
Sarah menghela napas berat, rasanya dia begitu bosan hingga sulit untuk fokus dengan penjelasan teman-teman yang sedang melakukan presentasi di depan. Pandangannya kemana-mana hingga terjatuh pada tas yang tergeletak di lantai. Dengan hati-hati diambilnya ponsel dalam tas, iseng menge-chat Arin dan tanpa diduga cepat mendapat balasan.
“Tumben, lagi apa?”
“Lagi bosen, kamu lagi apa?”
“Lagi nunggu ojek.”
“Lho… mau bolos ya…”
“Dosennya ngga ada, padahal sudah izin mas Bayu…”
“Ya udah ngga usah ke bengkel, main sama aku aja,”
“Kamu kan ada kelas?”
“15 menit lagi aku keluar…”
“Oke tunggu di depan ya…”
Dengan hati-hati, Sarah berusaha mengembalikan ponsel ketempat semula. Namun sebelum dia bisa menyelesaikan semuanya, Rio lebih dulu menangkap basah. Sedetik kemudian tatapan tajam Rio berubah sendu saat mendapati orang yang didepannya ini hanya bisa cengengsan seraya melanjutkan aksi yang sempat terhenti, “Huh” Pria yang masih kesal ini menghembuskan napas, kemudian kembali melanjutkan penjelasannya.
Menunggu dicuaca terik begini, tentulah sangat menyiksa, apalagi jika yang ditunggu tidak kunjung datang.
Beberapa kali Arin mengusap peluh yang bertengger di dahi dengan punggung tangannya. 5 menit, 10 menit, 15 menit… “Huh…” Lima belas menit yang dijanjikan Sarah hanya bualan semata, sudah lewat setengah jam dan yang ditunggu tidak juga menunjukan batang hidungnya. Menunggu dibawah pohon pun tidak banyak membantu, minggu lalu dahan-dahan yang mengelilinginya dipangkas, cukup banyak sehingga bagian sisi tertentu tampak gundul
Suasana kampus yang cukup ramai juga membuat Arin tidak betah berlama-lama berdiri di depan gerbang
masuk. Penyebabnya adalah orang-orang yang hilir mudik, memandang bingung kearahnya. Mereka yang mengenal Arin menyapa sekenanya, selebihnya hanya melewatinya saja.
“Kalau tahu akan begini, seharusnya aku menunggu di kantin saja.” Selesai berucap, bayangan minuman
segar mampir dipikirannya. Tiga buah es batu saling bertumpu di dalam gelas kaca, bongkahan es-es itu kemudian menari saat cairan berbuih menerpanya hingga memenuhi gelas. Tangan Arin meraih gelas, setegak ia meminumnya, ‘nyesss…’
“Maaf Nona…” Suara bersahaja membuyarkan lamunannya, Arin menatap wanita setangah baya ini seraya menelan liur.
“I…i… iya ada yang bisa saya bantu Bu?” Tanya Arin dengan terbata, dia sempat mengalihkan pandangan ke
gadis muda yang berdiri disampingnya,
sepertinya mengantar anaknya… gumam Arin.
Sepasang ibu dan anak ini pun berjalan masuk ke dalam gedung, mengikuti arahan Arin menuju ruang pendaftaran mahasiswa baru.
__ADS_1
“Hah sudah masuk ajaran baru ya…”
Arin mengalihkan pandangan keseberang jalan, tampak beberapa gadis saling berpegangan tangan, bersiap untuk menyebrang. Mereka tampak imut dengan seragam sekolah, salah satunya menggunakan seragam dari sekolah Arin dulu.
“Ngga kerasa waktu berjalan begitu cepat, rasanya aku rindu pakai seragam lagi …” ucapnya dengan
terisak yang dibuat-buat.
“Arin…” seru Sarah dengan napas yang tengah-engah. Dia berlari menuju gerbang menghampiri Arin yang tengah menyenderkan punggungnya ke dinding pagar.
“Lamaaaa, katanya 15 menit.” Menujukan wajah kesal.
“Maaf… maaf… Rio lagi jelasin aku ngga bisa pergi.”
“Jadi… kita mau kemana?”
“Ke kantornya kak Alan aja gimana?”
“Ngga ah…” Kini Arin memperlihatkan wajah gusar. Mendengar nama itu disebut, nyalinya menciut
“Masih takut saja sama kak Alan, dia kan bukan drakula, vampir, pocong… ngga usah takutlah…”
“Aku bukannya takut, cuma… segen…” jawab Arin ragu.
