Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 16 Terpikir Sarah


__ADS_3

Selang beberapa saat mobil yang dikendarai Arlan sudah bisa bergerak, bersama puluhan kendaraan lainnya. Polisi lalu lintas yang datang kemudian, langsung mengurai kemacetan. Si hitam pun dapat bergerak mulus setelah sempat tersendat di beberapa titik. Arin memutar kepalanya ke kiri, setelah mobil melewati kerumunan orang.


“Ada apa?” Tanya Arlan dengan mata yang tetap fokus ke depan.


“Tidak tahu, mungkin kecelakaan, tapi sepertinya tidak serius.” Jawab Arin dengan ragu.


“Aish jangan dilihat!” Perintah Arlan dengan nada setengah tinggi, dia bergidik ngeri. Arin melipat bibirnya, refleks memutar kepala ke depan. Agaknya Arin lebih kaget dengan reaksi yang ditunjukan Arlan daripada pemandangan di luar jendela. Suasana di dalam mobil pun kembali lengang.


Dua menit lamanya terdiam, Arin teringat sesuatu, tergesa dia mengambil ponsel di dalam tas, yang diletakkan di pangkuannya. Hembusan napas terdengar begitu berat saat dia menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.


“Kenapa?” Tanya Arlan sembari menoleh ke samping, setelah itu kembali fokus menatap ke depan.


“Eh.. engga ada apa-apa…” jawab Arin dengan terbata.


Namun Arlan tidak lantas percaya, cara Arin melihat kepadanya seperti seorang yang sedang minta tolong dan jika diingat lagi wajah Arin sudah terlihat murung sejak dia menghampirinya di pinggir jalan tadi. Mungkin dia menghadapi masalah yang lebih besar dari sekedar photo session, pikirnya.


Arlan mengusap tengku kepalanya sembari melirik ke samping dengan malu-malu, dia sedikit merubah posisi duduk yang tadinya bersandar ke sandaran kursi menjadi posisi tegak sebelum kembali bertanya, “Sepertinya ada yang ingin kamu tanyakan?”

__ADS_1


Arin terdiam sejenak, lalu terucap, “Emmm Kak Arlan, apa Sarah baik-baik saja? Tanyanya ragu dengan tangan yang memegang erat ponsel dipangkuannya.


“Sarah? Kenapa kalian tidak saling menyapa?”


Arin mengangguk.


“Tanpa alasan?” Terbentuk lipatan di dahi, ketika kalimat itu meluncur dari mulut Arlan.


Dan lagi Arin mengganguk, sebagai jawaban atas pertanyaan Arlan.


“Aaaa… cukup rumit ternyata, akhir-akhir ini Sarah memang sedang sibuk sepertinya,” ucapnya dengan terbata, bola mata Arlan bergerak ke atas seperti sedikit mengingat, “apa ya… sedang ada kegiatan OSPEK kalau ngga salah bilangnya, kemarin saja dia pulang sehabis magrib. OSPEK memang banyak kegiatan ya,” lanjutnya lagi dengan diikuti tawa kecil, namun tawanya ini perlahan memudar saat melihat lawan bicaranya yang tidak ada respon. Suasana tertekan, membuat Arin sulit tersenyum setipis apapun itu, bahkan untuk senyum canggung yang sering diperlihatkannya saat menghadapi Arlan.


“Tapi Sarah menghindariku pasti kerena suatu alasan, sepertinya saya ada salah, tapi tidak tahu kesalahan apa…”


“Atau mungkin dia sedang iseng menggodamu. Menurut saya hal-hal seperti ini lumrah terjadi diantara kawan dekat, jangan terlalu terbebani.”


Arin mengangguk lemah, meski demikian otaknya masih disesaki banyak pertanyaan dan khawatir. Sudah dua minggu ini mereka tidak bertemu, mencoba terhubung lewat perangkat elektronik pun tidak bisa membantu, Sarah benar-benar mengabaikan chat WA hingga teleponnya. Pikir Arin jika memang tidak bisa bertemu karena

__ADS_1


kesibukan seperti yang dikatakan Arlan dan tidak ada masalah apapun, setidaknya Sarah mau bicara dengannya lewat telepon untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, bukan sekonyong-konyong menghilang tanpa jejak seperti ini. Sempat terpikir untuk meminta bantuan Arlan hanya saja dia tidak berani, tapi dia membutuhkan pihak ke ketiga yang dapat menjembatani komunikasi diantara dia dengan Sarah.


