
...Chapter 08. Tersesat (Rev I)...
Ini adalah catatan harian Eulalia dengan nama pena Dina.
Aku tidak pernah mengetahui bahwa diriku akan kecelakaan yang mengakibatkan ku meninggalkan dunia meski begitu, aku tidak lah pergi ke nirwana melainkan ke dunia lain oleh sistem kehidupan.
Saat bertemu dengan nya, aku diberikan pekerjaan dan karunia. Dan, itu kemampuan dari game yang sering aku main kan.
Setelah itu, aku pun bereinkarnasi ke dunia lain. Hari pertama di dunia lain, aku bertemu dengan pemuda bernama Kazuo. Dia sangat baik juga Marsha di sebuah desa kecil bernama Shoyo.
Selama beberapa hari, Aku tinggal disana serta membantu mereka seperti menebang pohon Iblis dan menyelematkan desa dari para Orc yang datang.
Setelah itu, aku diberikan imbalan sebesar 20 koin emas. Lepas dari itu, pada saat di desa Shoyo. Aku tidak bisa mandi lantaran mereka mengunakan sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Meski begitu, aku masih mandi di dimensi rumah.
Beberapa hari kemudian, aku pun memutuskan untuk mengembara dan tibalah di kota Tito atau banyak orang yang menyebut kota Tito adalah kota pelabuhan.
Dan, perjalanan ku masih lah panjang...
Setelah menulis itu, Eulalia pun berhenti menulis, menutup pintu lalu beristirahat.
Keesokan harinya, suara burung, ayam dan cahaya sinar matahari membangunkan Eulalia dari tidurnya.
"Huaa ..." nguap Eulalia seraya merenggangkan kedua tangan nya lalu, melihat ke jendela yang ada disampingnya yang mana sudah terdengar banyak suara saling berbincang.
Setelah itu, Eulalia bangun dari kasur dan menghampiri jendela juga melihat ke luar yang mana dia disungguhi oleh pemandangan keramaian kota, angin laut yang berhembus serta suara burung camar.
"Suasana kota dan desa sangatlah beda. Meski begitu, ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kota Metropolis Jakarta," gumam Eulalia yang diakhiri dengan menghela nafas panjang.
Sesaat kemudian, Eulalia menepuk kedua pipinya. "Yosh! Kita mulai kegiatan hari ini."
Lalu, Eulalia pun mandi, berganti baju dan meninggalkan kamarnya setelah itu, dia pergi ke bawah yang mana penginapan tempat Eulalia tinggal memiliki restoran di lantai dasarnya dan saat Eulalia melangkah ke arah kursi yang kosong, dia pun disapa oleh pelayan disana.
"Selamat pagi, Nona! Bagaimana tidur mu?"
Eulalia tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Cukup nyenyak."
"Syukurlah dan Nona, anda ingin sarapan apa?"
"Apa saja, boleh?" jawab Eulalia seraya duduk dan memberikan senyuman lebar.
"Baik. Baik. Tunggu sebentar ya!"
Eulalia pun duduk santai seraya menunggu sarapan datang dan tidak lama, sarapan pun datang.
"Silahkan, Nona!" seru pelayan seraya menyajikan sarapan diatas meja. Diantara nya, Bubur, sop dan telur.
__ADS_1
"Terimakasih," jawab Eulalia.
Lalu, Eulalia pun melahap sarapannya.
Sesudah itu, Eulalia pun meninggalkan penginapan dan mencoba pergi ke Asosiasi Petualang.
Disaat sarapan, Eulalia sempat terpikir cara mencari pekerjaan di dunia nya maka dari itu, dia pun bertanya kepada pelayan dan dia pun menjawab agar Eulalia pergi ke Asosiasi Petualang.
Maka dari itu, Eulalia menambah jurnal nya hari itu untuk pergi ke Asosiasi Petualang.
Dalam perjalanan, Eulalia pun tersesat dan masuk menelusuri gang kecil antar gedung.
Lalu, Eulalia pun berpapasan dengan dua preman yang sedang mengancam seorang wanita yang sedang memegang sebuah kalung.
"Ayolah, Nona!"
"Kita bersenang-senang!"
Sang wanita tidak bisa berkata-kata.
Sedangkan, Eulalia yang melihat ada kejadian itu, dia sontak membalikan badannya dan berjalan kearah yang lain.
