
“Kamu jadi latihan?”
“Jadi,” Jawab Sarah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel
“Terus kenapa masih main ponsel?”
“Ini lagi chat-an sama Arin….” Jawab Sarah seraya menunjukan layar ponselnya yang menyala. Arlan melilik seperdetik lalu mendudukan tubuhnya di sopa yang tidak jauh dari tempat duduk Sarah. Tangannya membuka
buku yang dia bawa.
“Teman kamu itu…” Belum sempat Arlan melajutkan ucapannya, lebih dulu Sarah memotong.
“Teman kamu itu. Sebut namanya kenapa sih Kak, Arin kan punya nama.” Protes Sarah.
“Iya, Arin,” ucap Arlan dengan terbata, seraya mengusap-usap lehernya, “kapan dia datang?”
“Bentar lagi, katanya sudah di depan.” Mata Sarah melihat lurus ke arah pintu yang terbuka. Tidak lama terdengar deru motor dan muncul sosok Arin dari balik pintu, “Tuh orangnya datang, panjang umur…”
Sarah berlari menjemput orang yang ditunggunya sedari tadi. Menggandeng tangan Arin dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
“Hai Kak Arlan,” sapa Arin dengan ragu, namun yang disapa diam saja, tidak menanggapi. Orang ini juga tidak mengalihkan perhatian dari buku yang terbuka hingga sukses membuat Arin malu sendiri. Sikap tidak peduli
Arlan tentu sangat berbeda dari dia yang sebelumnya menanyakan keberadaan Arin kepada sang adik.
“Kak aku mau langsung jalan aja ya,”
“Hmmm, hati-hati.”
Arlan hanya melihat dan berbicara kepada Sarah, seolah Arin tidak ada disana. Untuk kedua kalinya dia merasa malu, namun kali ini terselip kesal dan banyak pertanyaan. Mungkinkan Arlan tidak menyukai keberadaannya…
“Siap bos, ayo Arin.”
Keduanya berbalik hampir bersamaan, melangkah pergi meninggalkan Arlan yang tengah memandangi punggung yang perlahan tidak terlihat lagi.
“Kamu naik apa kemari?” Sarah duduk di belakang kemudi, disusul Arin yang duduk di sisinya.
“Ojek…”
“Ooo…”
“Sa beneran ngga apa-apa kamu latihannya sama aku?”
“Iya, kenapa?”
“Kayanya kak Arlan ngga suka deh.” Menarik kesimpulan sendiri karena perlakuan yang didapatnya tadi.
“Kak Alan memang gitu, sikapnya kurang ramah tapi aslinya baik, udah ngga apa-apa aku sudah izin kok.” Mengibas-ngibaskan tangan.
__ADS_1
“Atau mungkin, hari ini dia ingin bareng kamu, cuma ngga bilang aja.”
“Kami itu ngga seperti keluarga lain yang setiap akhir pekan harus ketemu…”
“Kau ini, bukan itu maksudku…” ucap Arin serya memukul lengan Sarah pelan.
Tawa Sarah pun meledak karena respon yang diberikan Arin, “Bercanda kali, sudah jangan masang muka kaya gitu.” Sarah memasukkan kunci dan bersiap memutarnya, namun segera dihentikan Arin.
“Eitsss, sebelum itu, pakai seatbelt dulu.”
“Eh iya lupa.” Menepuk dahi seraya cekikikan.
Mobil sport merah itu melaju pelan keluar dari pintu pagar besi yang menjulang tinggi, menuju lapangan berbeton yang lapang.
Mengitari lapangan hingga enam kali, kemampuan menyetir Sarah semakin baik. Tidak lagi tersendat-sendat meski masih bergerak pelan, “Oke juga kamu.” Puji Arin tulus.
Senyum mengembang di wajah Sarah, semangatnya meningkat dua kali lipat. Tidak bertahan lama, senyum itu memudar berganti wajah pucat pasi saat Arin berkata, “Ayo kita ke jalan…”
“Hah!” Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, Sarah repleks menoleh ke samping, meminta penjelasan.
“Lihat depan!” Perintah Arin dengan tenang, meski jantungnya hampir lepas karena kaget. Dia menghela napas seraya mengelus dada.
Langit biru sudah nampak kemerahan, hangat berganti dingin oleh semeliwir angin yang menerpa kulit dengan lembut. Pesan yang dibawa alam ini, menjadi pengingat, jika mereka sudah terlalu lama berada di jalanan.
