Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 10 Lulus


__ADS_3

“Hei penghianat, disini kau rupanya,” melotot meski dengan nada bercanda. Mata Riko lalu beralih pada Arin, yang karena suaranya membuat dia mengangkat kepala yang dari tadi tertunduk, “kami sedang  berperang, tapi tuan muda malah asik ngobrol dengan nona manis ini.”


Apanya yang asik mengobrol, dari tadi kami hanya diam saja, gumam Arlan.


Peluncuran produk baru memang menguras energi dan Arlan juga tidak ada agenda untuk makan siang dengan


teman adiknya ini.


“So, kamu ngga akan ngenalin dia ke kami,” Goda Fara.


Arlan menelan bongkahan saliva dengan keras. Alih-alih menjawab, tangan Arlan meraih cangkir lalu menyeruput


cairan hitam yang berada didalamnya.


“Dasar pelit,”  mendengus kesal, menoleh ke arah Arin yang masih dalam diamnya, “kamu terlihat muda, apakah kita ada karyawan magang?” Tanya Fara kemudian.


“Oh bukan, Saya temannya Sarah, adik kak Arlan.”


“Wah bukan hanya wajahnya, suara kamu juga manis ya,” puji Riko, jurus maut sang playboy mulai dilancarkan. Meski terdengar seperti gombalan, Fara mengamini ucapan Riko begitu pula Arlan yang tanpa sadar mengaguk-anguk.


“Sarah bukannya masih kuliah ya?”


“Iya,” jawabnya singkat.


Fara menarik kursi kosong dan duduk disana, diikuti Riko yang mendudukan tubuhnya disamping Arlan. Fara yang duduk di kursi yang tadi diduduki Sarah, menyipitkan matanya menatap Arin, tubuhnya semakin mendekat membuat Arin menjadi tidak nyaman,


“Kulitmu bagus ya.” Perlahan telunjuknya bergerak menuju pipi Arin, “uyel…uyel…” dia tampak senang, berbeda


dengan Arin, meskipun demikian gadis ini hanya diam saja seakan kedua tangannya terikat kuat.


Dengan nada suara berat, Arlan mulai bicara, “Hey… kamu ini apaan sih, orangnya sampai takut gitu.” Dia yang duduk berhadapan dengan tempat duduk Fara, berusaha menarik bahu gadis ini untuk menjauhkannya dari Arin.


“Siapa namanya, sampai lupa tanya?”


“Arin…”


“Kuliah jurusan apa Arin?”


“Teknik otomotif.”


“Wah,” Fara dan Riko berucap berbarengan, “menarik …” ucap Riko menambahkan.


“Hentikan! Kalian sedang introgasi dia ya?” Arlan terdiam sejanak, tiba-tiba teringat dengan kata yang tidak asing. Dia seperti sedang mengulangi kalimat Sarah untuknya.

__ADS_1


“Sebentar…” Ide cemerlang baru saja melintas di kepala Fara, “Arin coba kamu berdiri!” Arin berdiri, “berputar!”  Arin berputar.


 “LULUS!” ucap Fara dan Riko bersamaan. Untuk kedua kalinya mereka kompak mengatakan kata yang sama, namun apa yang dipikirkan tidaklah sama. Menilik fisik Arin yang cantik dengan bentuk tubuh proporsional, bagi Riko dia telah lulus untuk menjadi calon gebetan, sementara Fara…


“Bagaimana jika Arin jadi model produk baru kita?”


“Ya ampun di meja makan pun masih membicarakan pekerjaan,” seru Riko malas, ingin rasanya di keluar dari sesuatu yang dari tadi sudah mencekik lehernya, namun sepertinya tidak semudah itu.


“Hei, tidak kah kalian lihat dia begitu sempurna untuk QS. Anak muda, energik, cantik, fresh seperti yang kamu mau Arlan.”


“Setuju..” Ucap Riko menimpali, membuat Arin semakin tersudut.


Aduh ada apa dengan kalian ini? gumam Arin. Mungkinkah ini jawaban dari pirasatnya tadi.


Arlan memandangi Arin yang tampak tertunduk lesu, perempuan ini sudah seperti paku yang tertancap di kayu saja, tidak bergerak meski tubuhnya berkali-kali dihantam palu.


“Jangan memaksanya,” ucap Arlan dingin. Air muka Arin berubah lebih cerah, bala bantuan datang.


“Tidak… aku tidak memaksa, hanya sedang minta pendapat…”


Selepas itu suasananya hening sejenak. Arin sudah seperti maling yang kepergok basah, seperti seorang tertuduh. Kini ada tiga pasang mata yang menatap tajam ke arahnya, mereka sedang menunggu dia membuka mulut.


