Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 11 Hari Pertama


__ADS_3

“Kenapa seperti ini akhirnya, bukankah tujuan utamamu demi lip tint itu…”


“Sudahlah aku sudah tidak tertarik,” jawab Sarah dengan nada malas.


“Oh…” ucap Arin singkat.


“Ada apa, apa terjadi hal buruk?” Tanya Sarah seraya menoleh kesamping.


Arin berjalan gontai, pandangannya lurus kedepan dengan wajah yang murung. Sesekali terdengar helaan napas dan semakin berat manakala pertanyaan itu sampai di telinganya.


“Kak Fara ingin aku jadi model QS.”


“Jahat, kenapa kak Fara ngga nawarin aku, padahal dia bilang kita ini dekat…” Fakta yang baru diketahuinya


itu memberi Sarah tambahan energi, energi yang sangat besar untuk mematahkan tiang yang ada disampingnya.


“Sarah, ini giliran aku yang cerita ya…”


“Ah iya… kenapa… kenapa,” nada suaranya kembali turun beberapa oktaf


“Aku harus gimana ya, rasanya buntu banget nih otak…”


“Apanya yang gimana, kamu tinggal ambil. Sayang kesempatan bagus ngga datang dua kali. Lagi pula semester ini sudah mulai libur, kau beruntung Arin,” ucap Sarah seraya menyenggol lengan temannya ini.


“Aku harus izin mas Bayu dulu…”


“Dia pasti kasih izin…”


“Hah…”


“Bosmu itu kan pandai cari peluang, dia pasti akan memanfaatkan ketenaranmu sebagai promosi gratis…”

__ADS_1


“Aku tidak yakin …”


Bosnya itu memang pandai cari peluang, setidaknya itulah yang dia dengar dari mulut Bayu sendiri, namun sebenarnya dia tidak pernah melihat Bayu melakukan hal-hal diluar kewajaran demi mendapatkan keuntungan yang disebutkan Sarah.


“Kalau kau berhasil aku juga ikut senang…” Tersenyum hingga matanya tinggal segaris, “Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu, harimu tidak akan biasa-biasa lagi.”


“Wah kau juga tahu soal itu ya.”


“Tentu,” ucap Sarah menepuk dada, membuat keduanya tertawa kecil.


“Kamu sendiri, mau ngapain libur semester?”


Sarah menggigit bibirnya sebelum menjawab, “Sebenarnya aku belum mau bilang, tapi berhubung kamu tanya,


aku ngga tahan,” terdiam sebentar, “Aku mau jadi panitia OSPEK.”


“Seriusan? Kok aku ngga pernah tahu kamu tertarik sama yang gituan, hmmm pasti ada yang kau rencanakan …”


*


Keesokan harinya


“Arlan…” Panggil Riko membuat pria ini menoleh ke sumber suara.


“Hari ini meeting dengan grup Orlan.”


“Iya…” Keduanya masuk kedalam lift secara bersamaan. Pintu yang hendak tertutup itu kembali terbuka dan seorang gadis masuk kedalamnya dengan terburu-buru. Arin tertegun beberapa detik saat dilihatnya  sosok Arlan di dalam lift, buru-buru dia mengalihkan pandangannya ke arah Riko seraya berkata, “Terimakasih,” dan mengagukkan kepala.


“Hah …” Riko bingung, matanya menatap Arlan yang tetap tenang dengan tatapan lurus kedepan, “a…a… iya…” menjawab dengan gugup.


“Kamu yang kemarin kan? Temannya Sarah,” Tanya Riko kemudian, setelah ia dapat mengandalikan rasa terkejutnya.

__ADS_1


“Iya.” Arin menoleh ke belakang untuk menjawab pertanyaan Riko, setelah itu suasananya kembali sepi.


Rasa canggung tampak sekali digerak-gerik Arin, secara tidak sadar telapak tangannya terangkat menjangkau leher dan memberikan usapan di tempat itu. Dia mungkin menyadari bulu kuduknya berdiri, merasakan aura


dingin dari Arlan yang menatap tajam tampilannya, Dia suka sekali mengikat rambutnya.


Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka ketiganya telah sampai di lantai lima. Arin berpamitan sebelum berjalan keluar, menghalangi Riko dan Arlan yang juga akan keluar dari dalam lift. Sesuatu yang terjadi setelah kepergian Arin adalah tatapan dengan ekspresi aneh Riko yang ditujukan untuk Arlan. Yang dipandang dibuat risih sendiri hingga melontarkan pertanyaan, “Sepertinya ada yang ingin kau katakan?”


