
Photoshoot hari ke tiga…
“Arin, sudah datang?” Sapa Indah yang mendapati Arin ditempat itu, sendirian.
“Aku datang terlalu pagi,” mengedarkan pandangan ke sekeliling, masih sepi hanya ada kru peralatan yang sibuk memindahan ini dan itu.
“Hebat sekali kau bisa tahu kita pemotretan di luar, tadinya aku kira kamu datang dengan para model...”
“Ah… Diperjalanan Bu Fara bilang lokasi pemotretannya pindah dan kebetulan aku sedang ada di sekitar sini, itu
alasannya bisa duluan datang.”
“Hanya untuk hari aja kok, besok-besok kembali ke habitat asal.”
“Untunglah, kalau tidak mungkin bisa terlambat.”
“Eh ngomong-ngomong kau benar-benar dekat dengan Bu Fara ya?” Tanya Indah dengan pandangan penuh menyelidik.
Arin hanya tersenyum kaku menanggapi pertanyaan Indah. Meski ada perasaan tidak enak dengan Fara namun sepertinya dia akan membiarkannya. Jika Indah sampai tahu dari mana sebenarnya info itu didapat dan bersama siapa dia datang ke tempat itu maka situasinya akan semakin runyem.
“Ah aku ini kenapa, tentu saja kalian dekat. Tenang aku ngga akan bertanya lebih jauh. Jangan disini, ikut aku ke ruang make up,” ajak Indah seraya menggandeng lengan Arin.
“Sepertinya berat, sini berbagi denganku,” ucap Arin seraya menunjuk tas yang dibawa Indah.
“Benarkah? Ah kau baik sekali, karena sedang tidak enak badan, aku ngga akan menolak pertolanganmu.”
“Oh wajahmu pucat, sepertinya kau sakit…”
“Sebenarnya aku sedikit pusing, tadinya ngga akan masuk, tapi kalau ingat wajah bu Fara rasanya jadi ingin
cepat sembuh…” ucap Indah dengan berbisik, “ngga apa-apa kan aku ngomongin Bu Fara,” ucapnya lagi cengengesan.
Arin hanya tersenyum. Saat pertama kali datang dan Bayu memperkenalkannya sebagai 'titipan' dari Fara secara tidak langsung, tatapan para model dan kru pun berubah padanya. Dia seperti amatiran yang melenggang masuk karena orang dalam, pun kesulitan yang harus dihadapai semakin bertambah setelah untuk kesekian kalinya dia gagal berpose dengan baik di depan kamera. Omongan seperti model ilegal, modal tampang, nepotisme kerap kali datang ketelinganya, hanya saja tidak banyak yang bisa dilakukan karena sebagian dari mereka hanya
membicarakannya dibelakang. Meskipun dikucilkan oleh para model ataupun kru, Arin tidak merasa sepenuhnya sebatang kara, masih ada Indah yang sepertinya memiliki energi berlebih untuk menguatkan atau sekedar menghibur model baru yang tengah mengalami kesulitan. Angel, pasti nama tengahnya. Mereka baru bertemu, tapi dia memperlakukan Arin dengan baik, dan dia memang melakukannya ke semua orang.
__ADS_1
Indah meletakan tas di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya di kursi. Beberapa kali dia mendesah sementara tangannya sibuk memberikan tekanan di bagian pelipis, hanya sebentar setelah itu tangannya aktif mengeluarkan berbagai peralatan make up dari dalam tas.
“Aku mau kedepan buat beli obat,” ucap Arin seraya beranjak bangun dari tempat duduknya.
“Oo kamu manis sekali, tapi ngga usah, tadi sebelum kesini aku sudah beli Panadol, nanti aku minum
setelah menyelesaikan ini.” Arin memerhatikan gerak tangan Indah yang tampak cekatan.
“Baiklah kalau begitu beli roti saja ya.” Arin merasa bersalah melihat kondisi Indah yang begitu
lemah, karena dirinya, dia dan yang lainnya harus mengalami hari yang melelahkan, mungkin karena hal itu juga membuat kru dan model begitu kesal, tapi Indah tetap bersikap baik dan hal itu membuatnya semakin tidak enak hati.
“Ah kamu baik sekali, terimakasih ya,” tersenyum tulus.
Beberapa menit kemudian Arin datang dengan terengah-engah, ditangnnya sekarang ada sebungkus roti yang
dia serahkan kepada Indah, “Ini… Aku kira kau di ruang make up kenapa disini?”