“Arin soal Sarah jangan terlalu dicemaskan, mungkin dia hanya sedang sibuk saja,” ucap Arlan saat keduanya sudah sampai di lokasi pemotretan yang disebutkan Fara di telepon, “sudahlah fokus saja dengan pekerjaanmu.” Refleks tangan Arlan terangkat menyentuh kepala Arin, membuat mata Arin seketika mengerjab, kaget juga dengan respon spontan Arlan kepadanya, namun dia hanya diam mematung, tubuhnya seakan menjadi kaku hingga membiarkan tangan kekar itu kini mengusap kepalanya dengan lembut. Menyadari telah melakukan kesalahan, dengan cepat Arlan menarik tangan yang masih bertahan di kepala gadis ini sembari berdehem.


“Kamu ngapain masih disini? Cepat masuk, waktu adalah uang,” ucap Arlan dengan nada sinis sembari membuat simbol uang dengan tangannya secara berlebihan.


Untuk beberapa detik, Arin seperti berada di awang-awang dan kembali tersadar setelah ucapan Arlan yang membuatnya beranjak pergi dengan langkah kaki yang kencang, hingga raganya lebih cepat hilang dari pandangan pria yang masih betah memandangi punggung yang perlahan tidak bisa dilihatnya lagi. Meski tampak terburu-buru Arin masih sempat mengucapkan terima kasih karena telah memberinya tumpangan. Sebenarnya dia juga sangat bersyukur atas perkataan Arlan yang mampu membuatnya lebih tenang meski masih ada yang mengganjal, hanya saja dia ragu untuk mengucapkan terima kasih untuk satu hal itu, mengingat diakhir ucapannya Arlan melakukan tindakan yang membuat wajahnya bersemu merah.


Sejalan dengan hilangnya sosok Arin dihadapannya, Arlan kembali masuk dalam mobil. Terduduk lemas dengan satu tangan memegang erat setir sementara tangan lainnya mengatung diudara. Sesekali pandangannya fokus pada telapak tangan yang jaraknya tidak seberapa jauh dari wajahnya, tangan yang dengan berani menyentuh rambut Arin. Sampai detik ini pun masih dirasakannya sensasi itu, dan wajah terkejut Arin…“Ah… kenapa dengan diriku?” Keluh Arlan lalu memukul tangan kanannya seraya berkata, “tidak sopan!”


Di tempat lain Arin yang sedang bersandar pada dinding memandangi layar ponselnya yang terlihat menyala, matanya terus tertuju pada halaman chat ‘WA’ antara dirinya dengan Sarah yang tampak sepi, hanya ada satu pesannya yang belum juga dibaca Sarah, meski terlihat tanda ceklis dua tanda pesan terkirim.


Terdengar hembusan napas pelan sekali, kembali mengingat hubungannya dengan


Sarah membuat nama lain terlintas di kepalanya.


Untuk sesaat Arin mengulang kembali berbagai pertemuannya dengan Arlan, dan hari ini dia merasa perubahan suasana hati yang aneh juga, perasaannya campur. Berbagai masalah datang bertubi-tubi, menumpuk hingga membuat hatinya sumpek. Namun satu per satu masalahnya terlepas, perkataan Arlan jauh menenangkannya. Jika dipikir lagi Arlan bagi Arin seperti punya sifat yang sulit ditebak, terkadang dia begitu cuek, mengabaikan keberadaan, berkata sinis hingga sarkasme, tapi orang ini juga bisa bersikap lembut dan berbicara dengan tenang kepadanya. Dia kembali mengulang-ulang kata itu, ‘Jangan khawatir, jangan terlalu terbebani, jangan cemas’ hingga membuat asumsi sendiri menganai sebab Sarah yang sedang sibuk hingga dia yang sedang usil menggoda teman baiknya.’ Meski hanya kata-kata sederhana, faktanya Arin sudah cukup terhibur, tapi kenapa tiba-tiba Arlan bersikap baik seperti itu, tubuhnya bergetar, merinding sendiri.

__ADS_1


“Arin, sudah datang?” Tanya seorang wanita singkat, tapi sukses menyentak kesadaran Arin.


__ADS_2