Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 12 Tidak Cocok


__ADS_3

Arlan melihat ke sekeliling, pergerakan matanya terhenti pada dua orang pria di sudut yang tampak sedang mengawasi. Satu orang berpostur tinggi besar, terlihat gagah dengan kaos polo yang mengekspos lengannya yang berotot. Satu lagi memiliki postur yang lebih kecil dari pria pertama, baik dalam hal tinggi maupun berat badan. Namun begitu, dia tidak kalah menarik perhatian dengan setelan serba hitam yang membalut tubuhnya.


“Siapa mereka?” Tanya Arlan kemudian.


“Oh, mereka pengawal dan manajer bintang kita hari ini,” Riko tersenyum tipis, seraya menarik napas panjang,


“Kezia Agatha, tinggi 162 cm, berat badan 45 kg. Model, dancer, dan calon penyanyi. Tergabung dalam salah satu managemen artis terpopuler saat ini,” ucapnya dengan lantang.


Arlan mengulas senyum geli, bagaimana Riko bisa tahu hal seperti itu. Dan semua yang dikatakanya tampak serupa dengan dikatakan Fara kepadanya dulu, dia tidak melakukan kesalahan sedikit pun.


“Kenapa tuan muda ada disini?” Tanya Fara seraya menyilangkan tangannya di dada, tatapannya ditujukan kepada


Arlan. Riko yang juga memiliki pertanyaan yang sama, juga turut menatap Arlan dengan muka bingung.


“Kenapa, aku tidak boleh?” Ucap Arlan balik bertanya.


 “Tentu saja, kamu tidak lihat mereka jadi pemalas.” Fara sengaja meninggikan nada suaranya, seraya melirik dengan ujung mata. Sadar akan hal tersebut, salah satu kru menyenggol lengan temannya yang sempat tidak


bergerak menatap Arlan dan Riko. Mereka pun kembali bekerja meski bersusah payah untuk fokus.


“Apa belum mulai?”


“Sepertinya belum, seharusnya sepuluh menit lagi,” ucap Fara seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


 “Wah dia tampak bersinar…”


Arlan mengamati penampilan seorang gadis muda yang baru keluar dari ruang make up. Sudah ditanggalkan overall denim dengan kaos kebesaran, berganti gaun cantik dengan bright colourful print. Rambut sebahu yang awalnya diikat kebelakang pun kini dibuat tergerai.


“Wah gaun ini sangat cocok dengamu Arin,” puji Fara, kemudian dia melempar pertanyaan kepada para pria, “benarkan?”


“Entahlah aku merasa ada yang salah...” Gerak tubuh tidak percaya diri Arin yang membuatnya jadi

__ADS_1


terlihat aneh. Sejak keluar dari ruang make up tangan Arin begitu sibuk menutupi bagian rok yang panjangnya bahkan tidak menyentuh lutut itu, dia juga tampak bersusah payah berjalan hingga sampai ditempat itu.


“Hei kenapa, Arin sangat menyatu dengan pakaian ini,” ucap Fara dengan nada kesal, tapi Arlan tidak berpikir sama, ditraihnya kemeja putih berlengan panjang dengan celana jeans klasik, terakhir dia mengambil jaket berwarna kuning terang yang tergantung lalu diserahkannya kepada Arin. “Ganti dengan ini!” Fara dan Riko saling menatap tidak percaya.


“Kamu serius? Tuan muda ini seenaknya saja, sini aku lihat dulu!” Fara merebut pakaian itu dengan agak kasar. Dia menyipitkan matanya, bergantian mengamati pakaian yang kini sudah berada ditangan kemudian beralih pada sosok yang ada didepannya, “ah… tapi kamu cocok banget pakai gaun ini,” Fara mencoba membandingkan, sementara Arin hanya tersenyum dan berharap agar mereka tidak meminta pendapatnya, “pakai celana


sepertinya bagus, tapi pakai gaun jauh lebih cantik,” Fara masih menimbang-nimbang akhirnya dia mengikuti saran Arlan dan mengembalikan kembali pakaian tersebut kepada Arin, yang masih diam mematung seperti sedang menunggu instruksi selanjutnya.


“Coba dulu, setelah itu kami bisa menilai!” Perintah Arlan membuat gadis ini berlari kecil menuju kamar pas. Tidak lama ponsel dalam saku Arlan bergetar, yang terbaca dilayar adalah Wanda. Butuh beberapa detik bagi Arlan untuk tersadar, jika dia sudah melupakan janji bertemu dengan klien yang menjadi tujuannya datang ke lantai ini.


