
Sarah sedang makan sendirian saat dilihatnya Arlan masuk kedalam rumah dengan tangan kiri menenteng jas. Bola matanya tidak lepas mengikuti langkah kakaknya yang berjalan ke meja makan.
“Tumben jam segini sudah pulang?” Tanya Sarah dengan mulut yang dipenuhi makanan. Arlan menarik kursi dan duduk berhadapan.
“Kamu ini, kalau tersedat bagaimana? Habisin dulu makanannya baru bicara.”
Sarah buru-buru menelan makanan yang ada dimulutnya tanpa dikunyah dengan benar, lalu kembali mengutarakan
pertanyaan yang sama. Tidak biasanya kakaknya ada di rumah siang hari, bahkan saat akhir pekan pun Arlan sulit ditemui, itu sebabnya dia lebih sering main ke bengkel untuk menemui Arin.
“Kenapa, ngga boleh? Kamu ngga seneng ada kakak?” Membuat wajah kesal untuk menggoda adiknya.
“Apaan sih kak Alan sensitive banget, aku tanya biasa saja kok jawabannya begitu,” ucap Sarah dengan menaikan
nada suaranya.
“Jadi siapa yang sensitive? Kakak ini becanda, kamu sampai marah begitu.”
“Habisnya kak Alan duluan. Jangan bilang seperti itu lagi, aku senang ada kakak,” Sarah menundukan kepala. Dibanding menyendok nasi, dia lebih suka memutar-mutar sendok hanya memainkannya saja. Melihat perubahan sikap sang adik, Arlan merasa bersalah dengan sikapnya tadi, tangannya terangkat menyentuh rambut Sarah dan mengusapnya dengan lembut.
“Maaf ya, kakak janji ngga akan bilang itu lagi.” Sarah masih menunduk, “Sudah jangan ngambek lagi, ambilin
ponsel kakak gih!”
“Kakak!” Sarah refleks mengangkat kepalanya hingga menunjukan wajah sembab yang dari tadi disembunyikannya. Pria ini tidak peka, sudah buat adiknya menangis sekarang malah menyuruhnya mengambil ponsel di mobil. Arlan hanya tersenyum melihat sang adik yang menggerutu sepanjang perjalanan.
Baru beberapa langkah, kakinya berhenti bergerak. Sarah diam mematung dengan mata yang menatap lama ke depan, mulutnya pun seolah menjadi sulit untuk dikendalikan, terbuka tanpa sadar. Sebuah mobil sport merah yang parkir di halaman rumah, menjadi penyababnya. Arlan yang dari tadi mengikuti Sarah dari belakang, meletakkan lengannya di pundak adiknya itu.
“Kak Alan… mobil siapa itu?” Mengalihkan pandangannya pada pria yang kini berdiri disampingnya.
“Menurutmu?” Balik tanya.
“Punya Sarah, mobil itu untukku?” Sarah tidak bisa menyebunyikan kegembiraannya, jantungnya bergemuruh saat
kata-kata itu meluncur dari mulut.
“Yup, itu janji kakak bukan? Kamu boleh punya mobil saat usia 21 tahun.”
“Kakak...” Memeluk tubuh Arlan dengan erat, “terimakasih, kakakku ini memang yang terhebat.” Sarah lalu melepaskan pelukannya dan berlari dengan girang menuju mobil merah itu dengan senyum yang bertahan di bibirnya.
“Suka?” tanyanya dengan menyilangkan kedua tangan di dada.
Sarah menganguk dengan cepat
“Bagaimana kalau kita coba berkeliling?” Arlan tersenyum tipis seraya menunjukan kunci di tangannya. Mata Sarah berbinar hingga melompat tanpa sadar.
Mobil melaju mulus melewati halaman rumah yang luas dan tertata rapi, lalu berhenti setelah berkeliling satu putaran.
“Kak … Kak… aku mau coba,” ucap Sarah dengan semangat melepaskan sabuk pengaman, dan bersiap bangun untuk bertukar tempat duduk dengan Arlan.
__ADS_1
“Nanti saja ya Dek, Kakak capek. Lagi pula tadi kamu bukannya lagi makan?”
“Sekarang saja ya kak, aku sudah kenyang kok.” Berusaha menyakinkan.
“Lah bagaimana dengan diriku, aku kelaparan setengah mati.”
Sarah lalu memandangi lelaki disampinya ini. Wajah Arlan tampak lelah, bola matanya bergerak beralih pada kemeja putih yang dikenaknya, dia bahkan belum sempat mengganti pakaian seusai pulang kerja. Merasa kasihan
dengan sang kakak, Sarah pun luluh dan berkata, “Ya sudah.” jawabnya dengan wajah masam.
