
Seorang gadis berdiri di pinggir jalan, matanya awas memandangi lampu lalu lintas bernyala hijau. Angin yang berhembus lembut tidak hanya membuat bulu kuduk berdiri namun juga memainkan rambut panjang yang
tergerai. Diambilnya ikat rambut dari dalam tas dan saat yang bersamaan lampu lalu lintas berganti merah. Dengan setengah berlari Arin bergegas menyebrang jalan, seraya mengikat rambutnya.
“Yah masih kurang pagi ternyata, sepertinya aku harus berangkat subuh...” ucap Arin dengan nada kecewa saat mendapati Winar sedang menyapu lantai.
“Kamu datang pagi sekali, memangnya tidak kuliah?”
Tidak berbeda dengan Arin, pria ini juga menampakkan kekecewaannya atas kedatangan seseorang yang tidak diharapkannya hari itu.
“Ada, nanti siang…”
Bola mata Winar bergerak ke atas, dahinya berlipat keras. Dia kembali mengingat apa yang dikatakan Bayu kemarin. Mencoba menemukan bagian, saat bosnya itu mengatakan jika Arin datang pagi dan izin setengah
hari, namun hasilnya nihil.
“Apa ada yang terlewat dari ucapan si Bos…” Berbicara sendiri seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Ada apa?” Tanya Arin yang sudah siap dengan seragam biru yang menjadi andalannya saat bekerja.
Winar menghela napas pendek lalu menjawab, “Tidak ada. Oh iya baru datang kamu sudah ada kerjaan.”
“Pagi-pagi gini sudah ada yang datang?”
“Biasalah, Gani…” Jawab Winar dengan muka masam. Awalnya Winar yang yakin jika Arin tidak akan datang, berniat untuk menjahili Gani dengan menyuruhya menunggu saat dia bertanya mengenai keberadaan gadis tersebut. Namun apa yang terjadi selanjutnya, tentu akan membuatnya kapok untuk mencoba berbohong lagi.
“Orangnya mana, kok ngga kelihatan?”
“Ngga tahu, kamu kalau cari cowok jangan yang seperti itu, suka hilang ngga jelas…Sebaiknya kamu buru-buru beresin, semoga saja sudah selesai waktu dia datang, jadi bisa langsung pergi.” Tidak ada guna menyalahkan keadaan, lebih baik membuat mereka tidak bertemu.
Sesaat setelah Winar menyelesaikan ucapannya, datang seorang pria dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Dialah Gani, orang yang dari tadi menjadi objek pembicaraan.
“Aku beli latte khusus buat kamu. Diminum ya, selagi panas.”
Arin melirik sekilas dan berkata, “Kau tidak perlu seperti ini, membuatku jadi tidak enak…”
__ADS_1
“Kopinya enak kok…”
“Ah…Bukan itu maksudku…”
“Kenapa sungkan, kalau bisa aku ingin melakukannya setiap hari.” Meski agak terkejut, Arin tersenyum sedikit pada pria ini. Memalingkan wajah dengan cepat untuk kembali pada apa yang ada di hadapannya.
“Fokus saja dengan pekerjaanmu Arin…” gumamnya
Gani lalu meletakan cangkir di atas meja, selanjutnya ia menghujani Arin dengan pujian yang kerap dilontarkan, tentu saja dengan tidak lupa memberikan senyuman termanisnya. Di sisi lain ada Winar yang memandang sinis, sesekali dia menjulurkan lidah seperti ingin muntah. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya tapi di dalam hati dia mencela setiap kata yang keluar dari mulut Gani dalam merayu sang gadis pujaan. Dibandingkan Winar, Gani
memang lebih berani dalam menunjukan perasaannya walau sampai saat ini belum juga mengungkapkannya secara langsung, namun dari setiap tindakan, ucapan hingga sikap sudah menunjukan bagaimana dia menginginkan Arin.
Setelah Gani pergi, bengkel kembali sepi, dua orang yang datang berurutan hanya untuk membeli suku cadang.
“Sudah berangkat sana, bukannya ada kuliah…” Ucap Winar yang dari tadi memerhatikan Arin yang tampak gelisah memandangi jam dinding dengan jarum jam yang sudah menyentuh angka 11.
