
“Arin!” Teriakan cempreng memenuhi ruangan, dan perempuan yang tengah membungkuk ini hanya menjawab, “Hmmm.” Tanpa menoleh, dia sudah tahu jika pemilik suara itu adalah Sarah. Selain sudah terbiasa dengan suaranya yang khas, hal yang sering dilakukan Sarah saat pertama kali bertemu adalah meneriakkan namanya.
“Kau sepertinya sibuk…” Sarah sudah berdiri di sisi kirinya dan tangan Arin masih sibuk mengganti air radiator.
“Sebentar ya, sedikit lagi selesai…”
Alangkah terkejutnya perempuan ini, saat dia mengangkat kepala. Bersama Sarah muncul pula sosok yang sebenarnya enggan untuk bertemu.
“Sarah, ada apa tiba-tiba?” Tanya Arin dengan agak berbisik.
“Aku kan memang sering datang kesini, kenapa kamu heran begitu?” Tanya Sarah tidak mengerti.
“Bukan kamu, tapi…” Arin sengaja tidak melanjutkan kata-katanya. Mulutnya tertutup tapi matanya yang tertuju pada sosok yang tangah melihat-lihat spare part. Sorot mata Arin seolah mengisyaratkan “Kenapa datang dengan kakakmu?” Arin sudah tidak heran, jika Sarah datang ke bengkel tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu, namun tidak dengan Arlan, ini pertama kalinya dia melihatnya di sana.
“O aku datang dengan kakak karena mau servis, kamu tahu kan aku belum bisa bawa mobil sendiri.”
Arin menautkan kedua alisnya, menarik lengan Sarah untuk sedikit menjauh.
“Kamu sedang tidak memanfaatkan kakakmu kan?” Bisik Arin, sesekali matanya mencuri pandang pada Arlan yang kini memasang muka masam. Beberapa detik lalu kakinya melangkah mendekati Sarah dan Arin, namun keduanya justru memperlebar jarak dengannya.
“Ngga, justru ide untuk servis datang dari kakak, tempatnya juga dia pilih sendiri, sepertinya dia benar-benar menyukaimu,” Ucap Sarah cekikikan sukses membuat lipatan besar di dahi Arin. Tersadar telah melakukan kesalahan, Sarah refleks menutup mulutnya dengan tangan, “emmm maksudku menyukai pekerjaanmu, waktu itu
kan kakak kasih tip, kamu memang hebat Arin,” menghela napas berat. “Huh hampir saja ketahuan,” gumam Sarah seraya memukul pelan bibirnya.
__ADS_1
“Kenapa bibirmu?”
“Ngga kenapa-napa,” menjawab sekenanya.
“Oke, kalau begitu mari kita lihat mobilnya.” Ucap Arin dengan canggung, membuat Arlan berjalan menuju mobil merah yang terparkir. Langkahnya berhenti sebentar saat posisinya sudah sejejar dengan Sarah yang mengikuti Arin dari belakang.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Arlan seraya meletakan tangan di kepala adiknya, sukses membuatnya berhenti berjalan. Jika sebelumnya Sarah senang dengan sikap lembut kakaknya itu, sekarang dia ngeri sendiri, ingin rasanya dia menampik tangan yang tengah menepuk-nepuk pelan kepalanya.
“Biasa, urusan perempuan,” jawab Sarah dengan terbata seraya menyengir kepadanya.
Apa maksudnya dengan urusan perempuan? Pikir Arlan seraya menghela napas berat. Sejak kejadian kemarin, Arlan jadi sering parno saat Sarah dan Arin sedang berdua saja, takut adiknya itu bicara yang tidak-tidak tentangnya, mengingat sifat buruk Sarah yang tidak telaten dalam menjaga mulutnya. Seharusnya dia bisa
menahan diri seperti yang biasa ia lakukan, kalau bukan karena tidak sengaja mendengar namanya disebut mungkin dia tidak akan sepenasaran ini hingga harus bertanya hal-hal ajaib kepada Sarah.
Mendengar itu Sarah berusaha menelan bongkahan saliva dengan keras. Nasehat sang kakak sudah terdengar seperti ancaman buatnya. Ditambah mata menyelidiknya saat ini, sama seperti tatapan Sarah saat mencoba mencari tahu perasaan Arlan yang sebenarnya untuk Arin.
