Montir Cantik, Penakluk Hati

Montir Cantik, Penakluk Hati
Episode 19 Sarah


__ADS_3

“Ah kenapa gadis manis ini hanya mengurung diri didalam kamar, kalau tidak punya kerjaan pergilah jalan-jalan, cari udara segar…” Arlan berjalan masuk ke dalam kamar Sarah, membuat gadis yang sedang berbaring sambil memeluk bantal ini lantas bangun dan bergabung dengan Arlan yang kini sedang duduk di pinggiran ranjang.  Seperti biasa tangan Arlan mengusap kepala adiknya itu lembut.


“Bukankah kakak ngga suka aku berkeliaran di luar?”


“Benarkah?” Tanya Arlan dengan muka polosnya. Tangan yang sedari tadi mengelus kepala Sarah kini berpindah ke lehernya. Gantian, sekarang bagian itu yang dielus-elus Alan dengan lembut.


“Hmmm kau menghantuiku dengan banyak pertanyaan, ‘kau dimana?  Lagi apa? Cepat pulang!”


“Hey, aku ini kakakmu, aku akan memarahimu jika kau nakal. Dan kau pun juga lakukan itu untukku, bukankah begitu seharusnya saudara saling melindungi dan bergantung…”


“Aku paham, tapi ngga nelepon setiap dua puluh menit sekali juga, ponselku tidak berhenti bordering sampai malu sendiri.” Protes Sarah dengan muka cemberutnya.


“Begitu kah? Apa aku tidak salah dengar? Dua puluh menit sekali itu terlalu berlebihan.” Tanyanya tidak percaya, dan Sarah menganguk mantap sebagai jawaban.


Benarkan dia se-protektif yang dikatakan Sarah. Namun tidak lama Arlan menggelang kuat, tidak… tidak, menurutnya apa yang dilakukannya itu masih wajar.


“Baiklah hari ini hal seperti itu tidak akan terjadi, karena aku akan menemani kemana pun kamu ingin pergi dan satu lagi adek bebas membeli apapun yang adek mau.”


Sarah menatap bingung orang yang disampingnya ini, tangan kanannya terulur menyentuh dahi Arlan, sementara tangan kiri Sarah bertengger di dahinya.


“Tidak…tidak demam, suhu tubuhmu normal…” ucap Sarah kemudian.


Arlan menepis tangan Sarah yang masih menyentuh dahinya itu dengan kasar, “Kau ini apaan sih,”


“Tidak biasanya kak Alan seperti ini, membuatku takut saja,” ucap Sarah sambil tersenyum meledek. “Sudah sejak lama tidak begini…” Suara Sarah kini terdengar lebih rendah.


“Apa?”


“Sejak Mama dan Papa pisah, kak Alan tidak pernah lagi memperlakukan aku dengan manis, ini pertama kalinya setelah sekian lama.”


“Apa karena aku sering meninggalkanmu?”


Sarah mengangguk cepat, air matanya mengalir membasahi pipinya yang putih. Tangan Arlan menangkup kepala Sarah dan mendorongnya pelan ke dadanya yang bidang.

__ADS_1


“Maaf, aku terlalu egois dengan hanya memikirkan diriku saja.”


Sarah berontak mendengar ucapan Arlan, dia menggeleng kuat, “Tidak, apa yang kakak lakukan juga untuk kebaikanku, agar aku bisa hidup dengan nyaman bukan?” Ucapnya masih sesegukan. Senyum kini menghiasi wajah Arlan yang sebelumnya begitu murung


Dengan tangan yang masih mengusup kepala Sarah, Arlan bicara dengan lebih ceria, “Oh ya ampun sepertinya Sarahku yang manja sudah menjadi wanita dewasa yang sangat bijaksana.” Ucap Arlan yang diakhiri tertawa renyahnya. Sarah yang tidak terima lantas memukul bahu kakaknya ini dengan agak keras sembari menghapus air mata di pipi dengan punggung tangannya.