“Kamu ngga apa-apa sendiri,” Menatap rekan kerjanya ini tidak tega, “mungkin aku ngga balik lagi, ada kelas sore…” Tiba-tiba teringat kejadian lima hari lalu, dimana dia begitu kewalahan saat bengkel ramai dijejeli pelanggan dan ketika itu ada tiga montir.
“Tadi aku telpon Ahmad dia lagi di jalan. Sudahlah kamu pergi aja, nanti telat, aku juga yang berasa bersalah…”
“Aku pergi…”
“Iya belajar yang rajin …” teriak Winar yang direspon Arin dengan mengangkat
tangannya yang melambai.
*
“Lihat apaan sih?”
Tidak langsung menjawab, yang ditanya mengusap dada sebagai respon pertama yang umum dilakukan saat seseorang tiba-tiba muncul di belakang punggungnya. “Aduh… kamu ini ngagetin aja…”
“Kamu, aku panggil-pangil dari tadi ngga nengok. Apa yang kamu lihat sampai lupa berkedip begitu …” Arin meletakan botol minum diatas meja kayu dan duduk disamping Sarah.
“Itu orangnya,” Ucap Sarah dengan wajah tersipu malu, sementara tangannya menunjuk ke arah sekumpulan
__ADS_1
pria yang duduk bersebrangan dengan tempatnya mengawasi dari kejauhan.
“Siapa?” Arin menajamkan matanya, mencoba mencari orang yang sekiranya dia kenal
“Pandu… cowok paling pupuler yang sering aku ceritain itu…” Kata terakhir yang
diucapkan Sarah, membuat Arin tersadar. Akhirnya dia mengerti sebab temannya ini tidak bergeming saat dipanggil tadi. Pandu… belakangan nama pria ini bergitu akrab ditelinganya, bagaimana tidak seperti kebanyakan orang yang sedang dilanda kasmaran, Pandu pun begitu mendominasi obrolan diantara keduanya, Sarah tidak pernah
bosan, meski kerap kali mengulang hal yang sama, karena pada dasarnya tidak banyak yang dia tahu.
“Oh yang kamu taksir,” menoleh ke samping sebelum kembali menatap ke depan, “Yang mana sih?” tanya Arin seraya menggaruk kepala yang tidak gatal. Rupanya dia masih belum menemukan pria yang dimaksud Sarah, terlalu ramai.
“Itu yang paling ganteng, yang pakai kaos biru,” jawab Sarah seraya menunjuk dengan bibir, “hah Panduitu ganteng banget pakai baju biru…”
“Bukanya kamu bilang dia genteng kalau pakai kaos warna hitam,”
Dia diam, berpikir sejenak kemudian memutar kepalanya ke samping. Sudah hilang senyum dibibirnya, “Dia genteng pakai baju warna apa saja…” Seru Sera dengan penuh penekanan.
“Yey jangan nyolot dong, aku hanya bilang yang kamu yang bilang…” Protes Arin, “ngomong-ngomong kamu mau disini sampai kapan?”
“Sampai Pandu pergi…”
“Memangnya ngga jadi masuk kelas ….”
Mata Sarah terbelalak, dilihatnya jam di pergelangan tangan.
“Arin…” Teriak Sera, “Kenapa baru bilang…”
“Menurutmu kenapa aku cape-cape nyamperin kamu, ya mau bilang itu. Kamu sih ngajak ngobrol, jadi lupa deh,” jawab Arin dengan volume yang semakin kecil.
“Aduh kalau yang boleh masuk gimana?” Tangan Sarah bergerak cepat memungut bungkus snack yang
tercecer di meja kayu, tak lupa diraihnya botol air mineral yang baru berkurang setengahnya.
Sarah mendengus kesal saat Arin mengangkat kedua bahunya. Ia bergegas bangun dan bersiap berlari pergi,
__ADS_1
hendak naik ke lantai dua dengan terseok-seok dan hilang dibalik dinding. Selepas kepergian Sarah, Arin duduk sendirian pandangnnya kembali teralih pada kerumunan pria yang masih betah berbincang-bincang seraya berkata, “Pandu itu yang mana sih?” tanya Arin bingung, saat didapatinya dua orang pria menggunakan kaos biru.