
...Chapter 22. Mengusir Rentenir....
Sesaat Eulalia menyebutkan tiba di kota Alerta, dia harus dihadapkan dengan beberapa Petualang jahat yang bekerja sebagai rentenir.
Awalnya, Eulalia tidak ingin terlihat dan hanya ingin menonton seperti orang-orang lainnya namun, sikap mereka semakin keterlaluan bahkan ingin membunuh maka dari itu, Eulalia pun membantu nya.
"Ulah siapa itu?!" seru kesal petualang yang lain melihat kearah kerumunan yang diikuti oleh para petualang jahat lainya.
Yang mana para petualang jahat melihat Eulalia yang sedang menodongkan tongkat sihirnya seraya menghabiskan kue nya.
"Kalian sungguh kekanak-kanakan dan kalian telah menganggu makan siang ku."
Melihat Eulalia, pemimpin kelompok pun menjadi kesal dan memerintahkan anak buah nya. "Apa yang kalian lakukan?! Cepat habisi, penyihir rendahan itu!"
"Baik!" jawab serentak anak buah nya.
Lalu, mereka pun dengan wajah tersenyum senang berlari seraya mengayunkan senjatanya.
Melihat itu, Eulalia pun membalas nya dengan senyuman remeh. "Cih ... kalian tidak bisa belajar."
Dan, Eulalia pun melesatkan sihir kinetik nya sehingga membuat para petualang terpental dan senjata yang dipegang nya jatuh.
Pemimpin kelompok pun menjadi kesal melihat anak buahnya dikalahkan dengan mudah lalu, dia pun mengeluarkan dua pisau nya.
Eulalia pun tertarik melihat kedua pisau itu, "Oh, senjata yang bagus."
__ADS_1
Pemimpin kelompok itu pun tersenyum bangga. "Tentu saja, ini adalah pisau api dan es yang akan menghabisi nyawa mu." Lalu, dia pun melesatkan serangan nya. "Hiyaaa! Sabetan Api dan Es!"
Sesaat kemudian, sabetan Api dan Es pun melayang kearah Eulalia. Namun, Eulalia menangkis dan menghilangkan nya dengan mudah oleh ayunan tongkat sihir nya.
Hal itu membuat pemimpin kelompok terkejut dan mundur satu langkah. "Tidak mungkin!"
"Ada lagi?" ucap provokasi Eulalia.
Provokasi Eulalia itu pun membuat pemimpin kelompok kesal. "Wanita Jlang! Mati kau!" seru pemimpin kelompok yang sontak mengeluarkan sihir mempercepat langkahnya seraya mengayunkan kedua pisau nya.
Dan, pemimpin kelompok itu pun dengan cepat sudah berada di dekat Eulalia.
Meski begitu, Eulalia tidak gentar dan dia dengan senyuman licik mengayunkan tongkat nya dan menyentuh tubuh pemimpin kelompok seraya merapalkan sihirnya yang mana dalam sekejap mata dia berubah menjadi tikus.
Melihat sihir itu membuat anak-anak tertawa kecil begitu juga wanita pendeta.
Sesaat kemudian, kucing pun datang berlari kearah tikus sihir dan ingin menangkap nya. Lalu, sang Tikus melarikan diri dengan kucing dibelakang nya.
Melihat sihir itu membuat anak buah mereka ketakutan dan melarikan diri.
Dan, pertarungan pun usai.
Wanita pendeta sontak menghampiri adik nya dan merapalkan sihir penyembuhan.
"Terimakasih, kak Jean," ucap pemuda.
__ADS_1
Setelah itu, sang pemuda bangkit berdiri yang diikuti oleh kakaknya dan menghadap ke arah Eulalia yang sedang berbalik badan dan meninggalkan lokasi.
"Nona penyihir. Tunggu!" seru pemuda.
Mendengar itu, Eulalia menghentikan langkahnya. "Ada apa?"
Sang pemuda dan wanita pendeta menghentikan langkahnya didekat Eulalia lalu, dia pun membungkukkan badannya. "Terimakasih, kak penyihir."
"Tidak perlu di pikirkan. Aku hanya lewat saja. Sudah ya. Dah!" jawab Eulalia yang datar lalu, dia pun bergegas membalikan badannya dan melangkah.
"Nona, jika berkenan mampir lah sejenak!" seru wanita pendeta.
Awalnya Eulalia tidak ingin memperpanjang urusan mereka namun, sesaat wanita pendeta mengatakan itu Exoma memberikan saran nya.
Kling!
[Nona, saya saran kan anda untuk membantu mereka agar mendapatkan poin System sebesar 600 poin.]
Melihat jumlah hadiah poin yang cukup banyak membuat Eulalia menghentikan langkahnya dengan wajah yang malas. "Ehh?!"
Lalu, Eulalia membalikan pun membalikkan badannya. "Jika itu tidak merepotkan kalian," jawab Eulalia dengan wajah penuh senyuman.
Sang pemuda dan wanita pendeta tersenyum senang begitu juga anak-anak panti.
"Tentu tidak merepotkan, kami senang jika nona Penyihir berkunjung ke panti asuhan kami," jawab wanita pendeta.
__ADS_1
Eulalia pun menghela nafas panjang, "Jangan panggil aku Nona. Namaku Eulalia."