“Oh ya ampun dan sejak kapan kakakku yang pelit bicara itu mendadak cerewet seperti ini,” balas Sarah dengan tawa yang tidak kalah menggelegar.


“Sudah berani ya kamu,” ucap Arlan pura-pura marah, Sarah yang masih tertawa lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Ayo cepat mandi, sepuluh menit!”


“Ngga ah kak aku lagi malas keluar.” Sarah menggeliat dan menjatuhkan kembali tubuhnya di atas kasur yang empuk.


“Hei, tidakkah kau merasa terhormat, manusia super sibuk ini akan meluangkan waktunya untuk menemanimu jalan-jalan.”


“Ngga Kak, mau di rumah aja, mau istirahat…”


“Emmm kalau begitu bagaimana kalau nonton DVD saja, sambil ngobrol, makan camilan…”


“Arin?”


“Hmmm, kakak jadi lebih sering tersenyum, banyak bicara, lebih fleksibel…”


“Sarah, sebaiknya kamu tinggal di kamar saja, tidak usah melakukan apapun,” Sebelum Sarah lebih banyak meracau, Arlan lebih dulu memotong ucapannya. Dia lantas bangun dari tempat tidur Sarah menuju tempat kerjanya, memilih untuk tenggelam dalam rutinitas pekerjaan. Baru beberapa menit dia menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi, suara bel yang begitu membengkakan telinga itu memaksanya bangun hanya untuk melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini, mengganggu waktu liburnya.


“Dek ada teman kamu tuh.” Ucap Arlan sembari bersender di kusen pintu dengan menyilangkan  tangannya di bagian dada.


“Siapa?” Tanyanya pura-pura tidak tahu. Sebelumnya Sarah baru saja dari jendela, mengintip siapa yang datang.


“Teman adek siapa lagi yang kakak tahu selain Arin.”


“Bilang aja aku ngga ada kak…”

__ADS_1


“Yakin?”


Sarah mengangguk lemah, kepalanya tertunduk, sementara kedua tangannya memeluk erat bantal.


“Dek, kalau ada masalah itu dibicarain, kalau diem-dieman kaya gini, kapan mau selesainya, Arin juga kayanya bingung.”


“Siapa juga yang bilang kita ada masalah, hah jangan-jangan Arin ngadu sama kakak ya?”


“Kalian itu seperti saudara kembar, saat satu terluka yang lain ikut terluka, saat yang satu terlihat sedih yang satunya juga.”


Sarah hanya terdiam dengan kepalanya kembali tertunduk.


“Sudahlah cepetan, kasihan Arin nunggu lama.”


“Suruh tunggu sebentar lagi, adek mau ganti baju dulu…”


Sesaat setelah pintu tertutup, Sarah bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari.


*


Arin meraih burger dengan kedua tangan dan memasukkannya kedalam mulut lalu mengunyahnya pelan-pelan dengan arah pandangannya tertuju pada orang di depannya. Begitu pula Sarah yang mencuri-curi pandang kearah Arin hingga mata keduanya pun bertemu.


Lama-lama mata Arin menjadi panas, napasnya tersengal pun tenggorokannya terasa begitu sakit menahan


tangis. Pada akhirnya pertahanan Arin runtuh juga, air mata yang dari tadi memaksa untuk keluar, mengalir mulus mengenai pipinya.


“Arin kenapa?” Melihat Arin menangis, Sarah pun ikut menangis.


“Sarah aku takut sekali denganmu, aku takut kamu tidak ingin bicara lagi denganku…” Jawabnya dengan sesegukan.


“Arin maaf, bukan itu maksudku…” Sarah menggeser kursinya ke samping hingga lebih dekat dengan kursi tempat


Arin. Dia lalu memeluk Arin dari samping. Situasi yang tidak bisa ditahan ini rupanya telah menarik perhatian pengunjung lain hingga kompak memandang pada satu titik yang sudah seperti sebuah pertunjukan saja.

__ADS_1


Hayo siapa nih yang punya kejadian yang sama seperti Arin dan Sarah... Bukannya ngejelasin malah nangis berjamaah,,,


__ADS_2