Indah mengerucutkan bibirnya, menunjuk ke satu titik, “Pasti terjadi sesuatu hingga bu Fara sampai datang kesini.”
“Ih anak itu,” gerutu Indah dengan mengepalkan tangannya, “Ah sudahlah jangan terpancing, lakukan saja
bagianmu.”
“Mau sampai kapan mengobrol nona-nona, kita akan siap dalam sepuluh menit, mengerti!” Ucap Bayu tiba-tiba
seraya melirik Arin dengan tatapan kesal, dan yang ditatap hanya cengengesan ngga jelas. Sementara Indah melipat bibirnya cepat, lalu bersiap berlari dengan berbagai peralatan make up, dia sudah lupa dengan sakit kepalanya.
Semua kru dan model telah siap dengan tugasnya masing-masing, dan seperti kemarin kali ini pun Arin
menjadi orang pertama yang akan mengawali sesi pemotretan pada siang itu.
“Sebentar Arin, mulai sekarang kamu maju setelah Kezia ya,” ucap Fara, membuat Bayu dan Giri saling adu pandang untuk beberapa saat. Kezia tersenyum anggun, terlihat jelas dia begitu menikmatinya, seperti
kemenangan sudah ada ditangannya. Arin berjalan mundur, posisinya kini digantikan oleh gadis ini. Bukan tersisihkan Arin ingin menganggap perlakuan ini sebagai sebuah anugrah, sebuah kesempatan baginya untuk lebih lama mempelajari bagaimana rivalnya memberikan usaha dalam melakukan pose-pose terbaiknya.
__ADS_1
“Dia mengagumkan,” gumam Arin. Ya di dalam hatinya dia begitu memuji kepercayaan diri yang dimiliki Kezia.
“Ok Arin,” Panggil Giri kemudian.
Arin menarik napas panjang, berdoa sangat banyak di dalam hati dan Arin sudah bersiap menghadap kamera
sekarang. Dia menggerakan kepalanya ke kiri, ke kanan, menunduk, mendongkakan kepala, miring ke kiri, miring ke kanan semua dilakukannya dengan baik.
“Bagus Arin, ya seperti itu…” Puji Bayu yang diiringin tawa renyah. Fara menoleh kearah pria ini dengan tatapan yang tajam. Bayu sebenarnya tidak senang dengan tatapan itu, tapi dia sudah tidak peduli, yang terpenting Arin sudah melakukan tuganya dengan baik sehingga dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih cepat dan dapat mengontrol tekanan darahnya.
EPILOG
Kemarin setelah selesai photoshot, Bayu dan Giri benar-benar mendatangi ruangan Fara untuk membicarakan hasil pemotretan, lebih tepatnya mereka lebih tertarik untuk membahas para model yang sudah membuat tidur keduanya tidak nyenyak.
“Jadi bagaimana?” Tanya Fara setelah Bayu menjelaskan duduk permasalahannya.
“Sebenarnya kita butuh Arin, wajahnya lebih cocok untuk QS, hanya saja lihat saja ekspresinya, datar, parahnya lagi dia itu masih malu-malu seperti melakukkannya setengah hati. Dalam hal ekspresi Kezia lebih unggul, meski tidak bisa dikatakan mencolok juga, tapi setidaknya dia setingkat diatas Arin,” ucap Bayu dengan mantap.
Fara menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.
Ada apa ini apakah Faraditha melakukan kesalahan… gumam Fara.
Eh kenapa apa dia kesal, bukankah dia yang tanya, dia benar-benar tidak bisa menerima kritik. Dan Giri pun seolah dapat membaca pikiran Fara, dia sibuk dengan pikirannya sendiri
“Ammm sebenarnya baik Arin maupun Kezia aku suka keduanya, dan aku masih mau mereka ada di proyek ini,” ucap Giri tiba-tiba membuat sepasang mata melotot kepadanya, kaki Bayu menendang kakinya dengan cukup kuat.
“Bukankah ide datang ke Fara itu dari darimu,” bisik Bayu dengan penuh penekanan.
Bagus sekali sekarang aku berada disituasi serba salah. Maafkan aku Bay, aku belum mau pensiun jadi anak kesayangan Fara.
“Kamu yakin?” Tanya Fara untuk menyakinkan
“Tentu saja,” tergagap, sebetulnya tidak, hati Giri menjerit.
*Begitulah ceritanya.
__ADS_1