Tidak lama Exoma memberikan saran.
Kling!
"Aku tidak ingin terlibat masalah sepele seperti ini," gumam Eulalia sambil melangkah membelakangi wanita dan para preman.
Sang wanita yang diancam melihat kehadiran Eulalia, "Nona, tolong aku!" seru wanita.
Dan, seruan wanita itu membuat para preman disana menoleh kearah Eulalia dengan tawa senang.
Mendengar itu, Eulalia menghela nafas dan melanjutkan langkahnya namun, sesaat kemudian ada tiga preman lain yang menghalangi jalan Eulalia.
"Nona, kenapa kamu terburu-buru?" tanya salah satu preman seraya senyuman lebar yang diikuti oleh rekannya.
Mendengar itu, Eulalia melihat pria yang didepan nya dengan senyuman paksa, "Aku hanya urusan. Minggir lah ..." Seusai mengatakan itu, Eulalia pun melangkah.
"Nona, janganlah begitu. Mari kita bersenang-senang!" ucap preman seraya memegang bahunya dan melihat dada Eulalia dengan tatapan msum.
Melihat itu, Eulalia pun merasa kesal dengan merubah ekspresi nya menjadi aneh dengan tatapan yang datar.
Lalu, Eulalia pun mengeluarkan tongkat sihirnya dan melemparkan ketiga pria yang ada dihadapan nya dengan mantra telekinetikh.
Dalam sekejap, ketiga pria terpental jauh.
__ADS_1
"Aishh ... sungguh menjengkelkan!" gumam kesal Eulalia.
Para preman pun terdiam dan sedikit ketakutan begitu pun sang wanita.
Sesaat kemudian, Eulalia membalikan badannya dan menghadap ke wanita dan preman.
"Apakah kalian juga ingin merasakan?" ucap Eulalia dengan tatapan tajam.
Para preman yang melihat tatapan itu sontak kabur dan melarikan diri.
Saat melihat itu, Eulalia pun menghela nafas panjang. "Ahufuu ... akhirnya mereka pergi juga."
Sesudah itu, Eulalia memasukan kembali tongkat sihir kedalam sihir penyimpanan nya. Lalu, membalikan badan dan melangkah meninggalkan wanita.
Sang wanita yang melihat Eulalia melangkah meninggalkan nya, dia pun sontak berlari menghampiri Eulalia.
Eulalia yang merasa risih dengan sikap sang wanita, dia pun menghentikan langkahnya. Lalu, membalikan badannya.
"Ada apa kamu mengikuti ku?"
"Anuu ... aku ingin mengucapkan terimakasih."
Eulalia pun tersenyum kecil, "Tidak perlu di perpanjang. Aku hanya lewat saja dan kebetulan kamu dan para preman itu menghalangi jalan ku."
"Boleh aku tahu nama Nona? Aku Brigitta, Calon Priest dari kerjaan Alexandria."
"Aku Eulalia. Salam kenal juga."
"Anu ... bolehkah saya tahu kemana Kak Eulalia ingin pergi?" tanya Brigitta.
"Aku ingin pergi ke Asosiasi Petualang. Apakah kamu tahu dimana lokasinya?"
"Lokasi nya tidak jauh dari gang ini. Tapi, bukan kah kakak seorang penyihir?" jawab Brigitta.
"Iya, kenapa memang?"
"Kalau kakak seorang penyihir diwajibkan kakak pergi ke Asosiasi Penyihir. Soalnya Asosiasi Petualang diperuntukkan para ksatria bersenjata seperti ahli pedang, ahli panah atau pemegang senjata lainnya."
Mendengar itu, Eulalia melebarkan kedua mata. "Jadi, begitu. Aku baru mengetahui nya."
Mendengar itu, Brigitta merespon heran. "Eh?"
Eulalia pun tidak menanggapi respon Brigitta itu. "Apa, kak Brigitta bisa mengantarkan ku ke kantor Asosiasi Penyihir?"
Brigitta pun tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. "Tentu saja dengan senang hati!"
__ADS_1
Setelah itu, Eulalia dan Brigitta pergi ke kantor Asosiasi Penyihir.
Dan, Eulalia berhasil mendapatkan 100 poin dari menyelamatkan Brigitta.