Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 15 Terlambat


__ADS_3

Audy hitam meluncur mulus membelah jalanan yang cukup ramai, pada suatu siang. Baru lima belas menit meninggalkan parkiran kafe, kendaraan itu kembali berhenti, sang supir keluar dari dalam mobil berjalan menghampiri sosok tak asing yang tengah duduk jongkok di pinggir jalan. Hanya butuh beberapa langkah bagi Arlan untuk dapat menjangkau dia, dia yang belakangan lebih sering muncul di depan matanya, bukan hanya berseliweran di kepala saja.


“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan dingin, sontak membuat kepala yang sedari tadi tertunduk dengan cepat terangkat karena suara bariton yang terkadang terdengar horor di telinganya.


“Kak Arlan ada apa disini?”  Tanya Arin dengan terbata seraya beranjak berdiri.


“Untuk urusan ini dan itu,” jawab Arlan sekenanya.


“Oooh.” Meski yang sampai di telinga tidak menjawab pertanyaannya, Arin mengiyakan saja.


Hanya ‘oooh’  ya sudahlah.


“Bukannya sekarang ada photoshoot ya, kenapa masih ada disini?” Tanya Arlan lagi setelah pertanyaannya yang pertama tidak dijawab Arin.


“I…ya, ini saya mau order ojeg.” Arin gelapakan mengeluarkan ponsel dari saku celana.


“Kelamaan, bareng saya saja.” Tanpa basa basi Arlan langsung mengutarakan tujuannya dan tanpa menunggu jawaban Arin, pria ini berjalan menuju mobil yang terparkir. Arin menelan bongkahan saliva dengan keras, menyadari betapa seriusnya kalimat yang baru diucapkan Arlan. Kini dia merasa cemas jika tidak bisa menolak perintah itu lagi dan lagi.


“Kak Arlan…” Panggil Arin seraya sibuk mengibas-ngibaskan tangan, sementara langkahnya yang tidak beraturan bergerak cepat untuk menjangkau orang didepannya, “Kak Arlan…” panggilnya lagi dengan nada suara yang sudah terdengar jengah.


“Apa!” Seru Arlan dengan matanya yang menyipit tajam. Arin yang berdiri tepat dibelakang punggung Arlan, seketika terlonjak kaget saat tiba-tiba pria ini menghentikan langkahnya dan membalikan badan secepat kilat.


“Hah… benar-benar tampan…” Untuk beberapa detik perhatian Arin terfokus pada satu titik. Mata, hidung, bibir hingga telinga semuanya membentuk komposisi yang pas dalam bingkai wajah itu, tapi dari semunya Arin menyukai bagian rahang Arlan yang tegas. Meski diucapkan dengan sangat pelan, telinga Arlan agaknya begitu


sensitif dalam menangkap pujian spontan yang keluar dari bibir mungil Arin, senyum tipis nan menawan kini terlukis indah di wajah Arlan


“Motor saya gimana Neng?” Benak Arlan menyesak, terkejut dengan kemunculan pria yang dianggapnya tiba-tiba. Sejak didalam mobil matanya hanya tertuju pada Arin, dia tidak menyadari jika sedari tadi pria tua ini duduk besebelahan dengan Arin, memerhatikan gerak tangan gadis itu dalam mengotak atik mesin motor.

__ADS_1


“Oh sudah kok Pak,” jawab Arin seraya mengusap-usap lehernya.


Duh sampai lupa sama bapaknya, kasihan dari tadi nungguin…


Arin masih asik dengan pikirannya saat pria ini menyodorkan beberapa lembar uang ke hadapannya,


“Oh ngga usah Pak,” tolak Arin dengan ramah. Sempat bingung, pria ini mengganguk lugu, lalu memasukkan kembali lembaran uang yang sempat diambilnya dari dalam saku atas kemeja, ke tempatnya semula. Sepertinya dia membuat kesimpulan sendiri, saat melirik penampilan pria yang berdiri disamping Arin, pria tampan dengan setelan jas rapi, dia yang datang dengan mobil mewah.


“Saya juga sekalian ke kantor,” ucap Arlan membuat Arin kembali mengalihkan pandangannya ke pria ini, “lagi pula tidak baik datang terlambat untuk bekerja.” Tidak lagi memaksa, Arlan mengatur cara bicaranya menjadi lebih santai.