“Wah kamu sangat bermurah hati ya, tapi sayang dia ngga tahu.” Arlan menengus kesal, dia melengos begitu saja mengabaikan Riko yang sedang menunggu jawaban.


Arin diam mematung, bola matanya berputar mengamati sekeliling. Hilir mudik orang didepannya menunjukan kesibukan kerja yang bikin ngeri sekaligus takjub. Semua orang tampak sibuk meski hari masih pagi, merapihkan


set yang sudah terlihat bentuknya hingga menata peralatan untuk kebutuhan pengambilan gambar. Terlalu banyak orang dan mereka tampak propesional, menyisalakn dirinya yang awam mengenai dunia tersebut.


Arin merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, ini tentu bukan hal baik. Arin masih mengingat-ingat apa sebab dia berada ditempat itu dan Bayu menempati posisi teratas yang muncul dibenaknya. Pria tersebut begitu antusias dengan kabar yang dibawa Arin, sebuah kabar yang dianggapnya berkah yang dapat mendatangkan banyak pelanggan, tanpa harus mengeluarkan budget untuk promosi. Arin menggeleng pelan mengetahui reaksi sang bos.


Benar yang dipikirkan Sarah, dia lebih mengenalnya daripada diriku.


“Hei jangan berdiri disitu!” Teriak seorang pria, dia terbangun dari tempat duduknya hendak mengampiri Arin, “siapa kamu?” Tanyanya dengan kasar, meski Arin sudah menggeser tubuhnya.


“Saya Arin, kak Fara…” seolah sudah tahu dengan kelanjutannya, pria ini langsung memotong penjelasan Arin, “jangan berdiri seperti tadi, ngahalangin orang yang mau lewat.” Dia bicara dengan lebih santai tidak seperti awalnya, Arin merespon teguran itu dengan meminta maaf.


“Indah!” dia kembali berteriak, memanggil salah satu staf make up untuk bergabung, “Ini model bu Fara, cepat dandanin dia, lima belas menit lagi kita mulai.”


“Ucapan mas Hadi jangan diambil hati, dia sebenarnya bermaksud baik.” Keduanya sudah ada di ruang make up sekarang, hanya ada Arin dan Indah, suasananya pun lebih tenang, membuat mereka bisa berbicara dengan santai, “kami terbiasa kerja cepat, berjalan sudah seperti berlari, kaya atlet saja dan kadang ngga lihat kanan kiri. Kalau sampai ketabrak orang yang bawa peralatan, bukan hanya proses produksi yang mundur, kamu juga harus bertanggung jawab.” Arin menggidik ngeri mendengar penjelasan dari Indah.  Melihat berbagai peralatan berukuran besar dan canggih, Arin merasa harus menguras seluruh tabungannya jika hal itu benar terjadi.


Bisa langsung bangkrut dalam semalam.


Indah tersenyum geli melihat perubahan wajah Arin yang pucat pasi, meski demikian tangannya tidak terpengaruh sedikitpun, begitu telaten memoles wajah Arin.


Kembali ke Studio Photoshoot yang menjadi sedikit riuh setelah kemunculan Fara. Beberapa kru menghampirinya untuk sekedar menyapa hingga menjelaskan sudah sejauh mana persiapan yang dilakukan. Sifat perfeksionisnya, kerap kali membuat Fara tidak betah hanya duduk-duduk di ruang kerjanya, sesekali ikut pulalah dia menyaksikan proses photoshoot untuk memastikan semua berjalan dengan lancar. Meski dikenal tegas dan cerewet, kru yang bertugas tidak terpengaruh oleh keberadaan Fara, berbeda dengan kehadiran sosok lain di tempat itu, dia yang membuat seorang kru menghentikan aktivitasnya yang sedang memegang reflector. Perempuan ini berbisik ke orang yang ada disampingnya, hingga membuat dia tidak dapat mengatupkan mulutnya karena terkejut.

__ADS_1


Fara tidak perlu bertanya untuk mencari tahu, dia sudah tahu jawababnya dengan mengikuti arah pandangan yang ditujukan pada dua pria tampan yang berdiri di depan pintu masuk.


__ADS_2