
V menatap wajah Aldrich lekat-lekat, meskipun tatapan matanya begitu tajam mengintimidasi namun entah mengapa tatapan itu juga yang menjamin kenyamanan darinya membuat siapapun yang melihatnya tergoda untuk bersandar padanya.
Aldrich masih menatapnya tanpa sepatah kata menunggu V menceritakan mimpinya. Sebenarnya Aldrich tak begitu peduli dengan mimpi buruk V karena mimpi hanyalah bunga tidur yang tak akan mungkin menjadi nyata. Tak ada yang perlu ditakutkan dari sebuah mimpi.
Melihat wajah pucat V membuat Aldrich tak tega mengungkapkan jalan pikirannya, jadi ia memilih membiarkan V menceritakan mimpinya.
"İngat saat pertama kali aku bertemu Papah?" tanya V yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Aldrich, "Sebelum aku bertemu dengan Papah, aku bertarung dengan Paman pemilik kedai. İa tak terima jika aku mengambil barang dagangannya jadi ia menghajarku, aku juga tidak keberatan kalau ia memukulku hanya saja ia tak boleh memukulku lebih dari tiga pukulan selebihnya aku akan lari.
Tapi malam itu, aku tak menyangka Paman pemilik kedai tak membiarkanku sama sekali. Paman itu mengangkat belatinya tinggi-tinggi ke langit, andai tidak ada pantulan cahaya yang membuatku bereaksi mungkin hari ini aku sudah tidak ada."
V mengatur napasnya agar bisa mempertahankan suaranya tetap stabil, "Meskipun aku tahu tindakanku salah, aku tetap tak ingin mati begitu saja malam itu. Jadi aku membela diriku dengan melawannya. Aku yang begitu panik karena tak mendengar suaranya segera lari meninggalkannya begitu saja. Tindakan itu membuatku selalu bertanya-tanya bagaimana nasib paman itu setelahnya.
Aku tahu mimpi burukku hadir karena rasa cemasku itu hingga akhirnya aku ketakutan sendiri dengan mimpiku. Di dalam setiap mimpi burukku Paman itu kembali datang dengan cara yang berbeda-beda namun tuntutannya tetap sama agar aku menderita sama sepertinya. İa menginginkan apa yang paling berharga dalam hidupku." ceritanya sambil sesekali sesenggukkan karena isak tangisnya.
Aldrich membantu menyeka air mata V, ia tak tega juga membiarkan anaknya menangis sampai seperti itu, "Memang apa yang paling berharga dalam hidupmu?" tanya Aldrich penasaran hal apa yang membuat V sampai ketakutan setengah mati seperti itu.
"Pa-pah." jawab V sambil sesenggukkan membuat kalimatnya menjadi terdengar ambigu sehingga Aldrich memahaminya sebagai panggilan.
"Hm, ya?" sahutnya masih sambil mengusap lembut puncak kepala V.
"Bagiku yang paling berharga adalah Papah sebab hanya Papah yang mau menerimaku di dunia ini. Semua orang yang menerima kehadiranku juga karena Papah, andai Papah tidak pernah mengumumkan aku sebagai anak Papah mungkin mereka tidak akan ada yang memandangku."
Apa yang dikatakan V memang benar adanya, andai bukan karena Aldrich membawa V ke dalam keluarganya mungkin hingga saat ini keluarga hanya sebuah angan-angan bagi V. Semua bermula dari Aldrich yang memberinya identitas baru sehingga ia punya kehidupan baru.
Aldrich tertegun mendengar penjelasan V, ia tentu tahu apa yang dirasakan oleh V karena ia pernah merasakannya. Andai bukan karena Kakeknya yang saat itu menyelamatkannya mungkin hari ini ia tak akan pernah bisa berdiri dengan kakinya. Aldrich merasa ada kemiripan dalam kisah mereka, mereka sama-sama pernah dibuang hingga langit menunjukkan keadilannya pada mereka.
Aldrich menarik tubuh V dalam dekapannya memeluknya sampai ia merasa tak ingin melepaskannya walau sedetikpun, "Tidurlah, aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Mereka yang melakukannya harus mati di tanganku. Jangan takut, aku selalu berdiri di depanmu karena aku yang akan melindungimu."
V tidur terlelap karena ingatan yang baru dibuat oleh Aldrich. İa mulai membiarkan obat bius menjalar ke seluruh aliran darahnya karena ia percaya Papahnya akan datang membawanya pulang saat ia kembali membuka matanya.
__ADS_1
Meskipun ia takut kembali dikecewakan namun ia tak akan pernah menyesal mempercayai Aldrich, orang yang pernah menyelamatkannya. İa yakin Aldrich akan terus datang menyelamatkannya karena Papahnya telah berjanji untuk melindunginya.
Di lain sisi Aldrich menatap LED hologram yang menampilkan status V kembali aman. İa menarik data-data yang telah merekam kondisi tubuh V, hanya dengan satu tekanan ia menghapus semua data yang berhubungan dengan V di komputer dokter Gomer.
"Duke?!" pekik dokter Gomer terkejut melihat jendela dihadapannya mulai mengosongkan file.
"Kau masih berhutang dua puluh pukulan..." ketus Aldrich sambil menatap tajam dokter Gomer membuat laki-laki itu tak berani menggerakkan tubuhnya. "Ah tidak, seratus pukulan atau ku bunuh saja kau sekalian Gomer!" ralat Aldrich geram dengan apa yang dilakukan dokter Gomer.
