Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 14 Cekrek... Cekrek... Cekrek


__ADS_3

Photoshot hari ke dua…


Cekrek… cekrek… cekrek…


Kapan selesainya…keluh Arin.


Sudah banyak foto yang diambil sampai dia merasa seluruh tubuhnya pegal, namun sepertinya belum ada tanda-tanda jika permotretan itu akan segera selesai. Ya, Arin tengah menunjukan kemampuannya berpose dengan


berbagai macam mimik, ekspresi termanis hingga misterius, semaksimal mungkin telah dia buat namun yang terlihat hanya muka menyebalkan hingga membuat pria ini begitu frustasi. Giri sang fotografer yang tengah


memegang kamera DSLR itu menunjukan hasil jepretannya kepada Bayu dengan mendesah kesal.


“Kau bisa lihat aku,” Bayu memeragakan pose andalannya dan Arin mengikuti dengan sedikit kelingkungan.


“Hei sesuaikan dengan posisimu, kita mulai lagi ya…” Setelah sempat berteriak, Bayu kembali bersuara, tapi kali ini dengan menurunkan beberapa oktaf, “siapa tadi namamu?”


“Arin…”


“Arin bisa lebih santai…kamu ini tegang benget memangnya ada apa…” Saking keselnya pria ini sampai mengacak-acak rambutnya sendiri. Sementara di sisi samping sekelompok gadis yang tengah menunggu giliran, cengiran puas.


“Ganti yang lain saja dulu, bisa sampai subuh kita kaya gini…” Usul Giri, “sepertinya kita harus bicarakan ini dengan Fara.” Lanjutnya lagi dengan berbisik ke telinga Bayu


“Ya sudah, Kezia masuk!”


Arin melangkah turun dari area set, tangannya memegangi kepala yang terasa pusing setelah blitz kamera menghujani wajahnya secara bertubi-tubi. Bagian leher juga terasa kaku, bagian itu bekerja paling keras dibandingkan bagian tubuhnya yang lain. Tapi Arin tidak yakin jika hasilnya bagus, apalagi jika melihat wajah Bayu yang terlihat begitu kesal, kalau dia punya kuasa mungkin dia sudah menendangnya keluar dari ruangan itu.


“Tidak apa-apa…” ucap Indah menenangkan, seraya menepuk-nepuk bahu Arin dengan pelan. Arin mengutas senyum, dia sangat berterima kasih atas apa yang selalu dilakukan Indah kepadanya.


“Indah, perbaiki dandananya!” Teriak Bayu.


“Iya…” Gadis ini berlari menghampiri Kezia.


“Heh mau ngapain?” Tanya Wasta saat mendapati Arin membawa mechanic creeper.


“Aku belum selesai, kau pergi saja duluan.” Jawab Arin sekenanya.


“Kalo ini soal kamu yang sering absen, tidak masalah, bos saja bilang Arin itu aset berharga Meka, dia ngga akan pecat kamu.”

__ADS_1


Menjadi aset berharga di sini namun jadi pecundang di tempat lain.


“Ngga ada hubungannya, sudah pulang sana.”


Wasta melirik jam yang melingkar di tangannya, kemudian dia mengalihkan pandangan ke sekeliling.


“Wasta… aku ngga akan lama kok, bentar lagi juga pulang,” ucap Arin lagi seraya meletakan mechanic creeper di lantai, dengan kakinya ia mendorong dan menarik benda itu hingga mendapatkan posisi yang menurutnya pas.


“Bener ya, awas lo kalah sampai pulang malam!”


Wasta sebenarnya ingin tetap tinggal untuk memastikan Arin melakukan apa yang dikatakannya, namun dia sudah janji dengan teman lamanya untuk bertemu, lebih tepatnya untuk menanyakan soal pekerjaan sambilan. Temannya baru buka usaha kuliner dan dia menjanjikan uang yang lumayan besar jika Wasta membantunya menyebarkan brosur.


“Iya, kau ini cerewet ya…”


“Jangan lupa kunci!” Ucap Wasta seraya melangkah menuju pintu keluar.


Arin menghela napas berat, sesaat sebelum mendudukan tubuhnya di atas mechanic creeper. Dia mulai mengatur posisi terlentang dan mendorong tubuhnya hingga masuk kedalam kolong mobil. Suasana di bengkel pun relative sepi hanya terdengar suara besi saling beradu dan …


Tok… tok…tok…


Ketukan di body mobil yang terasa membengkakan telinga, memaksa Arin untuk keluar, dia yang  masih dalam posisi tiduran itu belum mau bangun saat melihat siapa yang datang.


“Oo? Apakah kau terbiasa melepaskan amarah pada benda tidak berdosa.”


Arin buru-buru bangun dengan tergesa, “Kak Arlan ada apa?”


