Moon Light Witch

Moon Light Witch
Moon Light Witch | Chapter 06. Dokumen dan Visa (Rev I)


__ADS_3

...Chapter 06. Dokumen dan Visa (Rev I)...


Pada saat siang harinya, Eulalia sudah melihat gerbang kota.


“Wuaah, sudah sampai kah,” ujar Eulalia saat melihat kota Tito dari kejauhan.


Perjalanan yang seharusnya ditempuh 3 hari dengan kuda, Eulalia hanya butuh satu hari untuk tiba di kota Tito.


Saat tiba di gerbang, para penjaga terkejut melihat kedatangan Eulalia hingga memasang kuda-kuda dengan tombak lantaran dia menaiki Griffon dan berpakaian penyihir.


Eulalia yang melihat itu, dia pun turun dari Griffon. Lalu, Eulalia berjalan menghampiri para penjaga tersebut.


“Siapa kamu?! Dan mau apa kesini?!” seru salah satu penjaga.


“Oh, tunggu,” Lalu, Eulalia menoleh ke arah Griffon. "Terimakasih, burung kecil. Sekarang, kembali lah!" ucap Eulalia seraya mengelus-elus kepala Griffon.


"Gwuaaak!"


Suara Griffon seraya mengangkat kedua kakinya lalu, dia pun kembali menjadi asap hitam.


Seusai itu, Eulalia mengembalikan posisi badannya ke hadapan penjaga yang masih menodongkan tombak nya. Lalu, Eulalia pun mengangkat kedua tangannya disertai dengan senyuman.


“Aku Eulalia, seorang penyihir dan aku berasal dari desa shoyo,” jawab Eulalia.


“Jika benar begitu, tunjukan dokumen mu!” seru penjaga yang masih menatap curiga kepada Eulalia.


Eulalia yang mendengar itu, dia hanya tertawa kecil kepada para penjaga tersebut.


“Maaf, sepertinya aku telah menghilangkan dokumen milik ku pada saat perjalananku ke kota ini,” ucap bohong Eulalia.


Dalam benaknya, Eulalia tidak pernah berpikir untuk mengurus surat izin.


Kedua penjaga itu saling menatap satu sama lain dan tidak lama kemudian, mereka berdiri seperti biasa lagi dengan tombak yang dihadapkan keatas lagi.


“Jika begitu, kamu harus membayar denda dan membuat dokumen baru untuk masuk ke kota. Bagaimana?” ucap salah satu penjaga.


Eulalia mengembalikan tangannya kembali kebawah dan menghela nafas panjang.


“Baiklah, tidak masalah. Terima kasih para penjaga sekalian atas kebijaksanaan nya,” ucap Eulalia yang menundukkan kepalanya.


Kedua penjaga itu pun menjadi malu dan menggarukan kepalanya dengan senyuman.


“Baiklah, Nona. Saya hantarkan anda!” seru salah satu penjaga.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Eulalia.


Eulalia pun pergi bersama dengan salah satu penjaga gerbang menuju kantor visa.


Tidak jauh dari gerbang, Eulalia bersama penjaga tiba di kantor visa dan mereka pun masuk kedalam kantor tersebut.


Setibanya disana, terlihatlah pria berbadan besar dengan jirah ringan menatap Eulalia dan penjaga.


“Erik, bukankah kamu sedang bertugas,” ucap pria besar yang berada didalam ruangan.


“Memang aku sedang bertugas tapi aku kesini untuk mengantarkan Nona ini untuk membuat dokumen masuk kota,” jawab penjaga Erik.


Pria besar itu melihat Eulalia dengan senyuman begitu pun Eulalia yang membalas dengan menundukkan kepalanya dan senyuman.


“Maaf, pak. Saya telah kehilangan dokumen. Maka dari itu, saya ingin membuatnya lagi,” ucap Eulalia.


“Ohh, Begitu. Aku mengerti. Masuklah!” seru pria besar.


Penjaga itu pun melihat Eulalia dan menundukkan kepalanya.


“Jika begitu, Nona. Aku pamit!” ujar penjaga.


“Terima kasih, pak penjaga,” sambung Eulalia yang menundukkan kepalanya.


Penjaga itu pun pergi meninggalkan ruangan. Sesudah itu, pria besar memberikan instruksi untuk pembuatan dokumen nya.