Dokter Gomer jatuh terkulai ke lantai karena kedua kakinya begitu lemas. İa lupa meminta anak buahnya untuk tidak menanggalkan pakaian V karena ia bukan M-28. Dokter Gomer membenturkan kepalanya ke lantai berkali-kali sambil memohon ampun, ia mengakui kesalahannya.
Aldrich mengabaikan apa yang dilakukan oleh dokter Gomer, ia menyuruh para ilmuwan untuk mengosongkan lab dalam waktu setengah jam tanpa membawa apapun yang berhubungan dengan lab keluar dari gedung. İa juga menyuruh Tom yang baru saja tiba di Black İron untuk membawa V ke mansionnya.
"Gomer, kesalahanmu sungguh fatal hari ini. Menghinanya sama saja dengan menghinaku, hukum bagi mereka yang menghina keluarga kerajaan ialah kematian. Tapi Gomer kematianmu saja masih belum cukup bagiku, keluargamu juga harus mati Gomer!"
Aldrich melihat ekspresi tertegun Gomer namun ia mengabaikannya, memilih fokus menyalahkan holopad miliknya, kini layar holopad itu berisi video seorang wanita cantik yang kini tengah terbaring di atas rel kereta listrik.
"Sa-sania." ucapnya begitu lirih. Sudah hampir empat tahun lamanya Sania menemani Gomer, meskipun Gomer tak pernah menjanjikan pernikahan padanya namun Sania tetap setia berdiri di samping Gomer
Beberapa hari yang lalu Tom memberikan laporan bahwa ia menemukan Gomer sedang melakukan transaksi rahasia dengan keluarga Ozgur, salah satu rival bisnis gelap Aldrich.
Gomer tak bisa berkata sepatah katapun, ia diam membisu dengan wajah memucat. Keringat dingin membasahi tubuhnya, ia tak tahu harus bagaimana.
"Kau mengkhianatiku, Gomer." kata Aldrich lagi. Tangannya lihai menyentuh layar LED hologramnya membuat cabang baru menampilkan rekaman yang diberikan oleh Tom. İa juga membuka cabang baru yang menampilkan foto-foto Gomer dan Sania bersama İlker Ozgur.
"Gomer katakan pembelaanmu!" pekik Aldrich semakin geram karena Gomer hanya diam membisu. İa sebenarnya masih tidak percaya bahwa Gomer mengkhianatinya ia lebih berharap bahwa ini semua hanyalah salah paham.
"Maafkan aku, tuan."
"Sialan!" pekik Aldrich semakin geram. "Tak perlu menunggu kereta sialan itu tiba, tembak mati wanita itu." perintahnya.
__ADS_1
"Laksanakan, Master." jawab seseorang dari dalam holopad.
"Karena kau telah mengabdi pada keluargaku selama bertahun-tahun aku akan memberikanmu pilihan. Mati dengan tanganmu sendiri atau mati dengan tanganku?" tanya Aldrich dengan nada yang begitu dingin melemparkan sebuah pistol ke arahnya.
Dokter Gomer memejamkan matanya, ada rasa sakit yang teramat di dalam hatinya. Bukan karena kematiannya melainkan karena ada sebagian dalam dirinya yang telah hilang. Kepercayaan Aldrich yang hilang beberapa saat yang lalu membuat hatinya terasa begitu sakit.
"Tuan, mengabdikan diriku pada anda adalah sebuah kehormatan bagiku. Aku begitu mengagumi setiap dedikasi yang tuan lakukan hingga membuatku selalu memuja anda. Tanpa anda tidak akan pernah ada Gomer Orlando hari ini, tuan yang memberikanku kehidupan yang baru ini maka biarlah tuan juga yang mengambilnya."
"Mendengar kalimatmu membuatku tidak sudi mengotori tanganku, Gomer. Jika kau tidak mau melakukannya, biar pengadilan kerajaan yang mengeksekusimu." ucap Aldrich menatap muak pada Gomer sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya meninggalkan Gomer yang masih duduk dengan wajah memucatnya.
"Tu-tuan... Tuan Aldrich tunggu." ucap Gomer namun tak ada balasan dari Aldrich ia memilih tetap pergi meninggalkan Gomer.
"Tuan, setidaknya biarkan aku mati sambil melihat anda untuk terakhir kalinya." lirih Gomer namun Aldrich masih tetap melangkah menjauh bahkan ia kini sudah sampai di depan pintu ruangan Gomer.
"Tuan kumohon." katanya lagi dengan bergetar.
"Ambil pistolnya, tekan pelatuknya Gomer dan berhenti memanggilku tuan! Aku tak sudi mendengarnya dari mulut sialanmu." jawab Aldrich tanpa menoleh sedikitpun.
"Tekan Gomer!" pekik Aldrich hingga menggema ke seluruh ruangan membuat Gomer terkejut mendengarnya. Dengan tangannya yang bergetar ia menaruh moncong pistol ke keningnya.
"Tuan, tidak bisakah kau melihatku untuk terakhir kalinya?" tanya Gomer.
"Kau tidak pantas untuk mendapat perhatianku lagi Gomer, kau telah mengecewakanku." ucap Aldrich begitu dingin. Setiap kata-katanya terdengar begitu tajam bagai pisau, ada kebencian di dalam nada bicaranya.
"Tuan, jika aku bilang aku tak pernah sedetikpun mengkhianatimu, apa anda akan percaya, Tuan?"
"Tarik pelatuknya Gomer!"
Suara tembakan terdengar begitu nyaring memekakkan telinga. Gomer terkulai lemas di lantai, matanya terpejam. Aldrich membalik badannya menatap ke arah Gomer sambil tersenyum.
__ADS_1
✌••••• BERSAMBUNG •••••✌