“Tadinya mau servis, tapi melihat apa yang kau lakukan sepertinya batal saja.”


Arin mendengus, tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. Kedepannya dia harus bisa lebih hati-hati, jika tidak ingin pelanggannya kabur.


“Mau jalan-jalan sebentar?”


“Apa kau ditinggalkan temanmu, kenapa hanya bekerja sendiri?” Tanya Arlan saat keduanya sudah berada di luar bangunan bengkel.


“Saya yang paling lambat, beginilah akhirnya,” jawab Arin diakhiri tawa canggung, namun orang yang didepannya ini hanya terdiam menatap orang yang dilihatnya dengan tatapan bingung membuat tawa Arin perlahan menghilang, “masih ada yang harus saya selesaikan, itu yang membuat saya masih tertahan disini.”


“Bahkan pacarmu pun tak setia…”

__ADS_1


Arin terdiam sejenak, dahinya berkerut kuat, “Wasta? Dia sudah suruh saya pulang, dan sebenarnya dia juga bukannya tidak setia, hanya saja Wasta harus pergi untuk kerja sambilan, saya tidak mungkin memintanya untuk tinggal kan?” Ucap Arin panjang lebar dengan diakhiri senyuman yang dipaksakan.


Arlan mendengus kesal mendengar jawaban yang keluar dari mulut Arin, “Biar bagaimana pun kamu itu perempuan, membuat suara gaduh, pintu tidak dikunci, tidakkah kau sedang mengundang orang jahat untuk masuk.”


Mendengar kalimat terakhir Arlan, Arin baru menyadari kesalahanya, rasa kesal yang  menyesalkan dada membuatnya tidak lagi peduli dengan keamanan dirinya sendiri. Kasus perampokan mini market


yang baru dilihatnya dua hari lalu di televisi pun hilang dari memorinya.


“Sudahlah,” ucap Arlan seraya menepuk bahu Arin pelan, membuatnya tersadar dari lamunan, “ammmm sepertinya saya mau kopi, kau mau juga?” Ucapnya seraya santai, tidak sadar jika perkataannya itu sudah membuat Arin panik sendiri.


“A… Kak Arlan sebaiknya saya pulang saja, sudah terlalu malam.”


Bukankan itu yang Anda mau, tuan muda.


“Tinggalah dulu sebentar, saya ngga mungkin menyetir dalam keadaan ngantuk bukan?”


Warung pinggir jalan menjadi tujuan Arlan untuk menikmati segelas kopi instan sudah tersaji di meja kayu. Berjalan kaki sebentar kemudian meneguk kopi di warung pinggir jalan yang sederhana membuat pikiran Arin menjadi lebih jernih sekarang.


“Arin,” Panggil Arlan tiba-tiba, Arin langsung menutup matanya saat cahaya blitz dari kamera ponsel mengenai wajahnya.


“Kamera ponselnya yang canggih atau memang kamunya yang bagus difoto ya...” Arlan menyeringai seraya memperlihatkan hasil jepretannya.


Satu hal yang Arin tahu mengenai Arlan, adalah kebiasaannya yang kerap membuat dia terkejut dengan tindakannya yang spontan. Arin menghela napas berat sebelum matanya memandangi potret diri dalam ponsel Arlan.


“Saya tidak ragu dengan kemampuan Fara, dia yang terbaik dan pasti ada alasan kenapa dia memilihmu, Fara pasti telah mempertimbangkan banyak hal sebelum itu. ”


Meski terdengar sedang memuji wanita lain, namun kata-kata Arlan seolah memiliki kekuatan magis baginya, energinya kembali penuh, Arin kembali bersemangat.


“Kak Arlan bisa potret saya lagi, sebenarnya saya tidak terlalu pede dipoto namun sepertinya candid selalu berhasil,” pinta Arin kemudian.


Arlan mengambil kembali ponselnya dari tangan Arin menghadapkannya  ke depan muka Arin dan gadis ini tersenyum ke kamera. Sial gambarnya goyang, Arlan mengatur napas menghalau perasaan


gugup, tapi tangannya tetap saja tidak bisa diajak kerja sama, bergetar tanpa bisa dikendalikan.


Mendengus kesal, “Lakukan sendiri! Dikasih hati minta jantung,” Dan Arlan pun menyerah, dia bangun dari tempat duduknya dan melangkah pergi.


Apa yang sudah aku lakukan, Arin memukul kepalanya pelan sebagai hukuman atas sikap lancangnya, dia lalu berjalan menghampiri Arlan yang kini sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


**I'II be back... **


Akhirnya bisa update juga setelah dua purnama hi...hi..., maafkan, semoga ngga bosen sama kisah Ar couple ya...


__ADS_2