“Anak pintar.” Seperti biasa, tangan Arlan mendarat di kepala Sarah dan mengelusnya lembut.
“Besok lagi ya kak.” Pinta Sarah seraya mengatupkan kedua tanganya. Dia belum menyerah rupanya.
“Oke…”
Arlan menurunkan kaki, keluar dari mobil. Dia jalan duluan disusul Sarah yang tampak berlari kecil untuk menjangkau Arlan dan merangkul lengannya. Mereka pun berjalan bersama masuk kedalam rumah.
*
Sejak pagi Sarah sudah sibuk di dapur, makanan tersaji di meja makan saat Arlan menuruni anak tangga.
“Kakak kira bau terbakar dari mana, ternyata kamu.” Arlan menarik kursi dan duduk disana, tangannya meraih koran pagi yang tergeletak di samping piring kosong didepannya.
“Ayo Kak makan, sini aku ambilkan.”
Tangan Sarah lincah mengambil roti bakar dan menaruhnya di atas piring Arlan, pun segelas susu. “Oh ya Kak, setelah makan kita coba mobilnya lagi yuk.”
“Kalau nunggu Kakak lama, Adek ingin cepat bisa.”
“Siang saja ya, Kakak mau ngecek email dulu.”
“Kalau siang Adek malas, panas, gerah. Lagi pula perkara ngecek email kan bisa setelah latihan.” Jawab Sarah masih mencoba merayu.
Arlan bersandar pada kepala kursi seraya menghela napas panjang, “Baiklah terserah kamu saja.” Dia memang tidak pernah bisa berdebat lama dengan sang adik.
“Kamu ini pelan banget, tuh lihat… keduluan kan...” Mobil yang dikemudikan Sarah melaju sangat pelan seperti
kura-kura, orang yang tengah berjalan kaki di trotoar pun bisa dengan leluasa mendahuluinya, “dan itu jalannya jangan dut… dutan kaya gini.”
“Gas itu yang kanan ya,”
“Hmmm”
Menginjak gas sekuat tenaga,
“Kamu ini pelan-pelan.” Karena kaget, Arlan tidak sengaja berteriak, membuat Sarah menjadi gugup, apalagi saat dia memberikan perintah dengan nada tinggi.
“Lihat depan!”
__ADS_1
“Aaa iya…”
Dibentaki membuat Sarah semakin tegang, grogi, tidak bisa fokus hingga dia pun tidak bisa mengendalikan
mobilnya. Di putar setir secara sembarang hingga membuat mobil berbelok-belok
dengan cukup kencang
“Berhenti… berhenti...”
“Hah?” menoleh kearah kakaknya
“Lihat depan! “ berteriak… “Injek rem... injek rem… injek rem.”
“Hah...Rem… Rem itu yang mana…” teriak Sarah gusar.
“Kamu ini bodoh, itu yang kiri.”
Kaki Sarah menginjak rem dengan keras hingga mobil tiba-tiba berhenti, dengan roda belakang yang sedikit terangkat.
“Sarah… bahaya,” Teriak Arlan.
Yang dinasehati hanya menunduk tidak berani menatap kakaknya, lalu terdengar tangis sesegukan.
“Kamu ini kenapa, dari kemarin. Lagi PMS ya?” Tanya Arlan dengan nada suara yang lebih lembut.
“PMS yang disalahin, aku kesel karena kakak, dari tadi marah-marah, bodoh kakak bilang aku bodoh.” Mendengus.
Arlan melipat bibir menyadari dia sudah melakukan kesalahan.
“Itu kan karena kakak takut kamu
kenapa-napa, ada kakak saja kamu ngga fokus, gerasa gerusu bagaimana kalau
dibiarin sendiri.”
“Aku kan masih belajar, nanti juga bisa lebih fokus, lebih hati-hati, kalau dibentak-bentak gini aku malah tambah tegang.”
Arlan terdiam mencerna semua yang dikatakan Sarah, “Kamu ini suka nyuruh-nyuruh tapi cengeng, sudah kita lanjut lagi ya,” Mengusap kepala, biasanya jika sudah begini, Sarah luluh dan tidak ngambek lagi.
“Tidak! aku tidak mau…”
“Dimana semangatmu, bukannya kamu sendiri yang ingin nyetir sendiri, ingin mandiri, katanya mau cepat bisa.”
“Mau diajarin Arin saja.”
Mendengar nama itu disebut, ingatan Arlan kembali kesaat dia melihatnya di pinggir jalan bersama seorang pria.
“Jadi bagaimana kak, boleh ya diajarin Arin,” pinta Sarah lagi karena Arlan yang hanya diam.
__ADS_1
“Terserah kamu saja…”