“Kau dengar itu, lebih baik berhati-hati mulai sekarang,” Sarah bicara kepada dirinya sendiri.
“Apa maunya kakak adik ini…” keluh Arin, matanya setia memandangi interaksi antara Sarah dan Arlan yang sedang terlibat percakapan kecil, berharap keduanya atau salah satunya mau menjelaskan apa yang harus dia lakukan. Dan Tuhan mengabulkan harapan Arin, Arlan berjalan menuju tempat Arin berada, akhirnya ada juga yang menyadari keberadaannya.
Sikap Arlan yang dingin cenderung resmi membuat Arin canggung sehingga bersikap formal pada kakak temannya ini.
“Mobil baru, belum diotak atik sedikit pun setidaknya sampai sampai di rumah,” Arlan menjelaskan, sedangkan Arin mengamati setiap detail dari bagian mesin, bergantian mengalihkan pandang kearah Arlan hingga membuat pria ini salah tingkah. Sarah yang berdiri diantara Arlan dan Arin hanya cekikian melihat pertama kali kakaknya itu begitu gugup dengan sesekali dia mengusap leher. Dia bahkan tidak pernah seperti itu saat
__ADS_1
berbicara dengan Jeanne, gadis cantik yang diidolakan banyak kaum Adam.
Arin membungkuk mengambil kunci di tanah. Benda itu terjatuh setelah secara tidak sengaja saat kulit Arin bersentuhan dengan jari Arlan, saat wanita ini mengambilnya dari tangan Arlan yang terbuka.
“Sepertinya masih bagus,” ucap Arin seraya keluar dari dalam mobil setelah selesai mengecek suara dan getaran, “karena masih baru tentunya he he he,” berusaha melucu tapi yang didapatinya wajah tanpa ekspresi. Arin betul-betul tidak bisa berbicara nyaman dengan Arlan. “Mungkin hanya perlu ganti oli dan ada lecet.”
“Oh iya bagian depan tergores, tipis tapi lumayan panjang. Siapa yang akan bertanggungjawab, apa kamu juga?” Tanya Arlan kemudian, dia sempat melupakan bagian itu.
“Bukan, ini tugas pacarnya Arin,” jawab Sarah dengan sedikit berbisik namun begitu nyaring terdengar di telinga Arlan. Pandangannya langsung tertuju pada Arin, perempuan ini hanya diam saja, meski menunjukan wajah terkejut dalam merespon ucapan Sarah yang bermaksud menggodanya.
“Winar!” Panggil Sarah membuat lelaki yang sudah selesai melayani pelanggan itu membalikkan badannya dan berjalan mendekat.
“Ada apa?” Pandangan Arlan kemudian beralih pada pemuda ini, dia tampak muda mungkinkah pria ini yang dilihatnya waktu itu…
“Winar coba lihat bagian samping, dari sini sampai ujung sana tergores… sepertinya seseorang mengerem dengan terburu-buru,” ucap Arin seraya melempar senyum ke arah Sarah. membuatnya menyembunyikan wajah di bahu Arin sembari menoleh ke arah kakaknya dengan takut. Sejenak pikirannya kembali ke saat dia belajar menyetir dengan Arlan, “pasti karena itu…” gumamnya.
Arlan tidak bisa lagi fokus dalam pembicaraan soal mobil, otaknya teralu sibuk dalam mencerna ucapan Sarah, banyak pertanyaan namun tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Winar kemudian menggeser tubuhnya, membuat jarak dengan Arin menyempit. Terlihat biasa sebetulnya, pria ini mendengarkan setiap penjelasan dengan sesekali menganguk tanpa mengerti hanya saja ekspresi yang muncul kemudian jelas menyimpan ketertarikan, dari sorot matanya yang berbinar dan tidak berhenti memandang Arin dalam jarak dekat. Semakin dipikirkan Arlan
semakin kesal dibuatnya.
Arlan menegakkan tubuhnya, memilih bangku kayu panjang untuk duduk. Terdiam namun dengan tatapan menusuk. Ada sepasang mata yang memandangi dia dengan tatapan bingung, “Kenapa tadi dia memperingatkanku
dengan begitu kejamnya, apa yang dia lakukan sekarang bukannya seperti sedang memberitahu semua orang tentang rahasianya sendiri,” guman Sarah dengan mendesah pelan seraya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1