“Lepas gas perlahan, injak pedal rem pelan-pelan … iya bagus seperti itu”
“Hah nikmatnya surga dunia,” ucap Sarah seraya meneguk minumannya, “aduh aku masih saja pelan.”
“Ngga apa-apa lah, baru dua kali kan? Lama-lama juga bisa.”
“Hemmm baru sekali tepatnya, belajar sama Kak Alan jangan dihitung. Untung saja aku langsung kepikiran kamu, kalau engga ...”
“Memangnya kak Arlan kenapa?”
“Aduh, marah-marah mulu, bikin panik, aku malah jadi ngga bisa-bisa.”
“Itu kan karena kak Arlan khawatir sama kamu.”
“Terus kamu ngga khawatir gitu sama aku, buktinya kamu bisa sabar…”
“Yey, hal seperti itu ngga bisa dibandingin.”
Ditengah obrolan, tiba-tiba ponsel Sarah berdering, “Wah yang lagi diomongin nelpon.” Mendadak jantungnya berdebar kencang, saat dilihat nama yang tertera di layar ponsel. Sarah tidak langsung menjawab, melainkan
terlebih dahulu menarik napas panjang.
“Ada apa kak?”
__ADS_1
“Kamu dimana, ini sudah jam berapa?” Tanya seorang pria di ujung sebrang.
“Iya ini juga udah mau pulang kok.” Cemberut lalu dimasukkan benda itu kedalam saku jaketnya.
“Pulang yuk, udah ada panggilan…”
Tawa Arin meledak mendengar istilah yang digunakan Sarah, lalu berkata, “Emangnya kita cewek apaan.” Yang direspon Sarah dengan terkekeh.
Keduanya pun bergegas masuk kedalam mobil, namun kali ini Arin yang jadi sopir. Tangan Sarah pegal, karena dari tadi memegang setir, bahunya juga sakit.
“Wah tahu-tahu sudah gelap aja, maaf ya,” ucap Sarah seraya menunjukan wajah sok imut, saat keduanya sudah berada di teras depan rumah Sarah.
“Iya… aku pulang...” ucap Arin seraya membalikan badan hendak pergi.
“Bentar … bentar aku panggil kak Alan dulu, biar ngarterin kamu.” Bergegas masuk kedalam.
“Eh .. eh jangan Sa, aku bisa pulang sendiri kok.” Memegang lengan Sarah hingga langkahnya terhenti.
“Ngga apa-apa Rin, Jangan suka cari masalah deh, sudah malam aku takut ada apa-apa…”
Tidak lama Arlan muncul dari balik pintu seraya memakai jaket, ia berkata, “Ayo aku anterin pulang.”
Tanpa menunggu persetujuan, langkah Alan berjalan menuju mobil Sarah setelah sebelumnya meminta kunci dari yang empunya. Sarah memberi kode kepada Arin untuk mengikuti Arlan yang sudah ada di belakang setir.
Arin membuang napas kasar, dia sedikit berlari saat mendapati muka Arlan yang tampak tidak sabar.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, suasana hening membuat penghuninya grogi. Arin berinisiatif mencairkan suasana dengan memberanikan diri berbicara duluan.
“Sebenarnya Kakak tidak perlu nganterin saya pulang.”
“Kenapa memangnya?”
“Ammm ngga apa-apa…” Arin menggeleng cepat, lalu terdiam. Bingung harus bicara apa lagi, sangat tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini. Seiringan dengan Arin yang menutup mulutnya, suasana di dalam mobil pun
kembali hening.
“Jadi kamu tinggal disini?” Tanya Arlan saat mobil berhenti di sebuah rumah dengan papan bertuliskan ‘Kosan Putri’.
“Iya, maaf ya Kak aku ngga bisa ngajak mampir.”
“Hmmm. Oh iya, terimakasih untuk hari ini,” ucap Arlan seraya menarik ujung bibirnya.
Arin memandangi wajah Arlan lamat-lamat. Itu adalah kali pertamanya ia melihat pria dingin tersebut tersenyum, tidak lama setelah itu Arlan kembali dengan wajah tidak ramahnya.
“Ya sudah cepat masuk!”
“A…A…iya…” Arin terlambat merespon, saat kata itu keluar pria ini sudah ada di belakang kemudi.
__ADS_1