudian beralih pada tas belanjaan yang tergeletak di lantai, “kalau begini, bagaimana penampilanku?” Sarah kembali berlenggak-lenggok di depan Arin, sekarang dia turut memakai wedges berwarna nude.


“Emmm cocok-cocok aja. Aku belum berubah pikiran, masih sama seperti yang aku bilang di toko.” Entah mengapa Sarah harus mengulang pertanyaan yang sama, “memangnya kamu mau kemana sih?” Tanya Arin kemudian.


Sarah menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi terlentang, matanya menatap langit-langit.


“Ngga tahu, rencananya mau dipakai saat Pandu ngajak jalan…” Tersenyum sendiri, membayang saat-saat itu benar terjadi.


“Heh bukannya selama ini hanya mengagumi dari jauh, sudah ada kemajuan?”


“Masih jalan di tempat, ya ngehayal aja dulu mumpung masih gratis…” Senyum belum mau pergi dari wajah Sarah, meski Arin membawanya pada realita yang pahit.


“Hati-hati, jatuh itu sakit, ekspektasi terlalu tinggi, mungkin buat kecewa,” ucap Arin seraya beranjak bangun dari tempat duduknya yang beralaskan karpet.


“Kamu mau kemana?”


“Pulang, sudah sore…”


“Eh pasti karena kak Alan, aku kan sudah bilang kakakku itu ngga gigit…”


“Memang tidak, tapi tatapan membunuhnya tampak seperti penganiyayaan tak kasat mata…” gumam Arin


“Lagi pula kamu ngga kasihan ninggalin aku sendirian,” bujuk Sarah dengan memasang muka memelas.


“Ngga mempan ya… aku tetap mau pulang, sekarang!” Ucap Arin dengan mantap.

__ADS_1


“Memang ya, ngga ada yang sayang sama aku…” Sarah kembali dengan dramanya, kini dia membenamkan wajahnya pada bantal


“Oh jadi gitu, baiklah kalau kamu mikirnya kaya gitu aku bakal…” Ucap Arin dengan berkacak pinggang.


"Apa … kamu mau apa…” Seketika berdiri seraya menatap Arin dengan serius.


“Ngga ngapa-ngapain…” Jawab Arin menyeringai


“Sudah kuduga kamu mana bisa pisah dari aku…” Ucap Sarah seraya memerluk erat lengan Arin saat keduanya menuruni anak tangga. Sementara tangan Arin menepuk pelan puncak kepala Sarah yang kini bersender di bahunya, hal ini berlangsung hingga pintu depan membuat Arlan yang tengah duduk di ruang tamu menatap jijik


kelakuan adik dan temannya itu.


“Hah… kak Alan bikin kaget aja!” Seru Sarah seraya mengelus-ngelus dada. Langkah kakinya mendekati sofa untuk duduk di samping Arlan, selepas mengantar Arin.


“Beneran dari tadi kakak duduk disini?” Ada yang salah dengan mata Sarah, mana mungkin sampai tidak lihat, jelas-jelas tubuh Arlan ini besar.


“Hmmm…”


“Kak nomor lima.” Arlan menurut saja, jarinya menekan tombol yang tertera angka 5. Ya dari tadi juga TV yang nontonin dia bukan sebaliknya.


Lama hening, tawa Sarah meledak saat muncul tiga orang pria tua dalam layar persegi yang saling berebut menjangkau pintu agar bisa jadi yang pertama berada di dalam ruangan.


seriusnya, “ngga lucu ya kak…hmmm…” Sarah mengambil toples di atas meja, meraih sekeping demi sekeping kue dan memasukkannya kedalam mulut dengan kasar.


“Hati-hati nanti tersedat.”


Karena nasehat kakaknya, Sarah pun memakan kuenya dengan lebih bijaksana.


“Kamu sudah lama kenal Arin?” Tanya Arlan tiba-tiba.


“Emmm dari SMP, memangnya kenapa?”


“Ngga apa-apa.” Jawab Arlan tanpa mengalihkan pandangnya dari layar TV.


Suasananya  pun kembali sepi, hanya terdengar suara dari televisi.


“Dulu sering main kesini?”Tanya Arlan lagi.


“Sering ngga ya?” berpikir, “lumayan lah.”


“Kapan, kok nggak pernah lihat?”Arlan mengalihkan pandangnnya ke samping, dilihatnya Sarah yang tertawa tanpa suara.

__ADS_1


“Duluuu banget, sebelum dia sibuk kerja. Mungkin kakak lupa…”


Terdiam sejenak, dengan suara baritonnya, Arlan kembali bicara “Kalian itu terlihat akrab ya, apa sih yang diobrolin?”


Sarah cekikikan, dia pun mengalihkan pandangan dari layar televisi.


“Kak Alan introgasi aku ya?” Tindakan spontan Sarah sontak saja membuat Arlan tidak siap, buru-buru dia menyembunyikan wajah yang sudah berubah pigmen.


“Introgasi apa, kakak hanya ingin ngobrol saja…”


“Kok nanyain Arin terus?” Tanyanya lagi dengan tatapan selidik.


“Ya itu kan, karena teman Adek yang aku kenal cuma dia.”


“Udah, aku ngga konsen nontonya.” Sarah mematikan TV dan merubah posisi duduknya hingga menghadap Arlan,


“apa yang ingin kak Alan tahu soal Arin?” Tanya Sarah seraya menyilangkan kedua tangannya dan alis yang terangkat.


Arlan memandang wajah adiknya itu, kemudian terdengar hembusan napas yang berat sebelum dia berkata, “Tidak


ada,” jawabnya singkat seraya mengacak-acak rambut Sarah dan pergi.


*


Keesokan harinya Arlan kembali mengantarkan adiknya ke kampus, setelah itu baru ke kantor. Dia belum mengizinkan Sarah membawa mobil sendiri, karena belum memiliki SIM.


 “Oh ya Kak, belok kiri juga bisa ke kampus Adek lho.”


Sarah sudah seperti GPS Navigasi saja, setiap yang keluar dari mulutnya diikuti Arlan tanpa bertanya.


“Stop… stop…”


“Hei ini bukan kampusmu.”Menatap adiknya itu dengan bingung.


“Berhenti dulu,” Arlan pun menurut sebab adiknya yang begitu memaksa, “Nah ini tempat kerja Arin.” Di sebrang berdiri kokoh sebuah bengkel besar, terlihat beberapa orang tampak hilir mudik.


“Sarah…” Arlan menatap adiknya itu dengan dalam, Sarah menoleh dan menunjukan wajah polosnya


“Kenapa?”


“Seharusnya kakak yang tanya, untuk apa juga aku tahu tempat kerja temanmu?” ucapnya tampak tidak peduli. Arlan kembali memacu kendaraannya dengan pelan, namun ujung matanya mencoba menangkap sosok yang kerap berlarian di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2