“Kenapa harus ke sana?”
“Aku mau coba produk baru QS, mereka membuat lip tint dengan 12 warna baru.”
“Aduh kamu ribet benget sih…”
“Ayo Arin… ayo Arin…” Ucap sarah sudah seperti pemadu sorak, tangan kecilnya menempel di punggung Arin
untuk selanjutnya memberikan dorongan.
“Makasih ya pak…” menyodorkan beberapa lembar uang, taksi itu pun melaju membelah jalan.
“Batalin aja yuk, perasaanku engga enak…” pinta Arin tiba-tiba dengan wajah memelas.
“Jangan dong, sayang sudah sampai sini…”Wajah Sarah tak kalah memelas
Arlan hendak masuk kedalam lift saat tidak sengaja dia menoleh ke samping dan dilihatnya Sarah dan Arin.
“Baru datang…” Tanya Arlan seraya melihat ke jam yang terpasang di tangannya, setelah itu melirik kearah Arin seperdetik. Yang dilihat merasa gugup lalu menjawab tanpa ditanya, “saya diajak Sarah,” ucap Arin spontan dengan senyum yang dipaksakan.
__ADS_1
“Aku yang ajak, kakak ngapain disini?”
“Baru ngantar klien…”
“Orang penting pasti, kakak sampai mengantarnya ke lobi…”
“Kamu langsung ke ruangan Kakak saja,” perintah Arlan enggan menanggapi ocehan yang akan panjang nantinya.
“Nanti aja ya lihat-lihatnya, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?”
“Kalian saja, aku mau…”
Sebelum Arlan menyelesaikan ucapnnya, Sarah lebih dulu merangkul lengan Arlan dan Arin untuk mengajak
keduanya ke kantin, membuatnya malu seketika ketika setiap mata tertuju pada mereka bertiga.
“Ayolah, kakak juga butuh makan, lagi pula ini kan jam makan siang.”
“Bagaimana kantor kakakku ini keren kan?”
“Iya…” Bingung. Arin mengambil gelas, meneguk isinya dan menaruhnya kembali di atas meja dengan hati-hati.
“Siapapun calon isteri Kak Alan nanti pasti sangat beruntung, dia tidak akan membuatnya hidup susah,” Arlan yang sedang menyeruput minumannya tersedak mendengar promosi yang begitu kentara.
“Aish, hati-hati Kak. Baiklah kalah begitu aku mau pesen camilan dulu ya.”
Arin beranjak bangun dari tempat duduknya, namun lengan Sarah lebih cepat meraih pundak Arin dan menyuruhnya untuk duduk kembali.
“Kamu disini saja, biar aku pergi sendiri, kamu mau apa?”
“Apa aja…” jawab Arin pasrah.
“Oke…” Sarah bergegas pergi dan masih sempat melirik kearah Arlan sambil tersenyum jahil. Arlan hanya bisa menggeleng tidak mengerti dengan kelakuan adiknya itu.
Suasananya menjadi sepi tanpa kehadiran Sarah. Arin hanya bisa meremas tangan di bawah meja, kepalanya
sedikit menunduk tidak berani memandang orang yang ada didepannya. Sementara Arlan memandang kearah yang bisa menimbulkan prasangka. Tampak di meja sebrang seorang karyawan perempuan yang sedang menyantap makan siang dengan temannya menjadi salah tingkah, sesekali dia senyum-senyum sendiri seraya memukul pelan tangan temannya. Pandangannya tidak lepas dari pria tampan yang sedang melihat kearahnya tanpa berkedip itu, tanpa tahu siapa dia sebenarnya. Arlan tentu tidak sedang tebar pesona apalagi menggoda, dia sedang berpikir, otaknya tengah mencari topik yang sekiranya akan menarik untuk dibicarakan.
“Otomotif mungkin akan menarik untuknya namun tidak untukku, tentang bisnis … aku bersemangat hanya
mungkin dia akan bosan…”
Dalam pikirannya dua topik itu saling beradu argumen, masing-masing menyatakan diri yang paling menarik, tidak ada yang mau mengalah. Suara langkah kaki menyeruak di telinga, lamunan Arlan terhenti saat dua orang berjalan menghampiri mejanya. Satu diantaranya kemudian menyapanya yang bertahan dalam posisinya itu, sejak lima
__ADS_1
belas menit lalu.