Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 13 Hujan


__ADS_3

“Gedung ini bernilai tinggi,” ujar pria paruh baya yang tampak rapi dan berkelas dengan setelan jas merek terkenal. Dibelakangnya berdiri empat orang pria berpakaian rapi namun tentu tidak semahal yang dikenakan pria bertubuh tambun ini.  Tahun berganti tahun dan usaha kosmetik yang digeluti Arlan telah jauh berkembang


“Tentu tidak bisa dibandingkan dengan gedung-gedung Orlan,” jawab Arlan dengan nada bicara yang tenang dan senyum tipis yang menawan.


Tawa keras menggelegar, membuat sakit telinga, “Ternyata pak Arlan cukup merendah juga, sungguh berbeda


dari berita yang saya dengar diluaran,” mereka sudah sampai di lift, “tidak perlu mengantar, sepertinya Anda sibuk,” lanjutnya lagi. Sesaat setelah Arlan menjabat tangannya, rombongan ini pun berjalan masuk.


“Dia tidak tertarik, kau mau aku melakukan apa?” Bisik Riko. Meski terdengar cemas, dia berhasil mempertahankan senyum mengembang di wajahnya. Sejurus dengan itu pria ini membalikkan badannya, “ngomong-ngomong saya menyukai ide Anda, pak Arlan…”


Cih ternyata suka bermain-main rupanya…


“Nona Wanda tolong siapkan dokumennya,” pinta Riko kemudian. Wanda sendiri tidak segera menuruti permintaan tersebut, sebaliknya dia mengalihkan pandangan kearah Arlan, seperti meminta persetujuan.


“Ini baru permulaan, kita perlu memastikan beberapa hal dulu…” Riko menelan saliva, matanya menatap tajam pria yang memasang wajah polos ini.


“Hei! Kau ini, tidak pernah sekalipun memberi kesempatan untuk dapat terlihat keren di depan sekretarismu itu,” ucap Riko dengan sedikit penekanan, sesaat setelah Wanda pamit untuk kembali ke ruangannya.


“Jangan ganggu dia, Wanda gadis baik-baik.”


“Aku juga pria baik-baik, hanya kamu saja pria jahat di sini.” Mendengus kesal, “oh ya Lan, ngomong-ngomong


mimpi apa kau semalam?” Tanya Riko sembari merangkul bahu Arlan.


“Oh sekarang kau penasaran dengan mimpiku?”


“Ada yang berbeda dari sikapmu hari ini, pertama kejadian di lift, kedua kau melupakan janji penting, apa kau sakit?” Tangan Riko terangkat menyentuh dahi Arlan dan pria ini hanya membiarkannya. Fokus Arlan teralih pada seorang gadis yang sedang berjalan dengan terburu-buru.

__ADS_1


“Tidak ada, aku baik-baik saja,” ucapnya seraya melangkah, menjauh dari Riko.


Biasanya Arin membawa payung sebagai persiapan jika tiba-tiba turun hujan, namun kali ini dia melewatkan benda


tersebut karena cuaca yang cerah dan hangat dipagi hari. Arin lupa jika akhir-akhir ini, cuaca menjadi sulit diprediksi, jadilah dia harus rela tertahan di tempat itu lebih lama. Telapak tangan Arin menyentuh lengannnya yang tidak terselimuti kain, dia yang ketika itu mengenakan kaos lengan pendek menjadikan udara dingin menerpa kulitnya dengan leluasa. Arin menengadakan kepala, memandangi setiap butiran air yang turun dari langit, hari semakin gelap dan tidak tahu kapan hujan akan berhenti.


“Ada apa diatas?” Tanya Arlan dengan  suara baritonnya, sukses membuat Arin melonjak kaget. Seraya mengelus dada, Arin menoleh ke pria yang sudah berdiri di sampingnya itu.


“Hanya air,” jawab Arin sekenanya, dia lebih sibuk memastikan jantungnya masih ada ditempatnya.


“Bukanya kamu buru-buru, kenapa masih disini?”


“Tadinya hanya gerimis, namun tiba-tiba turun deras,” jawab Arin diiringi tawa kecil, seperti menertawakan kebodohannya sendiri.


