
2 Tahun lalu
Arin menumpang angkot melewati sebuah jalan menuju kampus, anak yang masih berseragam sekolah itu hendak mendaftar menjadi mahasiswi Jurusan Teknik Otomotif. Masa kecil Arin seperti anak pada umumnya, belajar dan
bermain untuk mengisi waktu. Namun ada satu kebiasaannya yang terbilang unik.
Di usia ke 9 tahun sang ayah mengajaknya ke bengkel, membuat Arin menjadi akrab dengan dunia otomotif, benar-benar sudah menjadi bagian dari dirinya, hingga bongkar pasang sepeda pun lebih menyenangkan
daripada bermain boneka. Mulailah dia menjalin pertemanan dengan para karyawan sang ayah, mereka dengan usia dan pengalaman jauh diatasnya, pun dia kerap mampir bengkel sepulang sekolah.
Di hari terakhir penerimaan mahasiswa baru, dia begitu gelisah. Sesekali ditengoknya jam yang terikat di pergelangan tangan, seraya mengutuki diri sendiri karena tidak menuruti perintah sang ayah untuk segera mandi dan berangkat, dibanding menyelesaikan pekerjaan memperbaiki sepeda motor pelanggan.
Pada siang hari biasanya kawasan ini dijejali banyak kendaraan, mulai dari motor hingga mobil yang lalu lalang. Lebar jalan yang tidak seberapa turut diperparah dengan digunakannya sebagian badan jalan untuk parkir
kendaraan, bagi hendak masuk toko, hingga kemacetan hampir tidak bisa dihindari. Semakin paniklah Arin, saat angkot yang ditumpangi belum juga bergerak, bukan hanya dia tapi juga pengemudi mobil di belakang angkot yang sedari tadi menekan klakson membuat bising.
Sang supir berusaha memutar kemudi ke kanan meski agak mustahil, dan memang tidak bisa. Seorang pria bertubuh tinggi besar keluar dari mobil SUV yang terparkir di depan, dia mendatangi mobil angkot seraya memaki. Dia marah karena mobilnya hampir terserempet. Sempat menatap pria yang kini memukul bagian depan bodi mobil, Arin kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, ada antrean panjang dan angkot yang dia tumpangi benar-benar tidak bisa bergerak. Otaknya berpikir antara menunggu atau turun dan jalan kaki. Sebenarnya jaraknya tidak
terlalu jauh, hanya butuh sepuluh menit, namun dia begitu lelah setelah sebelumnya sempat mengejar angkot.
“Bang saya turun disini saja,” ucap Arin dan supir angkot pun memperbolehkan setelah memperoleh uang. Dia meloncat dan memulai langkah dengan cepat. Bukan lagi berjalan, apa yang terlihat seperti sedang berlari.
__ADS_1
Langkahnya melambat saat dijumpai sebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan, seorang pria tampak mengusap peluh yang mengucur di kening dengan kasar.
“Mobilnya mogog ya Mas?” Pria ini menoleh ke sumber suara, tampak dia kesal dengan pertanyaan Arin. Matanya menatap tajam wanita yang berada disampingnya itu seperti berkata, “Tidak lihat apa? Sudah tahu mogog masih tanya, dasar anak kecil, ganggu saja.” Cuaca di siang itu memang sedang panas-panasnya, sehingga siapapun dapat dengan mudah kesal apalagi jika harus berada dalam situasi yang buat hati panas.
“Boleh saya lihat,” menawarkan diri dengan ragu, setelah tidak juga didapatkan jawaban.
Wajahnya serius, dia tidak sedang bercanda. Bayu pun mempersilahkan Arin untuk mengotak-atik mesin mobilnya. Tidak ada salahnya juga pikir Bayu, lagi pula sudah setengah jam benda itu hanya dia pandangi, tidak ada pula yang mau menolong meski keadaan lalu lintas cukup ramai.
“Coba distater,”
Bayu menurut saja, dia masuk ke dalam mobil. Senyum mengembang di wajahnya, setelah terbebas dari situasi yang menyebalkan. Bayu lantas meraih dompert di saku belakang celana.
“Wah kamu jago juga ya…” ucap Bayu dengan tersenyum ramah, sungguh berbeda dengan dia beberapa menit lalu, hanya diam dan enggan menanggapi, bahkan tatapannya seolah menyuruh Arin untuk diam dan pergi.
