Moros Ker Thanatos: V

Moros Ker Thanatos: V
<[ EPS. 10 - PENYERANGAN II ]>


__ADS_3

Aldrich Éclair mengambil beberapa pistol laras pendek, menyelipkannya di kedua sisi pinggangnya. Ia menarik sebuah tas senjata, mengeluarkan senjata laras panjang dari dalamnya. V21 merupaka senjata terbaik yang dikembangkan oleh perusahaan ilegalnya. Senjata api ini memiliki jangkauan bidik hingga 1800 meter dengan menggunakan peluru kaliber 5,50 mm. Kekuatan daya tembaknya sebesar 2800 joule dengan kecepatan 680 meter perdetik.


Sebelum pergi Aldrich Éclair menatap wajah putrinya, "Kunci pintunya. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam." pesannya.


"Papah tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Mamah dan adik." balas V yang membuat hati Aldrich Éclair terasa begitu perih. Ia tidak ingin kehilangan keluarganya sekali lagi.


Aldrich Éclair berjalan menghampiri Lynelle Éclair yang masih terbaring lemah pasca persalinan. Ia mencium kening Lynelle Éclair menghapus air mata yang perlahan keluar dari mata Lynelle Éclair. Ia beralih ke tubuh L yang sedang tertidur dalam pelukan Yuli. Ia mencium kening putranya. Pandangannya kini tertuju kepada V yang berdiri tidak jauh darinya. V melepaskan genggaman tangan Rozita, berjalan menghampiri Aldrich Éclair. Tangannya terjulur, Aldrich Éclair mengangkat tubuhnya. V mencium pipi Aldrich Éclair.


"Papah pergilah, aku akan menjaga keamanan di kamar ini. Papah bisa mengandalkanku." ujar V dengan penuh keteguhan. Aldrich hanya tersenyum sebagai balasan. Tangannya menurunkan tubuh V, kemudia ia menghilang di balik tembok.


Rozita mengunci pintu kamar setelah Aldrich Éclair keluar. Tiba-tiba terasa goncangan yang cukup kencang. Musuh menggunakan granat untuk menerobos pintu masuk. V menjadi pucat, ia tidak tahu pada menit keberapa musuh dapat menemukan mereka.


V berlari ke sudut ruangan, mendorong rak buku yang sebelumnya digunakan oleh Aldrich Éclair. Rak berganti menampilkan gudang senjata, terlalu banyak senjata asing yang tidak ia kenal. Ia hanya mengambil senjata yang ia ketahui fungsinya. Mengisi magazin dengan butiran-butiran peluru. Di rak paling bawah berisi rompi anti peluru. V melemparkan beberapa rompi itu ke pada Rozita untuk dibagikan.


Seusai mengenakan rompi anti peluru, V mengikatkan sabuk berisi dua wadah senjata di pinggangnya. Ia menyelipkan sebuah pisau lipat di sabuknya. Menyelempangkan senjata laras panjang di punggungnya. İa juga mengaitkan sebuah tas kecil di kakinya, memasukkan beberapa kotak peluru kedalamnya. Sophie dan Rozita mengikuti apa yang dilakukan oleh V.


"Nona Muda? Haruskah kita ikut bertempur?" tanya Yuli mulai cemas melihat mereka menyiapkan beberapa senjata lainnya.


"Kita tetap harus bersiap menghadapi keadaan paling buruk sekalipun." tukas V menyerahkan pistol dengan ikat pinggang dan juga kotak peluru kepada Rozita dan dua pelayan keluarga Yovanka.


"Mamah, aku akan mengambilkan kursi roda untuk bersiap-siap, jika sewaktu-waktu kita terpaksa harus pindah." jelas V memberitahu.


"Tapi di luar begitu berbahaya." bantah Lynelle Éclair.


Suara ledakan yang memekakkan telinga terdengar, disusul dengan guncangan yang lebih besar dari sebelumnya. Menandakan pihak musuh semakin dekat. V diam sejenak, ia tidak tahu harus membawa kemana adik dan juga Mamahnya. Ia juga tidak tahu tempat yang lebih aman di rumah ini. Bertahan di kamar ini terlalu beresiko jika musuh sudah menemukan keberadaan mereka.