“Sepertinya akan lama, aku antar pulang,” Tanpa basa basi ia membalikan badan hendak pergi ke arah parkiran.


Arin mengkerut, “Ti… Tidak perlu Kak, saya bisa naik taksi di depan,” Dengan tergagap dia mencoba menolak sebuah pertolongan yang terdengar seperti sebuah perintah itu. Tapi Arlan tidak membutuhkan persetujuan,  dia teguh dengan niatnya untuk mengantarkan gadis ini pulang.


Dan situasi inilah yang paling dihindari Arin kala harus berdua saja dengan seorang pria. Saat ini pikirannya menjadi begitu liar, membayangkan berbagai hal buruk yang mungkin akan menimpanya. Dilirik suasana jalanan dari balik kaca, ramai meski sudah malam, apa itu berarti dia aman? Tangannya mencengkram kuat saat berbagai adegan dalam film thriller yang pernah dia tonton bermunculan di otaknya. Tapi sebentar, orang ini adalah Arlan Darda Sutata Putra, seorang pria tampan, sukses dan dingin sedingin es batu, dia pasti tidak akan tertarik dengan bocah yang baru belajar merangkak. Pria ini bahkan hanya fokus menyetir, tidak bicara ataupun menoleh ke mana-mana, sama persis saat Arlan mengantarnya pulang terakhir kali. Padahal bukan yang pertama, tapi Arin tetap saja parno. Arin baru bisa bernapas lega saat mengingat kembali siapa orang yang memberinya tumpangan itu.


“Kenapa?”


“Hah?”


“Kenapa menghela napas?”


“Bukan apa-apa…” Terdiam sejenak, Arin kembali membuka mulutnya saat teringat sesuatu, “Kak Arlan…” Panggil Arin.

__ADS_1


“Apa?”


“Terimakasih buat yang tadi…”


“Yang tadi itu apa?”


“Soal kostum…”


Jadi anak ini memang ngga nyaman dengan pakaiannya, mendengus, benar-benar tipe orang ngga enakan ya.


“Aku takut kau akan pingsan.” Jawab Arlan dengan santai, matanya hanya fokus menatap ke depan.


Arin terekeh, “Apa terlihat begitu menyedihkan? Sebenarnya, bajunya tidak terlalu ketat sehingga saya sulit bernapas. Hanya saja sulit sekali untuk berjalan, mungkin karena tidak terbiasa menggunakan gaun seperti itu…” Buru-buru dia menjelaskan kondisinya, takut Arlan kembali membuat kesimpulannya sendiri.


“Kau hanya membuat hidupmu susah dengan sikap seperti itu.”


Heh, kenapa jadi menyumpahiku.


“Bukankah itu berarti kamu punya masalah dengan bajunya? Tapi dari tadi penjelasan kamu muter-muter, ujung-ujungnya berakhir menyalahkan diri sendiri. Kalau merasa tidak nyaman, tidak apa-apa bilang saja, apapun itu, terutama pada Fara. Pada dasarnya dia memang suka maksa namun tidak otoriter apalagi anti kritik, Fara masih bisa menerima masukkan, asal masuk akal.”


“Ya kak, saya akan berusaha,” ucap Arin seraya mengaguk lamat-lamat.


Arlan menoleh sepedetik, menangkap sekilas Arin yang menggelembungkan kedua pipinya. Jari telunjuk Arlan mengatuk-ngatuk pada permukaan setir, “Tapi saat tadi memakai gaun, kamu manis juga.” Arlan terhenyak, tidak menyangka kalimat itu meluncur bebas dari mulutnya dan yang membuatnya mengerutkan dahi lebih keras adalah respon yang ditunjukan Arin setelahnya.


“Iya kak, ada apa?”


“Apa?”

__ADS_1


“Kak Arlan tadi bilang apa ya, suaranya terlalu kecil saya …” Tanya Arin dengan teramat hati-hati.


“Lupakan saja, lagi pula saya tidak bicara sama kamu!”Arin terdiam, menelan saliva. Dia tidak mau memperpanjang pembicaraan ini. Dilihat dari wajahnya yang masam dan nada bicara dengan tekanan dimana-mana, jelas jika Arlan sedang kesal.


__ADS_2