“Wah kamu juga tahu yang begituan.”
Arin menggeleng cepat, refleks tubuhnya mundur satu langkah ke belakang saat Bayu menyodorkan sejumlah uang. Bayu pun tersenyum, dimasukan kembali lembaran uang itu kedalam dompet, sebagai gantinya dia menyerahkan sebuah kartu nama.
“Tapi aku tidak terbiasa berhutang, apalagi hutang budi. Aku memaksamu untuk datang jika butuh apa-apa,” lanjutnya lagi. Arin meraih benda berbentuk persegi panjang tersebut dan membacanya lekat-lekat.Menawari pekerjaan akan jauh berguna, bukan hanya bagi Arin tapi untuknya juga, pikir Bayu.
“Tampak keren bukan? Tapi sebenarnya aku payah di bidang otomotif.” Pria ini adalah pemilik bengkel Meka, baru akan buka seminggu lagi. Buta soal otomotif tapi pandai mencari peluang usaha, begitulah Bayu memperkenalkan
__ADS_1
diri dengan bangga.
“Kalau orang sepertimu di Meka, aku pasti akan merasa sangat beruntung. Jika belum mendapatkan pekerjaan jangan lupa untuk datang padaku, dengan senang hati aku akan menerimamu.” Pernyataannya itu terdengar seperti Arin adalah aset yang berharga. “Aku percaya, pertemuan kita adalah takdir yang baik.” Lebih tepatnya mereka dipertemukan oleh sebuah nasib yang kurang menyenangkan.
Dan selalu ada hal menarik untuk disyukuri. Baru lima belas menit berkendara setelah meninggalkan bengkel, mobil yang kemudikan Bayu tiba-tiba mogok padahal saat dia berada di bengkel, mobil itu tidak kenapa-napa.
Sementara Arin, seperti yang diketahui dia terjebak macet saat sedang terburu-buru. Jadilah nasib pahit itu menjadi manis setelah keduanya bertemu.
Dengan terpayah-payah, akhirnya Arin sampai di kampus yang dia tuju. Sambil menunggu dipanggil, ia mengingat kembali rentetan peristiwa yang dialaminya hari ini. Ia lantas memasukkan tangan kedalam saku baju, hendak mengambil kartu nama dan memandanginya cukup lama. Ucapan manis bak seorang marketing produk tidak dipungikiri membuat Arin tertarik, meski diusianya kini tugasnya hanyalah belajar, dan tidak perlu khawatir mengenai biaya. Kedua orang tuanya pasti tidak akan keberatan membiayai hidupnya selama melanjutkan kuliah di universitas swasta. Ayahnya bekerja di bengkel sendiri, punya karyawan, jelas dia mampu, apalagi Arin
merupakan anak tunggal. Seperti yang sering dia dengar, “Kami bekerja juga untuk siapa.”
Meskipun demikian memiliki pekerjaan yang menghasilkan uang sangatlah menggiurkan.
“Mandiri secara finansial.” Arin terkekeh sendiri, orang yang duduk disebelahnya mungkin sudah mengira dia sudah gila.
“Keputusan yang tepat,” ucap Bayu seraya mengodorkan tangannya, mengajak bersalaman gadis yang dia temui untuk kedua kalinya itu. Dengan senang hati Arin menjabat tangan tersebut, dan tersenyum pula. Ya, disinilah Arin berada, di depan sebuah gedung berlantai dua dengan papan bertuliskan ‘Meka’. Arin sudah mengambil keputusan,
keputusan untuk tidak melepaskan kesempatan bekerja di bengkel Meka, dia ingin menjadi montir pro dan mandiri secara finansial.
“Tidak sulit untuk sampai ke sini bukan?” Akhirnya dia mengerti dengan apa yang dikatakan bosnya, tentang mudahnya menemukan bengkel Meka. Diantara banyaknya gedung-gedung yang berjejer di kawasan bisnis itu,
__ADS_1
hanya ada satu bengkel dan itu adalah bengkel milik Bayu, orang yang dia panggil dengan nama mas Bayu. Bengkelnya luas, lebih luas dari milik ayahnya.