Apa tadi pertanyaannya? Pikiran Arin semakin keruh. Ini bukan kali pertama dia harus mengambil keputusan dalam waktu yang singkat, tapi seorang Arin tidak pernah terbiasa.


“Hmmm sepertinya dia bingung, bagaimana kalau kita coba produknya dulu, kamu pasti suka,” ucap Fara seraya menoleh kearah Arlan lalu bertanya, “yang kau minta itu sudah ada belum?”


“Ada di ruanganku, baru saja datang…”


“Oke, ayo kita bergegas,” ajak Fara. Diraihnya lengan Arin dan mengajaknya untuk bangun…


Eh…eh ada apa ini, tidak bisakah kamu lakukan sesuatu, kamu benar-benar payah Arin.


“Ayo Arlan.”


“Makan dululah, kamu datang bukannya untuk itu...”


“Nanti saja, ini lebih penting,” Fara memang selalu bersemangat jika berhubungan dengan pekerjaan,


apapun itu akan dikesampingkannya dahulu, termasuk urusan mengisi perut.


“Hei boy, wake up…” panggil Fara kesal saat mendapati Riko yang masih duduk saat ketiganya sudah


berdiri.

__ADS_1


“Kalian saja,” menguap,“aku mau segelas kopi.”


“Terserah sajalah.”


Arlan memasukan tangan kirinya kedalam saku celana, dia berjalan santai mengikuti langkah dua perempuan di depannya. Mereka berjalan dengan lambat, sebab Fara yang setia menggandeng lengan Arin tidak berhenti bicara sepanjang perjalanan. Tidak jelas apa yang dibicarakan, dia tidak fokus mendengarkan. Matanya tertuju pada Arin


yang tampak tersenyum canggung, seraya beberapa kali mengangguk saat menanggapi Fara, tidak yakin apa dia mengerti atau tidak dengan apa yang didengarnya.


“Kita lihat mana yang cocok untukmu,” Fara melangkah mendekat meja, matanya awas meneliti setiap warna, “Arlan coba kamu pilihkan,” pinta Fara akhirnya.


“Aku?” Menunjuk dirinya sendiri dengan wajah heran.


“Ya, kita butuh pendapat pria.” Melempar senyum kearah Arin seperti meminta persetujuan, tidak, mungkin dukungan.


Arin memandangi lip tint yang berjejer rapi di meja, matanya tidak berkedip hingga Arlan mengambil salah satunya.  Lip tint berwarna coral kini sudah beralih tangan ke Fara, dengan telaten dia mengoleskannya pada bibir Arin.


“Wah cocok denganmu, Arlan lihat bagaimana hasil polesanku.”


Arlan melirik kearah Arin, membuat gadis ini spontan menarik ujung bibirnya. Buru-buru dia mengalihkan pandangannya kesembarang tempat, seolah tidak ingin Arin tahu  gugup yang dimilikinya saat itu.


“Baiklah kau diterima, mari berjabat tangan.”


*


Sarah mengernyitkan dahi, Kenapa ada kak Fara, gimana sih aku sengaja pergi biar mereka bisa mengobrol


berdua. Awalnya dia hanya melihat Arin yang tampak berjalan cepat untuk menghampirinya, seraya tergesa-gesa meletakakan kembali ponsel kedalam tas. Lalu kemudian dia dikagetkan dengan kedatangan Arlan dan Fara yang menyusul di belakang.


“Sarah, sepertinya kamu tidak senang melihatku?” Tanya Fara dengan nada pura-pura kesal.


“Ah…tentu saja tidak kakak cantik, mana mungkin aku tidak senang, aku kan penggemarmu, aku hanya lagi capek saja.” Jawabnya seraya menyunggingkan senyum tipis.


“Kamu kemana saja, kenapa tidak muncul?”


“Tadi aku sakit perut, mau ke atas sudah malas jadi menunggu disini saja.” Sarah terpaksa berbohong hanya untuk mendekatkan Arin dan kakaknya, melihat apa yang terjadi dia tahu  usahanya sia-sia.


 “Baiklah, hari ini cukup ya, kami mau pulang dulu…” ucap Sarah seraya merangkul lengan Arin untuk menjauh.


“Adikmu itu, kapan dia akan tumbuh dewasa…”


“Mungkin saat dia menikah, memiliki anak… atau mungkin…”


“Sudahlah, begitu juga bagus, setidaknya dia selalu membuatmu senang kan?” Fara meletakkan tangannya di bahu Arlan sebelum melengos pergi.

__ADS_1


__ADS_2