"Ku mohon, jaga Mamah dan adikku sebentar. Aku akan kembali secepatnya." pinta V berjalan menuju pintu.


"Tidak V, itu terlalu beresiko. Aku masih mampu berjalan." ujar Lynelle Éclair bangkit dari posisi tidurnya. Ia berusaha berdiri walau ada rasa sakit yang membuatnya tidak nyaman. Ia memahami tabiat V yang sama kerasnya seperti Aldrich Éclair, jika tidak dibuktikan mereka akan semakin keras.


V berjalan mencegah Lynelle Éclair untuk bangun dari tidurnya, "Mamah, berbaringlah. Aku tahu pembengkakan itu masih terasa begitu nyeri. Jangan memaksakan dirimu. Aku akan menjaga agar mereka tidak menerobos ..." belum sempat V selesai berbicara pintu kamar mereka dibuka dengan cara paksa oleh sebuah granat.

__ADS_1


Suara ledakkan membuat L kembali menangis kencang. Jarak pintu dengan tempat tidur cukup jauh, terhalang oleh sebuah tembok yang dibuat setengah tertutup. V menarik sebuah lemari pakaian yang tersembunyi di balik bufet untuk menutupi keberadaan mereka. V mengangkat senjatanya, berjalan perlahan diikuti oleh Rozita dan Sophie sedangkan Tiffany melindungi Lynelle, L dan Yuli di belakang.


Seluruh pelayan keluarga Éclair telah dibekali bertarung menggunakan senjata api untuk menghadapi kondisi darurat sehingga keberadaan mereka sangat membantu dalam kondisi seperti ini. V mengintip dari celah pakaian, menyelipkan senjatanya. Lima belas orang bersenjata berjalan mengendap-endap menelusuri kamar. V menarik pelatuk, menembak ke arah jantung mereka.


Nyaringnya suara baku tembak memancing musuh yang lainnya untuk berdatangan. V memaksa keluar dari lemari pakaian, karena posisi mereka yang sangat terbatas. Ditambah dengan hujan peluru mengarah ke tubuh mereka. V masih terus menembak musuh yang ada di hadapannya, terkadang ia harus berguling menghindari peluru musuh. Rozita dan Sophie melindungi V di belakang. Meski mereka kalah jumlah dengan musuh, tapi tidak membuat mereka gentar untuk tetap melawan.


Tembakan beruntun membuat mereka terpaksa memisahkan diri. V kini bersembunyi di balik kamar mandi, Rozita bersembunyi di balik bufet sedangkan Sophie di balik dinding pembatas ruangan.


Tangis L masih menjadi lagu wajib yang menemani aksi perjuangan mereka. Seorang laki-laki dengan senjata tempur, menembak membabi buta. Rozita menelungkup di atas lantai, tangannya membidik ke arah kaki laki-laki itu. Sedangkan Sophie yang mengetahui rencana Rozita membantu menembaki musuh yang tersisa agar tidak mengganggu konsentrasi mereka.


V memanfaatkan peluang yang di berikan padanya, ia keluar dari kamar mandi untuk menghujani pengguna senjata tempur itu dengan pelurunya. V menggunakan pistolnya di tangan kanan dan kiri untuk menembakinya sekaligus mencari posisi aman untuk bersembunyi sebab lokasi sebelumnya tidak strategis.


Laki-laki itu merasa posisinya di ujung tanduk, ia tak lagi menembak membabi buta melainkan menggunakan strateginya. V merutuki kecepatan laki-laki itu menyadari kebodohannya. Laki-laki itu ternyata mahir dalam bertempur, ia tak memberi celah pada V sedikitpun.


Belum sempat V membawa kemajuan pada posisinya, seorang laki-laki dengan senjata tempur yang sama tiba-tiba memasuki kamar diikuti dua regu bersenjata senapan membuat mereka dalam kondisi terdesak.