Masuk kedalam mobil, suasana dingin langsung menyeruak, lama-lama bukan merasa sejuk melainkan


menggigil kedinginan. Hari itu memang sedang panas-panasnya, tapi apa harus pasang ac sampai full begini, ingin protes pun tidak berani, ya sudahlah.


Mobil yang dikendarai Arlan melaju dengan kecepatan sedang bersama puluhan kendaraan lain yang menjejali jalanan dengan lebar yang tidak seberapa. Namun tiba-tiba muncul serombongan orang di depan, membuat Arlan dan pengguna kendaraan lainnya terpaksa menginjak rem perlahan, menit berikutnya mobil ini benar-benar tidak


bisa bergerak.


Arin sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, saat Arlan mencoba membanting setir kearah sisi kanan, “Sepertinya susah.” Jarak antara mobil Arlan dengan mobil sebelahnya terlalu dekat.


“Padahal tadi saya bilang biar ngga terlambat, tapi sepertinya kita akan benar-benar terlambat, sebentar saya telepon Fara dulu.”


Arin hanya diam, sebagai gantinya dia menganguk dalam memberikan respon.


“Kita ngga usah ke kantor, langsung ke lokasi saja, jaraknya lebih cepat dari sini.” Ucapnya sesaat setelah mengakhir panggilan telepon.


“Iya.”

__ADS_1


“Mundur pun sudah tidak bisa lagi,” Arlan memutar kepalanya, dan deretan mobil mengular dibelakang mobilnya menjadi pertanda jika mereka benar-benar terjebak ditempat itu, “terpaksa kita menunggu,” ucapnya lagi seraya melihat jam yang melingkar di lengannya.


“Ammm maaf ya kak, karena saya kak Arlan jadi telat ke kantor.” Ucap Arin seraya menggigit bibirnya, merasa bersalah.


“Saya malah lebih kepikiran kamu.”


“Saya, kenapa?”


“Bukankan kamu dapat banyak masalah karena kemampuan pose yang tidak juga meningkat, sekarang malah terlambat. Selesai sudah.” Jawab Arlan dengan wajah santainya, matanya masih setia pada ponsel mencari jalan alternative yang membuatnya bisa lebih cepat sampai.


Arin tertawa canggung mendengar kalimat yang diucapkan Arlan, dadanya terasa sesak dia membutuhkan banyak oksigen untuk bernapas.


Lama terdiam, Arlan kembali memulai obrolan dengan sebuah pertanyaan, sebuah pertanyaan yang membuat dahi Arin berpikir lebih keras.


“Ngomong-ngomong apa bedanya saya dengan bapak tadi?” Tanya Arlan menyelidik, diletakan ponsel di atas paha, sebagai gantinya dia menoleh ke samping, menatap wajah polos Arin yang menunjukan kebingungan.


“Saya tidak mengerti…”


“Kamu menolak uang yang ditawarkannya, tapi menerima uang yang aku berikan waktu itu,”


“Situasinya yang berbeda. Sebenarnya bapak tadi tidak bermaksud servis, saya yang menawarkan. Berbeda dengan Kak Arlan yang memang menghubungi saya langsung, itu sebabnya saya tidak bisa mengambil uang itu.”


“Apa pantas mencemaskan orang lain saat masih harus mencemaskan kehidupanmu sendiri, tidaklah itu sangat merepotkan? Kita bukan badan amal, masih banyak yang harus dilakukan selain hanya merawat orang lain secara gratis.”


“Bukan… tentu saja bukan, yang saya lakukan… apa namanya ya…” Arin terdiam sejenak, dia memutar bola matanya ke atas sebelum kembali bersuara, “tanggung jawab profesi. Tidak bisa dianggap sama tapi jika saya mengambil contoh, situasinya seperti seorang dokter yang tiba-tiba mendapati seseorang yang membutuhkan pertolongan medis saat dia sedang tidak tugas di rumah sakit, lalu apa dia meminta bayaran? Saya rasa tidak.”


“Lalu tanggung jawab sebagai seorang pengusaha apa? Apa saya harus meningkatkan penjualan setiap pedagang yang saya temui.” Dan kini Arlan turut terbawa dalam obrolan Arin.

__ADS_1


Arin mengutas senyum lembut seraya mengangkat bahu, menyiratkan jika dia juga tidak tahu. Tapi bagi Arlan senyuman itu sangat indah hingga membuatnya salah tingkah.


“Saya bayar pajak, nilainya sangat besar…” ucap Arlan kemudian.


__ADS_2