"Iya," jawab Eulalia dan dia pun melangkah menghampiri bola bulat tersebut. Lalu, menuruti yang diserukan pria besar dengan menempelkan kedua tangan nya di bola. "Seperti ini kah?"


"Iya. Seperti itu dan aku ingin bertanya, apakah anda penyihir jahat?" tanya pria besar.


"Eh?" gumam pelan Eulalia dan dia pun mengerutkan keningnya seraya berkata di batin nya, "Memang ada penyihir jahat ya disini." Seusai berkata itu di batin nya, Eulalia pun menjawab nya, "Tentu saja, bukan!"


"Hehehe ... maaf, saya hanya ingin memastikan nya saja. Lagi, tidak mungkin wajah secantik dan sepolos Nona menjadi penyihir jahat."


Eulalia yang mendengar itu memasang ekspresi aneh lalu, dia menghela nafas untuk menenangkan nya. "Lalu, apa selanjutnya?"


Pria besar menghentikan tawa nya dan batuk sekali untuk menghentikan nya setelah itu, dia melanjutkan ucapannya. "Selanjutnya, sebutkan nama Nona!"


"Baiklah."


Lalu, Eulalia mengembalikan pandangan ke bola yang melayang. "Nama asli ku Dinna. Tapi ... jika aku sebutkan mungkin tidak ada efeknya. Lebih baik, langsung nama Eulalia saja," batin Eulalia dan Dinna pun menyebut nama game nya, "Eulalia!"


Sesaat Eulalia menyebutkan namanya, muncul layar udara sebesar 14 inci di atas bola status dan berisikan data diri Eulalia namun, bukan dalam segi kekuatan melainkan profil wajah dan tubuh.

__ADS_1


"Eh? data ku sama seperti di menu status," batin Eulalia.


Dan, sesaat layar udara itu muncul. Pria besar menulis semua data yang tertera pada layar ke sebuah kertas kulit dan pena bulu.


Selain itu, Exoma pun memberikan sebuah saran.


Kling!


[Nona, Anda bisa memalsukan data itu dengan sihir Fake.]


Mendengar itu, Eulalia tersenyum. "Ide yang menarik. Baiklah, aku akan buat kan."


Dan, Eulalia membuat sihir Fake seharga 50 poin.


Setelah itu, penjaga menyadarkan lamunan Eulalia.


"Baik, Nona. Sudah. Silahkan lepaskan tangan anda!" seru pria besar.


Eulalia melepaskan tangan dari bola dan berbalik badan menghadap pria besar yang sedang menulis. Melihat itu, Eulalia tersenyum kecil.


"Cara penulisan abad pertengahan cukup unik dan menarik," batin Eulalia seraya mengelus-elus dagu nya.


Tidak lama kemudian, pria besar menggulung kertas kulit dan menempelkan nya dengan cap merah dengan simbol yang Eulalia tidak tahu.


Setelah itu, pria besar memberikan nya kepada Eulalia beserta batu panjang berwarna biru.


"Ini nona dokumen nya dan visa nya selama 10 hari. Jika, anda melewati masa berlaku maka anda harus menambah biaya visa jika Anda terlambat maka akan ada biaya tambahan terlebih lagi jika nona tidak bisa membayar nya maka Nona harus menjadi budak. Nona, paham?" ucap penjelasan pria besar.


Eulalia tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Aku mengerti."


"Dan, semua biaya nya 6 koin perak Valis!"


Mendengar itu, Eulalia pun mengeluarkan dan memberikan nya kepada pria besar satu koin emas yang mana dalam pemikiran satu koin emas lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan koin perak.


"Iya, ini."


Pria besar itu pun menerima koin emas itu. Lalu, dia pun mengembalikan nya 4 koin perak. "Terimakasih dan Ini kembaliannya, Nona!"


"Terimakasih," jawab Eulalia seraya menerima koin perak tersebut.


"Selamat datang di kota Tito, Nona Eulalia!"


"Iya," jawab Eulalia dengan senyuman lebar dan anggukan kepala.

__ADS_1


Setelah proses itu selesai, Eulalia meninggalkan ruangan dan dia pun tersenyum senang lantaran pemandangan kota yang ada dihadapan nya.


"Luar biasa! Jadi, inikah kota dunia abad pertengahan!" ucap kagum Eulalia seraya melihat sekeliling nya.


__ADS_2