V bergerak cepat menembaki bala bantuan dari pihak musuh, untuk sementara perhatiannya tak lagi pada pengguna senjata tempur. İa ingin mengurangi jumlah musuh terlebih dahulu sebab belum menemukan celah untuk melawan pengguna senjata tempur.


V memaksa otaknya untuk berpikir segala kemungkinan yang dapat ia gunakan untuk melumpuhkan lawan. İa harus membuat jarak di antara mereka agar bisa bergerak.


V menatap ke sekeliling hingga pandangannya terarah pada lampu kristal besar yang menggantung di atas plafon. V menembak ke arah pengait lampu tersebut membuatnya terjatuh kelantai. Sebenarnya pengait itu sudah mengalami keretakan karena berkali-kali tertembak peluru musuh, padahal dengan satu kali tembakan lagi mereka akan berhasil merobohkan lampu itu namun mereka sudah menyerah lebih awal.


Musuh tidak menyadari apa yang dilakukan oleh V, saat mereka menyadarinya semua telah terlambat. Lampu raksasa itu jatuh membuat mereka menghentikan tembakan mereka.


V yang melihat celah tersebut segera mengganti senjatanya dengan selaras panjang, ia menembaki mereka yang terkapar di lantai karena terkejut dengan lampu yang tiba-tiba terjatuh.


Rozita dan Sophie juga ikut bergerak cepat menghabisi lawan yang tersisa. Kini hanya tersisa dua pengguna senjata tempur yang masih sembunyi di luar kamar.


Suasana kini terasa sunyi tanpa ada lagi baku tembak di antara mereka. Mereka saling berhenti untuk mengambil nafas sebelum kembali menyerang.


V berjalan mengendap-endap untuk meringkas jarak di antara mereka. Rozita yang melihat apa yang dilakukan V membuka matanya lebar-lebar. İa ingin mengikuti V, namun ia tahu hal itu dapat mengacaukan rencananya sehingga ia hanya bisa menggigit bibirnya sambil mengamati sekitar takut ada musuh yang masih mengincar.

__ADS_1


V bersembunyi di balik sofa yang sudah berlubang hingga terlihat isi busanya. Sophie menatap V yang tak jauh di depannya sambil menelan salivanyanya, ia tak menyangka Nona Mudanya punya keberanian sebesar itu.


Saat mereka sedang memberi isyarat satu sama lain, peluru kembali terarah kepada Rozita dan Sophie. Namun peluru kali ini berbeda seperti sebelumnya, mereka menduga amunisi musuh telah habis sehingga mereka mengganti senjatanya.


Musuh tampaknya tidak menyadari keberadaan V yang tak jauh dari mereka sebab mereka hanya mengarahkan peluru mereka ke arah Rozita dan Sophie bersembunyi. V tak menunjukkan keberadaannya membiarkan Rozita dan Sophie yang membalas tembakan mereka.


Baku tembak terjadi di antara mereka, musuh yang merasa posisinya tak menguntungkan bergerak maju mencari posisi yang aman. Salah satu dari musuh memilih bersembunyi di balik sofa lusuh yang tak jauh dari pintu masuk.


V menyunggingkan senyum manisnya saat laki-laki itu bersembunyi di depannya, ia masih belum menyadari keberadaan V di dekatnya. V merasa pengalamannya di lapangan masih begitu minim sehingga instingnya belum terasah.


"Hai Paman." sapa V sambil menembakkan satu peluru ke arah otaknya.


Hingga menghembuskan nafas terakhirnya laki-laki itu tidak menyangka bahwa orang yang mengambil nyawanya hanyalah seorang anak kecil. Meskipun ia tidak melihat wajah V namun ia mengenali suara kanak-kanak milik V.


✌••••• BERSAMBUNG •••••✌


Catatan Penulis:



Magazin \= Tempat slot peluru dalam senjata api.


Memekakkan \= Agak tuli.


Pistol \= Senjata laras pendek.


Senapan \= Senjata laras panjang.


Senjata Tempur \= Senapan dengan peluru kaliber besar.


__ADS_1


__ADS_2