Moon Light Witch

Moon Light Witch
Moon Light Witch | Chapter 05. Perpisahan (Rev I)


__ADS_3

...Chapter 05. Perpisahan (Rev I)...


 


Pada saat upacara pemakaman selesai, Kepala Desa menghampiri Eulalia dan berbicara kepadanya.


Eulalia mengatakan kepada kepala desa dengan keputusannya untuk pergi ke kota sebelah barat.


Di ruangan itu kepala desa menjelaskan bahwa desa Shoyo berada di Kerajaan Alexandria yang terletak dengan beribukota kan Alexandria yang terletak di kota barat tapi untuk mencapai ke sana, Eulalia harus singgah di kota Tito untuk menaiki kapal laut.


“Jadi begitu, aku mengerti. Terima kasih kepala desa telah mengijinkan saya untuk menginap disini,” ucap Eulalia.


“Kapan kamu akan berangkat, nona Eulalia?” Tanya kepala desa.


“Aku akan berangkat besok,” jawab Eulalia.


“Ohh, begitu,” ucap kepala desa dengan tersenyum kepada Eulalia.


Beberapa saat kemudian, kepala desa mengambil kantong kulit dan memberikannya kepada Eulalia.


“Nona Eulalia, terimalah ini! Walau hanya sedikit tapi ini imbalan sebagai ucapan terima kasih dari kami,” ujar Kepala Desa yang memberikan kantong tersebut.


Eulalia pun sempat tidak mau menerimanya tapi melihat kesungguhan para warga yang mengumpulkan bersama untuk membayar dirinya.


“Baiklah, aku terima. Terima kasih, pak kepala desa,” ucap Eulalia.


Kepala desa tersenyum senang melihat niat baiknya diterima oleh Eulalia.


Malamnya, Eulalia makan bersama dengan anak-anak yang telah kehilangan orangtuanya juga bersama Marsha dan Kazuo.


“Ini punyaku!”


“Punyaku!”


Beberapa anak saling berebut makanan.


“Hayoo, kalian semua jangan tidak sopan begitu,” ucap Marsha.


Eulalia tertawa kecil melihat mereka.

__ADS_1


Seusai makan, Eulalia berdiri dan melamun melihat bintang malam yang cerah. Kazuo yang sudah menyelesaikan membersihkan piring. Dia menghampiri Eulalia.


“Hei!” sapa Kazuo.


Eulalia pun tersadar dari lamunannya dan melihat Kazuo yang berada disampingnya.


“Hei!” sambung Eulalia.


Kazuo mengikuti yang dilakukan Eulalia dengan menatap langit malam.


“Indahnya!” ucap Kazuo.


Eulalia tersenyum dan kembali melihat langit.


“Benar, sungguh indah,” ucap Kazuo yang melihat Eulalia dari samping.


Eulalia pun sadar bahwa dirinya dilihat oleh Kazuo dan dia pun menatapnya dan memberikan senyuman kepadanya. 


“Ada apa?” tanya Eulalia.


“Tidak, Nona Eulalia sungguh akan pergi dari desa ini?” ujar Kazuo.


“Ohh, begitu,” ucap Kazuo yang menundukkan kepalanya.


Eulalia menatap Kazuo yang tersenyum sendiri yang melihat tanah.


“Oiya, setelah ini kamu ingin menjadi apa?” tanya Eulalia.


Kazuo yang mendengar pertanyaan Eulalia membuat dirinya menghela nafas panjang. 


“Kazuo, memang apa impianmu?” tanya Eulalia.


“Aku ingin menjadi seperti Nona Eulalia. Seseorang yang bisa melindungi orang lain,” jawab Kazuo yang menatap Eulalia dengan senyuman.


Eulalia menggelengkan kepalanya.


“Kazuo, kamu terlalu memuji,” ucap Eulalia yang tertawa kecil.


“Begitu kah, maaf,” sambung Kazuo.

__ADS_1


Eulalia dan Kazuo pun saling bertukar senyum dan tawa.


Keesokan paginya, seluruh warga mengantarkan kepergian Eulalia sampai ke gerbang desa.


Sesaat kemudian, Eulalia memanggil monster griffon. Sosok monster yang memiliki badan singa dengan kepala burung dan memiliki sayap burung yang besar.


Yang mana monster itu, dibuat oleh Eulalia dari jasad Orc dan memakan biaya 80 poin.


Sesudah memanggil Griffon, Eulalia menoleh kebelakang yang mana anda seluruh warga menatapnya termasuk Kazuo dan Marsha untuk mengantar kepergian Eulalia.


Lalu, Eulalia pun berpamitan.


“Aku pergi,” ucap Eulalia.


“Semoga kita bisa bertemu kembali, Nona Eulalia,” ucap Kazuo.


Eulalia dan Kazuo saling bertukar senyum. Marsha pun yang berada di barisan tidak mampu menahan air matanya.


“Ha … ti – Ha .. ti, kak Eulalia,” ucap Marsha yang sedang menangis.


“Terima kasih Marsha dan semua,” ucap Eulalia.


Eulalia membalikan badannya dan menaiki Griffon. Lalu, Dia pun pergi meninggalkan desa shoyo yang diiringi oleh para warga yang melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat tinggal.


Dengan kecepatan yang tinggi, Eulalia terbang dengan mengunakan Griffon nya.


Dalam perjalanan, Eulalia terkadang melewati hutan dan juga terbang tinggi untuk menghindari pepohonan yang besar-besar.


Pada saat malam tiba, Eulalia tinggal di rumah sihirnya yang disebut rumah dimensi. Sihir itu merupakan sihir tinggi yang didalam terdapat berbagai ruangan keperluan yang dibutuhkan oleh penggunanya.


Dimensi itu memiliki ruang sihir berbentuk seperti lantai apartemen dengan berbagai fasilitas didalamnya.


Saat masuk kedalam dimensi itu, terdapat banyak pintu dan lorong dengan karpet disertai lampu klasik.


Pintu-pintu itu terdiri dari berbagai ruangan seperti kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang santai, perpustakaan bahkan beberapa ruangan khusus seperti ruangan pembuatan ramuan, pembuatan senjata, juga ruangan-ruangan lainnya yang berjumlah 40 ruangan dalam satu lantai.


Dengan jumlah sebanyak itu jika ada penyusup sekalipun maka dia akan tersesat sendiri. 


Disaat malam berlalu, keesokan paginya Eulalia pun melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Dan, Dimensi rumah itu memakai 300 poin dalam pembuatan nya.


__ADS_2