“Pak Hartono sudah menunggu,” ucapnya seraya menutup telepon, dia berbalik dan berjalan dengan cepat.


“Yang benar saja, kenapa dia mengurusi hal sepele, hingga melupakan janji penting?” Berusaha mencari tahu sebab perubahan sikap tidak biasa temannya itu.


“Dia sedang bosan dengan kehidupanya,” Jawab Fara seraya terkekeh ikuti Riko


“Ya mungkin kau benar.”


*


“Kerja bagus, kamu pasti tegang.”


“Hah… Saya melakukan banyak kesalahan, maaf membuatmu menjadi repot.” Arin terduduk lesu dengan punggunya menyentuh sandaran kursi.


“Untuk yang baru pertama kali, apa yang kamu lakukan itu sudah bagus.” Mengacungkan kedua jempolnya, membuat Arin kembali melukiskan senyuman di wajahnya. Meski demikian tetap saja Arin merasa tidak enak hati. Dia berkeringat sepanjang pemotretan membuat gadis bermata sendu ini harus bolak balik memperbaiki riasannya.


“Sini aku bantu bersikan wajahmu,” ucap Indah seraya mengambil kapas yang sudah ditetesi cairan make up remover.


“Oh, biar saya lakukan sendiri Kak,” tolak Arin dengan sopan, tanganya terangkat meraih kapas yang mengatung di udara.


Belum menempel benda itu di pipi, Arin berhenti sejenak saat terlihat ada dua orang yang masuk kedalam ruangan dari pantulan cermin. Mereka langsung menghempaskan tubuhnya di sopa setelah menaruh tas make up diatas meja dengan hati-hati. Arin mencoba menyapa dengan sopan dan hanya ditanggapi sekiranya oleh salah satunya.

__ADS_1


Mereka terlihat sangat lelah, Arin pun kembali mengalihkan pandangannya ke cermin yang ada didepannya.


“Akhirnya selesai juga…” Hembusan napas berat terdengar setelah dia menyelesaikan kalimatnya, “capek tapi


menyenangkan,” ucapnya lagi seraya mengutas senyum lega, “Aku kira akan


menegangkan karena ada Pak Arlan, syukurlah semua berjalan dengan lancar.”


Mendapatkan topik obrolan menarik, wanita satunya lagi ikut menimpali, “Baru sadar, sejak dua tahun bekerja, ini pertama kalinya aku bisa melihat wajah pak Arlan secara langsung, dan ternyata dia lebih tampan dari yang dilihat di tv maupun majalah.”


Indah mengaguk-angguk, ikut larut dalam obrolan mengenai sang bos, “Ibuku pernah bilang, ‘beruntungnya, kau bisa bertemu Arlan Darda Sutata Putra,’ beliau mengucapkannya setiap kali berangkat kerja, dalam hati aku menyahut, ‘ibu tidak tahu sulitnya bertemu bos besar’…”


Kalimat terakhir yang diucapkannya mengundang tawa seisi ruangan, sekaligus anggukan tanda setuju. Obrolan ringan dengan sesekali diiringi tawa ini pun segera berganti lebih serius.


“Tapi kenapa ya, aku berpikir ada maksud terselubung dari kedatangan pak Arlan hari ini...” ucapnya seraya mengapus cairan di ujung mata.


“Maksudmu itu apa sih, bicara yang jelas, jangan berbelit-belit?”


“Ya, pelucuran produk baru hanya alasan, sebenarnya Pak Arlan ingin melihat Bu Fara,…”


Wanita ini terkejut saat mendengar nama Arlan dan Fara disebut, “Hus...!” Mencoba membuatnya berhenti dengan bibir mengerucut menunjukan Arin yang pura-pura tidak mendengar dan tampak sibuk mengikat rambutnya ke belakang. Apa yang dikatakan Hadi saat photoshoot, secara tersirat sudah memberitahu banyak orang jika keberadaan Arin ditempat itu berkat campur tangan Fara.


“Apa dia dengar?” Bertanya dengan pelan.


Memerhatikan,“Sepertinya tidak…” Menggeleng meski dengan nada ragu.


“Kak saya pamit dulu, terimakasih atas bantuannya,” ucap Arin setelah selesai dengan aktivitasnya menghapus make up dan mengikat rambut. Dia berjalan menuju pintu.


“Oh, iya hati-hati ya…”


“Aku rasa gosip itu benar.”

__ADS_1


“Sudah diamlah, dinding juga punya telinga. Masih berani kamu bergosip, jangan cari gara-gara.” Saat sudah keluar pun, Arin masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


__ADS_2